The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 23


__ADS_3

Hanam juga sebenarnya sangat-sangat muak dengan semua aturan Presiden. Dia menerapkan aturan sesuai dengan keinginannya sendiri. Hanam hanya sedang mencari kesempatan bagus untuk membalas perilaku Presiden padanya selama ini.


Meskipun Hanam telah menjadi pengawal yang baik, tapi dia kerap mendapatkan penindasan dari Presiden. Bahkan dia pernah dipukuli oleh anak buah Presiden hanya karena sebuah gelas kesayangannya pecah. Hal itu masih Hanam ingat sampai sekarang. Dia tidak akan lupa apa yang sudah dia dapatkan.


Dia berniat untuk membalasnya suatu saat nanti. Dan mungkin hari itu akan tiba saat Sang Jendral baru itu melaksanakan perintah Presiden. Apalagi Presiden tidak mau menerapkan sistem keamanan yang ketat. Itu mungkin akan menjadi kesempatan bagus bagi dirinya.


Dia sudah tidak sabar lagi untuk memberikan salam olah raga kepada orang yang telah melakukan kekejaman dimana-mana. Setelah semua yang dia lakukan, Hanam akhirnya menyesali semua perbuatannya. Dia selalu berharap waktu bisa dia putar kembali.


Dia ingin berubah menjadi orang yang baik dengan mengutamakan otak untuk berfikir, dari pada fisik. Tapi dia juga bukanlah orang yang cerdas. Kebiasaanya sebagai seorang tukang pukul sangat sulit untuk dihilangkan. Hanam masih belum bisa menahan dirinya.


Selama ini yang dia lakukan hanya diam dan menerima semua perlakuan Presiden padanya. Dia berpura-pura menjadi orang yang lemah, agar Presiden tidak mencurigai semua gerak-geriknya sebagai seorang pengkhianat.



Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia harus segera menghubungi **Jendral** **Lahar** yang diinginkan oleh **Presiden**. Dia menuju ruangannya, untuk menghubungi **Jendral** **Lahar**. Namun sayang, **Jendral** **Lahar** tidak mau menerima panggilan **Presiden** karena dia tidak mau ikut campur dalam perang ini.



**Hanam** seperti mendapatkan kesempatan bagus. Dia membujuk **Jendral** **Lahar** dengan segala tipu dayanya, agar **Jendral** **Lahar** mau membantunya untuk melakukan sesuatu.



"*Jendral, kau tidak harus menerima perintah dari Presiden. Tapi sebagai sesama orang yang tidak menyukai kekuasaannya, apakah tidak bisa kita bekerja sama untuk sesuatu hal*?" kata **Hanam** kepada **Jendral** **Lahar**.



"*Apa maksudmu*?" tanya **Jendral** **Lahar**.



"*Kita sama-sama tidak menyukai Presiden dan juga pada pendukungnya. Mungkin ini adalah kesempatan baik untukmu, jika kau mau berpura-pura menerima perintahnya. Dia akan senang dengan keputusanmu mengambil alih pasukannya. Karena menurutnya, kau adalah seorang Jendral yang sangat hebat. Dia akan percaya pada kemampuanmu*." kata **Hanam**.

__ADS_1



"*Lalu, apa keuntungannya*?" tanya Jendral Lahar kembali.



"*Kau bisa menaruh beberapa pasukanmu untuk menjadi pengawal Presiden. Dan kau akan pergi berperang untuk menguasai kota. Saat itu, aku akan merenggangkan keamanan Presiden. Agar pasukanmu bisa masuk ke dalam bunker. Lalu kau bisa menggunakan salah seorang anak buahmu untuk menjadi penembak jitu. Targetnya adalah Presiden itu sendiri. Aku akan memberikan posisi yang bagus jika kau mau melakukannya. Bagaimana*?"



"*Baiklah. Aku menerimanya. Tapi ingat, jika kau berbohong atau berusaha menjebakkku, aku akan mengejarmu kemanapun kau pergi*." tegas **Jendral** **Lahar**.



"*Baiklah. Kau bisa pegang ucapanku ini*." kata **Hanam**.




"*Baik. Akan aku beritahu kau jika semuanya sudah selesai*." kata **Hanam**.



Jendral Lahar lalu menutup telephonenya. Dia kemudian membuka lemari pakaian, yang sebenarnya lemari itu berisikan senjata-senjata lengkap dengan amunisinya. Dia juga menghubungi semua anggotanya untuk berkumpul dirumahnya hari itu juga.



Dengan penuh kepuasan, Hanam kembali menemui Presiden bahwa Jendral Lahar telah siap menerima semua perintahnya. Presiden merasa sangat senang mendengar kabar itu. Padahal, tanpa dia ketahui, dia sedang menggali kuburannya sendiri.


Presiden lalu memerintahkan Hanam untuk memberikan kabar kepada Angel yang saat itu masih di kota, untuk merayakan kemenangannya karena sudah berhasil menaklukkan kota. Presiden melakukan itu, agar dia tidak curiga kalau posisinya akan segera diganti oleh Jendral Lahar.

__ADS_1


Presiden sengaja menyibukkan Angel dengan membiarkannya tetap berada di kota. Dia tidak mau Angel mengetahui semua rencana ini. Jika sampai dia tahu, dia pasti akan memberontak dan mengerahkan pasukan yang dipimpin olehnya untuk melumpuhkan Presiden. Dan Presiden tidak mau hal itu terjadi.


Namun disisi lain, saat ada kesempatan Hanam diam-diam memberitahu Angel mengenai rencana ini. Tapi saat itu Angel tidak menanggapinya dengan serius, karena waktu itu Angel sedang berpesta dengan pasukannya atas kemenangannya itu. Sehingga dia tidak menyiapkan dirinya.


"Sebentar lagi, aku akan berkuasa sepenuhnya atas negara ini. Aku tidak perlu lagi pusing memikirkan kelompok Wikar yang selama ini terus menerus menghantui aku. Aku ingin semuanya dibereskan secepatnya." kata Presiden.


"Semuanya sudah dipersiapkan Pak. Kita hanya perlu waktu, karena Jendral Lahar mempersiapkan pasukannya terlebih dahulu." ucap Hanam.


"Setahuku, Jendral Lahar tidak memiliki pasukan lagi setelah dia dipecat dari jabatannya." kata Presiden heran mendengar hal itu.


"Dia masih memiliki beberapa orang kepercayaan yang siap membantunya Pak. Mereka adalah orang-orang terbaik dan sangat terlatih. Mereka pasti bisa mengalahkan pasukan Wikar, apalagi dengan jumlah tentara yang sudah siap dengan senjatanya." jelas Hanam.


"Baguslah kalau begitu. Kau boleh pergi sekarang." perintah Presiden.


"Baik Pak. Saya permisi." kata Hanam.


Presiden sama sekali tidak mencurigai adanya gerak-gerik yang aneh dari pengawalnya itu. Dia hanya membayangkan dan terus membayangkan, tentang kemajuan bangsa ini ditangannya. Dia ingin negara ini menjadi negara yang terkuat dan paling ditakuti, tanpa bantuan dari pihak manapun.


Impiannya memang besar, tapi tindakannya tidak sebesar impiannya. Dia berpendapat bahwa sebuah negara akan kuat jika berhasil menjadi penguasa. Padahal, sebuah negara akan kuat dengan adanya persatuan dari seluruh lapisan masyarakatnya.


Entah keyakinan macam apa yang dia anut sehingga menimbulkan masalah sebesar ini. Dia sama sekali tidak membangun negara ini menjadi semakin kuat. Tapi entah dia sadar ataupun tidak, dia sudah membuat negara ini berantakan dan kacau balau.


Rakyatnya begitu membencinya. Para pengkhianat menghantuinya setiap saat. Bagaimana negara ini bisa kuat, jika pemerintahannya saja pilih kasih dan tidak peduli. Bukan kekuatan yang didapat, justru bencana besar akan menimpanya suatu saat.


Ada masanya kesabaran rakyat selama ini akan meluap. Mereka bisa bertindak lebih sadis dan lebih gila dari pada pemerintah, kalau mereka sudah sangat-sangat marah. Luapan emosi yang ditahan bisa menjadi letupan yang maha dahsyat. Suatu hari nanti, rakyat akan berani mengangkat senjata mereka dan memberikan peluru-pelurunya menghujani tempat ini.




Pada dasarnya, tidak ada kejahatan yang abadi. Perlahan namun pasti, semua itu akan berbalik kepada yang baik. Akan ada masanya dimana pemerintah benar-benar dilengserkan oleh rakyatnya sendiri. Dan rakyat akan merdeka dari penjajahan.

__ADS_1


__ADS_2