
Di markas barunya itu Wikar banyak melakukan latihan, baik fisik atau yang lainnya. Di tempat ini Wikar juga mempelajari cara merakit senjata, dan membuat alat serta bahan untuk senjata itu sendiri. Dengan berbagai pengalaman yang dimiliki, Wikar mulai merakit sebuah Drone untuk memudahkan setiap penyerangan yang dilakukannya.
Mayor Jendral Maric sangat mengapresiasi kegiatan anggotanya itu. Meskipun sebelumnya Wikar tidak terlalu dianggap oleh Mayor Jendral Maric.
"Ini sangat bagus Wikar. Teruskan saja. Kau pasti akan berhasil suatu saat nanti." ucap Mayor Jendral Maric kepada Wikar.
"Terimakasih Jendral." jawab Wikar.
"Suatu hari nanti, aku akan meninggalkan semua ini. Dan aku kembali berkumpul dengan keluargaku. Jujur saja, aku mulai bosan dengan semua ini. Aku ingin ada seseorang yang bisa menggantikan aku suatu saat nanti." kata Mayor Jendral Maric.
"Jendral yakin?" tanya Wikar.
"Aku sangat yakin. Aku sudah tua, dan tidak bisa terus menerus seperti ini Wikar. Kau orang yang baik. Aku tahu itu. Sebaik apa pun aku, aku tetap akan dikenang sebagai seorang pembunuh. Aku tidak mau anak cucuku terkena imbas dari perbuatanku."
Wikar yang mendengar ucapan Mayor Jendral Maric merasa curiga, karena dia mengatakan semua keluhannya hanya kepada Wikar. Apalagi saat mengucapkan kalimat 'Aku ingin ada seseorang yang bisa menggantikan aku suatu saat nanti.' Itu seakan memberikan isyarat kepada Wikar.
"Jika suatu hari nanti kau adalah orang yang ditunjuk untuk menggantikan aku, maka kau harus siap." kata Mayor Jendral Maric sembari berjalan meninggalkan Wikar.
"Mulailah berlatih. Kau tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan sebuah Drone."
Wikar kembali melanjutkan pekerjaannya itu. Dia ingin sekali Drone rancangannya cepat saji, agar bisa segera digunakan. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Tidak ada tugas yang masuk di meja kerjanya. Semua tugas telah diambil alih oleh Pasukan Mayor Jendral Maric.
Begitu juga dengan **Lahar**, dia menyibukkan diri dengan membaca buku. Dia ingin mempelajari semua taktik perang yang ada. Mempelajari cara membuat pertahanan, dan juga cara melalukan penyerangan. Kesibukan barunya itu terasa mulai membosankan baginya, dia masih menginginkan sesuatu yang lebih dari itu.
Untuk melepas penat, **Lahar** mengunjungi ruangan para tahanan. Di sana dia melihat banyak sekali pasukan musuh yang sedang terduduk lemas kelaparan. Dia sama sekali tidak merasa risih dengan hal itu. Justru **Lahar** begitu menikmatinya. Apalagi saat dia melihat salah satu dari mereka yang memakan temannya sendiri, akibat rasa lapar yang sudah tak bisa ditahan.
Dengan sebilah pisau ditangannya, orang itu menyayat sedikit demi sedikit tubuh temannya sendiri. Jiwa psikopat dalam diri **Lahar** mulai meronta-ronta. Dia merasa sangat terhibur dengan tontonan yang mengerikan itu.
Orang itu pun mendekati **Lahar** dengan tatapan matanya yang kosong. Dia memohon kepada Lahar untuk memberikannya sedikit air dan makanan yang layak untuknya. Namun dengan santainya **Lahar** menjawab,
__ADS_1
"*Inilah makanan yang layak untuk orang sepertimu*."
Mendengar jawaban itu, dia marah dan berusaha menusuk **Lahar** dengan pisau di tangannya. Tapi karena orang itu berada di dalam ruangan tahanan, dia kesulitan untuk menyerang **Lahar**. Dia hanya bisa menangis meronta-ronta. Dengan terpaksa dia harus menghadapi kenyataan, bahwa dihari selanjutnya dia tetap akan memakan daging temannya sendiri.
**Lahar** memeriksa ruangan yang lain. Dia melihat ada pasangan sesama jenis yang sudah mati karena terlalu banyak melalukan hubungan badan. Lalu dua penjaga masuk ke ruangan itu, dan mengambil mayat keduanya.
"*Permisi saudaraku, kami akan membawa mayat-mayat ini. Baunya sangat busuk*." kata salah seorang penjaga kepada **Lahar**.
Dalam hatinya Lahar berucap,
**Lahar** kembali ke ruangan yang sebelumnya. Dia masih penasaran dengan apa yang dilakukan oleh si kanibal itu.
"*Hey.. aku akan memberikanmu hadiah jika kau mau membantuku*." kata Lahar sembari memanggil itu.
Dengan cepat orang itu pun merangkak mendekati **Lahar**, dan dia mendekatkan telinganya.
"*Tidak akan ada yang mendengarkan pembicaraan kita. Kau tidak perlu mendekatkan tubuhmu yang menjijikan itu*." kata **Lahar**.
__ADS_1
Orang itu pun sedikit menjauh dari **Lahar**. Dia mendengarkan semua ucapan Lahar dengan seksama. Tapi **Lahar** tidak menyadari, ada penjaga yang menguping pembicaraan mereka. Orang itu juga membisikkan sesuatu kepada **Lahar**. Dia memberitahu **Lahar** soal hadiah yang diinginkannya. Yaitu lokasi persembunyian keluarganya yang harus **Lahar** selamatkan.
"*Baiklah. Aku akan menyelamatkan keluargamu. Tapi lakukan dulu permintaanku, setelah itu kau akan mendapatkan hadiahmu*." ucap **Lahar**.
"*Baiklah*."
Di Ruangan Mayor Jendral Maric...
"Apa yang akan direncanakan bocah itu?! kenapa dia bertindak sebodoh ini!" kata Mayor Jendral Maric sembari memukul meja kerjanya.
"Salah satu penjaga mendengarkannya dengan sangat seksama Jendral. Semua tempat ini dikendalikan oleh pasukan kita. Tidak mungkin para anggota kita berbohong." kata 002.
"Don 002! Apakah kau yakin dengan semua yang diucapkan oleh pasukanmu?!" tanya Mayor Jendral Maric.
"Yakin Jendral! Kita perlu mengawasi Lahar dan pasukannya. Bisa juga pasukannya ikut terlibat dalam hal ini." ucap Don 002.
"Baiklah. Itu akan menjadi tugas semua anggota. Tapi aku yakin, Lahar melakukan semuanya sendiri. Dia sangat ambisius untuk masuk ke dalam kelompok ini. Dia juga memiliki naluri membunuh yang besar. Dia jauh lebih psikopat dari pada kita." kata Mayor Jendral Maric.
"Siap Jendral!"
Mereka semua pergi meninggalkan ruangan itu. Semua pasukan secara diam-diam bergerak mengawasi Lahar. Setiap gerak-geriknya tak pernah lepas dari pantauan Mayor Jendral Maric. Ada yang mengawasi melalui cctv, ada juga yang menguntitnya dari belakang. Tapi ada juga yang menyamar menjadi pasukan biasa dan masuk ke dalam tim Lahar.
Lahar menjadi incaran banyak pasukan, karena hal ceroboh yang telah dia lakukan. Lahar sama sekali tidak mengetahui bahwa dia sedang diawasi. Setelah berhari-hari melakukan persiapan, Lahar pun bergegas untuk pergi. Sayangnya saat Lahar membuka pintu ruangannya, dia disergap dan berhasil dilumpuhkan oleh Don 004 dan juga Don 002.
Lahar tak bisa bergerak sedikitpun. Dia kalah kuat dengan anak buah Mayor Jendral Maric yang sudah terlatih dengan sangat baik. Hanya dengan satu kali pukulan di kepalanya, Lahar langsung tak sadarkan diri. Segera Lahar pun dibawa ke sebuah ruangan yang telah dipersiapkan oleh Mayor Jendral Maric.
Tidak ada anggota timnya yang mengetahui soal penangkapan ini. Penangkapan dilakukan dengan taktik yang begitu terencana. Saat sudah sadar, Lahar hanya bisa pasrah dengan keadaanya. Dia tidak bisa melakukan apa pun, karena ikatan yang sangat kuat pada kaki dan kedua tangannya.
Dengan terbaring lemah, Lahar hanya bisa menatap langit-langit ruangan itu. Rasa sakit di kepalanya membuat dia kesulitan membaca situasi. Apalagi saat Mayor Jendral Maric menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya. Lahar secara tiba-tiba mengoceh dan berhalusinasi. Entah cairan apa yang masuk ke dalam tubuhnya, sehingga Lahar membongkar semua rencananya secara detail kepada Mayor Jendral Maric.
__ADS_1