The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 58


__ADS_3

"Jendral Hidi, bagaimana dengan pasukan kita? Apakah mereka semua sudah siap untuk menjalankan misi?" tanya Presiden Jacob pada Jendral Hidi.


"Prajurit biasa sudah siap Pak Presiden. Tapi untuk pasukan khusus, saya rasa mereka belum benar-benar siap. Mereka masih harus banyak berlatih. Apalagi sekarang persenjataan kita belum lengkap. Masih banyak yang harus kita persiapkan." jawab Jendral Hidi.


"Kita tidak pernah siap menghadapi ini semua Jendral. Lakukan semuanya minggu depan. Paling tidak, ada kejutan untuk mereka. Aku tidak mau terus menerus diam seperti ini. Kita harus menunjukkan kepada mereka, siapa kita sebenarnya."


"Mohon maaf Pak Presiden. Kita harus memperhitungkan semuanya dengan matang. Dari informasi yang saya dapat, Wikar telah memiliki banyak alutsista untuk digunakan. Begitu juga dengan senjata dan amunisi. Pasukannya berlatih dengan sangat keras. Mereka tidak bisa kita anggap remeh. Wikar benar-benar serius kali ini. Kita pernah mendapatkan serangan-serangan kecil sebelumnya, dan kita kalah. Serangan kali ini pasti akan lebih dahsyat dari sebelumnya." ucap Jendral Hidi.


"Kau takut mati?" tanya Presiden Jacob dengan wajah sinis.


"Aku tidak takut pada kematian. Tapi aku tidak mau mati sia-sia. Begitu juga dengan para pasukanku. Mereka belum benar-benar siap untuk terjun ke medan tempur. Jika dipaksa, mereka semua akan mati konyol." jawab Jendral Hidi.


"Baiklah. Terserah kau saja. Tapi aku akan tetap memerintahkan mereka semua untuk berperang. Aku tidak suka menunda-nunda sesuatu."


Ucapan Presiden Jacob membuat Jendral Hidi kesal. Dia sama sekali tidak memperhitungkan semuanya. Tapi, bagi Jendral Hidi itu sebuah kesempatan bagus untuk mengurangi jumlah kekuatan yang Presiden Jacob miliki saat ini. Dengan begitu, Jendral Hidi memiliki alasan yang kuat untuk menghasut Para Jendral yang lainnya.


Karena Jendral Hidi yakin, kalau serangan itu tidak akan berarti apa-apa. Wikar pastilah mampu menghadapi mereka semua. Apalagi sekarang Wikar telah memiliki banyak sekali senjata dan amunisi. Ditambah dengan pasukannya yang kian hari kian bertambah kuat.


"Semua terserah padamu. Sekarang aku permisi, masih ada keperluan lain yang harus aku urus." kata Jendral Hidi sembari berjalan meninggalkan ruangan itu.


Namun saat sudah sampai di depan pintu, Presiden Jacob menahannya.


"Hey! Apa kau masih bisa dipercaya?"


"Menurutmu?" tanya Jendral Hidi kembali.


Dia tidak mau membicarakan banyak hal dengan Presiden Jacob. Dia takut jika statusnya sebagai pemberontak akan ketahuan. Sekarang semua orang-orang penting dipemerintahan dijaga dengan ketat atas perintah Presiden Jacob. Termasuk Jendral Hidi sendiri. Akan semakin sulit baginya untuk memberikan informasi kepada Wikar.


Keputusan ini diambil oleh Presiden Jacob karena sudah banyak para tentara yang berkhianat. Begitu juga dengan para pejabat yang diam-diam menyelundupkan logistik untuk Wikar dan pasukannya. Banyak yang sudah ditahan dan banyak pula yang sudah dibunuh untuk menghilangkan semua jejak gelap Presiden Jacob.

__ADS_1


Presiden Jacob menginginkan kekalahan Wikar dan pasukannya, secepat mungkin. Karena dia tidak mau kekuasaannya digulingkan oleh orang yang derajatnya lebih rendah dari dirinya. Dia tahu kalau yang Wikar incar bukan hanya kepalanya saja. Tapi juga semua harta kekayaan yang ia miliki, untuk membangun kembali negara ini.


Dia tidak ingin kekayaan itu digunakan oleh siapa pun, kecuali dirinya sendiri dan juga keluarganya. Kegilaan Presiden Jacob tak hanya sampai disitu. Dia juga membangun bunker pribadi, khusus untuk keluarganya, jika sampai Wikar datang menyerang tempat tinggalnya. Bunker itu dilengkapi dengan senapan mesin dan juga rudal otomatis.


Siapa pun yang datang kesana akan diberondong dengan peluru dan roket. Bunker itu dibuat sekuat dan senyaman mungkin. Meskipun yang tersisa dari hidup Presiden Jacob hanyalah anak laki-lakinya yang gila, tetapi Presiden Jacob tetap membangun bunker itu agar semakin kuat. Agar anggota keluarganya yang lain tidak ikut menjadi korban.


Peristiwa pahit itu masih diingat oleh Presiden Jacob sampai sekarang ini. Dari anggota keluarganya yang sampai sekarang masih hidup adalah paman, bibi dan kakaknya, beserta putra-putri mereka yang total keseluruhan anggota keluarga itu berjumlah dua belas orang. Meskipun awalnya mereka menolak, tapi biar bagaimanapun mereka tidak bisa terus menerus hidup di luar sana.


Mereka tidak bisa terus menerus melakukan penyamaran, dan harus berpindah-pindah tempat. Karena seluruh keluarga dan orang-orang terdekat Presiden Jacob telah menjadi buronan kelompok Wikar, dan juga masyarakat umum. Seakan tidak ada tempat berlindung bagi mereka. Sekarang, dengan terpaksa mereka harus mau menerima tawaran Presiden Jacob untuk tinggal di bunker. Meskipun mereka sama sekali tidak menyukai Presiden Jacob.



"*Komandan, kami mendapat laporan dari Jendral Hidi, bahwa sekarang semua orang-orang penting di pemerintahan mendapat pengawalan yang ketat dari anak buah Presiden Jacob. Serigala telah keluar dari sarangnya*." kata **Ambar** pada **Wikar**.




"*Baik Komandan. Aku mencarikan orang yang pantas untuk masuk ke dalam misi ini*." jawab **Ambar**.



"*Laksanakan*!"



"*Siap laksanakan*!"


__ADS_1


**Ambar** pun bergegas menuju ke ruangan para anggota senior sedang berkumpul.



"*Perintah dari Komandan Wikar! Jalankan misi ini, perwakilan lima orang. Semuanya sudah ada di peta itu. Berantas! Sampai Tuntas! Laksanakan*!" perintah **Ambar** kepada mereka.



"*Siap laksanakan*!"



Di sebuah pos jaga, beberapa tentara jaga sedang beristirahat. Mereka begitu menikmati makanan dan minuman yang disediakan di tempat ini.


"Enak sekali makanan ini."


"Ya! Kau benar kawan! Untung saja aku tidak ikut dengan Wikar. Kalau aku ikut dengannya, pasti aku sedang kelaparan sekarang!" ucapnya sembari tertawa bersama teman-temannya yang lain.


Mereka sama sekali belum mengetahui, bahwa beberapa anggota pasukan Wikar sedang menuju ke tempat ini untuk menghabisi mereka semua. Mereka ini adalah tentara yang baru saja lulus pendidikan militer. Sebelumnya mereka ragu untuk bergabung dengan para tentara. Namun setelah mereka melihat bahwa kehidupan para tentara di tempat ini terjamin, mereka pun memutuskan untuk ikut bergabung.


"Mereka hanyalah sekumpulan orang-orang bodoh yang bermimpi membangun negara sendiri. Kalau mereka tahu bagaimana kehidupan kita, pasti mereka akan lebih memilih bergabung dengan kesatuan kita dari pada dengan Wikar."


"Hmmmm.... kau benar lagi kawan. Kau tahu? mereka memakan makanan sisa. Itu pun hasil rampasan dari para tentara yang sudah mati. Bodoh sekali mereka. Lebih baik berada disini. Kita bisa bersama dengan gadis-gadis cantik setiap malam. Kita memiliki uang, pakaian yang bagus dan kita tidak akan kelaparan."


"Ya! Kita semua sudah bahagia sekarang. Aku yakin, Wikar tidak sehebat yang dipikirkan oleh orang-orang."


"Iya... dia pasti orang yang penuh dengan omong kosong."


Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Lalu kembali menyantap makanan mereka.

__ADS_1


__ADS_2