
Sesampainya di pangkalan, Wikar, Ambar, dan juga Loah dibawa oleh Sersan Rev ke sebuah ruangan khusus untuk para tamu. Pangkalan militer ini memang dibuat oleh pemerintah untuk pertahanan sekaligus menyambut para donatur dari negara sahabat. Setelah selesai bersih-bersih, mereka dibawa kembali oleh Sersan Rev menuju sebuah ruangan interogasi yang sudah disediakan sebelumnya untuk mereka.
Mereka harus menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Sersan Rev dengan diawasi oleh seorang Jendral Besar yang bernama Martias. Awalnya pertanyaan yang diajukan oleh Sersan Rev sangatlah sederhana. Namun, Sersan Rev mulai mengajukan pertanyaan mengenai semua yang telah terjadi pada Mayor Jendral Maric dan juga sisa pasukannya. Dengan terpaksa, mereka pun menceritakan semuanya, termasuk tentang Lahar yang saat ini masih berada disana.
Untuk membuktikan semua cerita Wikar dan kedua temannya, Jendral Martias mengirimkan pasukan untuk mencari keberadaan Lahar serta mayat dari Mayor Jendral Maric dan juga sisa pasukannya. Setelah pencarian yang dilakukan oleh pasukan Jendral Martias selama hampir tiga jam lamanya, akhirnya ditemukanlah mayat Mayor Jendral Maric yang sudah membusuk dan keadaannya sudah tidak lagi membentuk sempurna.
"Pasukan yang dikirimkan oleh Jendral Martias telah berhasil menemukan mayat Mayor Jendral Maric. Tapi mereka tidak menemukan keberadaan Lahar. Dan yang aneh adalah, mayat dari Mayor Jendral Maric membusuk lebih cepat sehingga kami kesulitan untuk mengautopsinya. Peledak macam apa yang kalian aktifkan?" tanya Sersan Rev pada mereka.
Wikar menatap kedua temannya tanda meminta persetujuan mereka. Ambar dan Loah pun menganggukkan kepala mereka, tanda kalau mereka sudah menyerahkan semua keputusan kepada Wikar.
"Itu adalah senjata biologi. Mayor Jendral Maric membuat semua itu untuk menghabisi semua pemberontak, tapi senjata itu baru akan disempurnakan bulan depan. Karena kesombongannya, Mayor Jendral Maric jadi lupa daratan. Dia ingin menggunakan senjata biologi itu untuk menaklukkan semua orang. Termasuk negara ini. Dia ingin menjadi orang nomor satu. Tidak ada banding, tidak ada tanding."
"Tapi kami melihat sebuah kesempatan bagus untuk melawan kegilaan Mayor Jendral Maric. Dan awalnya kami tidak memiliki rencana untuk meledakkan senjata itu. Tapi salah satu teman kami yang bernama Lahar telah mengaktifkan tombolnya. Jika yang terkena adalah makhluk yang hidup, maka akan berubah seperti zombie. Dan jika yang terkena senjata itu orang yang terluka ataupun sudah mati, maka mayatnya akan membusuk dengan cepat. Dan kami tidak yakin kalau saat itu Mayor Jendral Maric sedang terluka."
Ucapan Wikar itu membuat semua orang yang mendengarnya menjadi khawatir, apalagi saat muncul kalimat "ZOMBIE." Jendral Martias lalu memerintahkan semua pasukannya untuk menutup rapat-rapat tempat yang digunakan oleh para dokter mengautopsi jasad Mayor Jendral Maric. Dan semua dokter yang sudah menyentuh jasad itu harus di periksa dengan sangat teliti.
Untung saja, Jendral Martias selalu sigap dalam menangani masalah apa pun. Sehingga saat hal yang mengerikan terjadi, tidak ada yang terkena dampaknya. Jendral Martias juga memerintah beberapa dokter untuk memeriksa Wikar dan kedua temannya. Dengan kata lain, para dokter yang mengautopsi, Wikar dan juga temannya harus dikarantina.
Hasil autopsi yang dilakukan oleh para dokter akhirnya keluar. Ternyata, selama ini otak dari **Mayor** **Jendral** **Maric** masih tetap utuh dan sama sekali tidak mengalami pembusukan. Dengan kata lain, selama ini pula **Mayor** **Jendral** **Maric** tidak pernah mati. Dia tetap hidup meskipun hanya berada di alam mimpinya sendiri.
__ADS_1
Bukan hanya itu, jaringan-jaringan pada otaknya mampu membuat indra pada semua tubuhnya berkembang. Dokter yang memeriksa pun sampai kebingungan dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sekarang yang bisa mereka lakukan hanyalah menyimpan mayat **Mayor** **Jendral** **Maric** pada sebuah tabung besar yang dipenuhi dengan cairan kimia.
Cairan itu yang akan melumpuhkan urat dan juga bagian tubuh lainnya. Sehingga, meskipun **Mayor** **Jendral** **Maric** dapat mendengar, melihat ataupun merasakan keadaan di sekitarnya, dia sama sekali tidak bisa melalukan apa pun. Apalagi keluar dari tabung tersebut.
"*Kita harus cepat bertindak Jendral. Cairan ini tidak akan berguna selamanya. Jaringan otaknya terus berkembang, dan mencoba mempengaruhi keadaan tubuhnya. Dia berusaha menghidupkan dirinya kembali*." kata **Dokter** **Stam** kepada **Jendral** **Martias**.
"*Maaf Jendral, sebenarnya senjata biologi itu memang sangat dahsyat. Tapi senjata itu hanya melumpuhkan lima puluh persen dari sistem tubuh yang ada. Efeknyalah yang sangat berbahaya. Karena saya menemukan ada hewan kecil seperti cacing. Hewan itu tidak bisa mati sekalipun dibakar. Hewan itu bisa mati jika dia sudah menemukan tubuh yang bisa dia gunakan sebagai rumah. Seperti siput. Barulah dia bisa dibunuh*."
"*Namun saya yakin, kalau Mayor Jendral Maric sudah mengetahui secara detail apa efek dari senjata ini. Dan dia menggunakan cacing-cacing itu untuk kekuatan utamanya. Meskipun sebagian besar tubuhnya telah dikuasai oleh cacing itu, tapi tidak dengan otaknya*." jelas **Dokter** **Stam**.
__ADS_1
"*Untuk sementara ini, kau tetap taruh dia tabung itu. Aku akan membicarakannya dengan pemerintah kita, dan juga para pemimpin yang lain. Jangan sampai penemuan kita ini sampai bocor ke publik, karena itu akan sangatlah berbahaya*." kata **Jendral** **Martias**.
"*Baik Jendral*."
**Jendral** **Martias** pun pergi keluar menuju ruangannya. Di ruangan itu **Jendral** **Martias** menatap foto dirinya bersama dengan keluarganya. Sudah sangat lama dia tidak berjumpa dengan anak dan istrinya. Tugasnya di tempat ini bahkan belum mencapai titik akhir. Justru semakin hari tugasnya semakin banyak.
Dokter Stam menemukan fakta baru pada mayat Mayor Jendral Maric. Bahwa Mayor Jendral Maric hampir menyempurnakan dirinya. Tubuhnya bukan semakin membusuk, namun semakin membaik. Kulit pada tubuhnya terus tumbuh seperti orang yang masih sepenuhnya hidup.
Hal itu membuat kekhawatiran di seluruh dunia. Lahar menjari orang yang paling dicari keberadaannya. Entah dimana Lahar saat ini. Dia berhasil menyembunyikan dirinya dengan baik. Apa mau dikata, Lahar bukanlah tentara biasa. Dia ahli dalam penyamaran.
Pernah suatu hari ada kabar yang mengatakan kalau Lahar kembali ke negaranya. Ada sebuah rekaman cctv yang tersebar di sosial media. Bukti rekaman itu menujukan kalau Lahar dibantu oleh seseorang. Dia tidak sendirian. Tapi anehnya, orang yang membantu Lahar pun sampai sekarang tidak pernah di temukan.
Dua orang itu seperti hantu. Mereka seperti penjelajah waktu. Lokasi dan jejak mereka begitu sulit untuk dicari. Seluruh negara mengerahkan kemampuan mereka untuk mencari keberadaan Lahar dan juga orang yang telah membantunya. Berbagai tim khusus pun dikerahkan untuk menangkap Lahar.
__ADS_1
Sungguh pencarian yang amat sangat sulit. Di era teknologi yang sudah berkembang pesat, polisi, tentara, agen rahasia belum mampu mencium keberadaan Lahar. Tak sampai disitu, jejak keluarganya pun sama sekali tidak diketahui.