The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 66


__ADS_3

Selesai dengan membersihkan badan, Wikar pun kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Disana terlihat Lahar sedang menikmati makanannya dengan sangat lahap, karena semalam perutnya juga kosong. Wikar pun memberikan beberapa pakaiannya untuk Lahar.


"Kau tidak bisa selamanya menggunakan kaos dan celana itu. Kau tidak perlu berpura-pura menjadi Jendral sekarang. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah bergabung kembali denganku. Jika sudah selesai makan, langsung bersihkan badanmu. Aku tunggu kau diluar." kata Wikar keluar dari kamar itu.


Lahar pun dengan cepat menghabiskan makanannya. Bayang-bayang penderitaan di masa lalu masih hinggap di dalam pikirannya. Setiap hari dia selalu bermimpi buruk. Lahar tak pernah bisa melupakan semua yang telah dia alami. Tapi sekarang, dia telah menjadi manusia yang berbeda.


Lahar juga sudah bersumpah untuk tidak lagi membunuh orang jika perang ini telah berakhir. Dia ingin hidup damai di sebuah desa, agar dia bisa melupakan semua kejadian pahit yang telah dialaminya. Dia ingin menjadi manusia yang lebih baik. Menjalani hari-hari dengan kesederhanaan dan kebahagiaan.


Berbagai peristiwa di tempat ini telah membuatnya menjadi gila. Dia tidak bisa terkendali. Semuanya terjadi begitu saja. Dan semuanya berakhir saat Lahar bertemu dengan salah satu anggota pasukan Deathless, yang bernama Erma. Erma yang telah menolong Lahar secara diam-diam. Erma mendatangi tempat dimana Lahar tinggal, sebelum dia diangkat menjadi seorang Jendral.


Awalnya Erma mendapatkan misi untuk mencari keberadaan Lahar, dan misi itu diberikan langsung oleh Wikar. Setelah beberapa waktu, barulah Erma bisa menemukannya. Dan saat itu keadaan Lahar sangatlah memprihatinkan. Dia seperti lupa dengan dirinya sendiri, akibat alat kejut yang dipasang dikepalanya.


Lahar telah dicuci otaknya dan dimanfaatkan sebagai mesin tempur para tentara. Namun hal itu bisa digagalkan, karena Erma dengan cepat melaporkan semua yang terjadi kepada Wikar dan juga Para Deathless. Operasi penculikan Lahar pun dilakukan sepenuhnya oleh Para Deathless, dan berhasil mereka lakukan dengan sempurna.


Lahar berhasil diselamatkan, dan bisa dikembalikan kesadarannya oleh Erma. Sehingga saat Lahar pertama kali membuka mata, yang dia lihat adalah Erma. Kelihatannya, Lahar menyimpan perasaan kepada Erma. Dia berniat untuk melamarnya jika perang telah berakhir.



Perang masih terus berlanjut. Masih ada sisa pasukan **Presiden Jacob** yang berhasil selamat. Mereka mencuri beberapa alat komunikasi dari kamp yang telah hancur, untuk menghubungi semua pasukan **Presiden Jacob** yang ada di **Timur**. Mereka juga menyamar menjadi warga sipil, agar bisa mengirimkan surat untuk agen mereka yang tersebar hampir di seluruh negara.



Hari-hari semakin berlalu. Surat dan juga berbagai sambungan komunikasi pun akhirnya sampai ke pasukan **Presiden Jacob** yang ada di **Timur**. Mereka mengirimkan banyak sekali pasukan, logistik, dan juga berbagai perencanaan yang matang untuk menyerang **Wikar** dan pasukannya. Mereka memiliki berbagai aliansi yang memudahkan mereka untuk menyebrang dari satu negara ke negara lain.



Singkatnya, mereka pun sampai ke negara ini melewati jalur laut. Mereka menggunakan kapal pesiar agar tidak dicurigai oleh para penjaga di perbatasan. Mereka juga menyamar menjadi wartawan dan juga pedagang senjata. Tapi hal itu dicurigai oleh para pasukan **Wikar** yang berjaga di perbatasan. Mereka berpura-pura tidak mengetahui hal itu. Tapi diam-diam mereka melaporkannya kepada **Wikar**.



"*Kita semua harus menyusun rencana yang bagus untuk melawan mereka. Jangan terlalu vulgar. Ini akan tugas yang bagus bagi para Deathless. Kita lakukan semuanya dengan bersih*." ucap **Wikar** kepada teman-temannya.



"*Baiklah. Aku yang akan beraksi kali ini. Tanganku sudah gatal*." kata **Lontro**.


__ADS_1


"*Aku tidak yakin kau bisa mengendalikan dirimu*."



"*Aku berjanji Wikar. Aku tidak akan ceroboh*."



"*Baiklah. Begini rencananya. Para Deathless akan menembak mereka satu persatu, dari jarak jauh. Mereka pasti akan mencari tempat untuk berlindung. Setelah itu kita gunakan bom asap untuk mengacaukan mereka. Mereka akan menganggap bahwa itu adalah gas beracun karena baunya sangat menyengat. Mereka akan berhamburan tanpa kendali. Kemudian kita akan membunuh pengawal, dan kita tangkap ketua mereka*."



"*Itu rencana yang bagus Wikar. Tapi mereka sudah sangat terlatih. Bagaimana jika mereka tetap diam di satu tempat saat kita melempari mereka dengan bom asap*?" tanya **Loah**.



"*Jika hal itu terjadi, bagaimana pun caranya kita tetap harus fokus dengan ketuanya. Itulah yang menjadi misi utama kita*." jawab **Wikar**.



"*Baiklah. Kami semua mengerti*."




"*Siap*!"



Mereka pun langsung bersiap-siap untuk berangkat. Kemudian **Wikar** menghubungi **Para** **Deathless** untuk segera bergabung dengan yang lain. Dari laporan yang **Wikar** terima dari pasukannya, sekarang musuh sedang beristirahat di sebuah rumah milik warga sipil. Pemilik rumahnya telah mereka bunuh. Mereka melakukan semuanya dengan sangat bersih. Benar-benar sangat terlatih.



Para Deathless telah bersiap di lokasi. Para pasukan penjaga perbatasan berpura-pura tidak mengetahui apa pun, agar target tidak merasa curiga. Sedangkan Lontro dan yang lainnya baru akan mendekat setelah Para Deathless memberikan aba-aba. Terlihat kalau musuh juga sedang mempersiapkan senjata yang akan mereka gunakan.


"Lapor pada Wikar!" ucap Loah di Halky Talky-nya.

__ADS_1


"Masuk Loah!"


"Musuh sedang bersiap-siap. Sepertinya mereka akan menuju ke istana. Ada alat penjinak bom, dan juga beberapa bahan peledak."


"Bagus! Terus awasi mereka. Jika mereka bergerak, maka saat itulah semuanya dimulai."


"Lalu bagaimana dengan istana?"


"Aku yang akan mengurusnya."


"Siap!"


Musuh mulai menunjukkan pergerakan. Mereka mulai mengawasi keadaan diluar. Mengendap-endap, dan kemudian Para Deathless menembak mereka. Benar apa yang Wikar perhitungkan, mereka kembali masuk ke dalam rumah untuk berlindung.


"Ayo kita beraksi Loah!"


"Tunggu Lontro! Jangan gegabah! Mereka sedang mencari sumber tembakan. Kita harus memberi waktu kepada Para Deathless."


"Tapi aku sudah tidak sabar!"


"Kau bisa membuat semua orang terbunuh jika terus menerus seperti ini!"


"Ok! Ok! Ok! Aku akan menghisap rokokku. Aku akan tenang." ucap Lontro dengan menghisap sebatang rokok yang tersimpan disakunya.


Hampir saja semua rencana itu gagal karena Lontro tidak bisa menahan nalurinya untuk membunuh. Beruntunglah, kelihatannya dia membawa beberapa batang rokok disakunya. Loah tahu kalau Lontro bisa tenang jika menghisap rokoknya.


Musuh mulai melepaskan tembakan ke berbagai arah. Mereka melihat kesana-kemari. Mereka keheranan karena pasukan penjaga sudah tidak ada di tempat mereka. Mereka baru sadar kalau itu adalah jebakan.


"Bagaimana ketua? Kita sepertinya dijebak. Pasukan penjaga pun sudah tidak ada di tempatnya."


"Aku tahu ini adalah jebakan. Pasti mereka telah mengetahui kedatangan kita. Kita tidak mungkin mereka di tempat terbuka. Kita harus melakukan rencana lain."


"Baiklah ketua, aku akan mencari celah agar bisa melihat ke segala arah. Kita tidak bisa selamanya di tempat ini."


"Lakukanlah apa yang perlu dilakukan."


"Baik."

__ADS_1


Mereka menempatkan posisi mereka di setiap sudut rumah itu. Mencari dimana keberadaan para sniper yang berhasil melumpuhkan lima orang dari mereka. Walaupun pada kenyataannya, sekarang posisi mereka sulit untuk menembak, sekalipun mereka menemukan posisi para Deathless.


__ADS_2