
"Kau tidak bisa membohongi siapa pun di tempat ini Lahar. Aku selalu mengajari pasukanku untuk menjunjung tinggi kesetiaan dan kejujuran. Itulah yang membuat kami semua menjadi kuat. Sedangkan kau, kau hanya kuat dari luar, tidak dari dalam. Tidak ada satupun dari kami yang peduli dengan musuh. Tapi kau malah mengobrol dengan mereka." kata Mayor Jendral Maric kepada Lahar.
Akibat siksaan dari Mayor Jendral Maric, Lahar tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan darah. Lahar tak mampu berbuat banyak, selain berteriak menahan sakit dari sengatan listrik yang mengalir ke dalam tubuhnya. Mayor Jendral Maric benar-benar tidak berbelas kasih sedikitpun kepada Lahar.
Dia bukan hanya memasang listrik di tubuh Lahar, tapi dia juga terus menerus menyuntikkan obat itu kepada Lahar, agar Lahar semakin tenggelam ke dalam dunia fantasinya sendiri. Obat itu akan memicu rasa takut seseorang, dan akan berakibat pada ketakutan yang berlebih. Sangat jarang ada orang yang mampu melewati penyiksaan semacam ini dengan waktu yang lama.
Kebanyakan, orang akan terlelap oleh halusinasinya, dan mati dengan cara mereka sendiri. Yang tidak kuat menghadapi rasa takutnya akan berusaha keras untuk menghindari hal tersebut.
"Ini adalah racun B-33. Siapa pun yang terkena racun ini akan mengalami ketakutan yang luar biasa. Mari kita lihat, sampai mana kau mampu menghadapi rasa takutmu Lahar." kata Mayor Jendral Maric.
Aahhhh!!!
Teriakan keluar dari mulut Lahar saat B-33 kembali disuntikkan ke dalam tubuhnya. Lahar merasa tidak mampu lagi menghadapi semua penyiksaan ini. Dia sudah sangat lemah, untuk menggerakkan jari-jarinya saja Lahar sudah tidak mampu. Tubuhnya gemetar hebat. Darah segar kembali keluar dari mulut dan juga telinganya.
"*Apa kau melihat Lahar beberapa hari ini*?" tanya **Ambar** pada **Wikar**.
"*Tidak. Mungkin dia sedang berlatih dengan Mayor Jendral Maric. Dia sepertinya ingin sekali masuk ke dalam kelompok itu. Aku justru khawatir, karena Lahar sekarang sudah sangat berubah*." kata **Wikar**.
"*Berubah bagaimana maksudmu*?" tanya **Ambar**.
"*Aku melihat ada keanehan dalam diri Lahar. Dia lebih mirip dengan psikopat sekarang, dari pada Lahar yang aku kenal sebagai sahabat*." jawab **Wikar**.
"*Mungkin karena dia sudah terlalu banyak mengalami banyak masalah dalam kehidupannya. Lagi pula, Lahar bukan orang yang penyabar. Dia mudah sekali marah*."
"*Yah... kau benar Ambar. Ayo kita temui kepada Mayor Jendral Maric, dia pasti tahu Lahar ada dimana. Dia orang terakhir yang bersama Lahar*." ajak **Wikar** pada **Ambar**.
__ADS_1
"Ruangan ini kedap suara Lahar. Teriakanmu tak bisa didengar oleh siapapun." kata Mayor Jendral Maric.
"Jendral! Wikar mencari Lahar. Dia menuju ke tempat ini!" kata salah satu penjaga.
Lahar yang mendengar itu merasa sedikit lega. Walaupun Wikar tidak mengetahui keberadaannya, setidaknya Lahar memiliki waktu sejenak untuk beristirahat.
Diluar ruangan itu, Wikar dan Ambar menunggu Mayor Jendral Maric yang masih sibuk dengan Lahar. Lalu tiba-tiba dia keluar dengan pakaian yang penuh dengan darah. Wikar dan Ambar tak merasa curiga sedikitpun, karena sudah menjadi hal yang wajar bagi mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Mayor Jendral Maric.
"Kami tidak melihat Lahar akhir-akhir ini. Dia tidak ada di kamar, dan ruangannya pun kosong, bahkan tak dikunci sama sekali." jawab Wikar.
"Kalian yakin tidak melewatkan satu ruangan pun?" tanya Mayor Jendral Maric kepada mereka.
"Hanya ruangan itu yang belum kami masuki." jawab Ambar sembari menunjuk ke ruangan yang digunakan oleh Mayor Jendral Maric untuk menyekap Lahar.
"Aku yakin kalian tidak akan suka dengan ruangan itu."
Ambar dan Wikar saling menatap. Mereka berdua menganggap kalau itu adalah ruangan eksekusi bagi para tawanan.
"Tidak ada orang yang bisa keluar dari tempat ini, kecuali atas perintahku. Dia pasti masih ada di area ini. Aku yakin dia akan kembali. Bubar!" ucap Mayor Jendral Maric.
Ambar dan Wikar pun pergi meninggalkan ruangan itu. Mereka mulai merasakan adanya kejanggalan di tempat ini.
"Sangat tidak mungkin kalau Lahar bisa pergi dari tempat ini. Apalagi tanpa membawa apa-apa." kata Ambar dengan menunjukkan sebuah foto.
"Itu adalah foto Lahar dengan kakaknya saat Lahar sudah lulus menjalani pendidikan militer. Foto itu selalu dia bawa kemana-mana. Bahkan saat mandi sekalipun." kata Wikar.
**Lahar** mulai ingat, kalau sebelumnya **Lahar** menjatuhkan foto dirinya bersama kakaknya, tepat di depan pintu ruangannya. Dia sengaja melakukan hal itu sebagai kode sederhana untuk teman-temannya, bahwa sekarang Lahar tidak baik-baik saja. Tapi kode itu belum bisa membuat **Wikar** dan **Ambar** sadar akan bahaya yang sedang mengancam **Lahar**.
**Wikar** dan **Ambar** hanya melakukan pencarian di setiap sudut area markas besar ini. Mereka sampai mengulang pencarian berkali-kali, tapi tidak membuahkan hasil sedikitpun. Yang ditemukan oleh mereka hanyalah tali sepatu **Lahar** yang tersangkut pada salah satu pintu gudang.
__ADS_1
Karena sebenarnya, saat **Lahar** di pukul Lahar masih setengah sadar dan berusaha untuk melarikan diri. Tapi hanya kakinya saja yang sanggup dia gerakkan, sehingga tali sepatunya tersangkut dan lepas.
Dalam keadaan yang begitu lemah, **Lahar** tetap berusaha untuk bertahan dari setiap siksaan yang ia terima.
"*Kau begitu kuat dan tangguh. Sayang, kau seorang pengkhianat*." kata **Don** **003**.
"*Semua siksaan ini akan berlangsung lama. Kau tidak perlu menahan dirimu. Jemputlah kematianmu, dan kau tidak akan menderita lagi*."
"*Aa... kuuu.... tii... daa... kk... akk... aan... menyerah*!"
Dengan suara terbata-bata, **Lahar** berusaha membuat **Don** **003** kesal. Dia bahkan mengejek pakaian **Don** **003** yang sudah lusuh dan berbau tidak sedap. Karena kesal, **Lahar** pun kembali mendapatkan salam olah raga di perutnya. Akibatnya, **Lahar** mendapatkan luka yang sangat parah.
Sayatan pada perutnya belum mengering, ditambah lagi dengan pukulan keras yang diberikan oleh **Don 003**. Itu membuatnya semakin menderita. Tapi **Lahar** tetap teguh pada pendiriannya, bahwa dia akan terus bertahan sampai tiba saatnya dia mendapatkan kesempatan untuk menuntut balas perlakuan mereka kepadanya.
Sembari menahan sakit yang luar biasa, sedikit demi sedikit Lahar berusaha melonggarkan tali yang mengikat di kedua lengannya. Meskipun harus dengan paksaan dan juga sakit yang luar biasa pada pergelangan tangannya, tapi Lahar terus menerus menarik tali itu hingga lepas dari tempatnya dibaringkan.
Saat kedua tangannya telah berhasil lepas, dengan cepat **Lahar** mengambil sebuah pisau kecil yang berada di dekatnya. Seketika itu pula dia menusukkan pisau itu ke mata **Don 003**, dan memukulnya dengan sangat keras. **Don** **003** pun jatuh tersungkur dengan pisau yang masih menancap dibola matanya.
**Lahar** juga melepaskan tali yang mengikat kedua kakinya. Tapi sayang, saat Lahar akan kabur, kedua kakinya tak bisa berdiri dengan baik. Kedua tulang kakinya patah. **Lahar** terpaksa harus merayap untuk mencapai pintu. Dan saat itulah, **Lahar** pun berhasil keluar dengan selamat.
__ADS_1
Beruntungnya, **Loah** saat itu berada disana dan langsung membopong tubuh **Lahar**.