
"Kenapa para tentara masih menempelkan poster semacam ini? Padahal Wikar hanyalah dongeng. Bodoh sekali mereka." kata seorang remaja yang melihat poster di tembok sebuah gang yang dilewatinya.
Sembari berjalan, sekelompok remaja itu mengobrol dan bercanda. Mendengar salah satu temannya berkata seperti itu, yang lain pun ikut tertawa. Mereka menganggap bahwa semua yang dilakukan para tentara selama ini hanyalah hal bodoh.
Tapi satu remaja lagi mencoba menceritakan sebuah kisah yang ia tahu dari ibunya.
"Aku ingat, ibuku pernah mengatakan sebuah kisah kepadaku."
"Kisah apa?"
"Tentang Wikar."
Semua temannya diam penuh tanda tanya difikiran mereka.
"Katanya, Wikar adalah seorang tentara. Komandan tentara tepatnya. Tapi saat aksi demo tiga tahun lalu, Wikar dan beberapa temannya memutuskan untuk melawan Presiden. Mungkin dia sudah bosan dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah selama ini."
"Lalu?"
"Lalu dia memasuki istana dan berhasil mendapatkan Presiden. Tapi sayang, salah satu temannya yang sekarang menjadi pengawal pribadi Presiden telah berkhianat kepadanya. Sehingga saat itu Wikar dan orang-orangnya terdesak dan akhirnya memilih untuk mundur."
"Oh. Wikar ternyata pengecut."
"Jangan salah paham dulu. Wikar selama ini sudah membuat aksi perlawanan secara diam-diam. Oleh karena itu, para tentara masih saja mencari keberadaannya. Coba kalian semua fikir, kenapa pemerintah tidak mengizinkan kita menonton televisi? Itu semua adalah cara pemerintah untuk menutupi kesalahan dan kekalahan mereka dari publik."
__ADS_1
"Itu menurut ibumu? iya kan?"
"Tidak juga, kau juga bisa tanyakan pada ayah dan ibumu. Atau kalau perlu, kau tanyakan hal itu pada kakek dan nenekmu. Aku yakin, mereka akan mengatakan hal yang sama. Tapi ingat satu hal, jangan bercerita soal Wikar dihadapan para tentara. Kau akan diburu, sama seperti Wikar."
"Aku menjadi penasaran, seperti apa Wikar itu."
"Yah, begitu juga denganku. Jika suatu hari nanti Wikar datang, dan aku masih hidup, maka aku akan ikut bersamanya. Aku akan menggulingkan pemerintah. Aku sudah bosan hidup di negara ini. Aku tidak bisa berkembang. Aku hanya bisa hidup dalam kemiskinan. Orang-orang takut untuk menjadi kaya. Karena mereka akan dikekang."
"Lalu apa yang ingin kau lakukan jika semua ini berakhir?"
"Aku akan membangun bisnis bersama kalian."
"Bagus! Aku suka dengan hal itu. Ya sudah, kita lanjutkan lagi besok. Sampai jumpa!"
Mereka pun akhirnya berpisah. Kembali ke rumah mereka masing-masing untuk beristirahat, setelah sehari penuh mereka bekerja mengais sampah. Hal itu mereka lakukan setiap hari demi menyambung hidup. Mereka tak punya pilihan.
Para pebisnis sudah memindahkan aset mereka. Tidak ada satu pun orang yang mau membangun bisnis besar seperti dulu. Emas, minyak, dan masih banyak lainnya, sebagian besar telah dirampas oleh Presiden Jacob. Mereka hanya mau membuka usaha kecil dengan hasil yang sama kecilnya.
Begitu juga para remaja ini, mereka lebih memilih menjadi pekerja. Hasil dari pekerjaan itu bukanlah uang, melainkan persediaan makanan. Uang sudah tak berguna lagi di tempat ini. Yang terpenting bagi rakyat hanyalah makan dan makan. Mereka tidak lagi memikirkan hal lain.
Tidak seperti bangsa pada umumnya yang menyediakan fasilitas pendidikan, Presiden Jacob justru menjadikan gedung sekolah sebagai markas militer dan juga pabrik senjata. Anak-anak dididik keras sejak kecil oleh orang tuanya. Agar saat tiba waktunya nanti, mereka bisa mengambil alih negara ini.
Para orang tua hanya bisa mendidik anak-anak mereka sebisanya. Anak-anak dididik untuk mencintai negara mereka, meskipun keadaan bangsa ini sangatlah kacau balau. Hampir setiap jalanan di seluruh kota sepi. Masyarakat takut jika harus keluar sendiri. Mereka hanya mau pergi jika bergerombol.
__ADS_1
Terutama untuk para wanita. Jika mereka nekat pergi sendiri, maka mereka bisa menjadi sasaran kekejaman para tentara. Sudah banyak sekali gadis di bawah umur yang menjadi korban pelecehan para tentara. Mereka dijadikan budak nafsu untuk memuaskan para tentara.
Terkadang, ada dari para gadis itu yang tidak kuat melayani para tentara, dan mereka pun harus mati mengenaskan. Tidak ada pembelajaran moral untuk para tentara. Mereka hanya dilatih menjadi untuk membunuh dan menindas. Karena itulah, tidak heran jika mereka berperilaku seperti hewan.
Tentara yang seharusnya menjadi benteng, justru telah memberikan bencana besar di negara ini. Banyak juga para tentara yang memperjual belikan para gadis ke negara lain. Jika ada kunjungan dari negara lain, maka Presiden Jacob akan memanggil para wanita penghibur terbaik untuk melayani para tamunya.
Namun banyak pula negara lain yang mengecam perbuatan bejat Presiden Jacob. Tapi semua itu tidak merubah apa pun. Semua kritikan itu justru dijadikan bahan tertawaan. Apalagi Presiden Jacob adalah pemimpin yang sadis, dia akan menghabisi siapa pun yang berani ikut campur masalah negaranya.
Dia tak akan menerima nasehat apa pun dari siapa pun. Dia berjalan sesuai keinginannya sendiri. Para menteri dan juga ketua partai yang mencalonkan dirinya sebagai Presiden pun dibunuh, agar dia bisa menguasai sepenuhnya aset partai itu. Dan Presiden Jacob menghapus partai lain yang berusaha menandinginya.
Sampai tidak ada lagi yang tersisa. Orang-orang cerdas dan berani hanya tinggal nama. Mereka semua diberantas habis tanpa sisa. Sekarang, siapa kuat dia yang menang. Yang berlaku di negara ini hanyalah dua hal. Yaitu, menjadi pemenang atau pecundang. Memperbudak atau diperbudak. Menindas atau ditindas. Dan membunuh, atau dibunuh.
Hanyalah pilihan semacam itulah yang bisa mereka ambil. Tidak ada yang namanya kebijaksanaan dan keadilan. Semua pilihan hanya merujuk pada satu hal, yaitu kekuasaan.
Banyak juga anak-anak muda yang membuat perkumpulan sendiri, untuk saling menguatkan satu sama lain. Bahkan ada satu kelompok remaja wanita yang cukup disegani oleh masyarakat. Tidak diketahui siapa pemimpin dari kelompok itu. Berapa jumlah anggotanya pun tidak bisa diprediksi.
Mereka tersebar hampir di seluruh kota. Kabarnya, mereka adalah anak-anak dari para petani desa yang sengaja diberangkatkan ke kota untuk mendinginkan situasi disana. Awalnya yang datang dari desa hanya beberapa orang saja, tapi selanjutnya mereka merekrut warga kota untuk menambah jumlah mereka.
Aksi terakhir mereka yang membuat repot para tentara adalah pencurian seratus lima puluh pucuk senjata api, beserta amunisi dalam jumlah yang tidak sedikit. Semua senjata itu mereka curi dari markas tentara di pusat kota, dan sebagian lagi mereka ambil dengan cara merampas dari para tentara yang sedang berjaga.
Yang membuat heran adalah, mereka seakan sudah mengenal tempat itu dengan sangat baik, karena aksi mereka dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih sepuluh menit. Jika difikirkan, semua itu tidak masuk akal. Kamera pengawas ada di setiap sudut. Dan banyak tentara yang berjaga.
Tetapi, mereka bisa melakukannya dengan sangat bersih. Tanpa jejak. Bahkan mereka tidak terpantau di kamera pengawas. Beberapa penjaga yang terluka melihat kalau ada segerombolan orang yang datang dengan setiap orangnya membawa satu buah pistol dengan peredam di tangan mereka.
__ADS_1
Itupun masih simpang siur, karena faktanya tidak ada satu pun jejak mereka yang ditemukan di tempat kejadian.