The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 52


__ADS_3

Jendral Hidi merasa sangat kesal saat mendapat sebuah laporan kalau penjara terbesar di negara ini telah dikuasai oleh seluruh narapidana. Mayat berceceran di dermaga. Banyak juga logistik senjata dan amunisi yang dicuri dari dermaga itu. Banyak kapal yang hilang. Kecuali kapal yang berukuran besar. Itupun hanya menyisakan empat kapal.


Kapal itu lebih cepat untuk digunakan. Tapi yang menjadi masalah adalah, mereka tidak akan bisa sampai kesana dengan membawa banyak orang. Meskipun cepat, tapi kapal itu berukuran kecil dan hanya mampu membawa delapan orang. Sedangkan Jendral Hidi yakin, bahwa penjara sekarang telah sepenuhnya dikuasai oleh para tahanan.


Jika hanya membawa orang dengan jumlah sedikit, maka itu akan sangat berbahaya. Dengan jumlah banyak saja, mereka belum tentu mampu. Jendral Hidi akhirnya terpaksa menarik seluruh pasukannya untuk kembali. Mereka tidak mungkin memaksakan diri untuk menyerang balik. Dengan tangan hampa, seluruh tentara yang ada di tempat itu pun harus kembali ke markas mereka masing-masing.


Sesampainya di istana, Jendral Hidi pun langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Presiden Jacob.


"Kau melihatnya sendiri?"


"Yah. Aku melihatnya dengan kedua mataku. Dan aku yakin yang melakukan ini bukanlah Lontro. Dia terlalu bodoh untuk melakukan pembantaian. Dilihat dari setiap sayatan di tubuh para tentara yang tewas, aku yakin yang melakukan itu adalah orang yang sangat terlatih. Dia bahkan bisa mengambil seluruh kamera pengawas, beserta file-file penting di dalamnya."


"Baiklah. Aku yakin yang melakukan ini adakah Wikar. Dia ingin menyatukan kembali kekuatannya yang telah lama terpecah. Dan aku yakin, lambat laun dia pasti akan mencari Lahar. Bagaimana pun caranya, kau harus menyembunyikan bajingan itu dari Wikar. Kalau perlu, bunuh saja dia." perintah Presiden Jacob.


Namun dengan tegas Jendral Hidi menolak untuk membunuh Lahar. Karena menurutnya, Lahar akan sangat berguna untuk mereka suatu saat nanti. Jika Lahar dibunuh, hal itu justru akan memancing kemarahan Wikar semakin besar. Dia bisa membunuh dengan waktu yang sangat singkat.


"Aku sama sekali tidak menemukan adanya peluru yang menembus badan mereka. Mereka semua mati dengan leher yang tersayat. Dan ini adalah ancaman besar untuk kita. Jika kita tidak melatih pasukan kita, maka kita akan mati sia-sia." kata Jendral Hidi.


"Lakukan apa yang harus dilakukan. Aku tidak mau jika Wikar sampai menguasai seluruh wilayah di negara ini. Aku ingin, semua tentara disebar ke seluruh wilayah. Aku tidak mau dia hidup berlama-lama. Karena hanya dia yang berani menggulingkan kekuasaanku." ucap Presiden Jacob dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Presiden Jacob mulai merasakan takut akan kehilangan kekuasaan. Dia sangat tertekan setelah mengetahui kalau Wikar telah kembali. Masih banyak sekali tentara pembelot yang hidup sampai sekarang. Ada yang bersembunyi, menjadi pasukan bawah tanah. Ada juga yang menyamar sebagai warga biasa. Namun sebagian besar masih ditahan dan disiksa di dalam penjara.


Kebanyakan mereka akan menjadi gila dan mati di dalam penjara. Tapi sebagian kecil dari mereka bisa bertahan hidup dan justru menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Walaupun mereka belum bisa keluar dari penjara, namun setidaknya mereka bisa bertahan sampai ada yang membebaskan mereka. Mereka seakan mendapat petunjuk, bahwa Wikar akan datang.


Karena selama bertahun-tahun, mereka dengan sabar terus menunggu dan menunggu kedatangan Wikar. Mereka terus berdoa dan berusaha bertahan, agar saat waktunya keluar nanti, mereka bisa bergabung bersama Wikar. Mereka yang masih menjadi budak di dalam penjara, tidak tahu menahu soal kembalinya Wikar. Karena Presiden Jacob berusaha keras untuk menutupi semua itu.


Jika sampai para tahanan tahu, maka hal itu akan sangat membahayakan pemerintah. Mereka akan menganggap bahwa pemerintah sedang goyah dan lemah. Dan hal itu pasti akan dimanfaatkan oleh para tahanan untuk melakukan perlawanan. Para tentara tidak mungkin bisa menampung, jika para tahanan melawan. Karena jumlah tahanan jauh lebih banyak dari pada para tentara yang berjaga.




**Jason** dan semua pasukan **Wikar** telah berhasil melakukan sembilan puluh persen pembangunan markas. **Jason** begitu senang, karena meski dia sudah tua, dia masih bisa memperhitungkan segala sesuatunya dengan matang. **Jason** tidak kehilangan kemampuannya sebagai seorang arsitek. Bahkan dia masih bisa melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.


__ADS_1


"*Aku tidak menyangka kalau pekerjaan ini akan cepat selesai. Mereka jauh lebih bersemangat dari pada yang aku lihat*." ucap **Jason** kepada **Loah**.



"*Ya! mereka seperti tidak merasakan lelah. Mereka bekerja sepanjang. Tanpa gaji, tanpa pakaian bagus*."



"*Yang terpenting bagi mereka adalah makanan untuk menghidupi istri dan anak-anak mereka. Uang tidak berlaku lagi di tempat ini*."



"*Kau benar Jason. Dulu aku sangat suka memiliki uang banyak. Tetapi aku tidak pernah menyangka, kalau uang akan menjadi sampah di negara ini*."



Mereka tertawa dengan penuh bahagia. **Loah** dan **Jason** dulunya sama-sama orang kaya. Memiliki banyak uang. Apa pun bisa mereka miliki dengan uang. Namun sekarang kenyataan telah berbeda. Uang bukan lagi hal utama. Uang hanyalah segenggam kertas dan setumpukan koin tak berharga.



Kini mereka berdua telah sadar, bahwa hal yang paling utama adalah persaudaraan. Dengan memiliki banyak teman, sahabat, keluarga, maka tanpa uang pun mereka masih bisa bertahan hidup. Tapi sekalipun uang berlimpah, tidak akan ada gunanya. Karena pada dasarnya, uang sama sekali tidak akan menjamin bahwa nyawa kita akan selamat.




"*Oh ya Jason, menurutmu bagaimana selanjutnya*?" tanya **Loah** pada **Jason**.



"*Maksudmu*?"



"*Yah... apakah menurutmu kita akan mati seperti orang-orang*?"

__ADS_1



"*Kenapa akhir-akhir ini kau selalu bicara ngawur*?" tanya **Jason** meledek.



"*Emmm... entahlah. Terkadang aku berfikir, apakah aku akan mati? Seperti mereka sebelum kita? Mereka mati kelaparan, kehausan, disiksa, dan mereka mengalami hari-hari mengerikan. Mereka tidak tahan dengan kondisi seperti ini, yang kemudian mereka memutuskan untuk bunuh diri*."



"*Hey dengar! Kita tidak akan mati dengan cara seperti itu. Aku akan mati karena menua. Sakit dan kemudian mati. Dan kau pun akan begitu*."



"*Kenapa kau begitu yakin*?" tanya **Loah** lagi.



"*Walaupun aku bukan orang yang baik dalam beragama, tapi aku tidak pernah meragukan Tuhanku. Aku yakin, orang yang berusaha melakukan hal-hal baik, pasti akan mati dengan cara yang baik*." jawab **Jason**.



"*Kau membaca kitab*?"



"*Tidak juga. Tapi aku suka mendengarkan orang-orang yang melantunkan ayat-ayat kitab. Aku tidak bisa meniru mereka. Tapi kau harus tahu, bahwa itu adalah sesuatu yang indah. Sangat-sangat indah. Aku harap, sebelum aku bertemu dengan ajalku, setidaknya aku bisa memahami satu ayat*."



"*Kalau begitu. Kau berhak untuk mengajariku*." Ucap **Loah**.



"*Pasti. Pasti saudaraku. Kita akan belajar bersama nanti*."

__ADS_1



Obrolan itu diakhiri dengan **Jason** yang melanjutkan kembali pekerjaannya. Begitu juga dengan **Loah**, yang kembali ke meja komputernya.


__ADS_2