The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 64


__ADS_3

Rencana itu benar-benar menjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Ando dan pasukannya berhasil menguasai markas. Dengan perencanaan yang matang, Wikar dan sisa pasukannya telah berhasil menyelamatkan diri. Dalam hatinya, Wikar begitu sedih dan sangat menyesal dengan semua yang telah terjadi.


Andai kata dia memiliki rencana yang lain, pasti Wikar tidak akan tega mengorbankan sebagian pasukannya yang lain. Dia pasti lebih memilih untuk membuat mereka tetap hidup. Namun apa daya, Wikar hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kuasa atas semua peristiwa yang telah terjadi.


Dan pada akhirnya, semua kesedihan dan kepayahan itu membuahkan hasil yang sepadan. Wikar kini kembali menyusun kekuatan baru untuk menghadapi para tentara yang lain. Karena sekarang, Ando dan pasukannya telah berhasil ditangkap. Mereka telah masuk dalam perangkap yang telah Wikar buat.



**Di Masa Sekarang**...



**Wikar** dan **Ando** kini telah bersahabat. Dan dia telah dipertemukan kembali dengan sahabatnya, yaitu **Lahar**. Kini **Lahar** sudah lebih baik. Dia sudah bisa mengendalikan emosinya yang dulu mudah tersulut. Mereka sekarang hanya perlu melakukan rencana terakhir dari perjalanan mereka. Setelah sekian lamanya mereka sama-sama mengalami penderitaan dan kesengsaraan.



Mereka kini bisa tersenyum bahagia setelah berhasil membantai ribuan tentara milik **Presiden Jacob**.



"*Apa menurutmu Presiden Jacob akan mendatangkan semua pasukannya ke tempat ini*?" tanya **Lahar** pada **Wikar**.



"*Menurutku tidak. Semua pasukannya yang ada di Timur juga telah mati*." jawab **Wikar**.



"*Bagaimana kau mengetahui hal itu*?" tanya **Lahar** lagi karena penasaran.



"*Baiklah sahabatku, aku akan menjelaskan sedikit. Awalnya aku membuat sebuah pengorbanan. Yah, memang sebuah pengorbanan agar Ando dan pasukannya bisa menguasai markas dan masuk ke dalam perangkap. Tapi tahukah kau? bahwa mereka yang aku pilih untuk melakukan rencana bunuh diri adalah orang-orang yang secara diam-diam berkhianat kepadaku. Aku menahan keluarga mereka, dan membungkam mulut mereka dengan beberapa kotak makanan. Aku lalu mengatakan sebuah tipu muslihat, bahwa yang akan mereka hadapi hanyalah sekumpulan pion yang tidak ada artinya apa-apa. Dan tebak saja! Dengan ganasnya mereka membantai sekutu mereka sendiri*." ucap **Wikar** dengan tawa yang begitu lepas. Seakan semua beban hidupnya telah keluar dari dalam dirinya.



Begitu juga dengan **Lahar** yang ikut tertawa mendengar hal itu. Apalagi **Wikar** mengatakan segalanya dengan kondisi dia sedang mabuk. **Lahar** yang sudah minum terlalu banyak, kondisinya jauh lebih parah dari pada **Wikar**. Dia sudah tidak mampu lagi duduk dengan baik. **Lahar** hanya mampu menyenderkan separuh dari tubuhnya di kursi. Dengan bokongnya yang sudah menggantung diantara meja dan kursi itu. Kakinya bergerak kesana-kemari di atas meja, seakan menari-nari, tanda dia sudah mabuk terlalu berat.

__ADS_1



"*Lalu sahabatku, kegilaan macam apalagi yang telah kau lakukan*?" tanya **Lahar** kepada **Wikar** dengan nada suara yang berat.



"*Oh.. kau tidak bisa mendengarkan ceritaku dengan baik jika kau dalam kondisi mabuk*."



"*Yah... begitu juga denganmu. Kau juga mabuk*."



"*Oh ya*?"



Mereka berdua pun kembali tertawa gembira. Mereka sudah tidak lagi mengingat apa yang telah terjadi hari ini. Bahkan, ribuan mayat tentara yang menumpuk di depan mereka bukan tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tersenyum.




"*Wikar, mayat mereka sangat banyak. Mobil kita tidak cukup untuk membawa mereka semua sekaligus. Bagaimana jika kita bawa dengan tank*?" tanya **Loah** pada **Wikar**.



Tapi karena **Wikar** sedang **mabuk**, dia menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang ngawur.



"*Eehh.. Loah... Taruh saja itu dimulutmu*." jawab **Wikar** dengan suara tawanya yang meledek.



"*Dasar orang tua gila. Ayo Ando, kita ikat saja mayat-mayatnya di tank besar ini. Jangan ajak dia bicara sampai dia benar-benar waras*." ucap **Loah** dengan kesal karena mendengar jawaban **Wikar**.

__ADS_1



Ando dan Loah pun mulai mengumpulkan mayat-mayat yang masih berserakan di tanah. Sekalipun itu adalah mayat para tentara yang menjadi musuh mereka, tapi mereka tetap menguburkan mereka semua dengan layak. Karena mereka masih memandang para tentara itu sebagai manusia, bukan sampah.


"Apakah ini yang biasa kalian lakukan setelah membunuh?" tanya Ando pada Loah.


"Ya. Meskipun mereka semua adalah musuh. Tapi kami tetap menghargai mereka sebagai manusia. Itulah yang membuatku tetap setia kepadanya. Meskipun terkadang dia menjengkelkan, tapi sebenarnya adalah orang yang baik. Kita berdua tidak akan bisa berdamai jika tidak ada orang seperti Wikar. Dia memang buas. Tapi bukan berarti yang buas tidak memiliki rasa peduli."


"Kau benar Loah. Jika Wikar tidak menjebakku kala itu, aku mungkin tidak akan sadar apa yang sebenarnya terjadi di negeriku ini. Aku juga telah mengawasi Wikar, jauh sebelum aku bergabung dengan kalian. Aku bergabung dengan militer, hanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku sama sekali tidak serius. Aku hanya mengikuti perintah yang diberikan. Tak lebih dari itu." kata Ando.


"Dan sekarang kau telah mengetahuinya. Wikar tidak pernah memaksa orang-orang untuk bergabung dengannya. Tapi jika kau sudah bertempur bersamanya, jangan sekalipun kau berniat untuk mengkhianatinya."


"Itu tidak akan terjadi Loah. Aku sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Aku sudah tahu siapa yang memulai semua ini."


"Bersabarlah Ando. Masa depan cerah telah menunggu kita."


"Ya!"




Sudah seharian penuh **Hanam** menunggu di dalam bunker bersama dengan para dokter. Keadaan **Presiden Jacob** sudah sangat parah. Meskipun sudah mencoba segala cara, tapi peluru yang mengenai tubuh **Presiden Jacob** sangatlah berbahaya. Saat melakukan pemeriksaan, para dokter menemukan adanya serbuk racun di dalam tubuh **Presiden Jacob**.



Masalah juga bertambah saat para pasukan **Jendral Lahar** pergi meninggalkan mereka di dalam bunker. Pintu depan bunker juga telah dipasangi bom. Jika pintu bunker sampai terbuka, maka semua orang yang ada di dalam bunker akan mati. Karena bom yang terpasang memiliki daya ledak yang sangat kuat.



Rencana **Hanam** untuk pergi meninggalkan **Presiden Jacob** harus gagal akibat ulah pasukan **Jendral Lahar**. Mereka benar-benar cerdik dalam melakukan tugasnya masing-masing. Semuanya berlalu dengan cepat. Bahkan **Hanam** tidak bisa mencegah hal itu, atau pun ikut kabur bersama mereka. **Hanam** sudah lama tidak berlatih, sehingga dia kalah cepat dengan situasi.



Para dokter sudah bingung mau melakukan apa. Semua obat dan infus telah digunakan, karena **Presiden Jacob** terus mengeluarkan darah. Hingga pada akhirnya para dokter menyatakan menyerah. Mereka sudah tidak sanggup lagi menyelamatkan **Presiden Jacob** karena memang kemungkinan sangat kecil untuk dia bisa selamat.


__ADS_1


**Hanam** bingung, khawatir, cemas, dan takut, semuanya bercampur menjadi satu. Dia tidak tahu bagaimana nasibnya nanti. Salah satu cara agar dia bisa keluar dari bunker ini adalah dengan membuka pintunya, dan kunci pintu itu adalah ibu jari **Presiden Jacob** sendiri. Namun, jika pintu sampai terbuka maka semua orang akan mati. Termasuk dirinya.


__ADS_2