The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 38


__ADS_3

Sampai saat ini, orang-orang yang pernah dekat dengan Lahar tidak pernah ditemukan. Kecuali Wikar dan kedua temannya, Ambar dan Loah. Selain mereka bertiga, semuanya lenyap bagai ditelan bumi. Lahar seperti sudah merencanakan semua ini dengan matang. Padahal, semua kejadian ini tidak pernah diduga oleh siapapun.


Masalah di negara ini semakin rumit. Belum tuntas masalah para pemberontak, sekarang bertambah dengan satu orang yang membuat heboh satu dunia. Semua media memberitakan tentang buronan yang bernama Lahar, hampir setiap hari. Dan hingga sampai saat ini juga, semua negara di dunia belum menemukan titik terang atas masalah yang sedang dihadapi.


Meskipun mereka sudah bekerja dengan sangat keras, tapi tetap saja belum menemukan hasil yang pasti. Para Presiden dari setiap negara akhirnya mengadakan sebuah pertemuan besar-besaran untuk membahas masalah ini. Pertemuan ini diadakan oleh pemerintah Wikar, dan dihadiri oleh para pemimpin negara sekutu.


Mereka saling adu argumen satu sama lain. Mereka merasa tidak puas dengan keputusan Presiden Jacob atas apa yang akan dilakukannya. Presiden Jacob ingin semua negara menghapus semua data tentang diri Lahar, dan memblok semua media yang memberitakan tentang semua kejadian ini. Karena menurut Presiden Jacob, itu adalah keputusan yang paling tepat.


"Jika dipikirkan kembali, keputusan Presiden Jacob ada benarnya juga." ucap salah seorang pemimpin kepada pemimpin negara yang lain.


"Coba fikirkan kembali, apa yang bisa kita lakukan sekarang ini? Semua kemampuan di masing-masing negara telah dikeluarkan, tapi sama sekali tidak membuahkan hasil." lanjutnya sembari kembali duduk dikursinya.


Semua pemimpin negara pun diam, dan mereka hanya saling berbisik dengan para penasehat mereka masing-masing. Lalu mereka semua mengangguk, tanda bahwa mereka menyetujui rencana Presiden Jacob. Meskipun dengan sangat terpaksa.


Akhirnya mereka pun sepakat untuk melakukan rencana Presiden Jacob. Dan mereka pun keluar dari tempat itu menuju mobil mereka masing-masing. Awak media yang sudah menunggu mereka selama berjam-jam pun merasa sangat kecewa karena Para Presiden keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Hari itu akan menjadi sejarah baru di dunia. Karena tidak ada satupun pemimpin yang berani buka mulut atas keputusan yang telah mereka ambil sendiri. Semua pemimpin merenungi hari paling buruk itu. Entah apa yang mereka impikan saat tidur malam ini, sehingga mereka semua harus mengambil keputusan yang sangat sulit.



"*Pak Presiden, keputusan yang telah disepakati itu sepertinya memicu konflik di berbagai negara. Rakyat saling mengancam pemimpin mereka masing-masing, dan kebanyakan yang memprotes adalah para wartawan. Mereka semua bersatu untuk membongkar keputusan pada hari itu. Mereka menyebarkannya kepada masyarakat. Mungkin, beberapa hari lagi kita juga akan menghadapi masalah yang sama*." kata penasehat **Presiden**.



**Presiden** **Jacob** yang mendengar hal itu menjadi tersulut emosinya. Dia lalu membanting cangkir yang ada di genggamannya.



"*Kau dipecat! Dan aku sudah tidak membutuhkanmu. Aku juga tidak perlu Wakil untuk mengatur pemerintahan yang sekarang sudah di genggamanku*!" jawab **Presiden** **Jacob**.



Penasehat itu pun keluar dari ruangan itu, disusul dengan Wakil Presiden. Mereka sudah muak dengan sikap Presiden Jacob yang suka semena-mena. Presiden Jacob lalu menghubungi **Jendral** **Hidi**. **Jendral** **Hidi** adalah **Jendral** yang sangat dihormati dan ditakuti. Dia dan **Presiden** **Jacob** sudah bersahabat sejak masih muda.



Mereka selalu mendukung satu sama lain. Karena itulah tak banyak orang yang berani menentang keputusan **Presiden** **Jacob**. Dia tidak pernah mau diatur oleh siapa pun. Dia juga sudah merubah semua aturan hukum di negara ini sesuai dengan kehendaknya. Siapa pun yang berani membantah pasti akan berhadapan dengan situasi yang sulit.



"*Sahabatku, aku membutuhkan bantuanmu sekarang juga*." kata **Presiden** **Jacob** di teleponnya.


__ADS_1


"*Apa yang harus aku lakukan*?" tanya **Jendral** **Hidi**.



"*Kerahkan pasukanmu untuk menahan gelombang demonstran yang sekarang sedang menuju istana negara. Jangan biarkan satu pun dari mereka menerobos masuk ke tempat ini*." perintah **Presiden** **Jacob** kepada **Jendral** **Hidi**.



"*Apa pun yang kau mau sahabatku*." jawab **Jendral** **Hidi**.



"*Laksanakan*!"



"*Siap*!"



Semua pasukan pun kaget mendapatkan perintah itu. Termasuk Wikar dan kedua temannya yang baru sampai di negara mereka. Padahal Wikar, Ambar dan juga Loah masih belum diperbolehkan untuk pulang karena mereka sempat mengalami sakit selama beberapa hari sebelumnya.


Namun karena Jendral Hidi memaksa, akhirnya mereka semua pun dipulangkan. Mereka bertiga pulang dengan penuh kekesalan. Presiden Jacob dirasa tidak pernah adil kepada semua orang. Dia selalu bertindak sesuai keinginannya sendiri. Bahkan dia sama sekali tidak memberikan penghormatan terakhir kepada para tentara yang telah mati.


Rakyat benar-benar sudah marah dan kecewa atas pemerintahan Presiden Jacob. Dia suka menaikkan pajak dan juga harga jual secara tiba-tiba tanpa sebuah alasan yang pasti. Pada dasarnya, semua masyarakat di negara begitu baik dan ramah. Sebelum Presiden Jacob menjabat, angka kejahatan di negara ini sangatlah kecil.


Berbeda dengan sekarang, semua orang bisa mendapatkan senjata secara legal. Yang ada di fikiran Presiden Jacob hanyalah uang dan uang. Dia ingin kekuasaan penuh atas negara ini, dan juga seluruh kekayaan alamnya. Negara yang awalnya kaya dan jaya, sekarang telah berubah menjadi negara paling bobrok di dunia.




"*Apa yang akan dilakukan oleh tua bangka itu selanjutnya*." ucap **Wikar** sembari menggerutu.



"*Itulah alasannya kenapa kami berdua lebih memilih menjadi penjahat dari pada harus menjadi tentara*." kata **Loah** kepada **Wikar**.



**Wikar** mulai memikirkan sesuatu dalam benaknya. Dia sangat berharap kalau aksi para demonstran bisa berhasil menurunkan **Presiden** **Jacob** dari jabatannya. Jika suara para demonstran gagal menggulingkan tahta **Presiden** **Jacob**, pasti kekacauan akan terjadi dimana-mana.


__ADS_1


**Wikar** secara tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. Dia lalu turun dari mobil dan menuju ke belakang untuk menemui beberapa pasukan yang dia bawa.



"*Dengar kawan-kawan, kita akan menghadapi keadaan yang sulit. Kita dihadapkan pada kedua pilihan besar yang akan menentukan nasib kita di kemudian hari. Aku yakin, sebagian dari kalian ada yang mengkhawatirkan nasib keluarga kalian saat ini. Para warga sipil sudah tidak bisa dikendalikan. Dan keluarga kalian ada diantaranya. Jika kita tetap memihak Presiden Jacob, maka nasib keluarga kalian akan dipertaruhkan*." ucap **Wikar** pada mereka.



Mereka semua tertegun mendengar perkataan **Wikar** yang terkesan ingin mengkhianati pemerintahannya sendiri. Tapi karena semua ucapan **Wikar**, pikiran mereka menjadi terbuka. Karena apa yang dikatakan oleh Wikar memang benar adanya. Jika mereka memihak kepada **Presiden** **Jacob**, maka nasib keluarga mereka tidak bisa dijamin. Namun jika mereka memilih untuk melawan, maka setiap dari mereka bisa menentukan nasib mereka masing-masing.



Salah seorang dari mereka berdiri dan berkata,



"*Aku mungkin tak sehebat dirimu. Tapi aku tidak takut jika kau memang mau melakukan sesuatu. Aku akan bergabung. Aku lebih baik mati dari pada harus menjadi budak di negaraku sendiri. Aku menjadi prajurit karena aku ingin menjaga negara yang aku cintai, bukan untuk tunduk pada penguasa*."



"*Aku ikut*!"



"*Aku ikut*!"



"*Aku ikut*!"



"*Aku ikut*!"



Mereka semua berdiri, dan melakukan penghormatan kepada **Wikar**. **Wikar** hanya tersenyum, dia tidak menyangka jika mereka semua akan mendukungnya. Padahal **Wikar** sama sekali tidak mengenali mereka.



"*Baiklah. Lakukan apa yang harus kita lakukan! Demi Bangsa Kita*!"


__ADS_1


"*Siap Komandan*!"


__ADS_2