
Tiga Tahun Kemudian...
Waktu berlalu begitu cepat. Perlahan semuanya pun berubah. Orang-orang sudah tidak lagi membicarakan tentang aksi demo yang telah dinyatakan gagal. Dalam aksi tiga tahun sebelumnya, banyak orang yang menjadi korban. Banyak dari mereka yang ditangkap oleh para tentara.
Begitu juga dengan Lontro. Dia telah kehilangan segalanya. Semua asetnya telah diambil alih oleh pemerintah. Sahabat dan keluarganya pun turut menjadi korban. Mereka semua tewas di tangan Presiden Jacob sendiri. Sedangkan Lontro dibiarkan hidup, dan harus menjalani siksaan pedih di dalam penjara.
Baginya, dipukul dan diinjak sudah menjadi hal yang biasa. Para sipir penjara dengan sadis melecehkan dan juga menyiksanya tanpa henti. Dia juga mendapatkan jatah makan hanya tiga hari sekali. Tubuhnya mulai melemah. Dia sudah tua. Lontro yang dulu ditakuti dan disegani, sekarang telah berubah menjadi seorang budak.
Bagaimana tidak? setiap hari dia harus membersihkan sepatu seluruh sipir penjara dengan lidahnya sendiri. Dia juga harus membersihkan seluruh lantai penjara dengan baju tahanan yang setiap hari dia pakai. Rambutnya dibiarkan tetap panjang, agar dia benar-benar terlihat seperti seorang budak rendahan.
Ini semua adalah akibat dari perlawanannya dulu kepada Presiden Jacob. Di dalam ruang tahanan itu Lontro merenung menatap dinding dan langit-langit penjara. Dia mencoba tetap mengontrol dirinya, agar suatu hari nanti dia bisa membalas semua perbuatan Presiden Jacob pada dirinya.
Dan siapa sangka? bahwa perlakuan kasar yang dia terima justru membuat Lontro semakin bertambah kuat dari sebelumnya. Sebelumnya dia hanya bersembunyi di balik punggung anak buahnya, tapi sekarang dia telah benar-benar berani menantang setiap orang yang macam-macam dengannya.
Lontro menunggu waktu yang tepat untuk melawan para sipir penjara. Dia ingin berada di dekat mereka, sedekat mungkin. Alarm penjara berbunyi, tanda bahwa hari sudah malam. Sekarang waktunya para tahanan beristirahat. Namun berbeda dengan Lontro, dia hanya berpura-pura memejamkan mata. Agar saat para sipir penjara mendatanginya, dia bisa melakukan perlawanan.
Terlihat di kamera pengawas ada sebuah keributan antara sipir dan para tahanan. Hal ini sama sekali tidak diketahui oleh penjaga di ruang pengawas, karena penjaga itu tertidur di kursinya. Para sipir yang terlibat keributan dihajar habis oleh para tahanan, mereka semua berhasil mengambil kunci dan membebaskan tahanan yang lain.
Begitu juga dengan **Lontro**, saat dia sadar ada sebuah keributan, **Lontro** pun langsung menendang pintu ruang tahanannya. Seketika pintu itu pun hancur dan lepas dari kerangkanya. **Lontro** pun mengambil sepucuk pistol yang tergeletak di lantai. Semua tahanan pun kaget saat melihat pintu ruangan yang menahan **Lontro** hancur dengan satu kali tendangan.
Mereka semua menatap **Lontro** penuh tanda tanya. Mereka heran sekaligus kagum. Pintu penjara yang terbuat dari besi yang sangat keras, ditambah dengan kunci gembok yang sangat kuat, bisa hancur hanya karena sebuah tendangan. Hal itu membuat semua tahanan pun mengerumuni **Lontro** dan meneriaki namanya.
__ADS_1
**Lontro** melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan bagus baginya. Dia bisa merekrut mereka semua untuk menjadi anak buahnya, menggantikan orang-orangnya yang telah tiada. **Lontro** pun berlari menuju ruangan para sipir dan menerobos masuk, diikuti dengan ratusan orang dibelakangnya.
"*Saatnya perubahan*!" ucap **Lontro**.
Hal itu ditanggapi oleh mereka dengan menghajar semua sipir penjara. Sebagian dari mereka juga memasuki ruang penyimpanan senjata. Bagi sipir yang masih hidup akan ditahan dan disiksa habis-habisan. **Lontro** ingin menggunakan para sipir itu untuk mengancam **Presiden** **Jacob**.
Hal itu dilakukan **Lontro** karena sudah geram dengan **Presiden** **Jacob** yang selalu menjadi penguasa di negeri ini. Saat pemilihan Presiden pun, **Presiden** **Jacob** memberikan perintah kepada **Jendral** **Hidi** untuk menyingkirkan tiga orang saingannya. Sehingga hal itu menjadi satu hal yang menakutkan bagi orang-orang berpengaruh di negara ini.
Semua orang mulai resah. Sekarang, orang-orang takut untuk menjadi kaya. Karena mereka tahu, jika mereka memiliki kekayaan, maka kekayaan mereka sebagian besar akan diambil secara paksa oleh pemerintah. Kebanyakan orang akan memilih untuk menjadi petani.
Karena para petani hanya akan fokus pada pertumbuhan ekonomi sehari-hari. Dan mereka tidak terlalu pusing dengan uang, apalagi soal kekayaan. Negara ini benar-benar sudah kacau. Wartawan banyak yang dibunuh karena memberitakan kritikan kepada **Presiden** **Jacob**. Siapa pun yang menantang **Presiden** **Jacob** akan tewas tanpa terkecuali.
__ADS_1
"Apa yang akan kita lakukan? Tidak ada awak media. Kita tidak bisa mengancam Presiden Jacob jika mereka hanya kita tahan seperti ini." tanya salah seorang tahanan kepada Lontro.
Lalu seorang lagi dari mereka datang dengan membawa seorang mantan wartawan televisi swasta. Orang itu berbadan kurus dan pendek, dengan sebuah kamera, laptop dan juga telepon genggam di tas yang dia bawa.
"Tenang bos, aku sudah mempersiapkannya." kata mantan wartawan itu.
"Siapa namamu? Dan siapa orang ini?" tanya Lontro kepada seorang tahanan itu sembari menunjuk ke arah mantan wartawan yang bersamanya.
"Namaku Jim. Dia saudaraku Liam. Dia seorang mantan wartawan. Dan sekarang dia seorang peretas." jawab Jim.
"Bagus Jim. Dan kau Liam, apa kau bisa menghubungkan aku dengan Presiden?"
"Tentu saja bos. Apa pun yang kau inginkan." jawab Liam.
"Kenapa kau mau melakukan ini?"
"Kita memiliki tujuan yang sama, yaitu melawan Presiden Jacob. Kenapa aku tidak bisa membantumu?" ucap Liam.
Lontro tak menjawab apa pun. Dia hanya tersenyum. Itu sudah memberikan sebuah arti, kalau Lontro setuju Liam bergabung dengan kelompok barunya.
Dengan masih memakai seragam sipir, Jim berpura-pura menghubungi pusat dengan sebuah radio komunikasi yang ada di penjara itu. Karena ternyata, ada salah seorang sipir yang menyalakan tombol darurat yang terhubung dengan pos tentara yang ada di perbatasan.
Letak penjara ini berada di sebuah pulau kecil yang jaraknya tidak terlalu jauh dari daratan. Banyak juga kapal yang biasanya datang untuk membawa logistik untuk para sipir penjara. Dan hari ini tepat hari dimana biasanya kapal yang membawa logistik datang ke tempat ini. Oleh karena itu, para tahanan pun harus menyamar menjadi sipir penjara untuk mengelabui mereka.
Mereka yang mengantarkan logistik hanya akan berhenti sebentar saja untuk menurunkan semua logistik dari kapal mereka. Setelah itu mereka akan pergi secepatnya. Mereka akan kembali lagi minggu depan. Di penjara itu juga terdapat beberapa jetski yang bisa digunakan oleh para sipir jika ada sesuatu yang mendesak.
Jim adalah orang yang pertama kali menggunakan jetski itu untuk kabur dari penjara dan menjemput Liam. Jim sudah tahu apa yang terjadi diluar penjara, karena Jim dan Liam tidak pernah putus komunikasi. Liam selalu menemui Jim diluar penjara hampir setiap hari.
__ADS_1
Sehingga Jim tahu dimana keberadaan Liam saat pagi hari. Dan dia juga yakin kalau Liam akan menemuinya setiap hari. Mereka merencanakan hal ini sudah lama. Hanya saja baru sekarang ada kesempatan bagus untuk mendapatkannya.