The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 26


__ADS_3

Wikar mencoba berbicara dengan Lahar, dia ingin menjelaskan semuanya kepada Lahar, apa yang telah terjadi. Dia takut kehilangan sahabatnya itu. Karena selama ini mereka tidak pernah sekalipun memiliki masalah.


"Lahar? Apa aku mengganggumu?" tanya Wikar kepada Lahar.


Saat itu Lahar sedang mempersiapkan segala sesuatu yang akan dia bawa pada misi kali ini. Dari raut wajahnya terlihat terlihat kalau dia tidak mau diganggu oleh siapapun.


"Tidak." jawab Lahar dengan singkat.


"Dengar sahabatku, aku meminta maaf karena kejadian beberapa hari yang lalu. Aku hanya mengikuti perintah. Aku tidak memaksamu agar memaafkan aku, tapi setidaknya bicaralah padaku. Kalau kau kecewa dan marah, kau boleh melampiaskannya sepuas hatimu. Tapi tolong, jangan seperti ini. Aku mengerti keadaanmu saat ini. Tapi..."


"Cukup!" bentak Lahar sembari melempar senjatanya.


Sorot matanya menunjukkan kalau rasa amarah dan kekecewaan menyatu dalam dirinya. Wikar langsung terdiam dengan cara Lahar menatapnya. Semua itu mewakili segalanya. Mungkin ini bukanlah waktu yang tepat untuk bicara kepada Lahar.


Tapi saat Wikar hendak meninggalkan ruangan itu, Lahar mengentikannya.


"Tunggu. Bukan seperti itu maksudku Wikar. Aku hanya sedang bersedih atas kematian kakakku. Aku tidak menyalahkan siapapun. Itu semua adalah kesalahan kakakku. Dia seharusnya tidak melakukan hal yang bodoh. Aku sudah memaafkanmu. Namun saat ini aku ingin fokus dengan tugas kita. Aku harap kau tidak membahasnya lagi. Anggap saja semua itu tidak pernah terjadi." kata Lahar kepada Wikar.


Wikar tersenyum pada Lahar, begitu juga dengan Lahar yang membalas senyuman Wikar. Wikar merasa lega mendengar penjelasan sahabatnya itu, meskipun dia belum mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Karena Lahar menolak untuk membahas luka lama. Dia ingin fokus dengan apa yang dia lakukan sekarang ini.


"Baiklah. Lima belas menit lagi kita akan berangkat. Aku akan bersiap. Terimakasih." kata Wikar.


Wikar meninggalkan Lahar di ruangan itu sendirian. Dengan perasaan bersalah yang masih menghantuinya, Wikar terduduk lemas di ruangan senjata bersama dengan teman-temannya yang sedang mempersiapkan diri.


Loah lalu memberikan sebotol minuman dan sebatang rokok kepada Wikar.


"Apa ini?" tanya Wikar pada Loah.


"Aku bukan orang bodoh. Kau sedang menghadapi masalah yang berat. Ini memang tidak akan menyelesaikan masalahmu, tapi setidaknya ini akan membuatmu merasa sedikit lebih tenang." kata Loah.


"Terimakasih."


Sembari menikmati minuman dan rokoknya, Wikar mempersiapkan dirinya dengan memakai berbagai atribut yang telah disediakan. Satu persatu peluru dan beberapa granat dia masukkan ke dalam tasnya. Semua orang yang ada di ruangan itu hanya diam tak mengatakan apa pun.


Mereka semua sudah tahu apa yang terjadi dengan Wikar dan juga Lahar. Mereka tidak membahasnya, karena takut kesedihan Wikar akan bertambah. Loah sudah melihat apa yang terjadi pada Wikar, sesaat setelah dia mengeksekusi kakak dari Lahar.


Wikar begitu sangat bersedih. Dia berteriak dan menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya, setelah eksekusi itu selesai dilakukan. Sedangkan Lahar tidak mengetahui akan hal itu. Andaikan Lahar mengetahuinya, pasti sikap Lahar kepada Wikar tidak akan berubah.



__ADS_1


Mereka semua telah berkumpul dan bersiap untuk berangkat ke lokasi yang telah ditentukan. Mereka semua akan diturunkan menggunakan helikopter. Sebelum berangkat, mereka diberi arahan terlebih dahulu oleh **MayJen** **Maric**.



"*Kalian sudah dapatkan tugaskan kalian masing-masing. Ingat! ini bukanlah misi main-main. Kalian bisa pulang tanpa kepala, jika kalian tidak saling menjaga satu sama lain. Jangan lupa daratan. Mereka bukanlah \*\*\*\*\*\*\* biasa. Mereka sangat terlatih, sama seperti kalian. Jika kalian menghadapi masalah yang serius, maka segeralah hubungi pusat komando untuk meminta bantuan. Aku harap, tidak ada yang ditinggalkan*." kata **Mayor** **Jendral** **Maric**.



"*Siap*!"



"*Tiga puluh detik*!" kata seorang pilot helikopter itu.



"*Bersiap*!" perintah **Mayor** **Jendral** **Maric**.



"*Satu.... Dua... Tiga... Lompat*!"




"*Tarik*!" perintah **Lahar** pada mereka.



Tak lama kemudian, mereka pun berhasil turun di sebuah lapangan di dekat sebuah desa kecil. Desa itu telah ditinggalkan oleh penduduknya, dan sekarang telah dikuasai oleh para \*\*\*\*\*\*\*. Belum sempat mereka semua melepas parasut, para tentara itu sudah menyergap mereka dari arah depan.



Salah satu anggota pun tewas karena diberondong peluru tepat didadanya. Para \*\*\*\*\*\*\* seperti sudah mengetahui akan kedatangan mereka. Sehingga hal ini membuat **Lahar** dan timnya kewalahan. Jumlah mereka sangatlah tidak imbang, apalagi para \*\*\*\*\*\*\* itu sangat ahli dalam serangan jarak dekat.



Tubuh mereka juga kekar dan berisi. Mereka benar-benar dilatih dengan sangat baik. Bahkan, satu kali tembakan tidak cukup untuk membunuh mereka. Mereka jauh lebih tangguh dari pada **Lahar** dan pasukannya. Gerakan mereka sangat gesit. Tembakan mereka seakan tidak pernah meleset. Untungnya, masih ada rumah penduduk yang bisa mereka jadikan tempat berlindung.


__ADS_1


Dengan segala kemampuan yang mereka semua miliki, akhirnya beberapa \*\*\*\*\*\*\* itu mulai mati dan perlahan mundur berusaha meninggalkan mereka. Saat **Wikar** ingin maju dan mengejar mereka, **Lahar** tiba-tiba melarangnya.



"*Semuanya! Berkumpul*!" perintah **Lahar**.



"*Siap*!"



"*Yang kita hadapi memang bukanlah orang-orang amatir. Mereka terlatih dengan sangat baik. Kita mungkin harus menggunakan senjata mereka, karena peluru kita sudah menipis. Dan kita masih harus menghadapi banyak sekali musuh di tempat ini. Perjalanan kita dari tempat ini masih sangat jauh. Kita harus ambil apa pun dari mereka, peluru, granat, dan apa pun yang bisa kita gunakan*." kata Lahar pada pasukannya.



Saat sedang memeriksa tubuh salah satu anggota yang tewas, dua anggota medis itu ditembak oleh salah satu \*\*\*\*\*\*\* yang ternyata masih hidup. Mereka semua panik dan saling tembak satu sama lain. Akhirnya dua anggota **Lahar** pun seketika tewas, begitu juga dengan \*\*\*\*\*\*\* itu.



Kini tersisa empat orang. **Lahar** semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi.



"*Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Tapi ini sangatlah aneh, kenapa mereka bisa mengetahui lokasi pendaratan kita. Dan semua ini, mereka seperti sudah mempersiapkan diri mereka untuk sebuah penyergapan. Kita seperti menggali kuburan kita sendiri*." ucap **Lahar** pada mereka.



Mereka semua melihat sekeliling, melihat dengan cermat setiap orang yang mati di tempat ini. Dilihat dari cara para \*\*\*\*\*\*\* itu menggunakan pakaiannya, sepertinya mereka telah mempersiapkan semua ini sebelumnya. Mereka menyergap di tempat dimana **Lahar** dan pasukannya diturunkan.



"*Lalu bagaimana sekarang*?" tanya **Loah**.



"*Apapun yang terjadi, kita tetap harus melanjutkan perjalanan kita. Loah, kau hubungi Mayor Jendral Maric tentang semua yang kita alami di tempat ini. Wikar dan juga Ambar, kalian cari tempat yang tinggi untuk menembak. Karena pasti yang selamat akan membawa pasukan yang lain datang kemari. Sedangkan aku akan menyusuri rumah demi rumah. Wikar awasi aku, dan Ambar awasi Loah. Laksanakan*!" perintah **Lahar** pada mereka.



"*Siap*!"

__ADS_1


__ADS_2