
"Semua alat dan bahan sudah dipersiapkan dengan matang. Dari mana kau akan memulainya?" tanya Wikar.
Satu minggu setelah mendapat serangan dari para tentara, Wikar dan seluruh anggotanya langsung bergerak mengumpulkan semua alat dan bahan yang bisa digunakan untuk proyek ini. Wikar ingin rumah megah yang sekarang ia duduki diperkuat, diperbesar dan diperluas. Guna menampung orang-orang yang bergabung dengannya.
Jason selaku pemegang proyek, telah menjanjikan proyek ini akan selesai dalam waktu kurang dari lima bulan. Dengan catatan, mereka harus terus mencari material dan juga merekrut orang sebanyak mungkin untuk terlibat dalam proyek besar ini. Karena lima atau empat bulan adalah waktu yang sangat singkat.
Mereka tidak bisa mengandalkan segelintir orang untuk menjalankan tugas besar ini.
"Komandan! Saya membawa tiga puluh orang warga sipil yang siap membantu kita." lapor salah seorang anggota.
"Bawa mereka masuk. Jason, beri mereka arahan. Dan kau, bawa beberapa saudara kita untuk mencari logistik makanan." perintah Wikar.
"Siap!"
Orang itu pun bergegas memberitahu teman-temannya, dan juga warga sipil yang akan ikut membantu. Sedangkan Jason akan memimpin pembangunan, sekaligus meletakkan batu pertama. Wikar sudah menyerahkan semua urusan bangunan kepada Jason. Karena dia masih harus mengurus banyak hal.
Apalagi status dirinya yang begitu sangat berbahaya bagi setiap orang yang ada disisinya. Dia harus memikirkan keselamatan orang-orang yang mendukungnya. Karena sangat mungkin para tentara akan menyerang kembali saat semua orang sedang lengah. Entah harus bagaimana.
Dengan jumlah pasukan yang masih terbatas, Wikar tidak mungkin terus menerus melakukan serangan. Karena itu akan sangat membahayakan semua orang. Dia hanya ingin mempertahankan tempat ini bagaimana pun caranya. Tempat ini berada di tengah kota, dengan bangunan rumah dan gedung yang saling berdempetan.
Tentara tidak bisa membawa alat berat mereka, selain truk. Karena banyak sekali jalanan sempit yang harus mereka lewati. Dan tempat ini pastinya sangat aman dari para penembak jitu. Karena terhalang oleh beberapa gedung tinggi yang dijaga oleh pasukan Wikar. Meskipun belum benar-benar aman, tapi setidaknya tempat ini bisa menjadi tempat untuk berteduh.
**Jendral Hidi** yang tahu bahwa **Wikar** sudah menguasai salah satu wilayahnya, menjadi khawatir. Baru kali ini **Jendral Hidi** merasakan kekhawatiran yang luar biasa. Dia tidak pernah merasa takut kepada siapa pun dan apa pun. Tapi sekarang, **Jendral Hidi** mulai merasakan itu untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia pun tidak segan-segan untuk memberikan tugas berat kepada seluruh pasukannya.
__ADS_1
Situasi seperti ini membuatnya ketakutan hebat. Mentalnya sebagai seorang **Jendral** yang ditakuti mulai menurun. Dia bahkan lebih sering menghabiskan waktunya di dalam ruangannya untuk mengatur berbagai strategi penyerangan kepada Wikar dan pasukannya. Dia ingin sekali **Wikar** segera dituntaskan, selama jumlah pasukan **Wikar** masih sedikit.
Sedangkan **Presiden Jacob**, dia memilih untuk tidak ikut campur terlebih dahulu. Karena dia tidak ingin berdebat lagi dengan **Jendral Hidi**. Dia percayakan sepenuhnya urusan **Wikar** kepada **Jendral Hidi** dan pasukannya. Meskipun begitu, **Presiden Jacob** tetap mengirimkan mata-mata untuk mengawasi pergerakan Jendral Hidi.
"*Pada dasarnya, Wikar hanyalah manusia biasa. Dia memiliki kelemahan seperti orang-orang pada umumnya. Tapi pengaruhnya sangat besar untuk masyarakat. Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya Pak Presiden. Saya khawatir kalau kejadian tiga tahun yang lalu akan terulang kembali*." ucap Hanam kepada **Presiden** **Jacob**.
"*Aku sudah mempercayakan hal ini kepada Jendral Hidi. Semua tentang Wikar, biar dia saja yang mengurus. Kita hanya perlu mengawasi dari jauh. Aku tidak mau tersentuh sedikit pun oleh Wikar dan pasukannya. Karena aku yakin, para tentara juga pasti banyak yang menjadi musuh dalam selimut. Dan itu akan menjadi tugasmu Hanam. Jangan sampai melewatkan satu orang pun*." kata **Presiden** **Jacob**.
"*Baguslah kalau begitu. Bagaimana dengan kabar putraku*?" tanya **Presiden Jacob**.
Pasca keributan tiga tahun lalu, **Putra Presiden** **Jacob** mengalami trauma parah. Dia mengalami banyak penyiksaan yang menyakitkan selama dalam penyekapan. Dari pelecehan seksual, hingga dipaksa untuk melihat para pengawalnya yang dibunuh secara sadis dihadapannya.
__ADS_1
Hal itu telah membuat jiwanya goyah, hingga berujung pada sakit jiwa. Dia takut jika bertemu dengan orang yang wajahnya masih muda. Karena penyiksaan itu dilakukan oleh beberapa mahasiswa yang menumpahkan kemarahan dan kekecewaannya kepada keluarga **Presiden Jacob**.
Bukan hanya itu saja yang membuat **Putra** **Presiden** menjadi gila. Tapi salah satu peristiwa yang paling menyakitkan adalah saat dia melihat ibu dan adiknya digilir ramai-ramai oleh para demonstran di hadapan umum, dan dia sama sekali tidak dapat melakukan apa-apa selain melihat adiknya tewas.
Beruntungnya dia masih bisa diselamatkan. Meskipun dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Sampai sekarang pun, masih banyak orang yang mencari keberadaannya. Dia terpaksa harus disembunyikan di sebuah bangunan bawah tanah. Karena bukan hanya menjadi target utama, tapi **Putra Presiden** **Jacob** juga kerap memberontak.
Entah sudah berapa dokter dan perawat yang mengundurkan diri karena merasa tidak sanggup untuk mengurus **Putra Presiden** **Jacob** yang sudah sangat gila itu.
Presiden Jacob hanya bisa menatap wajah putranya itu melalui sebuah kamera yang terpasang di dalam ruangan. Dia begitu menyesali perbuatannya karena sudah melupakan keluarganya sehingga putranya yang harus menjadi korban keganasan para demonstran.
Namun semua peristiwa itu sama sekali tidak merubah pendirian Presiden Jacob untuk menjadi seorang penguasa. Dia tetap kekeh pada pendiriannya untuk menguasai negeri sepenuhnya. Dia telah bersumpah akan menuntut balas atas kematian putrinya. Meskipun hal itu terjadi kesalahannya sendiri.
Presiden Jacob semena-mena terhadap rakyat. Bisa dikatakan bahwa semua yang rakyatnya lakukan itu sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Presiden Jacob berikan kepada mereka. Bagaimana rakyatnya tidak sesadis itu, jika pemimpinnya saja hanya memikirkan dirinya sendiri.
Hanam yang setiap hari mengantarkan makanan untuk Putra Presiden Jacob pun merasa sangat prihatin. Diam-diam Hanam pun mulai tidak menyukai Presiden Jacob yang selalu memperbudak orang lain. Padahal, dia bisa hidup sampai sekarang karena ada orang-orang yang mau menjadi bawahannya.
__ADS_1
Tapi Presiden Jacob tak pernah mempedulikan hal itu. Siapa saja yang membantah akan dibunuh. Siapa yang berkhianat akan dipenjara dan tidak diberi makan sedikitpun sampai mereka mati dengan sendirinya. Setelah mati, mayatnya akan dibuang begitu saja di depan rumahnya.
Sungguh perbuatan yang sangat tidak manusiawi. Dia bertindak seenaknya. Bahkan, Presiden Jacob ingin sistem negara diubah menjadi kerajaan, sehingga setiap ucapan Presiden Jacob akan menjadi hukum bagi semua orang. Karena ucapan Seorang Raja bisa menjadi hukum mutlak yang tidak bisa dibantah dan tidak bisa diganggu gugat.