
Ketika semua demonstran telah berkumpul di satu titik yaitu istana negara, mereka langsung dihadang oleh para tentara. Wikar juga telah bersiap di belakang para tentara, bersama dengan semua pasukan yang ia bawa. Dengan semua persenjataan lengkap ditangan mereka, para demonstran justru semakin beringas ingin menembus pagar pembatas dan juga para barisan tentara yang ada di depan pagar.
Sedangkan tentara yang berada di balik pagar sudah bersiap dengan senjata aktif mereka. Melihat bahwa gangster Diablo belum muncul pada waktunya, Wikar merasa sedikit khawatir. Karena jika sampai mereka gagal, maka jumlah korban akan sangat banyak. Loah mendekati Wikar dan berbisik,
"Bagaimana jika rencana ini gagal? Sampai sekarang para gangster belum tiba. Sedangkan para demonstran sudah bersiap dan sedang berusaha menembus pagar pembatas. Apa kau yakin akan meneruskan semua ini?" tanya Loah pada Wikar.
"Kita harus yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar. Kita harus tetap bersama, jangan sampai terpisah. Karena saat kekacauan sudah dimulai, kita akan sulit membedakan mana kawan mana lawan." jawab Wikar.
"Baiklah. Aku tetap akan ikuti rencanamu. Sebisa mungkin jangan membunuh para tentara." kata Loah.
"Kita lihat saja nanti."
"*Biarkan kami masuk*!" teriak para demonstran.
"*Tembak*!"
Saat para demonstran mulai tidak terkendali, **Jendral Hidi** memberikan perintah penembakan kepada pasukannya. Seketika itu semua orang berhamburan menyelamatkan diri. Namun, tibalah **Lontro** dan semua anggotanya yang membawa senjata lengkap dan membalas tembakan para tentara.
Demonstran yang berada di barisan paling belakang pun perlahan maju ke depan dengan menenteng senjata mereka. Begitu juga yang tadinya mundur, mereka kembali dengan senjata di tangan mereka. Para tentara mulai kewalahan menghadapi serangan dari para demonstran.
Mereka ditembaki dari berbagai arah. Sedangkan **Wikar** berjalan sesuai rencana. Dia dan pasukannya masuk ke dalam istana untuk menangkap orang-orang penting didalamnya, terutama **Presiden** **Jacob**. Tak butuh waktu lama, Wikar telah berhasil masuk ke dalam ruangan **Presiden** **Jacob**.
__ADS_1
"*Pak Presiden, anda harus masuk ke dalam bunker. Situasi di luar sudah tidak aman lagi*." ucap **Wikar** kepada **Presiden** **Jacob**.
**Wikar** berpura-pura mengamankan **Presiden** agar dia bisa mendapatkan **Presiden** **Jacob**. Padahal, **Wikar** berniat untuk mengeksekusi **Presiden** **Jacob** saat itu juga. Namun sayangnya, saat akan dialihkan ke tempat lain, salah satu pasukan **Wikar** ternyata telah berkhianat kepadanya.
Dia menembak beberapa orang termasuk **Loah** yang ada di depannya. Sehingga membuat situasi menjadi kacau. Kemudian tentara itu pun langsung membawa **Presiden** **Jacob** ke dalam bunker. Presiden Jacob pun panik, dia berusaha keluar dari bunker itu karena takut dia menjadi target pembunuhan anggota tentara yang sekarang sedang bersamanya.
"*Tenang Pak Presiden. Saya berusaha untuk melindungi anda. Mereka adalah para pemberontak yang telah membuat kelompok baru, untuk menggulingkan Pak Presiden*." kata tentara itu.
"*Saya Hanam Pak Presiden. Mereka para tentara juga, tapi tiga diantaranya adalah anggota pasukan khusus. Dan orang yang memprovokasi kami bernama Wikar*." jawab **Hanam**.
"*Bocah kurang ajar. Aku harus menghubungi Jendral Hidi*."
"*Jangan Pak Presiden! Mereka sudah menyadap semua jaringan komunikasi di tempat ini*." kata **Hanam** berusaha mencegah tindakan **Presiden** **Jacob**.
__ADS_1
**Hanam** dan **Presiden** **Jacob** pun terpaksa hanya berdiam diri tak melakukan apa-apa. Ruangan bunker setebal dua meter itu hanya bisa dibuka dari luar. Ruangan itu juga tahan terhadap peluru dan juga roket. Yang mengetahui kode akses masuk itu hanyalah **Presiden** **Jacob**.
Masalahnya, untuk memasukkan kode itu harus dari luar pintu. Yang artinya, harus ada seseorang yang memasukkan kode tersebut selain **Presiden** **Jacob**. Untuk mengetahui kode itu, maka orang yang ada diluar harus tersambung dengan telephone yang ada di dalam. Sayangnya, semua jaringan komunikasi telah disadap.
Semakin lama Presiden Jacob merasa bosan terus menerus di tempat ini. Untunglah ada banyak makanan dan minuman di tempat ini, sehingga mereka tidak akan kelaparan dan kehausan. Sembari menikmati makanan dan minuman yang ada disana, Presiden Jacob pun membuka obrolan dengan Hanam untuk mengurangi rasa bosannya.
"Apa kita akan terus menerus berada di tempat ini Hanam?" tanya Presiden Jacob.
"Saya yakin tidak Pak Presiden. Mereka pasti sedang berusaha agar bisa menguasai kembali tempat ini." Jawab Hanam.
"Jadi, menurutmu istana telah dikuasai?"
"Mungkin saja Pak Presiden. Karena jumlah demonstran sangatlah banyak. Mereka semua membawa senjata, dan menyerang para tentara dengan sangat brutal. Apalagi Wikar ada disana. Dia bukan orang sembarangan Pak Presiden. Dia ahli di semua tempat, dan berbagai misi sudah dia jalani." kata Hanam.
"Jika Jendral Hidi masih hidup maka keadaannya akan berbalik. Wikar dan pasukannya pasti akan lari terbirit-birit. Aku tahu Wikar orang macam apa. Dia aku angkat bersama dengan Lahar, sahabatnya. Dan dia juga yang telah membunuh kakak laki-laki Lahar saat itu. Dialah algojonya. Aku bisa memanfaatkan Lahar suatu saat nanti." ucap Presiden Jacob.
Seketika itu juga raut wajah Hanam berubah. Pikirannya kini berubah. Dia yang tadinya ingin melindungi Presiden, sekarang ingin sekali membunuhnya. Apa yang dikatakan Wikar padanya sebelum ini memanglah benar kenyataanya. Kenyataan bahwa Presiden Jacob tidaklah pantas menjadi pemimpin di negara ini.
Dia kemudian berdiri dari kursinya untuk melihat keadaan diluar melalui kamera pengawas. Hanam terkejut saat melihat puluhan mayat bergelimpangan di luar bunker. Mayat itu sudah campur aduk. Bukan hanya tentara saja, tapi juga ada beberapa pejabat yang ada di luar sana.
Mereka semua telah mati. Keadaan di luar benar-benar berantakan. Butiran peluru dan juga serpihan granat tercecer di tempat itu. Entah apa yang telah terjadi, Hanam tak bisa melihatnya dengan jelas.
"Maafkan saya Pak Presiden, bagaimanapun caranya kita harus tetap bertahan tempat ini. Keadaan diluar bunker benar-benar sudah kacau. Banyak mayat bergelimpangan. Ada mayat tentara dan juga pejabat istana. Mereka semua telah mati." kata Hanam.
Presiden Jacob semakin panik, dia mulai khawatir jika sampai Jendral Hidi gagal melaksanakan tugasnya. Apalagi saat dia menyadari bahwa sekarang istrinya sedang berada di rumah. Mereka juga pasti akan menjadi sasaran amuk masa.
"Kita tidak bisa bertahan selamanya di tempat ini, jumlah logistik hanya akan cukup untuk dua bulan. Itupun jika kita bisa menghemat. Di tempat ini juga tidak ada rokok dan bir, aku bisa gila." ucap Presiden Jacob.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Hanam semakin bosan. Dia ingin sekali keluar dari tempat ini. Kalau pun dia membiarkan Presiden Jacob sendirian, pasti tidak akan ada yang peduli. Apalagi jika dia berhasil membawa Presiden Jacob keluar dan membawanya ke hadapan masa, pasti semua orang akan menyanjungnya dan menganggapnya sebagai pahlawan.