The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 41


__ADS_3

"Kita telah gagal melalukan misi ini, sekarang bagaimana Wikar?" tanya Loah kepada Wikar.


"Kita tetap harus bersama dalam situasi apa pun. Meskipun sekarang kita hanya berenam, tapi aku yakin kita bisa saling melindungi. Setidaknya, hari ini kita telah memberikan peringatan tegas kepada pemerintah, bahwa kita mampu melakukan perlawanan." jawab Wikar.


"Kita juga bisa membangun sebuah kelompok dan juga sebuah markas. Kita akan merekrut semua orang di seluruh kota untuk bergabung bersama kita. Kita harus menunjukkan keseriusan kita kepada pemerintah. Selama ini kita hanya dimanfaatkan dan kita hanya dijadikan budak. Aku tidak mau terus menerus seperti ini. Aku ingin semuanya segera diselesaikan." ucap Wikar.


"Kami baru saja mengenalmu hari ini, tapi kami bertiga akan ikut denganmu. Kami sudah sepakat untuk keluar dari kemiliteran jika ada orang yang berani melalukan perlawanan kepada Presiden Jacob." kata salah satu dari mereka.


"Siapa namamu?" tanya Wikar padanya.


"Aku Adam. Dan ini kedua temanku, Yoshi dan Shira. Kami tidak sehebat dirimu, tapi kami yakin kalau tenaga kami bisa berguna." kata Adam.


"Aku tidak butuh orang yang hebat dalam pertarungan. Aku hanya menginginkan orang yang memiliki tekad kuat."


"Kalau begitu, kamilah orangnya." ucap Shira.


Mereka pun saling bergandengan tangan dan berpelukan satu sama lain. Mereka juga bersumpah untuk tetap bersama dalam situasi sesulit apa pun. Baik suka maupun duka, mereka akan menghadapinya bersama-sama.


"Apa pun yang terjadi, jangan sampai terpisah. Tetap bersama dan saling melindungi." kata Wikar.


"Kita semua akan mati suatu hari nanti, aku ingin melakukan sesuatu yang benar di sisa umurku." kata Loah.


"Apa yang kita lakukan hari ini sudah benar. Kita berjuang untuk rakyat. Kita harus mulai melakukan sesuatu." ucap Wikar.


"Kalau begitu, kita mulai semuanya di rumahku. Dan kalian semua akan tahu siapa aku sebenarnya." ucap Shira kepada mereka.


Semua yang mendengar ucapan Shira hanya bisa diam dengan bertanya-tanya dalam hati mereka. Lalu siapakah Shira?



Di dalam bunker, **Presiden Jacob** masih terus saja mengoceh. Karena **Hanam** tidak melakukan apa pun agar bisa mengeluarkan dirinya. Apa yang bisa **Hanam** lakukan, semua pilihan sama saja. Semuanya buntu. Jika keluar, maka sangat mungkin mereka akan dihabisi. Jika mereka tetap di dalam, juga hasilnya akan sama. Pasti **Wikar** dan kelompoknya akan berusaha keras untuk membobol tempat ini.



"*Maafkan saya Pak Presiden, saya tidak bisa mengambil resiko dengan membawa anda keluar bunker. Sangat mungkin kalau Wikar beserta kelompoknya akan datang ke tempat ini dan membunuh kita berdua. Jika saya mati, apa yang akan Pak Presiden lakukan*?"

__ADS_1



**Presiden** **Jacob** hanya bisa diam. Dia berhenti mengoceh karena ditekan dengan pertanyaan itu. **Presiden** **Jacob** menyenderkan tubuhnya di tembok bunker. Dibalik sifatnya yang keras, **Presiden** **Jacob** masih memikirkan nasib keluarganya. Dia khawatir jika keluarganya sekarang sudah menjadi korban amukan masa.



"*Aku terlahir dari keluarga kaya, dan tidak pernah sekalipun merasakan kesulitan. Aku selalu menjadi pemenang dalam hal apa pun. Tapi hari ini, semua kekuasaanku tidak berguna sama sekali. Semua orang berlomba-lomba ingin membunuhku. Sudah banyak orang yang mati sia-sia karena keserakahanku*." ucap **Presiden** **Jacob**.



**Hanam** hanya mendengarkannya tanpa bisa berkata-kata. Seakan **Presiden** **Jacob** benar-benar menyesali semua yang telah dia perbuat. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kini nasibnya ada ditangannya sendiri. **Hanam** pun sudah tidak mau lagi menanggapi ucapan **Presiden** **Jacob**. Dia sedang menyesali dirinya sendiri yang telah mengkhianati **Wikar**.



Jika sampai semua orang tahu, maka nasib keluarga **Hanam** pun akan dipertaruhkan. Semua tentara yang ikut membela **Presiden** **Jacob** pasti akan jadi buruan para **Demonstran**. Mereka sudah tidak peduli lagi, meskipun teman sendiri. Sekarang, kawan bisa menjadi lawan. Semua orang sudah membabi buta tak terkendali. Mereka bertindak sesuai keinginan sendiri.



Jendral Hidi yang saat itu berhasil selamat dari serangan, mulai mengumpulkan kembali pasukannya yang tersisa. Dia juga mengambil senjata dan amunisi dari para pasukan yang sudah tewas. Setiap pasukan yang tewas dibiarkan begitu saja tanpa penanganan. Halaman depan istana sudah dipenuhi dengan mayat.


Namun Jendral Hidi melupakan satu hal. Yaitu sebuah peta istana negara yang tersimpan di laci meja kerja Presiden. Dan sialnya lagi, laci itu juga tidak dikunci, sehingga siapa pun mampu membukanya. Entah hal ini diketahui atau tidak oleh para demonstran. Yang jelas mereka masih terus berusaha mencari keberadaan Presiden Jacob di seluruh tempat.


Dan benar saja, semua yang dikhawatirkan oleh Presiden Jacob pun terjadi. Istri dan kedua anaknya ditahan oleh para demonstran untuk dijadikan alat pengancam. Mereka juga menyiksa dan merekam semua itu, kemudian rekaman itu disebarluaskan.


Lontro dan seluruh anak buahnya juga ada disana. Mereka menembaki seluruh tempat. Dan saat mereka menghancurkan beberapa bagian tembok dengan granat, salah satu anak buah Lontro melihat ada sebuah lorong.


"Hey Bos! Aku rasa aku melihat sesuatu." kata anak buah Lontro.


"Apa yang kau lihat?!" tanya Lontro.


Dia pun mendekat ke salah satu bagian tembok yang hancur. Tanpa pikir panjang, mereka pun menghancurkan tembok itu lagi dengan granat, agar mereka bisa masuk.


"Wow! Wow! Wow! Ini sangat luar biasa. Aku yakin kalau lorong ini menuju ke bunker Presiden!" ucap Lontro kegirangan.


"Lalu apa rencana kita?" tanya salah satu anak buahnya lagi yang bernama Hopkins.

__ADS_1


"Sialan kau Hopkins! Kita akan masuk, lalu cari penjilat itu dan aku akan menembak kepalanya seperti aku memotong semangka!" jawab Lontro.


"Lontro, itu adalah bunker. Tidakkah kau berfikir kalau kita butuh peledak yang lebih baik untuk menghancurkan bunker itu?" kata Hopkins.


"Okey! Ambil semua peralatan yang kita bawa. Kalau perlu suruh para pendemo itu untuk membantu membawakannya." perintah Lontro pada anak buahnya.


"Baiklah!"




**Wikar** dan kawan-kawannya pun mulai membuat semua peralatan dan juga mempersiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Dibantu oleh ayah **Shira** yang seorang veteran, mereka memodifikasi senjata di ruang bawah tanah. Agar senjata yang mereka pakai nantinya bisa dua kali lipat lebih kuat.



Ayah Shira yang seorang veteran itu sudah sangat berpengalaman dalam hal merakit senjata dan juga membuat bahan peledak.



"*Setelah semua ini selesai, kita harus memulai pekerjaan yang lain*." kata **Tuan** **Martin**.



"*Apa saranmu untuk selanjutnya Tuan*?" tanya **Wikar**.



"*Kita harus memalsukan kematian kalian. Karena jika tidak, maka kalian semua akan diburu. Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menyerang. Kalian harus membuat sebuah rencana yang matang. Semua itu perlu waktu berbulan-bulan, sampai orang-orang lupa dan tidak lagi membicarakan kalian*." jawab **Tuan** **Martin**.



"*Aku memiliki rencana bagus untuk kalian. Kalian tinggal ikuti*." jelasnya lagi.


__ADS_1


"*Siap*!"


__ADS_2