
Presiden Jacob mulai tertekan dengan situasi ini. Jendral Hidi masih tidak mau diganggu oleh siapa pun. Sedangkan Presiden Jacob masih sangat membutuhkannya. Presiden Jacob pun mempersiapkan keberangkatannya menuju ke tempat persembunyian Jendral Hidi, dia ingin menarik kembali Jendral Hidi. Karena militer tidak akan berjalan tanpa ada perintah darinya.
Ditemani oleh empat orang pengawalnya yang lain, Presiden Jacob secara sembunyi-sembunyi mendatangi persembunyiannya untuk bernegosiasi.
"Jendral, kau harus kembali melakukan tugasmu. Aku tidak akan membantahmu lagi. Sekarang semua keputusan ada di tanganmu. Aku hanya ingin kita saling membantu sebagai seorang sahabat." ucap Presiden Jacob pada Jendral Hidi.
"Sahabat? Tidak ada sahabat yang meremehkan sahabatnya sendiri." jawab Jendral Hidi.
"Aku sama sekali tidak meremehkanmu. Waktu itu aku sedang tertekan. Kita sedang terancam. Kita tidak memiliki tempat untuk bersembunyi jika Wikar dan pasukannya berhasil membentuk aliansi."
"Kalau begitu, apa tawaranmu untukku?" tanya Jendral Hidi.
"Kau memerasku?"
"Terserah. Aku sudah bosan. Berikan tawaran yang menarik jika kau ingin aman. Karena harga diriku tidak cukup jika hanya dibayar dengan persahabatan. Kau juga sudah menghinaku. Jika aku mau, aku bisa memprovokasi semua pasukan untuk berbalik melawanmu." tegas Jendral Hidi.
"Baiklah! aku akan memberimu lima peti emas batangan. Dan aku juga akan sepenuhnya membiayai pasukanmu."
"Kalai begitu lakukan secepatnya. Atau aku akan berubah pikiran."
"Baiklah. Aku akan mengirim seseorang kemari besok pagi."
"Tidak! Malam ini juga!" ucap Jendral Hidi dengan tegas.
Presiden Jacob hanya mengangguk. Dengan kesal dia keluar dari ruangan itu dan masuk ke mobilnya. Dia pun menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk membawa penawaran yang ia berikan kepada Jendral Hidi. Semua ini dia lakukan karena terpaksa. Nyawanya jauh lebih penting dari apa pun.
Dia masih bisa menghasilkan banyak harta selama dia masih hidup. Emas dalam bungkusan lima peti tidak ada artinya apa-apa bagi Presiden Jacob. Selama dia bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan, maka dia akan melakukannya.
Dibalik itu semua, saat ini rakyat berbondong-bondong mendatangi **Wikar** dan komplotannya. Mereka semua ingin bergabung dengan **Wikar**. Mereka ingin terlindungi dari para tentara yang selalu menindas mereka setiap saat. Bahkan, untuk sampai ke tempat ini pun, mereka harus sembunyi-sembunyi.
Tapi jumlah orang yang datang ke pabrik parfum milik **Adam** semakin bertambah banyak. **Wikar** khawatir jika sampai para tentara melihat dan membantai ratusan orang yang ada di tempat ini. Lalu **Wikar** pun menyuruh mereka untuk bergantian datang ke tempat itu, demi keselamatan mereka sendiri.
Untungnya para warga bisa dikondisikan dengan baik, sehingga situasi kembali aman dan terkendali. **Wikar** saat ini hanya bisa menerima dua puluh orang saja, karena senjata dan amunisi yang dia miliki sangat terbatas. Yang lainnya harus menunggu sampai **Wikar** dan kelompoknya mendapatkan senjata dan amunisi tambahan.
"*Wikar, dengan jumlah orang sebanyak ini kita tidak mungkin bersembunyi disini. Kita membahayakan mereka. Kita harus mencari tempat lain*." kata **Loah**.
"*Untuk sementara kita bertahan disini, apa pun yang terjadi. Aku sudah memiliki target tempat yang cocok untuk kita jadikan markas. Kita hanya memerlukan waktu yang tepat*." jawab **Wikar**.
__ADS_1
"*Dimana lokasinya*?"
"*Disini*." kata **Wikar** sembari menunjukkan lokasi target di sebuah peta yang dia bawa.
"*Dulu ini adalah rumah pejabat kaya. Tapi sekarang pemiliknya sudah pindah ke negara lain. Kita bisa menggunakannya. Kita hanya perlu membunuh beberapa tentara. Lalu kita akan mengambil alih tempat itu. Aku yakin, dengan jumlah kita yang sekarang sudah bertambah, kita akan berhasil*." ucap **Wikar**.
"*Baiklah. Tapi kita perlu meninggalkan beberapa orang di tempat ini. Antisipasi jika ada tentara yang menyerang lagi*." kata **Loah**.
"*Kau benar Loah. Aku dan Shira yang akan kesana, dengan membawa sepuluh orang. Kau dan Ambar pimpin sisa pasukan untuk menjaga tempat ini*."
"*Oke. Aku akan persiapkan semua yang perlu kalian bawa*."
"*Siap*!"
**Wikar** dan **Shira** pun langsung mengambil sepuluh orang yang akan ikut bersamanya. **Wikar** mengambil sengaja mengambil orang yang memiliki sikap brutal. Karena orang-orang seperti itu akan mudah menaklukkan rasa takut mereka, dari pada orang-orang yang bersikap lembut.
**Wikar** mengajari mereka taktik penyergapan dan juga memberikan sedikit arahan kepada mereka soal situasi target pertama mereka.
"*Kita akan memutar jalan, dan membuat kekacauan di beberapa tempat. Kita lakukan penyerangan gerilya. Serang lalu pergi. Karena kita harus menyimpan tenaga kita untuk penyerangan yang sebenarnya*." kata **Wikar** memberikan arahan kepada mereka.
"*Kenapa kita tidak langsung menyerang target*?" tanya salah seorang dari mereka.
__ADS_1
"*Jika kita menyerang langsung ke tempat itu, maka kita akan terjepit. Apalagi kalau mereka tahu aku yang memimpin langsung penyerangan ini. Tentara yang berada di setiap pos kota akan menggempur kita habis-habisan. Lebih baik lama tapi aman. Kalian mengerti*?"
"*Siap! Kami mengerti komandan*!"
"*Bagus. Tetap bersama. Jangan sampai ada yang terpisah. Dan saling melindungi. Ayo kita berangkat*!"
"*Siap*!"
Dengan perbekalan seadanya, Wikar dan pasukannya pun berangkat untuk melakukan penyerangan. Dia memulai semuanya dari pos-pos kecil milik tentara. Selanjutnya, mereka memblokir jalan dengan mobil-mobil tentara yang telah mereka curi. Sehingga hal itu akan sangat merepotkan pasukan tentara yang lainnya.
Kemudian mereka menggunakan satu truk tentara yang telah mereka jarah untuk menuju tempat yang menjadi misi utama mereka. Mereka menggunakan baju tentara untuk mengelabui para tentara yang berjaga di gerbang.
Setelah berhasil masuk, Wikar dan pasukannya langsung menghujani mereka semua dengan peluru. Tak sampai disitu, mereka juga mengambil banyak sekali granat untuk menaklukkan tempat itu.
**Jendral Hidi** yang kala itu sedang bersantai di tempat persembunyiannya, langsung mengambil senjata dan naik ke mobilnya saat dia tahu kalau **Wikar** dan kelompoknya telah membuat banyak sekali kekacauan. Entah apa yang merasukinya. Yang awalnya tidak peduli, sekarang dia menjadi sangat beringas saat mendengar nama '**Wikar**.'
Karena berangkat dengan terburu-buru, **Jendral** **Hidi** lupa kalau malam itu dia akan menerima hadiah besar dari **Presiden** **Jacob**. Dia bahkan melupakan rompi anti peluru dan baju kehormatannya. Dia hanya membawa mobil, senjata, dan tiga slot amunisi. Yang ada di fikirannya saat ini hanyalah menuju lokasi penyerangan.
Dan sialnya, mobilnya menabrak sebuah pohon besar. Karena laju mobilnya terlalu cepat, dan situasi malam hari membuat pandangan matanya sedikit terganggu.
"*Akhh! Mobil sialan*!" ucap Jendral Hidi kesal.
Sekarang dia baru ingat, bahwa malam ini harusnya menjadi malam yang spesial untuknya, karena dia akan menerima beberapa peti emas dari **Presiden Jacob**. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah setengah jalan. Perjalananya masih sangat jauh. Begitu juga jika dia kembali ke tempat persembunyiannya.
Beruntungnya, di dalam mobil itu ada radio komunikasi yang bisa dia gunakan untuk menghubungi pasukannya. Dia meminta bantuan kepada salah satu bawahannya untuk menjemputnya.
__ADS_1