The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 63


__ADS_3

"Presiden Jacob yang memberikan perintah ini." kata Hanam kepada Jendral Hidi.


Setelah dia mengatakan semuanya kepada Jendral Hidi, Hanam pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Tapi sama sekali Jendral Hidi tidak merasa khawatir dengan semua yang telah Hanam katakan. Dia justru semakin bersemangat untuk membantu Wikar dan kelompoknya.


Meskipun Presiden Jacob mengancam Jendral Hidi, tetapi dia tidak mau ambil pusing semua itu. Kesalahan terbesarnya adalah, Jendral Hidi mulai menganggap bahwa pasukan rahasia milik Presiden Jacob hanyalah omong kosong. Dia bahkan berniat untuk membunuh Presiden Jacob dengan tangannya sendiri.


Jendral Hidi menghubungi Jendral Rechan untuk memberitahu semua rencananya untuk membunuh Presiden Jacob. Jendral Rechan pun menyetujui rencana itu. Dan pada jam sepuluh malam, mereka pun bertemu di sebuah tempat.


"Apa yang Hanam katakan padamu Jendral Hidi?" tanya Jendral Rechan.


"Dia mengancamku. Dia ingin aku melakukan penyerangan terus menerus. Padahal, dua anak buah terbaiknya telah mati. Aku tidak mengambil pusing soal ancaman itu. Itu hanya omong kosong." ucap Jendral Hidi.


"Aku rasa itu bukan omong kosong."


"Apa maksudmu?"


"Aku sudah mendapatkan bukti baru soal keterlibatan Presiden Jacob di konflik timur." kata Jendral Rechan dengan menyerahkan sebuah dokumen.


"Kau dapat dari mana?"


"Aku mengirimkan agen rahasia untuk mengawasi semua pergerakan Presiden Jacob. Dan agen yang aku kirim mendapatkan dokumen itu. Dokumen itu berisi perintah penangkapan beberapa Jendral yang dianggap membelot. Kita tidak masuk daftar. Tapi aku masih belum yakin."


Setelah dibuka, ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Jendral Rechan. Namun ketika diteliti kembali, Jendral Hidi dan Jendral Rechan masuk ke dalam daftar. Semua Jendral akan disingkirkan dari kekuasaannya dengan cara yang cukup sadis. Dimana nantinya, mereka akan dikirim untuk terjun langsung ke medan perang. Dan akan dibiarkan mati dengan cara mereka sendiri.


Jendral Hidi terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk membunuh Presiden Jacob. Karena mereka harus menghubungi semua Jendral yang ada, agar mereka tidak mau mengikuti perintah Presiden Jacob. Tapi berbeda dengan Jendral Rechan, dia justru memiliki rencananya sendiri. Dia ingin membuat Presiden Jacob percaya bahwa dia adalah orang yang setia.


Selanjutnya, dia akan meraup semua keuntungan untuk mengumpulkan amunisi dan senjata. Dia ingin membunuh Presiden Jacob sendirian. Karena walaupun Presiden Jacob memiliki pengawal, tetapi dia tidak memiliki kemampuan apa pun. Dia hanya mengandalkan para pengawalnya untuk membuat dirinya tetap aman. Sedangkan dia hanyalah orang lemah.


"Kau yakin? Akan ada yang dikorbankan jika kau menggunakan rencana ini. Aku yakin, tetap akan ada yang mati." ucap Jendral Hidi.


"Kita harus berkorban Jendral Hidi. Lagi pula mereka semua Jendral yang korup. Kita bersusah payah melakukan semua tugas yang diberikan oleh Presiden Jacob. Tapi mereka, mereka hanya berfoya-foya. Ya sudah, aku harus kembali ke markas. Aku takut ada yang curiga." jawab Jendral Rechan.

__ADS_1


Jendral Hidi mulai curiga dengan sikap Jendral Rechan. Apalagi saat dia lebih setuju para Jendral yang lain mati dari pada membiarkan mereka tetap hidup. Padahal, Jendral Rechan bisa mengirimkan pesan kepada mereka untuk menyelamatkan diri. Tapi dia tidak mau melakukan hal itu. Dia justru menginginkan kepercayaan Presiden Jacob.


Jendral Rechan seperti ingin memegang kendali secara penuh, dengan cara yang lebih halus. Yang bisa Jendral Hidi lakukan saat hanyalah mencoba menghubungi para Jendral, agar mereka bisa menyelamatkan diri sebelum Presiden Jacob memberikan perintah kepada mereka.




Dengan segala keyakinannya, **Presiden Jacob** tetap melakukan serangan demi serangan kepada **Wikar** dan kelompoknya. Namun keadaan bukannya berubah, justru sekarang banyak tentara yang tewas dengan sia-sia. Bahkan, salah satu **Jendral** yang turun langsung ke medan perang juga harus mati oleh serangan kelompok **Wikar** yang semakin brutal.



Dalam situasi seperti itu, muncullah salah satu orang yang menurut para **Jendral** bisa menjadi harapan untuk kemenangan mereka. Dia direkrut oleh para tentara, yang sebelumnya dia berprofesi menjadi seorang penjahat. Orang itu memiliki potensi yang besar untuk membuat para tentara kembali bersemangat melakukan tugas mereka.



Ternyata tebakan itu benar, dalam beberapa kali penyerangan orang itu sudah bisa merebut kembali markas-markas tentara yang sebelumnya dikuasai oleh musuh. Para tentara semakin gencar melakukan berbagai serangan ke seluruh kota. Nama anggota baru itu pun langsung melejit. Dia dikagumi oleh banyak orang.




Namun mereka sempat berpisah karena **Ando** lebih dulu masuk ke militer dari pada **Tony**. Hanya saja Ando tidak terlalu menonjolkan kehebatannya seperti **Ando**. Ando tetap bersikap seperti biasa. Sebagai orang yang cerdas, **Ando** merasa belum yakin kalau **Wikar** dan kelompoknya benar-benar bersalah.



Namun semua tentara didoktrin untuk membenci **Wikar** dan semua orang-orang yang bersamanya. Pada dasarnya, para anggota baru itu sama sekali tidak mengetahui tentang politik buas yang dilakukan oleh **Presiden** **Jacob** kepada rakyatnya sendiri. Karena **Presiden Jacob** telah berhasil membungkam mulut orang-orang yang mengetahui bukti kejahatannya.



Bahkan, entah bagaimana caranya, **Presiden** **Jacob** mampu menghabisi semua pendukung **Wikar** yang ada di negara lain. Menurut berbagai pendapat yang ada, banyak yang mengatakan bahwa **Presiden Jacob** telah memerintahkan semua pasukannya yang ada di **Timur** untuk bergerak menghabisi semua orang-orang berpengaruh di negara lain.

__ADS_1



Rata-rata korban adalah orang-orang yang berjasa bagi **Wikar** dan kelompoknya. Pada akhirnya, mau tidak mau **Wikar** sendiri harus beraliansi dengan para penjahat kelas kakap yang sepaham dengan dirinya. Yang terpenting adalah '**Ada uang Ada barang**'. **Wikar** harus berjuang keras demi kelangsungan hidup kelompoknya yang jumlahnya semakin menipis.



Setiap hari ada saja yang mati. Jumlahnya pun tidak sedikit. Lama kelamaan **Wikar** mulai terdesak. Karena sudah banyak wilayah kekuasaannya yang telah direbut oleh para tentara. Terutama saat **Ando** dan **Tony** muncul sebagai musuh yang seimbang dengan dirinya. Dan untuk mengalahkan dua orang hebat ini, **Wikar** dengan harus melakukan misi bunuh diri.



Yang nantinya, beberapa pasukan yang **Wikar** miliki akan dijadikan umpan untuk menarik **Ando** dan pasukannya, agar mereka bisa ditangkap dan dijadikan tawanan.



"*Mungkin itu rencana yang buruk Wikar. Kau harus memikirkannya kembali*." ucap **Loah** kepada **Wikar**.



"*Ya.. aku tahu. Tapi akan semakin banyak orang yang mati jika rencana pengorbanan ini dilakukan. Bukan hanya pasukan kita. Tapi juga rakyat yang kita lindungi. Mereka akan kembali merasakan penderitaan. Mereka akan ditindas*." jawab **Wikar**.



"*Baiklah. Jika memang itu adalah satu-satunya rencana. Maka aku akan memberitahu mereka. Aku akan mengatakan semuanya agar mereka paham*."



"*Jangan! Aku adalah seorang pemimpin. Akulah yang memberikan perintah itu kepada pasukan kita. Dengan berat hati, aku yang akan memberitahu mereka*." ucap **Wikar** dengan meninggalkan **Loah** di ruangannya.



**Jason**, **Loah**, dan **Ambar**, serta teman-teman Wikar yang lain merasa sangat sedih dengan apa yang akan mereka lakukan. Mereka tidak bisa membayangkan kengerian yang terjadi saat para tentara berhasil menguasai markas mereka.

__ADS_1


__ADS_2