The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 28


__ADS_3

Setelah bersusah payah, akhirnya mereka selesai membuat jebakan. Mereka kemudian kembali lagi ke dalam rumah itu untuk mengawasi setiap keadaan. Mau tidak mau mereka juga harus bertahan dengan makanan yang terbatas. Untungnya, di rumah itu banyak sekali air dan juga banyak sayur dan buah yang bisa mereka makan.


"Kita tidak mungkin memasak, sekalipun kita lapar. Karena aroma masakan juga bisa memancing kedatangan musuh. Apalagi jika sampai asapnya mengepul di atas. Kita makan sayur dan buah ini, kita bagi dengan adil. Baru kita gunakan persediaan makanan yang kita bawa, setelah semua makanan di rumah ini habis." kata Lahar pada mereka bertiga.


"Tapi sepertinya, itu akan menjadi rencana yang bagus untuk kita Letnan." ucap Wikar.


"Maksudmu?" tanya Lahar.


"Di depan rumah ini ada sebuah rumah yang cocok untuk dijadikan tempat pengintaian. Aku akan berada di rumah itu, jika musuh datang aku bisa menembaki mereka. Mereka tidak akan melihat keberadaanku." kata Wikar pada Lahar.


"Yah.. kau ada benarnya juga Wikar. Kalau begitu kita bagi lagi tugasnya. Aku dan Ambar tetap berada di rumah ini, karena Ambar yang akan memasak untuk kita. Kau dan Loah berjaga di rumah itu bergantian, karena kita semua juga butuh istirahat." perintah Lahar pada mereka.


"Siap Letnan."


Wikar dan Loah pun perlahan keluar dari rumah itu, dan menuju salah satu rumah di depannya. Lalu mereka berdua menggali tanah seukuran lutut mereka, dan menggunakan sela-sela kecil di dinding untuk mengawasi keadaan di tempat itu. Loah juga memasang beberapa kamera kecil yang dia bawa, agar mereka bisa melihat sekeliling mereka dengan mudah, tanpa harus berpindah tempat.


Setelah semua kamera terpasang, mereka berdua pasang badan di rumah itu. Wikar yang berjaga terlebih dahulu, dan Loah tidur untuk sejenak. Ambar dan Letnan Lahar tetap berada di rumah itu, karena Ambar yang harus membuat makanannya. Perut mereka sudah sangat lapar. Apalagi seharian ini mereka hanya meneguk air.



Di sebuah kamp, para penjahat itu sedang sibuk merakit senjata. Senjata-senjata itu mereka dapatkan dari para mafia, dengan bentuk pecahan agar semua senjata bisa diselundupkan dengan aman. Mereka juga melatih para anggota yang baru masuk ke kelompok mereka.



Ada perempuan dan juga laki-laki. Yang perempuan juga akan dilatih oleh perempuan, begitu juga sebaliknya. Mereka sama-sama mendapatkan pelatihan yang berat. Yang perempuan masuk ke dalam kesatuan penembak jitu. Dan yang laki-laki akan masuk dalam kesatuan utama mereka.



Jumlah mereka sangatlah banyak. Sehingga tempat itu dijaga dengan sangat ketat. Siapa yang mencoba kabur akan langsung ditembaki. Siapa yang sudah masuk ke dalam kelompok ini, tidak bisa keluar hidup-hidup. Mereka yang mencoba keluar akan dianggap sebagai pengkhianat. Dan mereka akan diburu kemanapun mereka pergi.


__ADS_1


Kebanyakan para perempuan yang masuk ke kelompok ini hanya dijadikan pemuas nafsu saja. Mereka tidak mendapatkan kedudukan seperti yang telah dijanjikan. Para perempuan bahkan kerap mendapat siksaan dari para lelaki yang menggagahi mereka. Sudah banyak sekali perempuan yang tewas dalam satu minggu ini.



Para lelaki yang seharusnya menjadi pelindung bagi mereka, justru malah menambah beban hidup mereka semakin berat. Laki-laki seakan sudah tidak peduli lagi dengan nasib mereka. Akibat dari faham radikal yang masuk ke otak mereka, para laki-laki menganggap bahwa semua perempuan hanya perlu menjadi pelayan bagi mereka.



Mereka tidak diizinkan berperang kecuali bagi mereka yang telah bersuami. Namun, bagi para perempuan di kelompok ini semua laki-laki sama saja. Menikah atau pun tidak, mereka tetap akan mendapatkan siksaan. Salah sedikit, maka mereka akan dipukul, ditendang, bahkan sangat mungkin mereka akan dihabisi.



Hal tersebut sangat-sangat mempengaruhi psikologi mereka. Keyakinan yang kelompok ini anut sangatlah keras dan begitu mengekang. Mereka hanya peduli terhadap apa yang mereka anut. Dan mereka begitu senang ketika ada peperangan dan kekacauan. Karena menganggap bahwa itu adalah jalan menuju kebenaran yang sejati.



Tidak jarang mereka melakukan pembantaian secara besar-besaran kepada kelompok yang mereka anggap sebagai musuh. Padahal, tidak pernah ada satu orang pun yang mau mencampuri keyakinan mereka. Semua suku asli yang ada di negara ini pun diburu dan dibantai dengan sangat sadis.




Negara yang sebelumnya aman dan tentram, kini telah menjadi medan pertempuran. Orang yang tidak bersalah pun ikut menjadi korban dari kelompok penjahat ini. Yah, mereka lebih pantas disebut sebagai penjahat, dari para umat. Kejahatan yang mereka lakukan sudah melampaui batas.



Mereka tidak takut kepada siapa pun dan apa pun. Bahkan mereka juga banyak sekali melakukan perusakan kepada tempat-tempat ibadah umat lain. Sungguh, mereka bukanlah manusia yang bermoral. Satu-satunya cara untuk menghentikan mereka adalah dengan membunuh mereka secara tuntas hingga ke akar-akarnya.



Banyak sekali negara yang juga sedang bersiap siaga untuk menyambut kedatangan mereka. Karena menurut beberapa data dari inteligen, mereka juga menyebarkan faham mereka kepada para perwira tentara. Dan mereka juga menculik anak-anak, yang nantinya mereka masukkan pada kepemerintahan.

__ADS_1



Hal ini tentu sangat mengancam kedaulatan sebuah negara. Hanya karena pemikiran yang sadis, dan mulut mereka yang pandai bersilat, sebuah negara bisa hancur. Karena menghadapi doktrin mereka jauh lebih sulit dari pada menghadapi mereka secara fisik.



Wikar yang saat itu masih berjaga dengan Loah, merasakan mulai kelelahan dan mengantuk. Walaupun mereka semua sudah menyantap makanan yang diberikan oleh Ambar, tapi tetap saja tenaga mereka akan terkuras jika mereka tidak beristirahat.


"Biar aku saja yang berjaga. Kau istirahatlah sejenak. Nanti aku bangunkan jika ada sesuatu." kata Loah pada Wikar.


"Sebentar lagi. Aku masih bisa bertahan." jawab Wikar.


"Sudah cukup Wikar. Matamu sudah merah. Kalau kau sampai sakit, itu akan membahayakan kami semua." ucap Loah.


"Baiklah. Tapi bangunkan aku jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan." kata Wikar.


"Pasti. Sekarang tidurlah, selagi tidak ada musuh yang datang." ucap Loah.


Ternyata musuh yang mereka hadapi cukup cerdas. Mereka sudah mengetahui, kalau asap yang mengepul di rumah itu hanyalah jebakan saja. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menunggu sampai pagi tiba. Agar Lahar dan pasukannya kelelahan dan mereka bisa menghabisinya dengan mudah.


Lahar juga menduga bahwa jebakan itu sudah dibaca oleh musuh. Baginya ini adalah kesempatan bagus untuk dirinya, untuk pergi dari tempat ini. Lahar lalu membangunkan semua anggotanya agar segera pergi dari tempat ini sebelum pagi tiba.


"Loah? Masuk." kata Lahar melelaui radio.


"Siap Letnan." jawab Loah.


"Mereka pasti sudah mengetahui kalau kepulan asap ini adalah perangkap. Ini kesempatan bagus untuk kita pergi dari tempat ini." kata Lahar.


"Situasi masih belum aman Letnan. Sebaiknya kita tetap mengintai di tempat ini." ucap Loah.


"Laksanakan saja perintahku. Akan aku jelaskan nanti." perintah Lahar.

__ADS_1


"Siap Letnan."


Loah lalu membangunkan Wikar yang baru saja terlelap untuk segera mengemasi barang-barang mereka. Kemudian dengan cepat mereka meninggalkan wilayah itu menuju sebuah bukit.


__ADS_2