
Para demonstran yang datang dari berbagai wilayah kini telah memenuhi pusat kota. Mereka datang dengan berbagai persiapan. Mulai dari logistik makanan, dan banyak juga dari mereka yang membawa berbagai macam senjata. Aksi mereka juga didukung oleh para mahasiswa yang sama-sama menginginkan Presiden Jacob turun dari jabatannya.
Aksi yang terbilang nekat ini memang sudah direncanakan jauh hari. Mereka sudah merencanakan itu semua dari beberapa bulan yang lalu. Hanya saja, sekarang adalah momen yang menurut mereka paling tepat.
**Jendral** **Hidi** dan pasukannya pun terpaksa harus membawa ratusan tentara menggunakan helikopter dari pangkalan, karena jumlah demonstran yang terus bertambah, sehingga jalanan tidak bisa dilewati. Sangat mungkin akan terjadi pembajakan kendaraan, jika para tentara menggunakan jalur darat.
"*Pak Presiden*."
**Jendral** **Hidi** yang sudah sampai di tempat pun langsung menemui **Presiden**, setelah semua persiapan panjang yang dia lakukan.
"*Jendral Hidi, sahabatku. Terimakasih kau telah membantuku*." kata **Presiden** **Jacob**.
"*Ini sudah menjadi tanggung jawabku. Tapi sepertinya kau akan menghadapi masalah besar kali ini. Jumlah demonstran yang datang semakin bertambah. Beberapa dari mereka bahkan banyak yang membawa senjata. Aku tidak bisa secara paksa mengambil senjata itu. Aksi mereka juga mendapatkan dukungan dari negara lain*." jelas **Jendral** **Hidi** kepada **Presiden** **Jacob**.
"*Apa urusan negara lain dengan kita*?" tanya **Presiden** **Jacob**.
"*Mereka sudah merendahkan dirimu habis-habisan. Mereka mendukung secara penuh pergerakan rakyat di negara ini. Kalau tidak, mana mungkin ada demonstran yang bisa membawa senjata api tanpa khawatir akan ditahan*."
Mendengar ucapan **Jendral** **Hidi**, **Presiden** menjadi khawatir akan keselamatannya. Apalagi salah satu anaknya sekarang berada di luar negeri. Pasti anaknya itu juga ikut menanggung semua kesalahannya. Tapi karena **Presiden** **Jacob** adalah ciri orang yang suka membanggakan diri, dia sama sekali tidak memikirkan bahaya yang akan menimpa dirinya.
__ADS_1
Dia merasa bahwa dia akan baik-baik saja, karena saat ini negara secara penuh dalam kendalinya. Hal itu karena ada seorang **Jendral** **Hidi** yang menjadi tangan kanannya. Namun tetap saja, hal itu sama sekali tidak membuat rakyat takut. Justru mereka semangat mereka semakin berkobar. Karena mereka hanya membawa dua pilihan.
Pilihan pertama, rakyat akan membunuh **Jendral** **Hidi** untuk menyerang mental para tentara. Sehingga hal itu akan memicu perpecahan di kemiliteran. Dan yang kedua, mereka akan memburu anggota keluarga **Presiden** **Jacob** untuk memancing **Presiden** **Jacob** keluar dari istana **Presiden**. Walau pada dasarnya, **Presiden** **Jacob** tidak terlalu peduli kepada keluarganya.
Yang dia inginkan sekarang hanyalah ingin membuat semua orang tunduk padanya. Sekalipun cara yang dia gunakan tidak manusiawi, dia tetap akan melakukannya.
"*Jika mereka tidak mau mundur, maka dengan terpaksa kita harus menggunakan kekerasan*." ucap **Presiden** **Jacob**.
"*Pak Presiden. Apakah anda yakin? Bagaimana reaksi negara lain dan juga para sekutu kita, kalau mereka mengetahui seorang Presiden dengan tega membantai rakyatnya sendiri hanya karena sebuah jabatan*." kata **Jendral** **Hidi**.
Tetapi sayangnya, jika **Jendral** **Hidi** memberontak maka nasib keluarganya pasti akan berakhir tragis. Terlebih, semua pasukan yang berada di bawah kepemimpinannya bukanlah pasukan yang benar-benar bisa dipercaya. Kebanyakan dari mereka adalah tentara korup. Hal ini dikarenakan doktrin dari pemimpin mereka yang sebelumnya.
Mereka lebih mencintai uang dari pada negara mereka sendiri. Meskipun **Jendral** **Hidi** lebih memilih berpihak kepada Presiden Jacob, tapi bukan berarti **Jendral** **Hidi** diam begitu saja melihat kejayaan bangsanya yang mulai runtuh. Sedikit demi sedikit **Jendral** **Hidi** membentuk pasukan bawah tanah. Sekarang pasukan itu dipimpin oleh **Jendral** **Hidi** sendiri. Namun ada kemungkinan bahwa pasukan itu akan diserahkan kepada **Wikar**.
Awalnya, **Jendral** **Hidi** mengharapkan **Lahar** yang menggantikannya. Tapi karena **Lahar** terlalu liar untuk menjadi seorang pemimpin. Dia dianggap tidak pantas untuk memimpin sebuah pasukan. Apalagi jumlah pasukan yang dimiliki oleh **Jendral** **Hidi** sangatlah terbatas. Hanya beberapa orang saja yang mau bergabung. Permasalahannya hanya satu, yaitu kejujuran. Sedangkan kejujuran itu sendiri sangat sulit untuk dicari.
"*Aku sama sekali tidak peduli dengan negara lain. Ini adalah kekuasaanku, aku bebas melakukan apa saja. Dan kau, hanya perlu mengikuti perintah*." kata **Presiden** **Jacob**.
__ADS_1
"*Baik Pak Presiden*."
"*Sekarang kembalilah pada pasukanmu*." perintah **Presiden** **Jacob** kepada **Jendral** **Hidi**.
"*Siap*!"
Wikar memarkirkan mobilnya di sebuah gang. Di sana sudah ada beberapa anggota gangster yang menunggu Wikar di tempat itu. Mereka semua sudah sepakat untuk bekerja sama menggulingkan Presiden Jacob. Saat seperti ini, uang sudah tidak berguna lagi bagi para gangster. Gangster ini bernama Diablo, yang dipimpin oleh seorang ketua bernama Lontro.
Lontro sudah banyak kehilangan anggotanya saat Presiden Jacob mulai berkuasa. Dia juga telah kehilangan banyak hal di tempat ini. Meskipun Lontro bukan berasal dari negara ini, tapi Lontro sudah menganggap bangsa ini seperti tanah airnya sendiri.
"Aku hanya membantumu sekali ini saja. Selanjutnya terserah padamu mau bagaimana." kata Lontro kepada Wikar.
"Aku janji, setelah ini aku tidak akan mengenalmu lagi." jawab Wikar.
"Baiklah. Semua pasukanku sudah siap. Aku juga sudah menyiapkan jalur pelarian untukmu jika yang kau khawatirkan memang benar-benar terjadi. Berapa orang yang kau bawa?" tanya Lontro.
"Kami berjumlah lima belas orang. Aku sudah mempersiapkan semua senjata dan amunisi yang kau minta." kata Wikar.
"Bagus. Sekarang kita berangkat!"
Mereka semua bergegas menuju mobil mereka masing-masing untuk segera berangkat menuju istana negara. Wikar dan pasukannya menuju ke titik penjagaan tentara. Sedangkan Lontro dan anak buahnya menelusup ke barisan demonstran.
Semua rencana ini diatur untuk mencegah agar tidak ada korban jiwa dalam aksi ini. Karena menurut berita yang beredar, para tentara mulai menembakkan senjata mereka ke arah demonstran, agar mereka semua mundur dari wilayah istana negara.
Namun semua itu tidak membuat para masyarakat takut. Mereka justru saling bergandengan tangan untuk terus menyuarakan hak mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang pulang. Baik para pemuda, maupun orang yang sudah lanjut usia.
Mereka semua bersatu untuk menggulingkan jabatan Presiden Jacob. Mereka saling mendukung satu sama lain, dan mereka saling menguatkan. Bukan hanya sampai disitu, mereka juga membawa beberapa awak media untuk meliput aksi demo ini.
Memang resiko yang akan ditanggung para awak media sangatlah tinggi. Mereka bisa saja ditangkap dan dibunuh akibat aksi mereka yang telah berani menentang perintah langsung dari Presiden. Tetapi mereka semua sudah tidak peduli dengan apa yang akan menimpa mereka.
Mereka sudah memiliki semboyan "Mati Sebagai Pejuang. Atau Hidup Sebagai Budak."
__ADS_1