
Para wartawan sedikit merasa kecewa, karena Wikar sama sekali tidak menemui mereka. Terutama para wartawan lokal yang sudah lama tidak muncul. Mereka bersusah payah untuk bisa sampai ke tempat ini. Hanya sedikit dari mereka yang beruntung.
"Komandan? Para wartawan masih setia menunggu di luar. Sebaiknya komandan menemui mereka, walau hanya sebentar. Tidak semua dari mereka bisa sampai dengan selamat ke tempat ini." ucap Jason.
"Aku tahu Jason. Tapi kau pun sudah tahu apa alasannya." jawab Wikar.
"Pakailah topeng ini untuk menutupi wajahmu. Orang-orang tidak akan mengenali wajahmu Wikar. Pakailah topeng itu, dan temuilah mereka sebagai saudara." kata Jason sambil menyerahkan sebuah topeng untuk Wikar.
"Topeng yang bagus Jason. Dan caramu sangat brilian untuk menggodaku."
"Yah..." jawab Jason singkat dengan suara tawanya.
Wikar langsung memakai topeng itu, dan keluar dari ruangannya untuk menemui para wartawan yang sudah menunggunya selama berhari-hari. Seketika mereka pun langsung berdiri dan mendatangai Wikar saat mereka melihat Wikar keluar dari ruangannya. Mereka berbondong-bondong mengerumuni Wikar, dengan berbagai pertanyaan.
"Tenang semuanya! Dengarkan aku!" kata Wikar untuk menenangkan mereka yang sudah berebut jawaban dari Wikar.
"Maafkan aku karena telah membuat kalian menunggu. Dan maafkan aku karena harus memakai topeng ini. Jujur, aku tidak bisa menunjukkan wajahku kepada siapa pun. Namun aku datang menemui kalian untuk memberikan pernyataan. Bahwa kami semua di tempat ini, sedang berjuang untuk merebut kembali kedaulatan negara ini yang telah direnggut secara paksa! Kami tidak akan berhenti sampai kapan pun! Setiap detik, kami dihadapkan dengan kematian! Kami tidak akan mundur selangkah pun dari bangsa ini! Kami akan tetap memberi perlawanan! Sampai pemerintah menyatakan kekalahan mereka! Kami akan membangun kembali kebahagiaan yang telah lama hancur! Kami akan tetap akan berada di tempat ini! Sampai kapan pun!" ucap Wikar di depan awak media.
Tak mau berlama-lama, Wikar langsung kembali ke ruangannya. Para wartawan langsung menyebarkan berita itu ke negara mereka masing-masing. Mereka ingin semua orang melihat keseriusan Wikar dalam memperjuangkan negaranya.
"Dibawah komando Wikar, rakyat telah siap untuk berkorban nyawa. Mereka akan terus memberikan perlawanan, sampai pemerintah menyatakan kekalahan mereka." kata salah seorang wartawan televisi.
Berita itu menyebar ke seluruh negara. Respon setiap orang yang melihat berita itu pun berbeda-beda. Ada yang mendukung dan setuju dengan keputusan Wikar. Namun ada pula yang menganggap bahwa itu sebuah kebodohan. Karena negara itu terus menerus berperang dengan rakyatnya sendiri.
Terutama saat orang-orang mendengar nama Presiden Jacob. Mereka seakan ingin meludahinya. Karena menurut mereka, Presiden Jacob hanyalah sampah yang tidak berguna.
"Lihatlah... Orang itu memang pantas untuk dikencingi. Mengatasi konflik internal saja tidak bisa. Justru dia membuat situasi semakin rumit." ucap salah seorang pekerja kantoran yang sedang melihat televisi di sebuah cafe bersama teman-temannya.
"Ya.. kau benar. Dia bahkan berani mengancam negara kita. Dia pikir dia siapa." jawab salah satu temannya sambil tertawa.
__ADS_1
Mendengar bahwa **Wikar** telah mengeluarkan pernyataannya, **Presiden Jacob** merasa sangat terancam. Dia memerintah **Jendral Hidi** untuk mulai melakukan penyerangan. Saat itu **Jendral** **Hidi** bingung, tidak tahu langkah apa yang harus dia ambil. Disisi lain, **Jendral Hidi** sangat mendukung perjuangan **Wikar**. Namun jika dia kembali kepada tujuan utamanya, **Jendral Hidi** tidak bisa menolak perintah itu.
Dalam keadaan dilema, **Jendral Hidi** menghubungi sahabat-sahabatnya dari berbagai negara, untuk meminta pendapat mereka. Dengan keadaan yang memang tidak mendukung, **Jendral Hidi** harus memilih dua hal yang sangat sulit. Hal yang pertama, dia harus mengambil resiko keluar dari militer, dan melupakan tujuan utamanya. Sedangkan pilihan kedua, **Jendral Hidi** harus rela mengorbankan para pasukannya untuk berperang.
Tanpa pikir panjang, **Jendral Hidi** langsung mengirimkan surat kepada **Wikar**. Isi surat itu adalah tentang ajakan **Jendral Hidi** untuk bertemu dengan **Wikar**. Menurut **Jendral Hidi**, bagaimanapun caranya mereka membahas masalah ini untuk menemukan jalan keluar yang terbaik. Karena **Wikar** telah mengetahui kalau **Jendral Hidi** adalah sekutunya, maka **Wikar** pun setuju untuk melakukan pertemuan.
Pertemuan itu akhirnya berlangsung secara rahasia. Dengan bertempat di sebuah gedung bekas pabrik. **Wikar** datang dengan sepuluh orang pengawalnya, sedangkan **Jendral Hidi** pergi bersama **Jendral Rechan**, dengan alasan untuk merencanakan strategi penyerangan. Dia tidak mau kalau sampai ada orang yang curiga. Karena sekarang **Jendral Hidi** tidak bisa mempercayai siapa pun, kecuali **Wikar** dan juga **Jendral Rechan**.
"*Aku dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit. Jika aku harus keluar dari militer, maka berakhirlah sudah kita semua. Kita tidak bisa memantau lagi pergerakan tentara pemerintah, yang sekarang sedang mempersiapkan diri untuk membunuhmu. Dan sampai kapan pun kita tidak akan tahu dimana keberadaan pasukan rahasia milik Presiden Jacob*." ucap **Jendral Hidi** kepada **Wikar**.
"*Aku akan memilih untuk berpura-pura melawanmu*." jawab **Jendral Hidi**.
"*Itu artinya, kau akan mengorbankan para tentara*?"
"*Tidak Wikar. Para tentara itu dibayar. Mereka melakukan semua ini karena uang. Lagi pula banyak dari mereka yang korup, dan sedikit yang bisa dipercaya*." jawab Jendral Hidi.
__ADS_1
"*Itu adalah keputusanmu saudaraku. Aku tidak bisa memberikan perintah apa pun padamu. Dan aku tidak bisa melarangmu untuk melakukannya. Tapi aku harap, saat pertemuan dimulai, kau tidak ada disana*." ucap **Wikar**.
"*Sepertinya pertempuran akan benar-benar sengit. Jangan sampai kalah. Aku akan memberikan informasi apa pun kepadamu. Aku yang akan menghubungi kembali. Berhati-hatilah Wikar, kau adalah sahabat terbaik yang aku miliki*."
"*Begitu juga dengan dirimu*."
Mereka semua pun bergegas meninggalkan tempat itu, menuju markas mereka masing-masing. Mengingat situasi sekarang sedang sangat genting. Mereka tidak bisa keluar dari wilayah mereka terlalu lama. Semua mata-mata **Presiden Jacob** telah disebar ke seluruh tempat.
"*Komandan? Apa komandan yakin kalau dua orang itu bisa dipercaya*?" tanya salah satu anak buah **Wikar**.
"*Aku bisa merasakannya. Mereka bisa kita percaya menjadi informan. Tapi mengingat situasi seperti sekarang, aku tidak yakin mereka bisa bertahan lama. Presiden Jacob menyebarkan mata-matanya hampir di seluruh kota. Hal itu akan sangat membahayakan Jendral Hidi dan temannya. Kita harus lebih berhati-hati sekarang. Meskipun saat ini kita sedang berada di atas, jangan sampai kita menganggap remeh kekuatan musuh kita. Presiden Jacob memiliki kesatuan tentara rahasia. Mulai sekarang, awasi dengan ketat setiap orang yang masuk ke dalam kelompok kita*." ucap **Wikar** pada mereka.
"*Siap Komandan. Loah telah mempersiapkan sesuatu yang baru untuk kita. Dia bilang ingin menyiapkan sebuah kartu khusus untuk pasukan kita, Komandan*."
"*Itu bagus. Sebentar lagi, pembangunan markas kita akan selesai. Perketat penjagaan*."
"*Siap*!"
__ADS_1