The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 30


__ADS_3

Penyerangan yang dipimpin oleh Mayor Jendral Maric semakin gencar dilakukan. Mayor Jendral Maric bahkan menawan puluhan orang untuk diinterogasi. Para penjahat penyebar teror itu kini diringkus dan dihajar habis-habisan. Mereka semua disiksa dengan kejam oleh Mayor Jendral Maric. Banyak dari mereka yang kehilangan anggota tubuhnya.


Mereka yang disiksa akan dipertontonkan di depan teman-teman mereka yang lain, agar mental mereka jatuh. Sehingga proses interogasi akan semakin mudah dilakukan. Tetapi, semuanya tidak berjalan sesuai dengan apa yang Mayor Jendral Maric inginkan. Dia harus bersikeras memaksa mereka. Penyiksaan secara fisik dan mental sepertinya belum cukup untuk membuat mereka semua kapok.


Akhirnya Mayor Jendral Maric memutuskan untuk membuat sebuah bunker berukuran delapan kali delapan. Bunker itu nantinya digunakan sebagai ruang tahanan. Dan Mayor Jendral Maric akan menerapkan sistem penyiksaan tersadis, namun sangat sederhana. Yaitu dengan menempatkan mereka semua di dalam bunker. Setelah itu, mereka hanya akan diberikan satu botol minuman dan juga sepotong daging untuk mereka makan.


"Bunker itu harus selesai dalam waktu satu bulan. Dan selama itu pula, kita perketat semua penjagaan. Rampas apa pun yang mereka miliki. Jangan sisakan apa pun untuk kehidupan mereka selanjutnya!" kata Mayor Jendral Maric kepada ratusan pasukannya.


Wikar yang mendengar hal itu seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh pemimpinnya itu. Selama ini Mayor Jendral Maric selalu bijak dalam mengambil tindakan. Namun sangat jauh berbeda dengan Lahar. Dia justru sangat suka dengan cara Mayor Jendral Maric dalam menindas musuh-musuhnya.


"Kenapa kau begitu tertarik untuk ikut bersamanya?" tanya Wikar pada Lahar.


"Asal kau tahu, aku juga sudah geram dengan perilaku para penebar teror ini. Mereka semua memang pantas untuk dibunuh. Apalagi dengan menyiksa mereka terlebih dahulu, menurutku itu akan sangat menggairahkan." jawab Lahar.


Wikar hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Nalurinya untuk membantai semua musuhnya jauh lebih besar dari Wikar. Bahkan terkesan amat sangat sadis. Tapi apa mau dikata, Wikar hanyalah seorang prajurit biasa. Dia tidak bisa melarang dan membantah perintah pimpinannya. Walaupun sebenarnya Wikar ingin sekali pulang dan memilih mundur dari misi ini.


Mayor Jendral Maric mulai menerapkan aturan ketat pada pasukannya. Dia melarang keras siapapun untuk mendokumentasikan tentang semua yang terjadi di tempat ini, karena jika berita ini sampai menyebar keluar, maka semua orang yang ikut dalam misi ini akan menerima hukuman berat. Tentara nasional pun tak diizinkan masuk ke dalam misi ini, kecuali orang-orang yang sudah dipercaya oleh Mayor Jendral Maric.


Mayor Jendral Maric membuat markas untuk pasukannya di tempat ini dengan semua rampasan yang dia dapatkan. Tidak ada satu orang pun yang berani keluar dari tempat ini, kecuali jika ada misi penyerangan. Dan tidak ada satupun orang yang berani masuk, kecuali orang-orang yang benar-benar bisa menjaga semua rahasia yang ada di tempat ini.



__ADS_1


Hari demi hari pun berlalu, hingga sampailah pada penghujung bulan. Pembangunan Bunker yang direncanakan kini sudah selesai. Dua hari setelah itu, bencana besar pun akhirnya datang. Para penjahat itu dimasukkan ke dalam bunker dalam keadaan telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun menempel di tubuh mereka. Ditambah lagi dengan udara di dalam bunker begitu pengap.



Sehingga siapa pun yang masuk ke bunker itu akan merasa sangat tersiksa. Bunker itu juga memiliki sistem pemanas dan pendingin, yang akan digunakan oleh **Mayor** **Jendral** **Maric** untuk menyiksa keadaan para tahanannya. Tempat ini lebih layak disebut sebagai neraka, bukan penjara.



Dengan sistem pertahanan yang sudah sangat ketat dan rapat, akan sangat sulit bagi musuh untuk menembus wilayah ini. Semua orang dikontrol oleh **Mayor** **Jendral** **Maric** dengan sangat teliti. Pemerintah negara ini pun sudah pasrah dengan keadaan di tempat ini. Karena **Mayor** **Jendral** **Maric** adalah orang yang sangat terorganisir. Dia memiliki pasukan dimana-mana.



Yang lebih mengerikan adalah, pasukan itu tidak pernah diketahui keberadaan maupun identitasnya. Tidak ada yang pernah melihat wajah asli mereka. Karena mereka semua selalu menggunakan topeng dan seragam lengkap. Tak ada nama, yang ada hanya sandi angka yang tertulis di bagian kanan dada mereka.




Mereka semua dilatih dan didoktrin agar menjadi orang yang nasionalis, tapi sadis. Mereka akan menghancurkan siapa pun dan apa pun yang berani menyentuh ketentraman bangsa mereka, ataupun sekutu mereka. Mereka semua terpanggil bukan karena uang, melainkan karena rasa peduli yang begitu tinggi.



Di saat mereka bersama keluarga mereka, maka mereka adalah orang-orang yang ramah dan hanya pekerja biasa. Mereka juga hidup sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Namun saat seragam mereka dikenakan, mereka adalah orang lain. Orang lain yang akan membrantas segala hal yang menurut mereka meresahkan.

__ADS_1



Disamping itu, mereka juga melakukan banyak sekali perburuan di semua negara. Dari para pengedar narkoba, senjata ilegal, dan juga perdagangan manusia. Mereka beroperasi atas perintah dari pimpinan mereka. Siapa lagi kalau bukan **Mayor** **Jendral** **Maric**.



Walaupun operasi yang mereka lakukan ini juga tidak mendapatkan izin dari pemerintah, tapi mereka sudah banyak berjasa untuk perdamaian di banyak negara. Meskipun cara mereka dianggap kotor, tetapi mereka mendapatkan banyak sekali dukungan dari negara-negara yang pernah menggunakan jasa mereka.



Mereka bisa bertahan dalam situasi dan kondisi yang sangat sulit sekalipun. Dan sekarang, **Wikar** juga **Lahar** telah melihat siapa mereka sebenarnya. Sebuah pasukan tanpa nama yang berjuang untuk semua orang. Mereka tidak berpihak kepada siapapun dan juga apa pun.



Kenyataannya, mereka selalu menjadi pasukan yang unggul. **Lahar** dan **Wikar** hanyalah orang biasa diantara para pasukan **Mayor** **Jendral** **Maric**. Jika dibandingkan, mereka berdua tidak ada apa-apanya jika kekuatan mereka diadu dengan pasukan biasa di kelompok itu.



Pasukan **Mayor** **Jendral** **Maric** jauh lebih berpengalaman. Latihan yang didapat di kelompok itupun jauh lebih berat dari pada yang didapat oleh **Wikar** dan **Lahar** di kemiliteran. Sehingga hal itu membuat mereka berdua berkeinginan untuk masuk ke kelompok ini.



Tapi sayang, orang seperti **Wikar** tidak cocok untuk masuk ke dalam deretan pasukan **Mayor** **Jendral** **Maric** yang terkenal sadis dalam setiap tindakannya. **Wikar** dianggap terlalu baik untuk masuk ke kelompok ini. Dan hanya **Lahar** seorang yang diterima dengan baik. Sedangkan **Wikar** dan yang lainnya masih harus berada di tempat yang sama.

__ADS_1


__ADS_2