
Kelompok remaja wanita yang belum diketahui namanya itu belum pernah sekalipun tercium jejaknya. Mereka begitu berhati-hati dalam melakukan semua aksinya. Mereka tidak pernah sekalipun tercium. Tanpa bukti. Tanpa jejak. Semuanya bersih. Bahkan Jendral Hidi yang sudah berpengalaman pun belum sanggup mencari keberadaan mereka.
Hal ini memancing banyak sekali anak muda yang juga sama-sama membuat aliansi. Mereka bersatu untuk melawan kebiadaban para tentara yang suka semena-mena. Mereka mencuri senjata dari para tentara, dan kemudian mempelajari seluruh struktur senjata itu untuk mereka buat sendiri.
Meskipun kekuatan senjata rakitan mereka belum sempurna, tapi setidaknya hal itu mampu membuat mental para tentara menjadi ciut. Sekarang para pemuda termotivasi untuk bangkit dari keterpurukan mereka. Baru beberapa bulan, mereka sudah banyak yang mampu mengembangkan bisnis.
Memang jumlah orang yang mau menjalankan bisnis belum terlalu banyak, tapi hal itu mampu merubah moral setiap masyarakat di negara ini. Karena pada dasarnya, masyarakat akan damai dan tentram jika kebutuhan sehari-hari mereka terpenuhi.
Ada salah satu pemuda penjual parfum yang sudah meraup keuntungan sangat besar. Bisnisnya melejit hanya dalam waktu empat bulan. Berita ini terdengar oleh **Presiden** **Jacob**, karena banyak pejabat kaya yang datang ke tempatnya.
"*Pemuda mana yang mampu membuat parfum seharum ini*?" tanya **Presiden** **Jacob** kepada **Hanam**.
"*Namanya Adam, dia pembuat parfum terbaik di desanya. Banyak juga pejabat istana yang datang kepadanya Pak Presiden*." jelas **Hanam**.
"*Kalau begitu, dia sudah mendapatkan banyak uang. Kita bisa memanfaatkannya. Kirim surat untuknya. Katakan kalau dia harus membayar pajak setiap bulan*." ucap **Presiden** **Jacob** dengan senyum liciknya.
"*Setiap bulan*?!" tanya **Hanam** terkaget mendengar ucapan **Presiden** **Jacob**.
Seharusnya pajak dibayar setiap tahun, bukan setiap bulan. Hal itulah yang membuat para pengusaha gulung tikar. Mereka dipaksa membayar pajak yang sangat tinggi. Sedangkan pendapatan mereka tidak seberapa. Tidak setiap bulan para pengusaha itu mendapatkan banyak penghasilan.
Terkadang dagangan mereka sepi pembeli. Bagaimana tidak? para pekerja hanya mendapat upah yang kecil untuk setiap pekerjaan yang mereka selesaikan. Sehingga hal itu membuat para pengusaha memilih untuk menutup usaha mereka, dan lebih memilih untuk bertani.
__ADS_1
**Presiden** **Jacob** yang sudah tidak tahan ingin memeras penjual parfum itu, dengan cepat menyuruh Hanam untuk datang ke tempatnya dengan dikawal oleh dua puh tentara. Agar **Adam** bisa diancam dan ditakut-takuti. Namun kenyatannya, **Adam** bukanlah orang yang bodoh.
Dia sudah mempersiapkan semuanya, jika suatu saat nanti ada orang yang datang untuk memerasnya. Faktanya, saat **Hanam** dan para tentara sampai ke rumah **Adam**, mereka langsung diberondong peluru. Mereka semua kocar-kacir dan berhamburan kesana kemari.
Dalam serangan itu, **Adam** dan kelompoknya berhasil melumpuhkan sembilan anggota tentara. **Hanam** lalu memerintahkan para tentara itu untuk menyerang balik. Dan sekarang, para tentara justru berhasil membalikan keadaan. Adam dan kelompoknya terdesak.
Disaat-saat seperti itu, datanglah sekelompok orang yang langsung menyerang para tentara, hingga mereka semua tewas tanpa sisa.
"*Sekarang kau pergilah! Beritahukan pada Presiden Jacob, kalau dia tidak perlu mencariku lagi*."
"*Pergi*!"
**Hanam** pun seketika berdiri menuju mobil, dengan rasa sakit yang dia tahan di bagian perutnya.
**Adam** dan teman-temannya hanya bisa melongo saat dia mengetahui bahwa orang yang telah membantunya itu adalah **Wikar**. Selama ini dia tidak percaya kalau **Wikar** benar-benar ada. Dia menganggap **Wikar** hanyalah dongeng.
__ADS_1
"*Kalian percaya sekarang*?" tanya **Wikar** pada mereka.
**Adam** dan teman-temannya hanya menjawab dengan anggukkan kepala. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang telah mereka alami. Tak disangka-sangka, orang yang tak pernah sekalipun dia lihat, sekarang berada tepat di hadapannya.
"*Selamatkan mereka yang masih hidup. Dan kuburkan yang sudah mati dengan layak*." ucap **Wikar** pada teman-temannya.
Dengan rasa sakit luar biasa yang ia rasakan, Hanam mencoba tetap fokus dengan jalannya. Dalam keadaan sekarat, dia berusaha tetap bertahan. Hanam mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu tentara di pos jaga pusat kota. Dia seakan sudah tak sanggup lagi untuk mengendalikan laju mobilnya.
"Aku butuh bantuan! Kirimkan medis." kata Hanam memberitahu seseorang di ponselnya.
Hanam mencoba mencari benda apa pun yang bisa dia gunakan untuk mengambil tiga butir peluru di perutnya. Tapi dia tidak menemukan apa pun. Hanam menarik nafasnya dalam-dalam, dan berusaha untuk tetap tenang. Darah terus mengucur dari perutnya.
Semakin lama rasa sakitnya semakin bertambah hebat. Dia menghubungi istrinya yang saat ini sedang berada di rumah orang tuanya. Karena Hanam merasa kalau hidupnya akan berakhir hari ini.
"Hey?! Kau masih disana?!"
Tiba-tiba beberapa tentara datang kepadanya. Tapi mereka hanya membawa obat-obatan seadanya. Karena kondisi Hanam sudah sangat parah, ia pun akhirnya tak sadarkan diri. Dengan cepat para tentara itu membawa Hanam ke mobil mereka agar Hanam bisa segera ditolong.
Jendral Hidi yang mengetahui hal itu langsung menghadap Presiden Jacob untuk melaporkan semua yang telah terjadi. Meskipun Jendral Hidi tidak ada di tempat kejadian, tapi dia sudah tahu kalau Hanam pasti disergap oleh warga sipil yang geram kepada tentara.
Membawa tentara dengan jumlah yang terbatas bukanlah hal yang bagus. Warga sipil sekarang sudah tidak ragu lagi untuk membunuh setiap tentara yang lewat ke wilayah mereka. Mereka akan menghujani para tentara dengan peluru. Karena sekarang, senjata dan amunisi tidak sulit untuk didapatkan.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?!" tanya Presiden Jacob dengan nada marah.
Ketegangan mulai muncul diantara mereka berdua. Diantara mereka berdua tidak ada yang mau kalah. Keduanya merasa sama-sama dirugikan. Jendral Hidi merasa dirugikan karena sudah kehilangan banyak sekali pasukan dalam perang sipil ini.
Sedangkan Presiden Jacob, dia merasa kalau Jendral Hidi sudah tidak lagi becus mengurus pasukannya. Dia dianggap terlalu lemah untuk memimpin sebuah pasukan. Karena tidak terima dengan ucapan Presiden Jacob, Jendral Hidi pun mencekik leher Sang Presiden.
"Dengar! Aku sudah mengorbankan segalanya untuk perang busuk ini! Aku korbankan pasukanku dan juga harga diriku sendiri demi menyelamatkan orang sepertimu! Jika kau mengulang kalimat itu lagi, aku tidak akan segan untuk membuatmu menderita!" ucap Jendral Hidi kepada Presiden Jacob.
__ADS_1
Presiden Jacob hanya diam tak menjawab apa pun. Wajahnya pucat. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Dia tidak mungkin bisa melawan sahabatnya itu, karena Jendral Hidi jauh lebih tangguh dari dirinya. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menuruti setiap keinginan Jendral Hidi. Dan lebih memilih untuk mengalah.
Jendral Hidi pun keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu. Dia sudah muak dengan semua yang telah terjadi. Semua pasukannya pun ditarik mundur dari istana, dan keamanan istana dibiarkan kosong. Jendral Hidi sudah tidak mau ikut campur lagi dengan masalah yang Presiden Jacob hadapi.