The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 53


__ADS_3

Wikar dan Lontro masih sibuk dengan memainkan senjata mereka. Wikar mengajari Lontro dan pasukannya bagaimana cara menggunakan senjata yang baik dan benar. Sebagai seorang Gangster, Lontro masih terbilang payah dalam menggunakan senjata. Dia hanya mengetahui kemampuan semua senjata, tapi tidak mau mengasah kemampuannya sendiri.


Karena sebelumnya Lontro jarang menggunakan senjatanya sendiri. Dia lebih sering bersembunyi dibalik punggung anak buahnya, dari pada maju di barisan depan. Kebanyakan seorang bos memang selalu ingin dilindungi. Dan jarang seorang bos mau mengasah kemampuannya sendiri. Untuk itulah, Wikar mengajari mereka semua secara detail cara menggunakan senjata dengan baik.


Wikar juga memberikan pemahaman tentang bagaimana sebuah sistem senjata bekerja. Karena nantinya, Lontro dan pasukannya yang harus memproduksi senjata di tempat ini.


"Ayolah Wikar! Aku seorang bos sekarang. Kenapa kau harus mengajariku?"


"Aku tidak peduli kau seorang bos ataupun seorang raja. Kita semua harus saling melindungi. Jika kau ingin berhasil, mulailah segalanya dari bawah."


"Ohh... baiklah Pak Tua." jawab Lontro sambil tertawa.


Mereka kembali melanjutkan latihan bersama-sama. Sedikit demi sedikit mereka mulai mengerti dan memahami.


"Yang terpenting dalam menggunakan senjata adalah seberapa cepat kau mengaktifkan senjatamu, dan seberapa cepat kau mengisi ulang peluru." kata Wikar.


"Jika kalian lamban, maka akan cepat juga kemungkinan kalian bisa mati."


"Okh.. aku tidak suka bagian itu. Jangan katakan itu lagi." ucap Lontro pada Wikar.


"Aku akan terus menerus mengatakannya jika kau belum mengerti."


"Ok! Baiklah!"


Seharian mereka menggunakan waktu hanya untuk mempelajari senjata. Mereka istirahat sejenak, kemudian melanjutkan latihan lagi. Sampai tidak terasa hari sudah gelap. Akhirnya Wikar dan yang lain pun sepakat untuk beristirahat. Mereka akan kembali melanjutkan latihan besok pagi.


Wikar tidak ingin terburu-buru dalam melatih mereka. Karena mereka sama sekali belum memiliki kemampuan yang mumpuni untuk keluar dari tempat ini. Mereka harus terus menerus dilatih, sampai mereka benar-benar siap dalam situasi dan kondisi apa pun.


Tempat ini memang bukan tempat yang cocok untuk latihan. Tapi setidaknya mereka bisa ahli dalam persenjataan apa pun, sehingga saat situasi benar-benar mendesak, mereka sudah mengetahui bagaimana caranya menyelamatkan diri.

__ADS_1


Terutama Lontro. Meskipun sekarang dia jauh lebih kuat, tapi Lontro tidak bisa mengontrol dirinya secara penuh. Terkadang dia bertingkah aneh. Karena selama ini dia terus menerus mendapatkan siksaan di penjara ini. Sehingga membuat jiwanya sedikit goyah.


Yang awalnya ingin membawa Lontro keluar, sekarang rencana diubah. Dia harus membuat Lontro bisa mengendalikan dirinya terlebih dahulu. Lontro tidak mungkin bisa bertempur dengan keadaan setengah waras. Itu bisa membahayakan semua orang.


Emosinya suka meledak-ledak secara mendadak. Hanya karena seekor tikus yang lewat di depannya, Lontro bisa membakar tempat tidurnya sendiri. Wikar hanya bisa geleng kepala saat melihat hal itu. Karena dia tidak bisa melakukan apa pun untuk saat ini.


"Jangan heran Komandan. Kami semua yang ada disini sudah terbiasa melihat hal itu. Lagi pula, menurutku dia memang bukan orang yang waras. Apalagi setelah dia mendapatkan banyak sekali siksaan kejam dari para sipir penjara. Dia lebih agresif. Dia mungkin lebih gila dari seekor babi, tapi dia selalu peduli kepada kami. Dia tidak pernah melecehkan kami. Dia selalu baik." kata salah seorang dari anak buah Lontro.


"Baguslah. Dia hanya perlu suasana yang tenang untuk sesaat. Biarkan saja kalau dia sedang marah. Kita bisa menyapanya nanti." ucap Wikar.


"Ya." jawab orang itu singkat.





Mereka direkrut secara paksa, karena sudah tidak ada lagi orang yang berminat mendaftar sebagai tentara. Jadi, sekarang militer harus menghalalkan segala cara untuk menambah jumlah mereka. Mereka semua dilatih dengan keras dan disiplin. Dilatih dari pagi, dan diakhiri pada malam hari.



Banyak yang tidak tahan dengan keadaan seperti itu. Karena mereka bukan hanya menghadapi sistem pelatihan yang berat, tapi mereka juga harus menghadapi satu kenyataan pahit. Bahwa saat nanti tiba waktunya, mereka harus mau membunuh teman mereka sendiri. Atau bahkan keluarga mereka.



Tak banyak yang bisa mereka lakukan, selain pasrah pada keadaan. Mereka tidak punya pilihan lain. Jika membelot, maka mereka akan dibunuh. Memang, tak jarang dari mereka yang berusaha menyelamatkan diri, dengan kabur dari tempat latihan tersebut. Tapi kebanyakan mereka berakhir dengan tragis.


__ADS_1


Setiap yang tertangkap akan dipukuli sampai mati, dan tubuh mereka akan dipotong-potong. Kepalanya akan digantung dengan rantai, dan dibawah kepala itu akan ditaruh sebuah papan yang bertuliskan '**Kepala Pengkhianat. Pantas Untuk digantung**.' Membuat semua orang takut untuk keluar dari rumah ataupun tempat persembunyian mereka.



Hal itu dilakukan oleh para tentara untuk mengancam masyarakat yang masih melakukan perlawanan. Namun, kejadian ini tidak pernah dialami oleh orang-orang yang tinggal di desa terpencil. Masyarakatnya bisa dikatakan sangatlah cerdas dalam menyelesaikan semua masalah.



Saat para tentara datang ke salah satu desa, mereka akan menyambut para tentara itu dengan sangat ramah. Para warga juga dengan sengaja menyediakan perempuan dan jamuan lainnya untuk membuat para tentara itu senang. Setelah mereka mabuk atau pun sibuk bersenang-senang, maka para pejuang rakyat di desa itu akan langsung menyergap para tentara.



Mereka membantai para tentara dengan waktu yang sangat singkat. Mereka juga begitu bersih dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Tubuh para tentara itu akan disembunyikan di sebuah lubang besar yang sangat dalam. Tidak lupa, mereka juga menaburkan sebuah ramuan kuno nenek moyang mereka, yang bisa menghilangkan bau busuk pada mayat secara permanen.



Sehingga tidak akan ada yang tahu dimana keberadaan para tentara itu. Mereka juga memungut semua barang-barang berharga milik para tentara. Seperti senjata, amunisi, dan juga barang-barang berharga lainnya. Mereka menyimpan barang-barang itu untuk mereka gunakan sendiri.



Mereka akan mengirim anak-anak mereka yang sudah terlatih dalam pertarungan untuk berangkat ke perbatasan antara desa dan kota. Dan banyak juga saat ini anak-anak desa yang diberangkatkan ke kota untuk satu hal yang sangat-sangat diinginkan oleh semua orang. Yaitu untuk menjatuhkan kekuasaan **Presiden** **Jacob**.



Namun sampai saat ini belum ada satupun dari mereka yang berhasil melakukan tugasnya. Dan siapa sangka? bahwa sebenarnya, **Wikar** juga salah satu orang yang berasal dari sebuah desa kecil di tengah hutan. Ayahnya adalah seorang kepala suku. Semua laki-laki di suku itu memiliki ukiran ditubuh mereka.



Semakin banyak ukiran yang ada ditubuh mereka, maka akan semakin besar pula kekuatan yang mereka miliki.

__ADS_1


__ADS_2