
Seberapa keras pun masalah yang dihadapi, Wikar tetap akan meneruskan perjuangannya selama ini. Dibantu oleh sahabat-sahabat terbaiknya, Wikar menjadi semakin kuat. Bukan hanya dukungan tenaga, tapi juga dukungan mental. Meskipun kuat secara fisik, tapi terkadang Wikar merasakan resah dan gelisah.
Sulit untuk tidur, ataupun mendapat mimpi buruk, sudah menjadi santapan setiap hari baginya. Wikar pernah pernah bermimpi bertemu dengan salah satu korbannya, dia bertanya kepada Wikar,
"Kenapa kau membunuhku? Kenapa kau tidak membawaku bersamamu? Apakah aku hanya debu kecil dimatamu?"
Mimpi itu terus datang berulang-ulang. Wikar tidak mengenal siapa orang yang datang ke mimpinya. Namun rasa bersalah sekaligus penasaran mulai menghinggapinya. Wikar tidak pernah lupa dengan semua perbuatannya. Setiap yang ia lakukan, selalu dia ingat hingga sampai saat ini.
Entah sudah berapa banyak orang yang telah ia bunuh. Puluhan? Ratusan? Atau bahkan mungkin ribuan? Entahlah. Wikar tak pernah menghitung jumlah orang-orang yang telah ia bunuh. Tapi sebagai seorang pemimpin, Wikar tidak mau menunjukkan keluhan itu kepada sahabat-sahabatnya.
Dia tetap berusaha untuk tegar. Meskipun hal itu sangat menyakitkan. Orang-orang mengenalnya sebagai orang yang kuat, jadi dia tetap harus terlihat kuat, meskipun hatinya rapuh. Rasa bersalah itu tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun. Bahkan Ayah Wikar pun mengetahui hal itu bukan dari Wikar sendiri. Tapi memang Ayah Wikar tahu apa yang terjadi pada anaknya.
"Kau bisa membohongi orang lain anakku. Tapi kau tidak bisa membohongi aku. Aku adalah ayahmu Nak. Cobalah untuk membuka hatimu. Terbukalah. Maka kekuatan murni akan muncul dari dalam dirimu. Tenangkanlah jiwa. Rasakanlah sebuah rasa. Cintailah apa yang telah diciptakan oleh Sang Pencipta. Ayah tidak melarangmu untuk membunuhmu. Namun ingatlah Nak, tidak semua orang yang kau bunuh itu adalah orang jahat." ucap Ayah Wikar kepada anaknya itu.
Wikar masih terus mengingat ucapan Ayahnya itu. Sampai kapan pun Wikar tidak akan pernah lupa. Wikar tetaplah anak kecil bagi Ayahnya. Ayahnya tidak pernah lelah membimbing anak laki-laki kesayangannya itu. Karena di dalam lingkup sukunya, pendidikan yang akan Wikar dapatkan jauh lebih kejam dari pada semua yang telah Wikar alami.
Setiap warga Suku harus bisa berburu. Baik berburu hewan ataupun manusia. Orang yang menjadi target perburuan adalah orang-orang yang datang ke desa untuk merusak alam. Seperti halnya yang dilakukan oleh Presiden Jacob sekarang. Atas perintah dari Ayahnya sendiri, Wikar diperintahkan untuk mendapatkan kepala Presiden Jacob.
Tak peduli seberapa lama Wikar melakukannya. Yang jelas, Ayahnya menginginkan kepala Presiden Jacob sebagai lambang, bahwa Wikar telah menjadi seorang kesatria. Dan sebagai syarat jika dia ingin diterima sebagai pemimpin di sukunya. Meskipun begitu, Wikar tetap memikirkan rencana yang jitu untuk menjalankan perintah dari ayahnya. Dia ingin melakukannya secara perlahan-lahan tapi pasti.
"*Bagaimana selanjutnya Jason? Semua orang terus menagih janji. Kita tidak tahu Wikar ada dimana*." tanya **Ambar** kepada **Jason**.
"*Tidak perlu dicari, dia akan kembali dengan sendirinya*." jawab **Jason** dengan santai sembari menikmati rokoknya.
__ADS_1
"*Jason, apa kau tidak lihat? Sekarang puluhan alutsista sudah berkumpul di depan mata. Ini akan sangat berbahaya jika Wikar tidak ada disini. Kalau para tentara menyerang tempat ini, matilah kita*." ucap **Loah**.
"*Ada apa denganmu? Kau takut mati? Apakah kalian berdua tidak sadar? Wikar sedang mendidik kita untuk terbiasa tanpa dirinya. Dia sedang menguji kesetiaan kita. Dan kita harus membuktikan kesetiaan kita kepadanya*!" jawab **Jason** dengan tegas.
**Loah** dan **Ambar** terdiam. Mereka terpaku mendengar ucapan **Jason**. Mereka benar-benar tidak berfikir sampai kesana. Mereka saling menatap satu sama lain. **Jason** pun pergi meninggalkan mereka berdua, dengan penuh tawa bahagia.
"*Dasar anak-anak bodoh*." ucapnya dipenuhi tawa.
**Loah** dan **Ambar** duduk di kursi mereka. Lalu saling mengobrol dan curhat soal pengalaman mereka masing-masing saat bersama **Wikar**.
"*Yah... aku pun begitu. Mungkin kita harus mengurangi sikap kita yang terus mengeluh setiap Wikar tidak ada*." jawab **Ambar**.
"*Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Orang-orang sudah menagih janji kita untuk mempertemukan mereka dengan Wikar*."
__ADS_1
"*Sebaiknya kita tunggu sampai Wikar datang. Jangan buka mulut sampai Wikar benar-benar ada bersama kita*." jawab **Loah**.
"*Kau benar. Sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan kita masing-masing*."
"*Ayo*!"
"Kenapa semuanya jadi begini?! Sekarang semua negara menantang kita! Apakah kau tidak bisa menjaga mulutmu?! Hah?!"
Suasana di ruang diskusi Presiden semakin memanas. Para Jendral yang berkumpul di tempat itu mulai kecewa dan hilang kepercayaan kepada Presiden Jacob, karena dia suka bertindak seenaknya tanpa pikir panjang. Mereka kesal, karena sekarang mereka juga yang harus menanggung akibatnya. Sekarang semua negara berlomba-lomba untuk menghancurkan pemerintahan saat ini.
"Aku hanya ingin menunjukkan pada dunia! Bahwa kita adalah negara yang kuat! Kita tak terkalahkan!" ucap Presiden Jacob.
"Pakai otakmu bodoh! Kita sedang berperang dengan sebagai besar negara di dunia! Apakah kau masih yakin bahwa kita akan menang melawan mereka?! Kita bahkan kekurangan pasukan! Dan kita tidak memiliki banyak alutsista untuk digunakan!" ucap Jendral Rechan dengan nada marah.
"Kau tidak bisa bicara seenaknya! Apakah kau takut?! Hah?!" jawab Presiden Jacob menantang.
Mereka saling menghina satu sama lain. Seperti gerombolan anjing liar yang memperebutkan tulang. Mereka tidak mau kalah antara satu dengan yang lain. Mereka benar-benar sudah pecah total. Semua orang menyalahkan Presiden Jacob. Bahkan mereka tidak segan untuk mengeluarkan kata-kata kasar.
Tetapi, semua keributan itu berubah saat Jendral Hidi tiba di ruangan itu. Semua orang diam. Mereka tutup mulut dan langsung terduduk, dengan kepala yang tertunduk. Jendral Hidi berjalan perlahan mengelilingi mereka, dengan sebuah pistol ditangannya.
"Sungguh bodoh kalian semua. Kalian benar-benar seperti sekelompok anjing kotor penjilat tulang. Berani menggonggong, tapi takut untuk menggigit. Apa kalian fikir, dengan saling menyalahkan bisa menyelamatkan kita? Hah?!"
Mereka semua diam tak berani memberikan jawaban apa pun. Mereka tidak mungkin berani melawan Jendral Hidi dengan tangan mereka sendiri. Jendral Hidi terkenal sangat sadis dan soal kemampuan bertarung, dia jauh lebih hebat dari semua orang yang ada di tempat ini. Tanpa pasukan, mereka bisa mati jika membantah kepada Jendral Hidi.
__ADS_1
"Dimana mulut kalian? Kenapa kalian diam? Aku sudah berdiri di belakang pintu itu selama hampir satu jam, dan itu sangat lama. Mendengarkan keributan dan kegaduhan yang kalian buat. Itu suatu hal yang sangat membosankan dan sangat menjijikan. Bahkan, dua penjaga pintu pun gemetar saat membuka pintu, karena kalian saling terkam satu sama lain." ucap Jendral Hidi dengan sinis.
Dia lalu duduk di kursinya, dan menghisap rokoknya. Tidak ada yang berani menegurnya, bahkan Presiden Jacob yang seorang pemimpin pun hanya bisa mengelus jidatnya sendiri.