
Setelah mendapatkan berbagai macam informasi dari pemuda tersebut, akhirnya mereka berhasil mengetahui beberapa hal. Meskipun, mereka tidak mengetahui dengan pasti dimana lokasi Presiden Jacob, setidaknya mereka mendapatkan sedikit keuntungan.
Kemudian, mereka pun melaporkan semuanya kepada Wikar mengenai berbagai informasi yang telah mereka dapat dari pemuda tersebut. Tanpa pikir panjang Wikar langsung mengambil langkah cepat untuk mengirimkan sebagian pasukannya yang sekarang telah berhasil menguasai pos dua dan pos tiga, agar tidak ada lagi para tentara yang berani menguasai pos itu lagi.
Wikar juga menyuruh para pasukannya membawa tiga tank, lima mobil dengan senjata mesin, dan juga sepuluh peluncur roket, untuk mengantisipasi jika ada tentara yang menyerang tempat mereka. Untuk pemuda yang sedari kemarin ditawan, dia akhirnya mati di tangan Wikar dengan satu lubang dikepalanya, dan dibawa ke dalam mobil untuk ditancapkan di sebuah tiang besi, sebagai lambang bahwa Wikar tidaklah main-main.
"*Kami membawa banyak logistik untuk digunakan. Sekaligus membawa perintah dari Komandan Wikar agar pemuda sialan ini ditancapkan di tiang besi*." kata salah satu anak buah **Wikar** kepada teman-temannya di pos tiga.
"*Baiklah, kami akan melakukannya. Kami juga sudah menemukan dokumen yang dicari oleh Komandan Wikar. Kami sendiri yang akan mengirimkannya*."
"*Bagus. Apa kalian perlu pengawalan ketat*?"
"*Tidak perlu. Karena kami akan pulang ke markas pusat secara sembunyi-sembunyi. Kami membawa sesuatu yang penting. Kami tidak berani melewati jalur biasa*."
"*Baik. Berhati-hatilah*."
Hanya dua orang yang bertugas membawa dokumen tersebut. Karena untuk mempermudah mereka dalam perjalanan. Walaupun mereka juga harus mencari jalan sendiri, karena jalan biasa belum benar-benar aman untuk mereka lewati.
Mereka menggunakan peta dan juga ponsel **GPS** (**Global** **Positioning** **System**), untuk mempermudah mereka dalam mencari jalur yang aman. Mereka membawa dokumen itu tanpa menggunakan kendaraan apa pun. Karena itu bisa menimbulkan suara bising yang bisa mengundang kehadiran musuh di sekitar mereka.
Dibekali juga dengan **HT** (**Handy** **Talky**), mereka menghubungi **Loah** untuk memastikan semua perjalanan mereka aman dari operasi yang sekarang sedang dilakukan oleh para tentara.
"Wikar, dua orang kita sedang membawa dokumen penting milik tentara. Mereka membawa serta brankasnya karena masih ada dokumen lain yang tidak mereka ketahui. Dan ini posisi mereka." kata Loah kepada Wikar dengan menunjukkan posisi dua orang itu.
"Beritahu mereka untuk jangan pergi kemana-mana, sampai ada penjemputan. Mereka dekat dengan wilayah operasi para tentara. Bawa sepuluh orang untuk menjemput mereka, kau yang memimpin." perintah Wikar pada Loah.
"Siap!"
"*Jangan pergi kemana pun jika kami belum sampai ke tempat kalian. Kami harus membersihkan jalur, karena kalian berada di wilayah operasi musuh*." kata **Loah** dengan **HT** untuk memberitahu dua anak buah Wikar itu.
"*Baik. Kami akan bertahan sebisanya*."
Mereka lalu mencari tempat untuk bersembunyi, dan mendapatkan sebuah rumah yang sudah hancur. Tidak lupa, mereka juga memasang beberapa jebakan dengan granat. Untuk mengantisipasi jika ada musuh yang mengetahui keberadaan mereka.
"*Bagaimanapun caranya, kita harus bertahan di tempat ini*."
__ADS_1
"*Yah... masalahnya adalah, makanan dan minuman yang kita bawa tinggal sedikit*."
"*Apa?! Apa kau memakannya saat di jalan*?"
Dia hanya mengangguk.
"*Oh sial! Apa kau sudah gila? Kau mau melihat sahabatmu ini mati kelaparan*?!"
"*Owh... maaf. Aku tidak bisa menahannya*."
"*Ya sudahlah. Cepat berikan. Aku sudah lapar dan haus*."
"*Ya baiklah. Ini jatahmu*."
"*Terimakasih*."
Mereka terus menunggu dan menunggu dengan waktu yang terbilang cukup lama. Karena ternyata dugaan **Wikar** benar. Bahwa sekarang mereka berada dalam wilayah operasi musuh. **Loah** yang seharusnya sudah sampai, justru terhambat oleh para tentara yang menyergap mereka dari seluruh tempat.
Sembari bertempur, **Loah** terus mengarahkan mereka ke jalan yang harus mereka lewati menggunakan **GPS**. Mereka berdua pun bergegas sampai-sampai mereka tidak sadar, kalau senjata yang mereka bawa telah jatuh. Mereka tidak mempedulikan hal itu. Karena ada yang jauh lebih penting dari sebuah senjata.
"*Sialan! Senjataku jatuh*!"
"*Aduh! Senjataku juga jatuh. Tapi aku masih punya pistol*."
"*Baguslah. Paling tidak kita bisa membunuh beberapa tentara yang lewat. Ayo percepat larimu*!"
Mereka berlari sekencang-kencangnya agar cepat sampai ke markas.
"*Posisi kalian sudah semakin dekat! Percepat lagi! Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi*!" ucap **Loah** pada mereka.
"*Ayo kawan! Jangan pikirkan perutmu! Kita harus lebih cepat! Sebentar lagi kita akan sampai*!"
__ADS_1
"*Perutku sakit sekali! Aku tidak kuat*!"
"*Jadi kau mau mati disini*?!" kata salah satu orang itu kepada temannya.
"*Baiklah! Baiklah! Baiklah*!"
Tiba-tiba orang itu pun lari dengan sangat cepat, dan bahkan jauh lebih cepat dari temannya yang sebelumnya ada di depan. Orang itu pun sampai heran karena dia tidak pernah melihat temannya berlari sekencang itu.
"*Wow! Kekuatan macam apa yang hinggap ditubuhnya*." ucap orang itu terheran-heran.
Tak berselang lama, mereka pun akhirnya sampai di depan pintu gerbang.
"*Buka gerbangnya*!"
Para penjaga pun langsung membuka pintu gerbang agar kedua teman mereka bisa masuk. Salah satu dari dua orang itu pun langsung pingsan karena mengalami sakit yang luar biasa pada perutnya.
"*Medis! Cepat bawa dia ke ruang pengobatan*!" perintah **Wikar**, yang langsung keluar dari ruangannya setelah ia mengetahui kedua anak buahnya sudah sampai.
"*Ini dokumennya Komandan. Loah yang membuat kami sampai di tempat ini dengan aman*!" ucap orang itu dengan memberitahu **Wikar** kalau Loah sedang disergap puluhan tentara.
"*Kemarikan HT-mu*!"
**Wikar** langsung mengambil HT dan juga dokumen yang dibawa oleh anak buahnya.
Orang itu pun langsung mengistirahatkan tubuhnya, setelah hampir satu jam dia bersama temannya berlari tanpa henti. Melewati berbagai puing-puing bangunan yang telah runtuh. Dan juga beberapa jalanan yang sangat sulit untuk ditempuh.
Mereka benar-benar telah berjasa untuk semua orang. Karena, jika dokumen itu berhasil direbut kembali oleh para tentara, maka **Wikar** selamanya tidak akan mengetahui apa yang direncanakan oleh **Presiden Jacob** dan orang-orangnya.
Di tempat itu, Loah dan pasukannya masih terus memberikan perlawanan kepada para tentara yang menyergap mereka. Loah berada dalam posisi yang sangat sulit, karena dia berada dalam posisi yang terhimpit. Ditambah lagi dengan hari yang sudah malam. Akan sangat sulit baginya untuk mengetahui posisi musuh.
Namun tak disangka, saat itu Wikar datang dan turun langsung ke pertempuran dengan membawa pasukan yang jumlahnya lebih banyak dari para tentara. Dia juga membawa banyak kaca mata Night Vision (Penglihatan Malam) untuk mempermudah mereka mencari keberadaan musuh.
Sedangkan Wikar sendiri, tanpa menggunakan kaca mata itu pun dia bisa tahu dimana musuh yang bersembunyi di bangunan-bangunan yang runtuh. Bahkan tembakan Wikar tidak sekalipun meleset, sehingga para tentara pun ketakutan untuk menghadapinya.
__ADS_1