
"Setelah sampai di depan gerbang, kita akan disergap oleh puluhan tentara. Ini akan menjadi misi yang mudah jika tetap bekerja sama. Jangan sampai lengah. Selesaikan dengan cepat."
"Siap!"
Mereka memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Kelima orang itu sudah siap dengan senjata di tangan mereka. Salah satu dari mereka menggunakan senapan mesin yang ada di mobil. Meskipun hanya berlima, mereka sama sekali tidak khawatir dengan keselamatan mereka sendiri. Yang terpenting bagi mereka adalah menjalankan misi sesuai rencana.
Melakukan apa yang memang harus dilakukan. Kesetiaan mereka yang membuat rasa takut mereka kalah. Wikar benar-benar telah berhasil membentuk pasukan tanpa rasa takut. Saat sampai disana, sudah dipastikan mereka akan disergap dan diberondong ribuan peluru oleh para tentara. Bukan mereka sombong, tapi mereka memang sudah biasa menerima tugas-tugas yang berat dari Wikar.
Bagi mereka, membunuh sudah menjadi hal yang lumrah. Saat salah satu dari mereka ada yang mati, maka mereka akan mengambil tanda pengenal mereka (Dog Tag), untuk dikumpulkan. Agar yang mati akan selalu dikenang namanya. Dulu mereka dilatih oleh Wikar dengan cara diajak langsung ke pertempuran. Karena mereka belum memiliki markas seperti sekarang.
Dan mereka belum mendapatkan dukungan dari siapa pun. Mereka bergerak sendiri, dibawah kepemimpinan Wikar. Hal itu justru membuat mereka lebih tanggap dalam menghadapi segala situasi dan kondisi. Tak banyak yang bertahan dari mereka, karena kebanyakan dari mereka hanya sekedar ikut-ikutan, dan mencari aman. Sedangkan yang lulus dalam ujian itu adalah orang-orang yang jujur dan setia.
Benar saja, saat mereka sampai mereka sampai di depan gerbang, sudah ada beberapa tentara yang menembaki mereka. Empat orang dari mereka keluar dari mobil, sedangkan yang satunya lagi menembak dari mobil dengan senapan mesin. Para tentara kocar-kacir berhamburan ke segala tempat. Meskipun jumlah para tentara jauh lebih banyak, tapi perlawanan mereka sama sekali tidak artinya bagi kelima orang pasukan Wikar.
Hanya tiga orang yang mereka biarkan hidup. Salah satunya adalah pemuda yang belum lama tadi membicarakan Wikar bersama dua orang temannya yang mati terlebih dahulu.
"Ampuni aku! Ampuni aku! Aku mohon!" ucap pemuda itu memelas.
"Ampun?" tanya salah satu anak buah Wikar sembari tertawa terbahak-bahak.
"Kami akan mengampuni dirimu, tapi dengan satu syarat."
"Apa pun syaratnya, akan aku penuhi! Aku berjanji! Aku bersumpah!" ucap pemuda itu dengan nada ketakutan.
Mereka menyuruh pemuda itu untuk membunuh kedua temannya. Kemudian memaksanya untuk memberikan semua informasi yang ada di tempat ini.
"Oh.. aku akan membawamu ke hadapan Komandan Wikar."
"Jangan! Jangan! Aku sudah menuruti semua perintah kalian! Aku mohon!"
"Hey! Temanmu saja bisa kau khianati! Apalagi kami! Sekarang ayo ikut!"
__ADS_1
Mereka membawa pemuda itu secara paksa. Dia diikat dengan rantai yang sangat kuat dan mulutnya juga disumpal dengan kaos kakinya sendiri. Lalu dia dibawa ke dalam mobil untuk diserahkan kepada Wikar. Tak hanya itu saja yang mereka lakukan. Mereka juga memukuli pemuda itu sampai berdarah-darah.
Tak bisa dibayangkan apa yang pemuda itu rasakan. Di sepanjang perjalanan, dia harus menerima pukulan dari tiga orang yang ada di dalam mobil. Itu pun karena yang satu menjadi sopir, dan yang satunya lagi dibelakang memegang senjata mesin. Andaikan kedua orang itu tidak sibuk, pasti keadaan pemuda itu jauh lebih parah. Karena, tiga orang saja sudah membuatnya hampir mati.
"*Lapor komandan! Pos pertama di kota mendapatkan serangan dari kelompok Wikar. Tidak ada yang tersisa! Ganti." lapor salah satu tentara kepada komandannya*.
"*Lakukan penyisiran! Selamatkan para prajurit*!"
"*Siap Pak*!"
Mereka pun bergegas untuk berangkat ke pos jaga satu. Pasukan gabungan itu pun berangkat dengan membawa tiga truk besar. Setiap truk berisi dua belas orang, termasuk supir. Dengan persenjataan lengkap, dan juga membawa begitu banyak kantong mayat. Karena yang mereka tahu, tidak ada satu orang pun yang berhasil selamat dari serangan tersebut.
"*Buat penjagaan ketat! Pertahankan tempat ini! Kita akan menerima serangan gelombang kedua*!" perintah Komandan mereka.
"*Siap Komandan*!"
__ADS_1
Lagi-lagi, mereka tidak mengetahui kalau tempat yang akan diserang selanjutnya adalah pos dua dan juga pos tiga. Karena **Wikar** dan kelompoknya sudah tahu, bahwa cepat atau lambat pos satu yang telah mereka kuasai pasti akan didatangi oleh para tentara. Sehingga kelima anak buah **Wikar** itu sengaja membiarkan para tentara menuju pos satu, untuk mengurangi jumlah mereka di pos dua dan pos tiga.
Dengan begitu mereka akan semakin mudah untuk menaklukkan pos-pos yang lain. Disamping itu, karena memang misi utama mereka adalah untuk mengambil sebuah dokumen rahasia yang berada di dalam sebuah brankas. Dan brankas itu tersimpan pada salah satu pos jaga tersebut. Namun sampai saat ini para tentara sama sekali tidak menyadari hal itu. Mereka juga membuat penjagaan ketat yang sangat sia-sia.
Entah pembelajaran macam apa yang mereka dapat selama di militer, sehingga pemikiran mereka sangat-sangatlah dangkal dan sama sekali tidak mencerminkan jati diri seorang tentara. Sebagian dari mereka melakukan penjagaan di dalam pos dan sekitarnya, lalu sebagian lagi masih harus mengurus mayat para tentara yang ditumpuk menjadi satu.
Untuk mengurus beberapa mayat saja mereka sangatlah kesulitan. Padahal, mereka sudah membawa beberapa peralatan yang mereka butuhkan. Dan sungguh, hal ini begitu sangat memalukan. Apalagi saat dua orang tentara menanyakan hal bodoh kepada Komandan mereka, yang seharusnya pertanyaan itu sangatlah tidak perlu mereka ajukan.
"*Komandan! Apa yang akan kita lakukan pada mayat-mayat ini*?"
Karena kesal mendengar pertanyaan yang bodoh itu, Komandan mereka pun berbalik badan dan menembak dua anak buahnya dengan senapan semi-automatis, sehingga mereka berdua pun mati pada saat itu juga.
"*Jika ada dari kalian yang menanyakan hal bodoh kepadaku! Aku dengan senang hati akan menghabisi kalian semua*!"
Semua tentara pun diam dan menundukkan kepala mereka. Tidak ada yang berani membantah ataupun menjawab ucapan Komandan pasukan tersebut.
__ADS_1
Pemuda yang tadi sempat di sekap itu pun akhirnya harus menerima ganjaran yang setimpal, yang dimana sebelumnya dia menganggap remeh Wikar dan pasukannya, sekarang dia harus menerima berbagai macam penyiksaan yang sangat sadis, karena dia tidak bisa memberitahu dimana keberadaan Presiden Jacob sekarang.
Jelas saja pemuda itu tidak tahu, karena dia hanyalah bagian dari pasukan yang dianggap tidak penting. Namun tetap saja, kelima anak buah Wikar itu tidak peduli sama sekali, dan tetap memukulinya hingga pemuda itu tidak sadarkan diri.