The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 56


__ADS_3

"Jendral Hidi, kita semua telah melewati batas. Rakyat memberontak karena kekuasaan Presiden Jacob yang semena-mena. Mereka sekarang melawan kita habis-habisan. Kita tidak bisa membendung jumlah rakyat yang memberontak. Pasukan kita benar-benar kelelahan. Apa membuatmu terus membela Presiden Jacob?" tanya Jendral Rechan.


"Aku pun sebenarnya sudah bosan dengan semua ini. Tapi kita tidak bisa melawan. Presiden Jacob menyimpan sebagian besar kekayaan negara kita. Meskipun dia mendapatkan musuh dari semua negara, tapi dia memiliki kekuatan inti yang belum ia tunjukkan kepada publik." jawab Jendral Hidi.


"Apa maksudmu?"


"Masih ingat dengan Operasi Sergap Gurun?" tanya Jendral Hidi kepada Jendral Rechan untuk mengingatkannya pada Operasi Militer terakhir.


"Yah.. Aku masih ingat. Lalu apa hubungannya dengan semua ini?"


"Presiden Jacoblah yang merencanakan Operasi itu. Dia sengaja mengirimkan para tentara untuk bertempur, agar bisa mengalihkan perhatian kita. Diam-diam dia telah membentuk satuan khusus militer sendiri. Dan merebut semua kekayaan negara kita secara paksa. Jika kau melihat atau pun membaca berita, saat itu terjadi banyak sekali kasus pembunuhan pejabat pemerintahan. Semua peristiwa itu didalangi oleh Presiden Jacob untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalanginya." jawab Jendral Hidi.


"Bagaimana bisa dia melakukan hal gila itu?"


"Dia akan melakukan apa pun untuk kepentingannya sendiri. Dan dia tidak akan segan untuk mengorbankan siapa pun."


"Kalau begitu, bagaimana jika kita melakukan sebuah rencana untuk menggulingkan Presiden Jacob dan pasukannya?"


"Apa rencanamu?" tanya Jendral Hidi.


"Wikar. Wikar adalah satu-satunya harapan kita. Saat ini, dia sedang membutuhkan banyak logistik untuk berperang. Kita bisa membicarakan masalah ini dengan Wikar. Aku akan menemuinya jika kau setuju, Jendral Hidi." jawab Jendral Rechan.


"Baiklah. Cari dimana keberadaan Wikar. Dan ingat, jangan libatkan pasukan kita dalam hal ini. Karena besar kemungkinannya mereka akan mengkhianati kita."


"Baik Jendral. Akan aku usahakan semuanya. Tapi aku butuh waktu." ucap Jendral Rechan.


"Lakukan saat kau benar-benar siap."


"Siap Jendral!"


Jendral Rechan pun berlalu dari ruang kerja Jendral Hidi. Mendengar ucapan Jendral Rechan, dia merasa begitu senang, karena sekarang dia sudah memiliki sekutu. Perlawanannya kepada pemerintah akan semakin mudah untuk dilakukan, meskipun harus dilakukan secara diam-diam.


Kini jalan terbuka lebar untuk Jendral Hidi. Dia bisa mewujudkan impiannya untuk membebaskan negara ini dari cekikan Presiden Jacob. Meskipun dia adalah orang kepercayaan, tapi Jendral Hidi sama sekali tidak tertarik untuk membantu Presiden Jacob. Dia hanya ingin mengetahui semua rahasia Presiden Jacob, agar dia tahu dengan detail dimana tempat persembunyian para pasukan yang ia buat.


Saat tiba waktunya nanti para pasukan rahasia itu ditemukan, Jendral Hidi akan membantai mereka semua. Dengan begitu, semua kekuatan utama Presiden Jacob akan lenyap. Dan Presiden Jacob tidak lagi memiliki kuasa apa pun atas negara ini. Pemerintahan bisa kembali dipegang oleh orang yang pantas menjadi pemimpin.


Jendral Hidi mulia mempersiapkan semuanya. Dia menulis surat untuk Wikar. Antisipasi jika sampai dia ketahuan berkhianat, maka pesan untuk Wikar bisa tersampaikan. Dari sebelum perang ini dimulai pun, Jendral Hidi selalu menaruh perhatian lebih kepada Wikar. Karena Wikar adalah orang yang cerdas, jujur dan orang yang setia kepada negaranya.


Sifat itu pantas untuk ditiru, karena Wikar tidak pernah sekalipun membantah kepada perintah Jendral Hidi, saat dia masih di kesatuannya. Wikar selalu taat dan patuh kepada perintah, tidak seperti yang lain yang suka bertindak seenaknya. Wikar juga memiliki prestasi yang sangat bagus di militer. Dia selalu menjadi contoh yang baik bagi pasukan yang lain.

__ADS_1




**Wikar** tidak mau menemui para wartawan yang sudah menunggu diluar ruangannya. Dia hanya mau bertemu dengan para komandan militer dan juga orang-orang yang ia anggap penting. Dia tidak mau menunjukkan wajahnya kepada sembarang orang, karena itu akan membuat dirinya dalam bahaya.



Saat itu yang masuk ada empat orang komandan pasukan khusus, dengan beberapa pasukan pengawal yang menjaga di depan pintu. Mereka sudah rela menunggu selama berhari-hari hanya untuk menemui **Wikar**. Mereka ingin mengenal **Wikar** sedekat mungkin, karena jiwa ksatrianya yang sungguh luar biasa.



"*Kami sepenuh hati ingin membantumu. Lima tank tercepat dan terkuat di negara kami telah kami kirim ke tempat ini. Begitu juga dengan senjata dan amunisi*." kata salah seorang dari mereka yang mewakili pembicaraan tersebut.



"*Aku mengucapkan banyak sekali terimakasih kepada kalian, karena telah membantu kami semua. Aku tidak bisa membalas kebaikan kalian. Kalian bisa melihat sendiri bagaimana bangsaku sekarang. Keadaannya sangat kacau balau*." ucap **Wikar** pada mereka.



"*Kita memiliki pemikiran yang sama, yaitu tidak suka dengan penindasan. Kita juga memiliki musuh yang sama, yaitu Presiden Jacob. Dia musuh negara kami sekarang. Wikar, izinkan kami untuk tetap berada disini, agar kami bisa membantumu*."




"*Kami semua sudah siap berkorban Wikar. Kami dikirim bukan hanya untuk mendatangkan alutsista, tapi kami ditugaskan untuk membantumu. Lihatlah dokumen ini*." kata orang itu dengan menyerahkan amplop coklat yang berisi dokumen penting.



**Wikar** seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tangannya gemetar menahan amarah saat dia melihat sebuah foto yang memperlihatkan **Presiden Jacob** bersama dengan para pemberontak. Padahal, waktu itu banyak sekali orang yang menjadi korban saat **Operasi Sergap Gurun**.



**Wikar** begitu kecewa setelah dia mengetahui bahwa dalang dibalik semua itu adalah **Presiden Jacob**. Entah sudah berapa banyak orang yang dikorbankan untuk kepentingan **Presiden** pada waktu itu. Dia seenaknya sendiri membangun benteng pertahanan untuk kepentingan pribadi.



"*Dari mana kalian mendapatkan semua ini*?" tanya **Wikar** pada mereka.

__ADS_1



"*Kami mendapatkan semua ini dari sekutu rahasiamu, Jendral Hidi. Dia yang diam-diam telah membantu kami mendapatkan semua bukti kejahatan Presiden Jacob yang selama ini ia tutupi dari publik. Dia adalah Pimpinan Tunggal dari kelompok radikal yang selama ini menjadi penyakit di negara kami*."



"*Jadi, selama ini Jendral Hidi diam-diam telah memberontak kepada pemerintah*."



"*Yah... Benar Wikar. Awalnya Jendral Hidi tidak mau kau tahu soal ini. Tapi kami rasa itu adalah hal yang perlu dilakukan sebagai tindakan antisipasi. Jangan sampai kita menerkam teman sendiri*."



"Itu artinya Jendral Hidi dalam bahaya. Bantu aku agar bisa bertemu dengannya." kata Wikar.



"Kau yakin tidak ingin meninggalkan ruangan ini?" tanya komandan itu.



"Tidak. Aku harus menyembunyikan wajahku untuk saat ini." jawab Wikar.



"*Baiklah. Kami menerima keputusanmu. Jika kau membutuhkan bantuan apa pun, jangan sungkan untuk menghubungi kami*."



"*Pasti. Aku sangat berterimakasih karena kalian sudah mau berkunjung ke tempatku ini*."



"*Sama-sama saudaraku. Sekarang kami permisi dulu, kami harus melaporkannya kepada pemerintah kami*."



"*Silahkan. Hati-hati dijalan*."

__ADS_1



Mereka pergi meninggalkan ruangan itu, menuju mobil mereka. Setelah itu mereka berlalu dengan pengawalan ketat dari pasukan mereka masing-masing, tanpa sepatah kata pun yang mereka tinggalkan kepada para wartawan.


__ADS_2