The Civilian : Resurgence

The Civilian : Resurgence
Bab 36


__ADS_3

Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi diluar. Yang jelas, asap menutupi seluruh tempat itu. Dan yang terdengar dari luar hanyalah suara teriakan Mayor Jendral Maric dan juga pasukannya yang masih tersisa. Tubuh mereka tertutupi oleh asap tebal yang tak dapat ditembus dengan mata.


Saat semuanya sudah mulai pulih seperti semula, Lahar secara tiba-tiba berteriak histeris. Dia berteriak dan menangis saat melihat apa yang terjadi di luar ruangan. Lahar seakan kecewa dan menyesal karena telah mengaktifkan tombol itu. Dia benar-benar tak terkendali.


Barang-barang yang ada di depannya dia hancurkan. Apa pun yang dia genggam akan dia musnahkan. Bahkan Loah dan Ambar pun sempat terkena pukulan dari Lahar yang sudah semakin menggila. Tapi mereka seakan tidak peduli dengan hal itu. Mereka semua sudah tahu apa yang telah terjadi.


Begitu pula dengan Wikar yang hanya bisa pasrah saat Lahar mencoba menyakiti dirinya sendiri dengan barang-barang yang telah ia hancurkan. Loah dan Ambar mengambil sebuah masker gas yang ada di lemari ruangan itu. Mereka menggunakannya, dan kemudian keluar dari ruangan itu melalui jalan yang sebelumnya mereka lalui.


"Apakah pantas jika kita meninggalkannya?" tanya Wikar pada Loah dan Ambar.


"Apa yang bisa kita lakukan selain meninggalkan dia di tempat ini." jawab Ambar.


Wikar pun mengambil dua masker gas. Yang satu untuk dirinya, dan yang satu lagi untuk Lahar. Sebelum pergi Wikar berkata pada Lahar,


"Inilah yang akan terjadi jika kau hanya menuruti hawa nafsumu." kata Wikar pada Lahar yang saat itu masih larut dalam kekecewaannya.


Lahar hanya bisa menangis meratapi dosanya. Dia jauh lebih kejam dari pada Mayor Jendral Maric yang telah menyiksanya.




"*Berhenti! Angkat tangan kalian*!"



Ratusan tentara itu mengepung **Wikar** dan kedua temannya. Senjata laras panjang telah siap untuk menyerbu tubuh mereka. Sebagian dari mereka memeriksa **Wikar** dan kedua temannya.



"*Mereka aman*!"



"*Bawa mereka ke pangkalan*!" perintah salah seorang komandan mereka.



Saat mereka akan dibawa masuk ke mobil, komandan pasukan itu menghentikan mereka.



"*Tunggu*!"



Komandan pasukan itu pun membuka masker gas yang **Wikar** pakai. Dia terkejut saat melihat wajah **Wikar**.

__ADS_1



"*Wikar?! Kau?! Masih hidup*?!" tanya komandan itu terheran-heran.



"*Rev*?!" tanya **Wikar** balik.



Komandan pasukan itu pun langsung memerintahkan semua pasukannya untuk kembali ke pangkalan. Komandan pasukan itu adalah **Sersan** **Rev**. Dia adalah sahabat **Wikar** yang menjadi pasukan pengawal **Presiden**. Dan saat ada situasi genting di pemerintahan, maka **Sersan** **Rev** yang akan menerima panggilan.



**Wikar** dan **Sersan** **Rev** memang bersahabat sudah lama. Mereka dipisahkan oleh tugas yang semakin lama semakin menumpuk. Sehingga saat bertemu kembali, **Sersan** **Rev** tidak percaya kalau **Wikar** masih hidup. Apalagi saat **Jendral** **Besar** memutuskan untuk menghapus data tentang **Wikar** dan juga memalsukan kematiannya.



"*Jendral gendut itu memang nakal*." kata **Sersan** **Rev**.



"*Apa maksudmu berkata seperti itu? Seharusnya kau tahu kalau memalsukan kematian sudah menjadi hal yang biasa di kemiliteran*." jawab **Wikar** pada sahabatnya itu.




**Ambar** dan **Loah** hanya tersenyum mendengarkan perbincangan keduanya. **Sersan** **Rev** seperti tidak mau kalah saat berdebat dengan **Wikar**.



"*Kenapa dua cacing ini ikut tersenyum*?"



"*Mereka tersenyum karena melihat wajah tuamu yang mulai menghitam*." kata **Wikar** dengan suara tawanya yang lantang.



Mereka semua pun tertawa karena mendengar jawaban **Wikar**.



Suasana hati mereka bertiga yang tadinya sedih dan sengsara, kini telah terobati dengan kehadiran **Sersan** **Rev**. Memang ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh **Wikar**, bahwa **Sersan** **Rev** memang berkulit hitam. Apalagi ditambah dengan dirinya yang dipindah tugaskan ke daerah yang tandus seperti ini.


__ADS_1


Sinar matahari yang begitu terik dan juga butiran pasir yang seakan menambah panas suasana, membuat mereka berempat tidak kuat berlama-lama berada di tempat seperti ini.



"*Aku sudah satu tahun berada di tempat ini, tapi rasanya sudah satu abad. Aku rindu dengan tugasku yang dulu. Kemanapun aku pergi, selalu ada tempat sejuk dan juga minuman dingin. Sedangkan minuman dingin sangat sulit didapatkan di tempat ini*." kata **Sersan** **Rev** kepada mereka.



"*Apa kau tidak menyediakan kulkas*?" tanya **Loah** pada **Sersan** **Rev**.



**Sersan** **Rev** justru kembali bertanya dengan raut wajah yang tidak senang.



"*Apa kau sedang berkhayal kalau ini adalah tempat bermain*?"



**Loah** hanya diam mendengar jawaban itu. Selama ini **Loah** tidak pernah ikut dalam perang, karena dia bukanlah tentara seperti **Wikar** dan **Sersan** **Rev**. Dia hanyalah seorang penjahat profesional yang selalu hidup dalam kesenangan. Hari-harinya ia lewati dengan berfoya-foya.



"*Aku tahu kau pasti tidak suka deng d postsan pertanyaan bodoh itu. Tapi jujur saja, aku sebelumnya hanyalah seorang penjahat. Aku selalu bersih, dan tak pernah hidup dalam kesusahan. Terutama soal uang, uang selalu mengalir seperti air*."



"*Setelah aku melihat semua ini aku baru sadar, bahwa hidupku yang dulu tak ada artinya apa-apa. Di tempat ini semua orang rela melakukan apa pun untuk hidup yang tidak lama. Bahkan, mereka mau menjual kehormatan mereka agar mereka tetap bisa bertahan hidup. Aku menyesal telah membunuh ratusan orang demi uang kertas. Andai saja*..."



"*Hey! Aku hanya bercanda. Aku tak bermaksud untuk membuatmu tersinggung. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Sekaranglah waktunya kau memperbaiki semuanya*." ucap **Sersan Rev** menyela perkataan **Loah**.



"*Aku juga pernah berada di posisimu. Bahkan aku pernah menampar ayahku sendiri karena dia tidak memberiku uang receh. Tapi ayahku orang yang pemaaf. Setelah aku masuk penjara berkali-kali, aku akhirnya sadar atas apa yang telah aku lakukan. Dan sekarang, aku sedang berusaha untuk merubah semuanya. Ayah dan ibuku sekarang sudah hidup bahagia. Mereka hanya perlu menerima dan membalas surat dariku. Dan aku selalu mengirimkan uang untuk kebutuhan mereka*." kata **Sersan** **Rev** menjelaskan semuanya kepada **Loah**.



"*Seperti apa ayahmu itu Sersan*?" tanya **Loah** kepada **Sersan** **Rev**.



"*Dia adalah orang yang sangat baik. Dia tidak pernah mengajarkan kekerasan dan kebencian kepada siapa pun. Karena itulah dia bisa menaklukkan singa ganas seperti aku. Dia orang yang sangat taat beribadah. Bahkan, saat ada seorang pencuri datang ke rumah kami, dia tidak melaporkannya pada polisi, atau pun menghajar pencuri itu. Dia justru memberikan makanan dan beberapa minuman kepada pencuri itu. Dan yang luar biasa adalah, sekarang pencuri itu sudah menjadi murid ayahku yang sangat baik. Dia sangat penurut. Dia menjadi asisten ayahku selama aku tidak ada*." jawab **Sersan** **Rev** dengan penuh rasa bangga.


__ADS_1


Semua hal yang telah capai selama ini, itu karena ayah dan ibunya yang tak pernah lelah mendoakan dan mendorongnya untuk terus maju serta bangkit dari keterpurukannya. Sekarang, keluarga **Sersan** **Rev** sudah menjadi keluarga yang bahagia. Orang tua **Sersan** **Rev** selalu mendukungnya dalam hal apa pun, selama itu bukan hal yang merugikan.


__ADS_2