
“Umm…?” Kesadaran Dino akhirnya kembali. Aldy merasa senang ia bisa berbicara dengan temanya lagi.
”Ah! Dino! Akhirnya kau bangun juga.” Kejut Aldy.
Dino masih bingung dengan keadaan disekitarnya. “Ini di mana? Dan kau siapa?”
Aldy terkejut mendengarnya. “Eh? Ini aku Aldy, temanmu!”
Pandangan Dino masih buram. Matanya masih belum bisa melihat jelas keadaan sekitar. “Kau Aldy? Eh! Aldy!?” Akhirnya Dino bisa melihat wajah Aldy dengan jelas kembali.
Aldy mengangguk senang. “Iya Dino! Ini aku. Aku senang kau baik-baik saja!” katanya sambil tersenyum.
Dino pun langsung bangun terduduk. “A–aku ada di mana?” tanya Dino lagi pada Aldy.
Aldy menggeleng. “Aku juga tidak tahu.”
“Lho? Kok kamu bisa ada di sini?”
Aldy menundukkan kepalanya lalu menggeleng pelan. “Aku juga tidak tau. Seingatku kemarin… saat aku mau pulang sehabis dari rumahmu, pada malam itu aku mendengar ada suara ribut jadi aku mencari asal suaranya. Aku menemukan suara itu ternyata berasal dari beberapa orang dewasa yang sedang ribut sambil membunuh seorang wanita."
"Di sana, aku sangat ketakutan, lalu aku ingin kembali lagi ke jalan yang tadi, tapi ternyata aku sempat ketahuan oleh salah satu teman dari kelompok penjahat-penjahat itu. Lalu orang itu memukulku dengan tongkat kayu yang dia bawa. Aku langsung pingsan di tempat. Lalu saat aku bangun, ternyata aku sudah ada di tempat seperti ini. Aku bingung sekali, No… aku juga takut berada di tempat seperti ini!” Jelas Aldy.
Dino agak sedikit bingung dengan cerita Aldy. Tapi ia tau kenapa sebabnya Aldy tidak bisa masuk sekolah tadi. Sekarang apa yang harus mereka lakukan agar bisa keluar dari tempat ini?
****
“Nah, di sini nih tempatnya aku menemukan barang-barang Dino tadi!” kata Rinda.
Chelsea melirik ke sekelilingnya. “Oh. Tapi… di mana barang-barang Dino yang kau bilang itu?”
Rinda celingak-celinguk ke segala arah. Barang-barangnya Dino sudah tidak ada di tempat Rinda menemukannya. Sikap Rinda kembali panik.
“Lho? Lho!? Ta–tadi ada di sini! Lah? Ke mana barang-barang itu? Aku yakin tadi aku melihatnya tergeletak di sini! Benar ada di sini. Aku yakin, tadi aku melihat ada tas Dino dan ponselnya tergeletak di sini.” Rinda melayang ke sekitar tempat itu untuk mencari barang-barang Dino. Sementara Chelsea hanya diam saja melihat tingkah Rinda.
Chelsea melirik ke arah bercak darah yang ada di depannya dan berjalan mendekatinya. Chelsea memeriksa darah itu. Rinda menelengkan kepalanya.
“Apa yang kau lakukan dengan darah itu?” tanya Rinda.
“Hmm… ini darah Dino.” Gumam Chelsea.
Rinda tersentak. Dia merasa sedikit jijik pada Chelsea karena dengan beraninya, Chelsea menyentuh darah menjijikan itu.
__ADS_1
Lalu setelah itu, Chelsea melirik ke sepanjang jalan di depannya. Di jalur jalan yang lurus menuju ke hutan, Chelsea menemukan bercak darah lainnya.
Chelsea yakin kalau Dino pasti telah menyusuri jalan ini. Lalu dia mengajak Rinda untuk terus mengikuti jalan itu sampai mereka menemukan Dink dan menyelamatkannya.
****
GUBRAK! BUK! BUK!!
“Hei kalian! Lepaskan kami!” teriak Aldy sambil menggedor-gedor pintu itu.
Sementara Dino berusaha untuk mencari jalan keluar dari sana. Berjalan memeriksa ruangan, tapi tidak menemukan apa-apa. Lalu akhirnya ia menemukan ada jendela berukuran sedang di dekat sudut ruangan.
“Aldy! Ssstt… jangan berisik.” Dino berbisik pada Aldy. Aldy mengangguk dan langsung menghampirinya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Aldy.
Dino menunjuk ke arah jendela itu. Aldy tersenyum senang. ”Yes! Kita bisa keluar dari sini!”
Dino menggeleng pelan. “Tidak semudah itu.”
Jendela itu berada lebih tinggi dibanding tinggi badan mereka berdua, jadi tidak akan mudah bagi mereka untuk meraihnya. Untungnya Dino melihat ada beberapa kotak kayu besar di setiap pojokan ruangan ini.
Pertama, Aldy akan mencoba menaiki kotak kayu itu. Tapi ternyata tidak berhasil, Aldy hampir bisa meraih jendela di atasnya. Berarti hanya tinggal kurang 1 Kotak lagi.
Lalu mereka mengambil satu kotak lagi, dan meletakkannya di atas kotak pertama itu. Mereka sudah menumpuknya menjadi 2 kotak. Semoga ini berhasil.
Lalu Aldy menaiki kedua Kotak itu dengan bantuan dari Dino sampai ke puncak. Di sana akhirnya Aldy bisa mencapai jendela itu. Beruntung jendelanya hanya terkunci dengan selotan pintu saja, jadi mudah untuk dibuka. Aldy berhasil membuka Jendela itu.
“Dino, aku bisa!” ujar Aldy senang.
Dino juga ikut senang. “Yes! Bagus.”
Aldy akan keluar dari sana, tapi sebelum itu, Aldy melihat keadaan sekeliling dulu untuk melihat apakah ada penjaga lain atau tidak. Ternyata keadaan diluar sana baik-baik saja. Kalau begitu, Aldy akan keluar lewat jendela itu.
Tapi baru saja Aldy mengeluarkan satu kakinya, tiba-tiba ada yang lewat di bawah sana. Aldy sangat terkejut dan dia kehilangan keseimbangannya lalu menyebabkan kotak-kotak yang dia injak bergoyangan dan jatuh. Begitu juga dirinya.
Aldy terjatuh dari atas kotak itu dan kepalanya membentur kotak kayu saat terjatuh.
“Oh, tidak! Aldy, Kau baik-baik saja?!” tanya Dino cemas.
Karena suara gaduh dari kotak yang jatuh itu membuat para penjaga dari luar berdatangan. “Ada rebut-ribut apa di sini?” tanya salah satu dari penjaga gendut di luar sana.
__ADS_1
Dino hanya bisa menggeleng ketakutan sambil memeluk Aldy. Aldy masih merintih kesakitan di pangkuan Dino karena kepalanya itu. Dino terus mengelus-elus kepalanya Aldy agar tidak sakit lagi.
“Dino!” Tiba-tiba namanya dipanggil oleh mereka. Dino sangat terkejut.
“A–apa?” Ia menyahut mereka.
“Kau dipanggil Ketua kami. Ayo ikut!”
Dino menggeleng dan menolak ajakan mereka. “Aku tidak mau!”
Lalu para penjahat itu masuk dan menghampiri Dino, lalu mereka memaksanya untuk berdiri dan pergi dari sana meninggalkan Aldy. Dino berusaha untuk melepaskan diri dari mereka, tapi tidak berhasil.
“Dino!” teriak Aldy sambil mengulurkan tangannya pada temannya yang pergi.
Dino sendiri juga tidak mau berpisah dengan Aldy lagi. Ia dibawa pergi oleh mereka keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Aldy yang masih ada di dalamnya.
Tangan Dino diikat ke belakang dan ia langsung dibawa ke hadapan ketua mereka. Dino tidak tau mereka ini siapa, dan ketua mereka terlihat tidak asing di matanya.
Sepertinya Dino pernah melihat orang ini hanya dengan melihatnya dari postur tubuhnya saja. Tapi Dino tidak bisa mengenal wajahnya karena dia memakai topeng.
“Dino Dirmansyah… anak muda berumur 16 tahun yang sudah memiliki Death Eye sejak masih Bayi.” gumam Orang Bertopeng itu pada Dino.
“Siapa kau sebenarnya?!” teriak Dino padanya sambil berusaha melepaskan diri dari orang-orang dewasa yang menahannya.
“Owh, tidak usah panik begitu dong… aku kan bicaranya lembut padamu. Sekarang duduklah dulu. Santai saja.”
Dino dipaksa duduk di kursi kecil di sana dengan tangan dan kaki yang masih terikat. Lalu orang bertopeng beranjak dari kursinya dan berdiri di hadapan Dino.
Dia menatap Dino dan mengeluarkan pisau dari dalam saku celananya. Dino terkejut. Sebenarnya siapa orang ini?
"Apa yang ingin ia lakukan padaku?'
*
*
*
To be continued-
@pipit_otosaka8
__ADS_1