The Death Eye

The Death Eye
Eps 34–Maaf


__ADS_3

4 minggu kemudian….


Hidupku sudah kembali seperti semula. Manusia Death Eye sudah kembali hidup aman dan damai bersama dengan manusia biasa pada umumnya. Sekarang ini, para manusia Death Eye semakin berkembang. Tingkat pembunuhan di Kota juga semakin berkurang. Senang sekali rasanya.


Hari ini, aku sudah bisa kembali bersekolah bersama dengan semua teman-temanku. Aku berangkat bersama dengan Liena dan Chelsea. Lalu kebetulan saat kami berada di depan gerbang sekolah, Aldy datang. Seperti biasa, dia diantar Kakaknya dengan mobil.


“Hai, kalian!” Sapanya sambil berlari menghampiri kami.


“Hai juga, Dy!”


“Eh, Dino dan Chelsea sudah bersekolah kembali? Apa kalian sudah sehat?” tanya Aldy.


Aku dan Chelsea mengangguk. “Iya!” Semuanya tertawa riang.


“Aku senang saat itu kalian datang di saat yang tepat.” Kata Chelsea.


“Iya. Beruntung sekali aku. Terima kasih, yah!” ucapku.


“Sama-sama, Kak!” Liena tersenyum lebar.


“Oke. Eh, tapi ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa masuk ke rumah itu. Bukannya di depannya ada banyak anak buahnya Kak Devan?” tanyaku.


Aldy menepuk-nepuk kepala Liena. “Iya. Memang banyak. Tapi… berkat anak ini, nih,” Aldy mencubit dan memainkan Pipi Liena dengan gemasnya.


“Dia yang melawan semua orang-orang itu dengan mudah sampai semuanya terjatuh tak berdaya. Seperti di film-film saja!” lanjut Aldy.


“Kau hebat, Na! Oh iya, Liena! Apa kakakmu baik-baik saja?” tanyaku.


“Syukurlah nyawa Kakak masih bisa diselamatkan. Tapi sampai sekarang, Kakak masih belum bangun juga.” Jawab Liena.


“Oh, hmm… nagaimana kalau kita semua menjenguk Kakaknya Liena setelah pulang sekolah? Mau tidak?” tanyaku.


Semuanya mengagguk.


“Baiklah!”


****


Pukul 16:30, Pelajaran di sekolah berakhir. Semua murid boleh pulang…


“Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini kita akhiri sampai di sini dulu, ya!” Kata Bu Guru di depan kelas.


“Terima kasih, bu!” Ucap semua murid.


“Iya. Selamat sore. Sekarang kalian semua boleh pulang!” Kata bu guru lalu berjalan keluar dari kelasku.


Semua murid senang karena waktunya kembali ke zona menyenangkan mereka, yaitu rumah. Semuanya merapihkan barang-barang mereka dan langsung berjalan dengan tertib pergi keluar kelas untuk menuju ke rumahnya masing-masing. Di luar kelas sudah ada Liena sedang menungguku, Chelsea dan Aldy keluar.


“Ayo, Na! Kita pergi ke rumah sakit.” Kataku.


“Iya, kak!”


Kami berempat berjalan menuju rumah sakit tempat Kak Devan dirawat di sana. Untung saja letak lokasi rumah sakitnya tidak jauh, jadi kami memutuskan untuk naik Bus saja.


****


Lokasi: Rumah Sakit Ananta-


Kami sampai di tujuan dan langsung pergi ke ruang kamar rawat tempat Kak Devan berada. Liena membuka pintu ruangan itu. Terlihat di dalam sana ada Kak Devan yang sedang terbaring di atas ranjang tidurnya. Dia masih dalam keadaan tidak sadar. Di sampingnya, ada kedua orang tuanya yang menemaninya.


“Selamat sore, Ibu, Pak!” Salamku pada kedua orang tua Liena.


Mereka berdua tersenyum. Aku berdiri di samping Kak Devan. Lalu setelah itu, kedua orang tua Liena menghampiriku dan langusng berlutut dihadapanku. Eh, aku sangat terkejut.

__ADS_1


“Eh, Ibu dan bapak? Ka–kalian kenapa?!” tanyaku bingung.


“Nak Dino, maaf! Kami dari keluarga besar Idzhar ingin meminta maaf padamu yang sebesar-besarnya!” Ucap kedua Orang Tua Liena masih dalam posisi berlutut di depanku.


“Iya, kumohon Ibu dan Bapak berdiri dulu. Jangan seperti ini. Kalian minta maaf untuk apa?” tanyaku bingung sambil membantu Ibu Liena berdiri.


Orang tua Liena menundukkan kepalanya. Ayah Liena berkata, “Maaf Karena waktu itu Saya dan istri saya sudah mencelakakanmu. Kami mendapat pesan dari seseorang yang tidak kami kenal yang menyuruh kami untuk membunuh dirimu. Tapi ternyata si pengirim pesan itu adalah anak kami sendiri, Devan. Saat itu kami pikir kau sudah meninggal, tapi untunglah kalau kau memiliki Death Eye yang dapat melindungimu dari kematian.”


Chelsea terkejut. Lalu ia memikirkan sesuatu di dalam hatinya. “Sudah kuduga dari awal. Ternyata benar topeng yang diberikan Rinda saat Dino diserang itu milik Orang tua Liena. Dari tulisan ‘Burung Hantu No.14 R.K.1’ itu ternyata nomor alamat rumah Liena. Lalu singkatan dari ‘R.K.I’ itu adalah ‘Rumah Keluarga Idzhar’. Mungkin saja begitu. Ternyata memang benar Orang tua Liena lah yang sudah menyerang Dino! Aku tahu sekarang.”


“Sekali lagi kami minta maaf, Dino! Kau anak baik. Apakah kamu mau memaafkan kami?” Ibu Liena memohon.


“Iya, tidak apa-apa. Dari awal aku sudah memaafkan kesalahan Ibu dan Bapak sekalian. Aku juga minta maaf kalau aku ada salah pada kalian semua!” Ucapku.


“Iya, Kak!” Liena memelukku. Lalu Kedua Orang tua Liena juga memeluk diriku. Rasanya nyaman dan hangat. Jadi seperti ini rasanya memiliki sebuah keluarga. Andai aku juga bisa seperti mereka.


Lalu tiba-tiba ada yang mengelus kepalaku. “Aku juga minta maaf, No!”


Aku terkejut. Ternyata yang mengelus kepalaku itu adalah kak Devan. Dia sudah siuman. “Eh, Kak Devan?”


“Dino, Aku minta maaf karena selalu berencana untuk membunuhmu. Aku akhirnya sadar kalau memperkosa dan membunuh orang lain itu adalah perbuatan yang salah. Aku juga tahu kalau tidak semua Manusia Death Eye itu memiliki sifat yang buruk walaupun mereka memiliki mata yang dapat membunuh orang lain juga. Aku salah! Jadi tolong maafkan aku, Dino!” ucap Kak Devan memohon.


“Iya. Tapi kakak jangan hanya minta maaf padaku saja. Chelsea juga harus, begitu pula dengan para korban kakak dulu!” Kataku.


“Huwaaaa… hiks… Chelsea aku minta maaf karena sudah melukaimu. Dan untuk yang lainnya di sana, para Manusia Death Eye kumohon maafkan aku!” Kak Devan menangis. Aku akan menenangkan Kak Devan.


“Kak, kuharap korban kakak itu dapat mendengar dan memaafkan Kakak. Kita sebagai manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Juga fisiknya. Manusia Death Eye sepertiku memang mempunyai fisik yang berbeda seperti manusia biasa pada umumnya. Begitu pula dengan Kakak dan seluruh anggota keluarga Idzhar yang juga memiliki mata yang aneh seperti Death Eye tapi hanya berbeda kekuatan. Kita harus saling menghormati bersama. Tidak boleh saling ejek dan menghina hanya karena memiliki fisik yang berbeda.” Ujarku.


Semuanya mengangguk mendengar kata-kataku. Aku pun tersenyum, lalu kembali melanjutkan, “Seperti bunyi dari Bhineka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu. Walaupun kita memiliki kekuatan dan fisik yang berbeda-beda tetapi kita harus tetap bersatu. Saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Gunakan kelebihan kekuatan yang diberikan oleh Tuhan untuk kita semua dengan sebaik mungkin. Jadi apakah kita semua bisa damai?” tanyaku.


Semuanya tersenyum dan bersorak. “Iya!”


Semuanya mengahampiriku dan kami semua bercanda bersama-sama. Wajah ceria yang bisa kulihat berada di sekitarku. Aku senang sekali. Akhirnya aku bisa memiliki banyak teman dan orang-orang baik di sekitarku. Semoga keadaan seperti ini bisa berlangsung selamanya.


****


PIP PIP… PIP PIP.…


Alarmku berbunyi. Seperti biasa, aku hanya mematikan jam alarmku lalu kembali tidur.


“Baru jam 6 pagi, masuk sekolah masih lama. Tidur lagi, ah!” gumamku. Aku kembali menutup mata sambil memeluk gulingku.


TOK TOK TOK!


Ah! Baru saja aku memejamkan mataku, tiba-tiba saja ada yang datang mengetuk pintu rumahku. Aku pun langsung turun dari tempat tidurku dan berjalan pelan ke depan pintu.


Aku membuka pintu. “Iya?”


Ternyata yang datang itu Chelsea. Pagi ini dia datang ke rumahku. Penampilannya semakin cantik saja.


“Ah! Selamat pagi, Dino!” Ucap Chelsea.


“Pagi juga! Ada apa?” tanyaku.


“Ayo kita berangkat ke sekolah bersama… eh?”


“Ada apa!?”


Chelsea memperhatikan penampilanku dari atas kepala hingga ujung kaki. Lalu ia melipat tangannya ke depan dan menggeleng. “Ah! Sudah kuduga. Kau pasti baru bangun tidur. Benar, kan?”


Aku menggaruk kepalaku dan tertawa kecil. “Hehe… iya!”


Chelsea mendorongku masuk ke dalam rumah. “Kalau begitu sana mandi lalu sarapan dulu cepat!” Perintah Chelsea.

__ADS_1


“O–oke. Oke!”


****


Pukul 06:45, aku dan Chelsea berangkat bersama menuju ke sekolah….


Selama di perjalanan, kami hanya berdiam diri saja. Aku juga lagi tidak ada yang mau dibahas. Begitu pula dengan Chelsea. Tapi tak lama kemudian, Chelsea mulai membuka mulutnya.


“Dino? Hari ini Bu Alies akan memberikan hasil Ulangan minggu kemarin, lho!” Katanya.


Aku terkejut. Kenapa dia memberitahuku hal yang mengejutkan seperti itu, sih?!


“Eh? Benarkah!? A, aku dapat nilai berapa, yah? Haduuh!”


“Haha… jangan tegang begitu dong, No! Bu Alies tidak akan marah kalau muridnya mendapat nilai jelek. Pokoknya kau tenang saja!” Kata Chelsea sambil menepuk-nepuk bahuku.


“Iya… oke!”


Lalu setelah obrolan itu selesai, aku melihat ada Liena yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya datang menghampiri kami. Wajahnya terlihat muram. Dia kenapa, yah?


“Liena? Apa kau…”


PLUK!


“Eh?”


Liena memelukku dan dia… menangis? Aku bisa merasakan getaran dari tubuhnya dan isakan yang ia keluarkan. Eh, ada apa dengannya?


“Liena, kau kenapa?” tanyaku dengan lembut padanya.


“Hiks… hiks… keluargaku… Hiks…” Liena menangis terisak-isak.


Aku melepas pelukannya. Dengan posisi jongkok sambil menatapnya. Aku merapihkan pony rambut yang menutupi matanya itu. “Coba kau beritahu aku, apa yang sudah terjadi pada keluargamu?” tanyaku lirih.


“Ibu, Ayah dan Kakakku ditangkap polisi. Pagi tadi Polisi datang ke rumah dan menyergap semua keluargaku atas kasus pembunuhan.” Jelas Liena. Liena kembali memelukku dan menangis.


“Kamu yang sabar, yah! Mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk Orang tua dan Kakakmu.” Ujarku.


“Eh? Tapi kalau mereka tidak ada, rumahku sepi. Aku tinggal sendirian… hiks… hiks… Mama… Papaa…. Hu… huhuhu….”


Memang berat sekali rasanya jika ditinggal dengan orang tua. Apalagi selama bertahun-tahun. Aku bisa merasakan perasaan Liena. Aku turut prihatin padanya.


Chelsea menghampiri dan mengelus-elus kepala Liena. Liena mendongak cepat dan menatap ke arah Chelsea.


“Chelsea?”


“Liena, kalau kau merasa kesepian di rumah. Lebih baik, untuk sementara kau tinggal di rumahku saja, bagaimana?” usul Chelsea.


Liena merasa tidak enak pada Chelsea. Liena menggeleng pelan. “Tidak usah deh, Sea! Aku…”


“Kau tidak perlu sungkan begitu, Na! Aku senang menerima kamu, kok!” Chelsea tersenyum.


Liena senang sekali. Dia mengelap air matanya dan berhenti menangis dan kembali tersenyum lagi. “Terima kasih banyak, Sea!”


“Iya, tidak masalah. Sekarang ayo kita pergi ke Sekolah. Nanti terlambat, lho!”


“Iyeay! Ayo!”


“Andai saja aku seperti Liena. Dia ditinggalkan keluarganya, tapi masih ada orang yang peduli padanya. Sedangkan aku dulu? Tidak. Aku jadi iri padanya. Sungguh.” Batinku. Tapi aku senang, Liena bisa mendapatkan tempat yang tidak akan membuatnya kesepian. Yaitu di rumah Chelsea.


*


*

__ADS_1


*


To be continued-


__ADS_2