The Death Eye

The Death Eye
Eps 23– Hari Libur Dino


__ADS_3

Keesokan harinya–


“DINOOO! BANGUN SEKARANG JUGA!” teriak Chelsea di depan telinga Dino.


Karena kesal, Dino pun menutup kedua telinganya dengan bantal, lalu membalas teriakan Chelsea. “Aaaaargh! Chelsea! Sekarang hari liburku, jadi kumohon jangan ganggu aku. Aku mau tidur dengan tenang."


“Tak peduli ini hari liburmu atau bukan. Intinya sekarang, kau tidak boleh membiasakan kelakuan pemalasmu itu. Ayo bangun! Ini sudah jam 9. Kau harus mengurus rumah ini. Aku ingin pergi ke pasar. Cepat bangun! Kau kalah, tidak seperti anak-anakmu. Kau tahu? Mereka sudah bangun cepat dan berangkat sekolah lebih awal.” Omel Chelsea.


Dink tidak kuat mendengarkan omongan Chelsea. Ia berusaha untuk tidak mempedulikannya dari tadi. Sementara Chelsea terus memarahinya. Tapi karena tidak tahan, akhirnya Dino hanya menjawabnya dengan kata “iya”, “iya” dan “iya.


“Jangan iya, iya, saja. Kau harus mengerjakannya. Sudahlah! Aku ingin pergi ke pasar. Ingat! Jangan lupa dengan tugasmu!” tegas Chelsea.


“Iya! Bawel!”


Chelsea berbalik badan. Dia pergi meninggalkan kamar. Setelah Dino lihat Chelsea pergi meninggalkan rumah ini dengan mobil, Dino pun kembali membanting tubuhnya di atas tempat tidur.


Ia memeluk bantalnya, lalu bergumam sebelum menutup mata, "Tidur sebentar saja, untuk menghilangkan sedikit penat ini."


****


BBRRMMM….


“Hah, Dino itu. Kenapa di menjadi orang yang pemalas sekali, sih? Mentang-mentang hari ini dia sedang berlibur. Dasar…” Gerutu Chelsea sambil memerhatikan jalan di depan dan memegang setir kemudinya.


Chelsea mengeluhkan sikap Dino. Tapi ternyata ia malah melamun saat mengemudikan mobilnya. Lalu tiba-tiba saja, dia sadar kalau ada seekor kucing oranye yang sempat lewat menyebrang jalan.


Mendadak, Chelsea menginjak rem mobilnya. Untung saja, mobil sempat terhenti dan tidak menabrak kucing itu.


“Ya ampun… huh, dasar kucing oren!” kesal Chelsea.


Chelsea membuka jendela kaca mobilnya untuk melihat keadaan kucing itu. Ternyata, kucing oranye itu berhasil menyebrang jalan dengan selamat. Sekarang, kucing itu sedang duduk di pinggir jalan sambil menjilati tubuhnya.


Karena takut kucing itu akan menyebrang sembarangan lagi, maka Chelsea akan memindahkan kucing itu. Dia membuka pintu mobil dan turun dari dalamnya. Ia mendekati kucing oranye itu. Sedikit mengelus kepalanya, lalu mengangkat tubuh kucing itu.


Tapi sebelum itu, Chelsea sempat mendengar suara nada dering ponselnya yang berbunyi sendiri. Ponsel itu berada di kursi mobil. Chelsea kembali menurunkan kucing itu, lalu berjalan mendekati mobilnya. Ia mengambil ponselnya, lalu membuka layarnya. Terlihat di sana, ada telpon masuk dengan nomor telpon yang tidak dikenal. Apakah Chelsea harus mengangkat telpon itu?


Tanpa ragu-ragu, Chelsea pun mengangkat telponnya itu. Ia menempelkan ponsel ke telinganya, lalu berjalan kembali mendekati kucing tadi.


“Ha–halo? Ini siapa?”


[Dzzzttt… INYAAAA… AAA… KYAAA… BZZZT… BZZZTT… UWAAAA!]


Chelsea terkejut. Suara yang keluar dari telpon itu membuat Chelsea merinding. Suara yang keluar adalah suara yang terdengar resak dan berisik, lalu ada suara seorang wanita yang berteriak mengerang kesakitan. Suaranya terhenti-henti.


“A–apa-apaan ini?” gumam Chelsea. “Halo! Ini siapa!?”


Suaranya terhenti. Lagi-lagi, hanya terdengar suara berisik yang tidak jelas yang sangat mengganggu jika didengar.

__ADS_1


“Halo! Ini siapa? Halo. Halo! Halo!”


Chelsea kembali berbicara. Tapi tetap saja tidak ada jawaban. Lalu Chelsea melirik ke arah kucing yang ada di depannya. Kucing itu tadinya sedang menjilati tubuhnya. Tapi kenapa dia tiba-tiba menatap Chelsea dengan mata tajamnya. Tak lama kemudian, sesosok bayangan muncul.


Kucing itu mendadak mendesis, lalu dia pergi melarikan diri ke semak. Chelsea juga terkejut begitu melihat sososk bayangan yang muncul dari belakangnya itu.


Perlahan, Chelsea melirikkan matanya ke belakang. Lalu secepatnya dia berbalik badan. Chelsea terkejut dengan orang yang ada di depannya itu.


BBLZZZTT….


Ponsel Chelsea terjatuh di atas rumput. Ponsel itu masih berhubungan dengan si nomor tak dikenal. Apa yang terjadi dengannya? Di mana Chelsea?!


[BZZTT… Satu. Sudah tertangkap! Hi hi hi….]


TUT!


****


Lokasi: Sekolah Tino dan Tiny–


“Tiny? Apa kau baik-baik saja?” tanya Tino.


Tiny mengangguk sambil tersenyum. Tino jadi cemas. Sembari tadi, Tiny jadi pendiam sekali. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang ia khawatirkan.


Saat sampai di depan perpustakaan, Tiny pun langsung melompat-lompat kegirangan sambil menunjuk-nunjuk ke pintu perpustakaan itu. Tino tersentak kaget. Tiny ternyata senang sekali saat Tino mengajaknya ke perpustakaan yang ada di sekolah mereka setiap jam istirahat.


Tiny berlari ke rak keempat. Dia ingin mencari buku tentang Death Eye yang kemarin itu. Sedangkan Tino ke rak kelima untuk mencari majalah yang bagus.


Di rak keempat, Tiny tidak menemukan buku tentang Death Eye yang kemarin ia lihat itu. Ke mana buku itu diletakkan? Apa diletakan di suatu tempat atau di rak yang lainnya? Kalau begitu, Tiny akan berpindah tempat. Ia berjalan menuju rak kelima, yaitu tempat kakaknya berada.


Tapi saat Tiny ingin pergi dari rak keempat itu, tiba-tiba kakaknya muncul dari balik rak kelima. Tiny sangat terkejut. Tiny melihat kakaknya sedang memegang buku tebal berwarna coklat yang Tiny cari itu. Kebetulan sekali.


“Tiny, apa kau sedang mencari buku ini?” Tino mengangkat tangannya dan memberikan buku coklat itu pada adiknya.


Tiny mengangguk cepat dengan senangnya. Ia akan mengambil buku itu. Tapi, sebelum Tiny mendapatkannya, Tino malah mengangkat buku itu lebih tinggi lagi.


“Kau tidak akan bisa mendapatkannya semudah itu!” Tino mengerutkan keningnya dan tersenyum sinis pada Tiny. Tiny membesarkan matanya, lalu ia menelengkan kepalanya. Tiny sempat melamun sambil menatap kakaknya. Lalu tiba-tiba saja, Tino mengayunkan buku tebal itu dan membenturkan buku itu ke kepala Tiny.


Tiny terjatuh duduk sambil memegang kepalanya. Dia mendongak cepat kembali memandang Tino yang tega sekali memperlakukan adiknya seperti itu. Tiny terkejut. Dia melihat kakaknya tidak seperti dirinya yang biasa. Matanya berubah merah dan tubuhnya sedikit mengeluarkan cahaya merah.


Tiny berpikir kalau Tino telah dikendalikan oleh Cont Eye, yaitu mata yang dapat mengendalikan pikiran dan gerak tubuh seseorang dan bisa membaca pikiran orang lain. Orang yang Tiny kenal memiliki mata itu adalah Dio dan Ibunya. Tapi kali ini, Tiny tidak tahu siapa yang telah mengendalikan kakaknya itu.


Tino menarik rambut Tiny lalu mengangkatnya. Tiny berusaha untuk melepaskan rambutnya dari genggaman kakaknya karena terasa menyakitkan. Tak selesai di situ, Tino pun langsung membenturkan kepala Tiny dengan keras ke rak buku kelima. Lalu seketika, darah keluar dari kepala Tiny dan ia pun terjatuh ke lantai.


Setelahnya, Tino menjatuhkan buku yang ia pegang ke atas tubuh Tiny. Lalu ia menghadapkan tubuhnya ke depan rak kelima itu juga. Dengan cepat, ia membenturkan kepalanya sendiri dengan sangat keras ke rak buku itu. Berkali-kali. Sampai darah keluar dari kepalanya karena benturan itu.


Setelah dirinya berdarah-darah, hasutan dari Cont Eye itu pun menghilang. Tino langsung terjatuh di dekat Tiny. Tepat di belakang Tino tadi, berdiri seorang anak kecil yang tidak diketahui identitasnya. Dia memegang sebuah ponsel di tangannya. Ponsel itu berbunyi dan mengeluarkan beberapa suara manusia.

__ADS_1


[Dua dan tiga. Sudah tertangkap semua! Hi hi hi….]


****


DRRRTT… DRRRT….


Dino terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ponsel yang berbunyi. Berisik sekali. Lalu ia meraih ponsel yang ada di samping bantalnya. Terlihat di sana, Chelsea menelpon dirinya ternyata. Dino tahu itu nomornya dia.


"Oh tidak!"


Dino melirik jam di atas meja dan terkejut. Sudah jam setengah sebelas. "Ah! Berapa lama aku tidur. Aku belum membereskan rumahku. Ini gawat! Chelsea akan bawel lagi nanti."


Dino mengangkat telponnya. Lalu setelah itu, ia langsung turun dari tempat tidurnya dan secepatnya mengambil sapu.


“Halo, Chelsea! Kau tidak perlu cemas. Aku sudah membersihkan rumah dengan baik, kok. Tenang saja….”


[Dinooo… tolong… kyaaa… tidaaak!]


Dino terkejut. Itu suara Chelsea yang berteriak minta tolong! Eh? Apa yang terjadi padanya?


“Chelsea! Apa itu kau? Jawab aku, Sea! Chelsea!”


[Bzztt… Dino… kau sudah dengar, kan? Sekarang, datanglah ke kantormu. Selamatkan mereka semua sebelum terlambat. Kalau tidak, maka aku akan mengirimkan bola-bola mata Death Eye mereka padamu. Hahaha….]


TUT!


Teleponnya dimatikan!


"Apa maksudnya dengan “mereka”? Dan… siapa orang yang telah mengancamku ini?! Suaranya terdengar samar dan tidak terlalu jelas. Aku harus ke kantorku? Apa jangan-jangan… semua orang di sana menjadi korban penyanderaan oleh orang itu?" Dino bergumam. Ia menjatuhkan tangannya, lalu berpikir di depan pintu kamar.


"Suara orang tadi tidak terlalu jelas. Jadi aku tidak tahu siapa dia. Ah, ini gawat! Siapa dia sebenarnya?"


"Ah, tidak!" Dino menggeleng cepat. Ia terlalu banyak berpikir. Tanpa buang-buang waktu lagi, Dino mengganti bajunya sebentar, lalu secepatnya berlari ke luar rumah.


Mengunci pintu, lalu menghampiri mobilnya dan pergi. "Orang itu bilang aku harus ke kantorku. Itu berarti, Gedung SDEH sedang ada penyerangan! Seharusnya hari ini hari liburku yang tenang. Tapi kenapa jadi begini?"


"Sebenarnya apa yang terjadi?!"


*


*


*


To be Continued-


IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


*Author dapat sedikit keluhan dari membuat novel ini. Makanya mulai sekarang jadi slow up dah~ Bakal di up klo lagi mood baik aja


__ADS_2