The Death Eye

The Death Eye
Eps 14– Welcome Back, Devan!


__ADS_3

‘Tadi di sekolahku ada sisiwi yang dibunuh!’


Mereka semua yang ada di sana pun terkejut.


“Siapa dia?!” tanya Dino dan Chelsea bersamaan.


Tiny menulis. ‘Aku tidak tahu. Wajahnya tidak dikenal karena mayatnya hanya tersisah kepalanya saja dan mukanya rusak juga matanya yang menghilang. Aku pikir, yang dibunuh itu adalah manusia Death Eye, Yah! Bagaimana menurut Ayah?’


Dino menggeleng. “Ah, terdengar mengerikan. Ayah juga tidak tahu. Bagaimana menurutmu, sayang?” Ia pun melontarkan pertanyaannya pada Chelsea.


Chelsea mengangkat kedua bahunya dan menggeleng. Ini membingungkan. Kenapa terjadi pembunuhan lagi terhadap Manusia Death Eye?


Apa jangan-jangan pemburu Death Eye muncul lagi?


Tapi siapa dia?


Akhir-akhir ini juga sebagian besar Manusia Death Eye sedang dalam masalah. Entah itu tuduhan tentang misteri kematian mendadak itu atau semacamnya. Perusahaan Death Eye juga sedang sibuk merawat para Death Eye yang tidak sehat.


"Aku yakin, pasti ada pelaku lain dibalik semua ini. Apa aku harus cari tahu" Batinnya.


Tiny menarik-narik baju Dino. Ia yang sedang berpikir pun terkejut dan langsung menengok pada anaknya.


Kemudian Tiny menunjukkan tulisannya. ‘Ayah, apakah yang dinamakan Death Eye Sap sipting itu ada?’


“Oh, maksudmu Death Eye Shape Shifting? Tentu saja mereka ada. Memangnya ada apa?”


Tiny menulis. ‘Tidak apa. Aku hanya baru mengetahuinya. Soalnya temanku ada yang bermata seperti itu.’


“Sha... pe Shif... ting itu… mata apa, ayah?” tanya Tino.


“Itu adalah Death Eye yang berbeda seperti kita. Bedanya, kalau Death Eye itu dapat berubah menjadi Mata manusia biasa. Dan lebih hebatnya lagi, mata itu dapat membunuh puluhan sampai ratusan orang sekaligus tanpa harus menguras energinya.” Dino menjelaskan.


Tiny dan Tino terkejut sekaligus kagum. “Waah! Hebat sekali!”


“Tapi kelemahan terburuknya adalah, karena Death Eye seperti itu mudah untuk dimusnahkan. Maksudnya, pemilik dari Death Eye itu akan mudah untuk dibunuh dengan menyerang bagian tubuh mana saja tanpa harus menghancurkan mata itu langsung. Maka dari itu, jumlah Death Eye seperti itu sudah semakin berkurang dan langka. Saat ini, Ayah juga jarang melihat Death Eye seperti itu di tempat kerja Ayah.” Jelasnya lagi.


Tiny dan Tino kecewa. “Yah, Ayah! Kasihan sekali!”


“Maka dari itu, kita harus tetap waspada terhadap orang-orang sekitar. Tak peduli walaupun orang itu baik di depan kita, tapi jahat di belakang kita. Ingat, yah!” pesan Chelsea.


“Waah… berarti Ibu orang jahat, dong! Karena sudah baik pada kita. Haha…” Canda Tino.


“Tidak mungkin Ibu akan menjahati anak-anak Ibu. Uuuuh… kalian ini!” Chelsea mencubit-cubit pipi Tino dengan gemasnya. Sementara Tino hanya tertawa.


“Orang yang baik di depan kita, tapi jahat di belakang? Apakah Yuri orang yang seperti itu?” Dino kembali berpikir.


“Eh, Dino? Kenapa diam saja?” tanya Chelsea mengejutkannya.


“Ah, tidak apa-apa, kok!” Dino menjawab cepat. “Oh iya, Tiny? Kau bilang kalau kamu punya teman yang memiliki Death Eye Shape Shifting. Siapa dia?”


Tiny menulis. ‘Namanya Ramza Akbar Syahputra. Dia anak baik.'


Kemudian Tiny memperlihatkan halaman keduanya pada kakaknya. 'Oh iya, Dialah anak yang pernah membantu kita saat itu. Apa kakak masih ingat?’


Tino bingung. “Yang mana? Aku lupa!”


Tiny kembali menulis. Tapi Tino mencegahnya. “Tunggu! Biar aku ketemu langsung dengan anak itu, yah!”


Tiny mengangguk dan kembali menyimpan Notebook-nya di dalam saku bajunya. Keadaan menjadi sepi kembali. Tino masih melirikkan matanya pada amplop yang berisi surat dari Tiny itu.


Tino benar-benar sangat penasaran dengan lanjutan dari surat itu. Dia ingin bertanya langsung sekarang, tapi takut tidak enak. Maka dari itu, Tino akan menunggu Tiny kembali melanjutkan suratnya dan segera memberikan isi lanjutan dari surat itu padanya.


****


Lokasi: Kantor Polisi-Penjara Pusat Kota–


BRRRMMM….


Mobil Liena akhirnya sampai ke tempat tujuannya. Liena dan Dio segera turun dari Mobil dan berlari kecil masuk ke dalam Kantor Polisi itu. Liena mencari kakaknya. Tapi kenapa tidak ada?


Lalu tak lama kemudian, seseorang memanggil namanya dari belakang. Liena mengenal suara ini. Dia pun berbalik badan dan terkejut. Karena di hadapannya saat ini, telah berdiri seorang pria dewasa dengan wajah tampan yang ia kenal. Pria itu melambai kecil sambil tersenyum. I


Tentu saja itu Devan!

__ADS_1


“Hai, Adik kecilku! Lama tidak bertemu.” Sapa Devan.


“Ka–kakak? Akhirnyaaa…” Liena memeluk Kak Devan.


Dio bingung. Dia bertanya pada Ibunya, “Ibu, dia siapa?”


“Ibu? Liena! Apakah ini anakmu?” tanya Kak Devan terkejut. "Wow! Adikku ternyata sudah semakin dewasa!"


“Iya.” Jawab Liena singkat. Kemudian Liena menghadapkan badannya pada Dio. “Dio, ini adalah Pamanmu, sayang!”


Dio menatap Kak Devan. “Wah! Jadi ini yang namanya Kak Devan?”


Liena mengangguk sambil tersenyum.


“Yey! Aku ternyata mempunyai Paman!”


Kak Devan memeluk dan menggendong Dio di atas pundaknya. “Hei, jangan panggil aku ‘Paman’. Karena aku tidak mau dewasa terlalu cepat. Panggil aku Kakak saja, yah!” Kata Kak Devan.


“Dasar Kakak! Padahal umur Kakak ingin mendekati 40. Tapi kau malah ingin menjadi anak muda selalu. Haha…” Batin Liena. Ia hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat sifat kakaknya yang telah berubah.


Kami pun keluar dari Kantor Polisi dan masuk ke dalam mobil bersama. Kali ini, Kak Devan yang akan mengendarai mobil itu.


Saat di jalan, mereka semua hanya berbincang-bincang sedikit tentang kehidupan Kak Devan di Penjara. Lalu Kak Devan mengubah topik pembicaraanya.


“Oh iya, Liena! Ngomong-ngomong, siapa pasanganmu?” tanya Kak Devan.


“Umm…, beritahu tidak, yah?”


“Oh, ayolah. Jangan main-main. Kakak benar-benar ingin tahu, lho! Kau tidak pernah memberitahu kehidupanmu setelah aku dipenjara! Jahat!”


“Hehe... Hmm… bagaimana kalau kakak menebaknya?”


“Pasanganmu… siapa, sih!? Aku tidak tahu namanya! Cepat beritahulaaah!”


“Nanti kakak juga tahu saat sudah sampai di rumah.” Liena tersenyum sambil menahan tawa. “Kakak pasti terkejut.”


Kak Devan sangat penasaran dengan lelaki yang sudah mencuri hati Liena itu. Tapi saat ini, dia harus bersabar dan mencari tahu sendiri lelaki itu.


****


“Tidak ada yang berubah sama sekali dengan rumah ini.” Gumam Kak Devan. “Eh, ngomong-ngomong, di mana suamimu, Liena?” tanya Kak Devan.


“Dia sedang bekerja. Tunggulah saja. Nanti malam dia pulang, kok!” Jawab Liena sambil berjalan menaiki 3 anak tangga di depan rumahnya.


“Kau bilang tadi, dia ada di rumah! Huu…" Ia menggerutu kesal.


“Kakak kenapa diam saja? Ayo masuk!”


Kak Devan masuk ke dalam rumah lamanya bersama dengan Dio.


“Rumah menjadi sepi semenjak Ibu dan Ayah, juga kakakku di penjara. Kesedihanku juga mulai terasa berat karena saat itu, kedua orang tuaku meninggal di penjara. Kak Devan juga terlihat sedih sekali saat menyaksikan pemakaman orang tuaku. Tapi sekarang, rumah ini ramai kembali semenjak ada Aldy dan Dio di hidupku. Dan sekarang, aku juga senang karena Kak Devan sudah pulang.” Batin Liena sambil berjalan dan memikirkan masa lalunya.


Ia sampai di kamar. Liena meneteskan air matanya sambil mencium foto kedua orang tuanya. Dio berlari ke hadapan Ibunya.


Tadinya, Dio ingin minta izin pada Ibunya kalau dia akan pergi bermain. Tapi karena Dio melihat Ibunya menangis, Dio lebih memilih untuk menghibur Ibunya sekarang.


“Ibu, kenapa nangis?” tanya Dio.


Liena tersentak. “Eh, Ibu tidak menangis, kok, sayang!”


“Jangan bohong, bu! Itu mata Ibu memerah dan mengeluarkan air. Ibu cerita saja pada, Dio. Ada apa, bu? Apa ada yang menyakiti Ibu?” tanya Dio lagi.


Liena menggeleng sambil tersenyum. Dia mengusap air matanya dan berkata, “Dio, kau anak baik. Dio jangan bermain dengan orang yang tidak benar, yah! Ibu khawatir kamu kenapa-napa nanti.”


“Ah, baiklah, Bu! Jadi, mulai sekarang, Dio ingin bermain dengan Kak Devan saja. Lebih menyenangkan!” Kata Dio.


“Apa ada yang memanggil namaku?”


Kak Devan datang. Dia berdiri di depan pintu dan melangkah perlahan masuk ke kamar Liena. Dia melihat Liena sedang memegang foto orang tuanya.


Seketika, hati Kak Devan langsung sakit. Dia pun merebut foto itu dari genggaman Liena. Liena terkejut dan langsung berdiri dari tempat tidurnya.


“Eh, Kakak sedang apa di sini?” tanya Liena.

__ADS_1


“Liena, aku senang sekali.” Katanya dengan nada pelan. Liena tidak mendengar suara Kak Davin.


“Kenapa, Kak?” tanya Liena lagi.


“Aku hanya senang. Aku senang kau masih memiliki foto orang tua kita, Na!” Jawabnya sambil tersenyum menatap Liena.


Mata Devan berkaca-kaca. Dia menangis bahagia. Karena masih ada kenang-kenangan orang tuanya. Liena dan Devan tahu kalau kedua orang tua mereka tidak suka difoto, makanya mereka tidak memiliki foto orang tuanya sama sekali. Dan kali ini, Devan bisa melihat kedua orang tuanya lagi walaupun hanya sebuah foto di dalam bingkai.


“Liena, dari mana kau dapat foto ini?” tanya Kak Devan.


“Oh, itu, aku sengaja mengambil gambar mereka dengan ponselku waktu mereka sedang bersama melihat matahari tenggelam saat kita sedang berlibur di pantai dulu. Lalu aku mencucinya dan ku masukkan ke dalam bingkai dan hasilnya menjadi seperti itu. Maaf kalau wajah Ibu dan Ayah terlihat samar. Karena aku memfoto mereka dari kejauhan.” Jelas Liena.


“Tidak apa-apa. Kakak senang kau masih memiliki kenangan Ibu dan Ayah! Terima kasih.” Ucapnya.


“Iya, kakak!” Liena tersenyum lebar. Dia terkejut sekaligus senang. Karena baru pertama ini, Kak Devan mengucapkan kata itu padanya.


Padahal saat mereka masih kecil dulu, Devan dengan Liena bukanlah adik kakak yang akrab walaupun mereka terlihat selalu bersama. Mereka bersama karena terpaksa. Devan diberi perintah oleh Ibunya untuk selalu mengawasi adiknya itu. Maka dari itu, Devan selalu dekat dengan Liena saat di sekolah dulu.


“Kalian berdua main drama. Aku hanya bisa memperhatikan kalian dan menyimak. Ini membosankan!” Keluh Dio yang berada di samping Liena dan Devan.


Liena dan Devan terkejut. Lalu mereka tertawa bersama. Setelah itu, Devan mengangkat tubuh Dio dan menggendongnya di atas punggungnya. Mereka pun bersenang-senang di dalam kamar.


Lalu tak lama kemudian, Devan sempat melihat ada bingkai foto besar di dinding pojok kamar itu. Di dalamnya terdapat foto adiknya dengan seorang laki-laki.


“Eh, Liena? Siapa laki-laki yang ada di fotomu itu?” tanya Devan.


Liena tersenyum dan tertawa kecil. “Haha… Laki-laki itu? Apa Kakak tidak tahu siapa dia?” tanya Liena balik.


Devan menatap foto itu dan berpikir sejenak. “Aku tidak tahu. Tapi sepertinya aku pernah melihat dia. Siapa memangnya laki-laki itu?”


“Haduh, itu ayahku, Kak!” Jawab Dio tiba-tiba.


Liena terkejut. Tadinya Liena ingin memberikan kejutan tentang laki-laki di foto itu, tapi ternyata sudah di kacaukan oleh Dio. Devan pasti tahu siapa laki-laki itu.


“Oh, jadi ini Ayahmu? Dan dia adalah suamimu, Na?” tanya Devan sambil menahan tawa.


“Iya. Tapi apakah Kakak tahu siapa namanya?” tanya Liena lagi.


“Tunggu sebentar! Aku yakin, sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi… ya ampun! Siapa dia?” Devan kebingungan.


“Namanya Aldy, Kak!”


“Haduh, dasar Dio…!” Batin Liena geram.


“Oh, namanya Aldy. Iya, iya, aku tahu sekarang.” Kak Devan berpikir sejenak dan terkejut. “Eh?! Aldy! Di–dia bukannya dia temannya Dino!?”


“Iya, Kak!” Jawab Liena.


“Bagaimana kau bisa menikah dengannya!?” tanya Devan.


“Hah, itu… ada alasan lainnya, deh!”


“Aku pikir kau berpasangan dengan Dino saat ini. Karena kamu kan suka sekali dengannya dulu.”


“Sudahlah, Kak! Jangan bahas itu lagi. Saat itu, dia sudah memiliki orang yang dia suka.”


“Cinta ditolak memang tidak enak…” Ledek Kak Devan.


“Sudahlah, Kakak!”


Devan tertawa. Lalu dia memikirkan sesuatu. Dia mendapatkan ide yang hebat untuk mengejutkan Aldy saat pulang nanti. Dia ingin mengetes Aldy, apakah dirinya masih mengingat Devan?


Lihat saja nanti malam! Saat Aldy kembali ke rumahnya!


*


*


*


To be Continued-


IG: @Pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2