The Death Eye

The Death Eye
Eps 17– Menuju Hari Jadi


__ADS_3

Saat pulang sekolah, Tiny dan Tino berjalan bersama menuju pintu gerbang depan sekolah. Lalu Dio datang mengejutkan mereka.


Bukan si Kembar yang kaget karena dikejutkan Dio, melainkan Dio sendiri yang terkejut saat melihat kepala Tiny yang di perban.


“Tiny? Apa yang terjadi dengan kepalamu?” tanya Dio.


Tiny hanya diam saja. Tino mendesah pelan. “Hah, dia hanya terluka kecil saja. Dan itu semua gara-gara kesalahanku!” Tino menjawabnya dengan jujur.


“Oh, baiklah!” Dio terdiam sejenak, lalu tak lama kemudian dia kembali bicara. “Eh, apakah kau ingin main ke rumahku? Aku mempunyai Kakak baru, lho!” Ajak Dio.


“Kakakmu atau Kakak ibumu?” tanya Tino tidak percaya.


Dio menggaruk kepalanya sambil tertawa kecil. “Haha… sebenarnya, Kakak Ibuku. Dia pamanku. Tapi aku memanggilnya dengan nama ‘Kakak’ saja, hehe…”


“Oh. Aku akan mampir ke rumahmu bersama dengan Tiny. Tapi kami ingin izin dulu pada Ibu.”


“Oh, oke.”


Tino dan Tiny bertemu dengan Ibu mereka di depan gerbang. Begitu pula dengan Ibunya Dio. Eh tidak, untuk hari ini, yang menjemput Dio bukanlah Ibunya, tapi Devan yang menjemputnya.


“Kakak!” Seru Dio sambil berlari menghampiri Devan dan mobilnya.


“Ah! Itu anak-anak sudah keluar dari kelas mereka.” Kata Chelsea.


Di depan sana, Devan sedang bersama dengan Chelsea. Mereka berbincang-bincang bersama sambil menunggu anak-anak keluar.


Dio senang, karena yang jemput dirinya hari ini adalah Devan. Mumpung Devan sedang ada di sini, Dio akan langsung memperkenalkan teman-temannya.


“Kakak, kakak! Kenalin, mereka ini teman-teman baikku. Ini Tino dan ini Tiny!”


“Ouh, kalian manis-manis sekali. Anak siapa, nih?” Kata Devan, kemudian ia melirik ke arah Chelsea yang ada di sampingnya dan tersenyum.


“Iya. Mereka anak-anakku!” jawab Chelsea.


“Jadi ini kakakmu, Dio?” tanya Tino.


“Iya!”


Setelah berbincang sebentar dengan Devan, Chelsea kembali menghadap ke kedua anak-anaknya. Ia terkejut karena melihat kepala Tiny yang di perban itu.


“Tiny? Kepalamu itu kenapa?” tanya Chelsea cemas.


Tiny lagi-lagi hanya diam saja saat ditanya seperti itu. Tino menjawab pertanyaan Ibunya sama seperti yang ia bilang pada Dio. “Tiny hanya terluka kecil dan itu semua gara-gara aku.”


“Tapi kau baik-baik saja, kan, Tiny?”


Tiny menjawab hanya dengan menganggukan kepalanya.


“Oh, syukurlah. Lain kali lebih hati-hati lagi, ya!” pesan Chelsea.


Tino dan Tiny mengangguk paham. Lalu mereka berdua membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Chelsea juga begitu. Setelah itu, Chelsea menyalakan mesin mobilnya.


Melambai pada Devan dan langsung menginjak pedal gas secara perlahan. Setelah Chelsea dan anak-anak pergi meninggalkan lingkungan sekolah, Devan dan Dio juga masuk ke dalam mobilnya.


BLAM!


Pintu mobil terbanting dengan keras. Setelah itu Devan menginjak pedal gasnya dan seketika, mobilnya langsung melaju ke jalanan dan meninggalkan lingkungan sekolah.


“Dio? Bagaimana harimu di sekolah?”


“Tidak ada yang menarik, Kak! Sama saja.”


“Oh, begitu kah?”

__ADS_1


“Iya.”


Seketika, Devan kehabisan topik pembicaraannya. Pembicaraanya singkat sekali. Jadi di dalam mobil itu kembali hening. Dio hanya memandang keluar jendela mobil dengan raut wajah datarnya. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.


****


“Ah! Aduh… aku ketiduran lagi.” Dino bangun terduduk lalu mengucek-kucek mata kanannya. Setelah pandangannya kembali normal, Dino melirik ke sekitar.


“Yuri… di mana dia?”


Lagi-lagi, di saat jam kerja seperti ini, Dino malah tertidur di atas sofa. Entah kenapa, akhir-akhir ini, ia cepat merasa lelah dan mengantuk di saat jam istirahat.


Matanya masih separuh terbuka karena ia masih merasa mengantuk sekali. Untuk menghilangkan kantuknu itu, Dino akan pergi ke kamar mandi dan mencuci muka.


Dino beranjak dari sofa, lalu berjalan perlahan ke arah kamar mandi. Tapi saat ia melewati pintu dapur, ia melihat ada Yuri dari depan pintu. Dino melihat wanita itu sedang membuat sesuatu di sana. Ia akan menghampirinya.


Tapi….


“Dino itu sangat merepotkan!”


Matanya tersentak. Langkahnya seketika terhenti saat ia mendengar wanita itu bergumam seperti tadi. Sekarang ini, Dino memilih untuk berdiri diam di belakangnya.


“Kenapa aku terus yang selalu mengerjakan ini semua. Sedangkan orang itu hanya tidur selalu di atas sofa itu. Menyebalkan sekali!”


"Apa yang dimaksud dengan ‘orang itu’ adalah aku?" Dino merasa tidak enak pada Yuri. Selama ini ia selalu santai dan meninggalkan pekerjaannya, sehingga Yuri lah yang harus menggantikannya.


"Kalau begitu, aku akan berbicara lembut dengannya."


“Yuri?” Dino memanggil sambil berjalan pelan ke arahnya.


Yuri tersentak kaget dan secepatnya dia langsung berbalik badan. Matanya memandang Dino dengan wajah datar dan sedikit senyum. “Ah! Dino? Ada apa? Kau sudah bangun?”


“Iya. Eh, ada yang bisa kubantu?”


Dino menggaruk kepalanta dan tertawa kecil. “Oh, oke. Kerja bagus. Kalau kau sedang ada masalah, jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku, ya? Aku akan siap untuk membantumu.”


“Iya, baiklah!”


Dino mengangguk padanya. Setelah itu, ia berbalik badan, berniat untuk meninggalkan dapur dan berjalan ke arah kamar mandi. Tapi sebelum itu, Dino sempat melihat ada sebuah botol obat dibalik tubuh Yuri.


"Botol apa itu? Apa Yuri sakit?"


****


Di kamarnya, Tiny sedang membaca buku pelajaran di tempat belajarnya. Sedangkan Tino sedang memainkan game di ponselnya di atas tempat tidurnya.


Tiny sedang mengulang pelajaran di kelasnya tadi. Ia mempelajari tentang Burung Hantu. Karena pelajaran itu, Tiny jadi sangat menyukai hewan yang bernama “Burung Hantu” itu.


Dia kagum dengan kecepatan terbangnya dan menyergap mangsanya. Apalagi di mata Tiny, burung hantu itu hewan yang cantik dan tidak menyeramkan seperti namanya. Ia ingin memelihara burung hantu.


“Aku ingin memelihara burung ini. Apa boleh? Hmm… kalau aku minta ke Ibu, apa akan dibelikan? Apa aku minta ke Ayah saja?” pikir Tiny dalam hati.


Tiny melirik ke kalendar yang ada di sampingnya itu. Ia terkejut karena saat Tiny melihat tanggal, ternyata besok adalah hari ulang tahun si kembar.


Tepatnya pada tanggal 17 Mei. Dan tanggal itu akan jatuh pada besok hari. Kebetulan juga, besok adalah hari minggu. Jadi semua orang pasti libur.


Lalu dengan senangnya, Tiny langsung mengambil kalender itu dan memperlihatkannya pada Tino.


Setelah melihatnya, mata Tino tersentak. Ia juga merasa senang sekali. Karena bagi mereka, ulang tahun itu adalah hari yang paling menyenangkan dalam hidup mereka.


Selain bertambahnya usia, mereka juga akan mendapatkan hadiah dan akan berkumpul bersama keluarga tercinta. Pokonya, besok pasti menyenangkan!


****

__ADS_1


Keesokan harinya….


Tino dan Tiny bangun lebih pagi hari ini. Karena mereka sangat bersemangat sekali. ulang tahun si kembar, hari ini. Mereka keluar dari kamarnya, lalu pergi ke dapur untuk menemui Ibu mereka. Kebetulan sekali, Chelsea sedang masak di sana.


“Ibu!” seru Tino mengejutkan ibunya.


“Eh! Kalian sudah bangun? Tumben sekali. Tidak seperti biasanya. Ada apa nih?”


Tino dan Tiny tersenyum pada Ibunya. Mereka terlihat kompak. “Ibu tahu tidak? Hari ini, hari apa?” tanya Tino dengan penuh semangat.


Chelsea menelengkan kepalanya sedikit. “Hmm… hari minggu!”


Seketika setelah jawaban dari Chelsea itu, Tino dan Tiny langsung memasang muka cemberut. Mereka tidak percaya kalau Ibunya ternyata melupakan hari jadi mereka.


“Ah, Ibu! Masa Ibu tidak ingat?”


“Tentu. Hari ini memang hari minggu, kan? Hari kalian libur sekolah.”


Tino dan Tiny menundukkan kepala mereka dan memasang wajah kecewa.


“Hmm… coba kalian tanya Ayah saja. Awas dulu! Ibu mau masak. Nanti kecipratan minyak!”


Tino dan Tiny berbalik badan dan berjalan meninggalkan Ibunya di dapur. Mereka akan pergi ke kamar orangtuanya.


Saat sampai di sana, Tino dan Tiny perlahan membuka pintu kamar. Mereka melihat ada sosok Dino yang masih tidur pulas di atas tempat tidur.


Tino dan Tiny berjalan menghampiri ayah mereka. Tiny menggoyangkan tubuh Dino. Ia berusaha untuk membangunkannya.


“Ayah?” bisik Tino.


Masih belum ada sahutan dari Dino. Ayah mereka itu benar-benar tertidur lelap sekali. Tino terus memanggilnya. Tapi masih belum ada sahutan. Lalu karena agak sedikit kesal, Tino pun berteriak.


“AYAAAH!”


Sontak Dino langsung membuka matanya dan terkejut. Benar-benar terkejut. Seketika ia langsung terbangun. Dalam posisi duduk, Dino memegang kepalanya yang masih sedikit pusing. Lalu ia menengok ke arah Tino dan Tiny yang ada di samping kanannya.


“Anak-anak, kalian kenapa sih?” tanya Dino dengan nada sedikit membentak.


Tino mengetuk-ngetuk kedua jarinya. Dan Tiny melipat tangannya ke belakang. Mereka membesarkan kedua matanya dan memasang wajah imut.


“Ayah,” ujar Tino dengan nada imut. “Ayah tahu hari ini hari apa?”


Dino berpikir sejenak dan menjawab, “Hari minggu!”


Sekali lagi, Tino dan Tiny memasang wajah kecewa mereka. Karena heran, Dino menelengkan kepalanya. “Eh? Ayah benar, kan? Ini hari minggu. Hari di mana ayah bisa tidur sepuasnya. Benar, kan?”


Tino menggeleng pelan. “Sudahlah. Lupakan saja, Ayah!”


Setelah mengatakan itu, Tino langsung mengarahkan tubuhnya ke depan pintu keluar kamar. Ia juga mengajak Tiny untuk pergi dari kamar orangtuanya.


"Eh?" Dino jadi semakin bingung dengan sikap si kembar. Kenapa Tino dan Tiny jadi seperti itu?


Ia melihat muka mereka masam sekali. "Apa ada masalah dengan mereka?"


*


*


*


To be Continued-


IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2