
"Di mana aku?"
"Semuanya kelihatan gelap sekali. Kenapa aku masih tersadar? Apa aku sudah berada di alam lain saat ini?"
Dino melihat ada cahaya di sana. Iaberlari menuju ke arah cahaya itu. Saat sampai di sana, semuanya terlihat putih dan menyilaukan.
Lalu Dino melihat ada Chelsea yang sedang berjalan pelan ke arah timur. Ia memanggil namanya, dan berlari menghmpiri wanita itu.
Chelsea pun menengok ke belakang dan tersenyum.
“Dino, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
“A–aku tidak tahu.”
Tadinya Dino ingin berpikir sebentar. Tapi saat ia kembali melirik ke arah Chelsea, wanita itu malah kembali berjalan.
“Chelsea, tunggu!” Dino mengejar wanita itu. Chelsea kembali berbalik badan.
“Dino, kenapa kau mengikutiku?” tanyanya.
“Kau mau ke mana?”
“Aku akan pergi. Sebaiknya, kau jangan mengikutiku lagi. Kau harus kembali, Dino. Tugasmu masih banyak. Kembalilah ke tempatmu. Jangan ikuti aku!”
“Tunggu, Chelsea! Apa yang kau maksud?”
“Dino… kau harus kembali. Kembali saja! Rawat Tino dan Tiny dengan baik. Dan satu lagi, aku ingin memintamu untuk pergi mencari Manusia Death Eye yang lainnya. Jadikanlah mereka temanmu dan hindari mereka semua dari perbuatan jahat."
"Jangan sampai mereka menggunakan kekuatannya untuk hal yang tidak baik. Banyak di luar sana yang seperti itu. Bahkan, di luar sana, ada banyak manusia dengan kekuatan khusus selain Death Eye. Kumohon, hanya kau lah yang bisa kuandalkan. Jadi, kembalilah ke duniamu. Pergilah….”
“Tidak, Chelsea! Aku tidak ingin kehilanganmu! Bagaimana kalau Kau ikut denganku. Ayo!”
“Aku tidak bisa. Selamat tinggal, Dino!”
Dino tidak bisa membiarkan Chelsea pergi. Ia akan mengejarnya lagi. Tapi… kenapa tiba-tiba, tubuhnya menjadi kaku. "Sekarang apa lagi?! Aku tidak bisa bergerak!"
Lingkungan di sekitarnya, yang tadinya berwarna putih, kini telah berubah menjadi hitam kembali. Sosok Chelsea mulai menjauh. Wanita itu menghilang di dalam kegelapan.
"Oh tidak! Apa yang terjadi?"
*
*
*
*
“Eh?”
Dino bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Tapi, kenapa semuanya masih gelap? Seakan seperti matanya terhalang sesuatu.
“A–ayah?”
Dino mendengar suara. Suara seorang anak laki-laki yang lembut. Sepertinya ia mengenal suara itu. Tapi… ia masih belum bisa melihat.
Dino tidak tahu siapa anak laki-laki itu. Eh, tunggu!
Ia ternyata bisa membuka matanya. Perlahan, cahaya putih mulai terlihat. kemudian muncul berbagai objek yang masih terlihat buram. Tak lama kemudian, objek-objek itu semakin jelas.
"Langit-langit rumah sakit. Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini?"
“Ayah!”
Suara anak laki-laki itu lagi. Dino menoleh ke arah samping kanannya. Terlihat di sana, ternyata ada dua orang anak kecil. Perempuan dan Laki-laki. Wajah mereka terlihat sama.
__ADS_1
"Apa mereka kembar? Dan apakah suara anak kecil itu adalah suara anak laki-laki itu?"
Setelah ia perhatikan lebih jelas lagi, ternyata kedua anak itu adalah Tino dan Tiny! Dengan cepat, Dino langsung bangun dari posisi tidurnya.
“Aduh!”
Namun yang ada, tubuhnya malah merasa sakit. Lalu Tino dan Tiny membantu Dino duduk. “Terima kasih.”
“Ayah! Aku senang ayah bisa selamat! Haha…” Ujar Tino dengan tawa cerianya. Tiny mengangguk cepat sambil tersenyum.
“Yaa…, ayah juga senang bisa melihat kalian lagi!”
Dino masih bingung. "Kenapa aku masih berada di dunia? Bukankah… aku sudah mati?"
Dino menengok ke samping kirinya. Di atas meja yang ada di samping tempat tidurnya, Dino melihat ada sebuah bando kuning dengan pita kecil yang tergeletak di sana. Dino jadi teringat sesuatu setelah melihat bando tersebut.
*
*
*
3 tahun yang lalu–
Hari minggu, Dino dan Chelsea ingin pergi jalan-jalan ke taman bersama dengan Tino dan Tiny. Saat di kamar, ia sedang mencari sesuatu di lemari. Lalu tiba-tiba saja, Chelsea datang mengejutkan Dino.
“Dino? Apa yang kau lakukan? Apa kamu yang sudah memberantakan semua ini?” tanya Chelsea.
“Ah! Ketemu!” Dino kembali berdiri, lalu menghadap ke Chelsea. “Chelsea. Aku sudah melihatmu memakai bando pita panjang itu dari pertama kali kita bertemu. Itu sudah lama sekali. Apa kau tidak ingin mengganti bandomu itu?”
“Ah, tidak usah. Aku menyukai bando ini. Bando ini adalah hadiah dari Kakakku dulu. Memangnya ada apa?”
“Yaa…, tadinya aku ingin memberikan bando ini padamu. Tapi, kalau kau menyukai bando yang kau pakai itu, ya sudahlah, aku akan membuang bando ini.” Dino pun berjalan melewati Chelsea. Tapu Chelsea sempat menarik tangannya.
“Dino! Aku akan memakai bando itu.”
“Daripada kau membuangnya, lebih baik aku memakainya. Bando yang lama ini akan kusimpan saja sebagai kenangan.” Chelsea menarik bando lama itu dari rambutnya.
“Kemarilah, aku akan memakai bando itu.”
Dino pun memberikan bando berpita kecil yang kupegang pada Chelsea dengan senang hati. Chelsea mengambilnya, lalu memakai bando itu di atas kepalanya.
Mata Dino tersentak. Saat ia melihat Chelsea memakai bando itu, dia jadi terlihat lebih cantik dan manis.
“Emm… bagaimana penampilanku?” tanya Chelsea.
“Ca–cantik! Bandonya… eh, maksudku wajahmu yang cantik.” Jawab Dino ragu.
“Terima kasih. Aku akan menjaga bando pemberianmu ini, Dino!”
*
*
*
Dino senang sekali. Chelsea masih saja menjaga bando pemberiannya itu dengan baik sampai akhir hayatnya. Tapi sekarang, bando ini sudah menjadi kenangan terakhir dari Chelsea.
Mungkin, Dino akan terus menjaganya dengan baik. Ia akan selalu menyimpan bando ini untuk mengingat Chelsea.
“Ayah….”
Tino dan Tiny memeluk ayah mereka karena mereka masih berduka untuk kepergian ibunya. Dino sudah kehilangan Chelsea. Wanita yang ia cintai. Dan sekarang, ia tidak boleh kehilangan anak-anaknya juga. Dino akan selalu melindungi dan menjadi ayah yang kuat untuk Tino dan Tiny.
****
__ADS_1
2 Minggu kemudian–
Dino sudah bisa keluar dari rumah sakit. Ia juga mulai bisa berkontraksi dengan Death Eye baru miliknya. Karena Death Eye baru miliknya itu berbeda dari yang dulu.
Death Eye Shape Shifting-lah yang sekarang ia miliki. Mata itu memang sulit untuk dikendalikan pada pemilik barunya. Dino harus terbiasa.
“Jadi… anak yang Bernama Miya itu telah memberikan Mata Kematiannya untukku?” tanya Dino pada Ryo dan Aldy. Saat ini mereka sedang duduk di teras rumah Dino.
“Iya. Anak kecil itulah yang sudah menyelamatkan nyawamu. Beruntung anak itu juga memiliki Death Eye. Baik sekali dia.” Jelas Ryo.
“Baik apanya, Kak? Dia kan anak yang jahat yang sudah melakukan banyak pembunuhan dan sudah menyulitkan banyak orang.” Timpal Aldy kesal.
“Memang kelakuan anak itu dianggap kejam. Tapi, sebenarnya, anak itu adalah manusia yang baik. Karena ajaran dari orang tuanya saja yang buruk.”
“Asuhan orang tua kepada anaknya seharusnya tidak boleh seperti itu. Orang tua harus berperilaku baik kepada anaknya, agar si anak itu dapat mengikuti kelakuan baik sang Ibu. Karena, anak pasti ingin tahu segala hal. Sehingga, mereka pasti akan melakukan apa saja yang dilakukan ibunya, atau diajarkan orang tuanya.” Jelas Aldy.
BUK!
Ryo memukul pelan kepala Aldy. “Kau ini juga sebagai orang tua harus benar! Ajari anakmu, Dio, untuk berperilaku baik!”
“Haduuh… Iya kakak, Iya! Hei… sakit tahu!”
“Hei, berlebihan, ah! Tidak sakit, tuh.”
Dino tertawa kecil. Lalu Ryo kembali menengok ke arahnya. “Jadi…, Dino? Bagaimana kabar pekerjaanmu? Apa kau masih bisa bekerja di gedung SDEH?”
“Untuk sementara tidak dulu. Gedung itu sedang dalam masa perbaikan. Tidak ada yang boleh datang ke tempat itu untuk sementara waktu.” Jawab Dino pelan.
Ryo dan Aldy hanya bisa mengangguk, lalu terdiam.
DAP! DRAP! DRAP!
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang datang dengan cepat menghampiri mereka yang sedang bermain. Pintu rumah terbuka dengan sangat kencang, lalu ada Devan yang berlari dengan cepat sambil berteriak ketakutan.
Tak lama setelah Devan, Tino pun juga muncul. Ada apa dengan mereka?
Dino, Ryo dan Aldy langsung berdiri. Lalu setelah itu, Tiny pun juga ikut keluar. Dia membawa Burung hantu pliharaanya. Tiny mengejar Devan dan Tino. Liena juga ternyata sedang mengejar Tiny.
“Lina! Merka itu kenapa, sih?” tanya Dino.
Liena menghembuskan napas yang agak terengah-engah, kemudian ia menjawab, “Itu… sebenarnya, Kak Devan punya phobia terhadap makhluk terbang berbulu. Seperti burung hantu itu. Tiny berusaha untuk mengajak kakak bermain dengan burungnya, tapi kakak sendiri malah takut dan dia pun berlari seperti itu.”
“Lalu itu Tino sedang apa? Tino juga takut dengan burung itu?” tanya Aldy.
“Kalau Tino itu sedang berusaha untuk menangkap Kakak.”
“Kau sendiri… sedang apa?”
“Haduuh… aku ingin menghentikan mereka. Kalau Phobia kakak dipermainkan seperti itu bisa berbahaya. Sudahlah, aku ingin menghentikan mereka!” ujar Liena, lalu dia berlari pergi ke taman mengejar kakaknya.
"Tino sayang! Tino cakep! Tolong jangan seperti itu pada kakakku, dooong!! Heeey!"
Dino menengok ke Aldy dengan ekspresi bingung. “Kak Devan phobia burung? Memangnya ada yang seperti itu?” tanyanya.
“Iya… tidak mungkin. Kan saat ulang tahun si kembar saja, Kak Devan bersama denganmu menjaga burung hantu itu.”
Mereka bertiga mengangguk. Lalu Ryo akan ikut bersama Liena melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan Aldy. Dia juga ingin ikut bermain. Tapi, tidak dengan Dino. Ia ingin duduk diam saja melihat kelakuan aneh orang-orang baik di sekitarnya.
*
*
*
To be continued–
__ADS_1
@pipit_otosaka8