
Dino akan pergi ke kamar untuk mencari sesuatu. Kebetulan, ia telah mengingat sesuatu yang penting.
Dino pergi ke kamarnya. Memeriksa lemari dan laci-laci kecil untuk mencari sebuah benda. Benda itu adalah….
Buku catatan Chelsea yang berwarna hitam.
Dino teringat dengan perkataan Chelsea dulu sebelum dia pergi. Saat itu, Dino ingin tidur bersama dengannya. Tapi, tak sengaja, ia menemukan buku hitam milik Chelsea di atas meja riasnya.
Dino ingin mengambil buku itu. Tapi, Chelsea masih saja melarangnya untuk membukanya. Padahal buku itu sudah lama ia lihat saat pertemuan pertama Dino dengan Chelsea.
Chelsea selalu bilang, “Ini buku rahasia terbesarku. Kau boleh melihatnya, jika aku sudah pergi meninggalkanmu. Dengan begitu, kau akan bisa melihat isi buku ini dengan tenang.”
Ini dia!
Bukunya sudah Dino temukan. Buku itu berada di dalam lemari kecil dekat jendela. Buku Hitam Chelsea.
Akhinya Dino bisa mengetahui isinya. Tapi… apakah ia bisa melihat tanpa minta izin dari pemiliknya? Apalagi kalau pemilik buku ini sudah tiada.
"Ah, sudahlah… Chelsea, aku baca bukumu, ya?” Bisik Dino pada Buku Hitam itu. Terdiam sejenak, lalu tak lama Dino mengucapkan “Terima kasih, Chelsea!” pada buku tersebut.
"Sudahlah kubuka saja. Intinya aku sudah minta izin pada pemiliknya, kan?"
Saat di halaman pertamanya, Dino melihat beberapa tulisan tangan Chelsea tentang Death Eye. Itu tulisan tangannya yang dulu. Sudah lama sekali dan kertas-kertas di buku ini pun sudah mulai kecoklatan dan sedikit usang.
Semua pengetahuan tentang Death Eye yang ada di dalam buku itu sudah ia ketahui. Tapi, yang Chelsea tulis, hanya pengetahuan tentang Death Eye yang biasa saja. Tidak ada tentang Death Eye Shape Shifting.
Padahal Dino sangat membutuhkan pengetahuan itu untuk mempelajari lebih dalam tentang mata barunya.
Dino sudah sampai ke halaman yang kelima belas. Ia buka halaman berikutnya. Seketika, matanya tersentak saat melihat beberapa gambar-gambar dan foto yang tertempel di kertas itu.
Satu halaman, berisi beberapa coretan-coretan nama “Chelsea” yang berwarna. Lalu ada gambar dirinya yang sedang memegang gitar. Dia menggambarnya sendiri. Benar-benar kreatif.
Lalu Dino pun melihat beberapa foto-foto Chelsea. Foto pertama, di sana ia sedang bersama kakaknya di taman saat ia masih muda dulu. Di bawah foto itu tertulis, ‘Hari ini aku senang sekali bisa pergi berlibur bersama kakakku. Walaupun hanya ke taman kota, hehe….’
Foto berikutnya. Di dalam foto itu ada dirinya dengan… seorang pria tua?
‘Aku senang bisa berfoto bersama dengan ayahku. Senang sekali. Aku harap, kita bisa selalu bersama!’
"Oh, jadi itu adalah ayahnya." Dino bergumam.
Dino hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan Chelsea di dalam foto itu. Kemudian ia membuka ke halaman berikutnya. Ia menemukan foto Chelsea yang lainnya. Banyak sekali. Dengan ukuran yang berbeda-beda. Lalu, ia kembali membuka halaman berikutnya.
Dino terkejut. Foto selanjutnya ternyata adalah….
"Apa ini... aku?"
Itu benar-benar foto Dino. Foto ini saat Dino sedang tertidur di kelas. Lalu ada juga, foto saat dirinya ada di samping Chelsea. Mungkin, ini saat Dino sedang berjalan pulang bersama dengan Chelsea dulu.
__ADS_1
Lalu….
"Eh! Ini apaan? Apaan ini? Dari mana di amendapatkan foto ini?"
Dino benar-benar terkejut. Di sana tertera fotonya saat masih kecil. Foto yang lagi telanjang dengan posisi tengkurap. Yang paling memalukan lagi adalah bentol kecil di bokongnya itu.
"Wa–waaaa!! Ya ampuuun!"
‘Haha… Dino lucu sekali saat masih kecil. Aku jadi salah fokus saat meihat bentol di belakangnya itu, hahaha….’
Tulisan di bawah foto itu secara tak sengaja membuat Dino tertawa. Wajahnya sepertinya memerah. Benar-benar malu. "Siapa sih yang telah memberikan foto itu pada Chelsea?!"
Dino melirik ke halaman berikutnya. Di sana juga ada foto kecil Dino yang lainnya. Chelsea menulis, ‘Terima kasih pada kak Dimas yang sudah memberikan banyak foto lucu dan menggemaskan ini.’
"Hmm…, aku sudah menduganya. Dasar Kakak!"
Dino kembali membuka halaman lainnya. Halaman itu hanya berisi catatan harian Chelsea. Banyak sekali.
Dino tidak sanggup membaca semuanya. Jadi, ia longkap saja. Lalu ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah tulisan panjang yang berisi tentang "Manusia Berkemampuan Khusus".
Di sana tertulis, ‘Aku sengaja menulis ini semua karena aku ingin terus mengingat tentang ini apabila buku yang kubaca sudah tidak ada lagi.’
Paragraf baru. ‘Dahulu kala, banyak manusia-manusia yang memiliki kekuatan fisik yang ajaib. Ada kekuatan mata, tangan mereka dan bahkan seluruh tubuhnya. Ada yang datang sejak lahir, keturunan dan ada juga yang mendapatkan kekuatan itu dari suatu kejadian. Terkadang, semua kekuatan itu, mereka pergunakan untuk membantu orang lain. Tapi sebagian juga ada yang memanfaatkan kekuatan itu untuk kejahatan dan kesenangan pribadi mereka. Lalu, semenjak tahun 2006, semua manusia biasa mulai memburu para Manusia berkemampuan khusus karena dianggap berbahaya. Sampai akhirnya, yang tersisah hanya kekuatan mata. Seperti Death Eye, Cont Eye, dan lain-lainnya. Aku memiliki Death Eye. Death Eye umum, yang populasinya masih banyak di seluruh dunia. Death Eye Shape Shifting, adalah Mata Kematian yang terbilang langka. Karena populasinya mulai terancam dan perburuan mata itu semakin meningkat. Apalagi, kalau sebagian besar pemilik Death Eye.S.S, adalah anak muda. Dan satu lagi, jenis Death Eye yang terbilang sangat langka. Saat ini, pemilik mata itu hanya ada 3-5 orang saja dalam seluruh dunia. Yaitu, Death Eye Timing. Mata Kematian itu tidak dapat membunuh, tapi dapat mengetahui tanggal, bulan dan tahun kematian orang lain. Mata yang tidak terlalu berbahaya. Tapi, efek sampingnya, jika pemiliknya semakin banyak menggunakan mata itu, maka semakin berkurang juga nyawanya. Karena Death Eye Timing, memerlukan energi yang sangat banyak.’
Pusing sekali Dino membaca itu semua. Tapi setidaknya, ia mendapatkan sedikit hal yang tidak ia ketahui.
Setelah itu, Dino pun membuka halaman berikutnya. Ada catatan Chelsea yang lainnya. Tapi sebelum Dino membacanya, tiba-tiba saja, Aldy datang ke kamar dan mengejutkannya.
“Hayo! Kau sedang apa, tuh?”
“Mau tahu aja! Tidak ada apa-apa, kok. Eh, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Dino.
“Yuk, kita keluar. Semuanya sedang berkumpul bersama. Apa kau tidak mau ikut?”
“Iya, aku ikut!”
Aldy keluar dari kamar. Dino pun memasukkan kembali Buku Hitam milik Chelsea itu ke tempatnya semula. Lalu setelah itu, ia berjalan keluar kamar.
Saat di luar sana, ternyata semuanya sedang berkumpul di taman. Mereka sedang makan bersama sambil duduk di depan meja taman. Ah! Di sana juga ada Mellia dan Mista. Apa yang mereka lakukan, ya?
“Hai, Kakak!” sapa Dino pada Mista.
Mista mengangguk sambil tersenyum. Dino mencari seseorang. “Kak Dimas tidak datang?”
“Ooh…,” Mista menengok ke samping kirinya, lalu menunjuk. “Itu di sana. Kakak sedang menenangkan Kak Devan.”
Di sudut taman sana, ada Devan yang sedang duduk sambil menekuk kedua kakinya dengan ekspresi yang ketakutan, ditambah badannya sedikit bergetar. Ia terus bergumam-gumam, “Burung hantu menyeramkan… Burung hantu menyeramkan…” dan begitu seterusnya.
__ADS_1
“Tenanglah, Burung hantu itu lucu, kok!” ujar Dimas sambil menepuk-nepuk pundak Devan.
“Burung hantu itu menyeramkan… menyeramkan….”
Liena menggeleng. “Hah, semakin buruk, deh!”
Dino tertawa kecil. Lalu melirik ke arah Mellia yang sedang duduk di samping Mista. Matanya melirik ke arah makanan yang ada di depannya dengan ekspresi yang menyedihkan.
Mista pasti masih terpukul sekali dengan kepergian Chelsea.
“Kak, maaf. Aku tidak bisa datang ke acara pemakaman Chelsea. Dan maaf juga karena aku tidak bisa melindungi dirinya.” Ucap Dino lirih pada Mellia.
Setelah mendengar perkataan Dino, Mellia pun langsung mendongak dengan cepat dan menatap mata kanannya Dino. Ia mengibaskan kedua tangannya sambil tersenyum dan tertawa kecil.
“Ah! Tidak apa-apa, Dino! Saat itu, kau sedang dalam masa pemulihan, tidak mungkin dalam keadaan seperti itu, kau dapat menghadiri acara pemakaman Chelsea. Tidak apa-apa, kok! Dan kau juga sudah berusaha untuk menjadi pasangan yang terbaik baginya. Chelsea juga sudah menjadi gadis yang menyenangkan semenjak dia bersamamu. Jadi, terima kasih!”
“Ah, iya. Baiklah kalau begitu. Sama-sama.”
“Oh, ya…, ngomong-ngomong, ayo, silahkan dimakan!” kata Mellia.
Semuanya mengambil beberapa makanan yang sudah dibuatkan oleh Mellia dan Mista. Dino memakan sedikit Udang goreng itu.
Lalu tak lama kemudian, Dino baru sadar kalau sedari tadi, Tino dan Tiny tidak ada.
“Eh! Tino dan Tiny ke mana?” tanya Dino.
“Mereka di sana. Bersama dengan Dio bermain dengan burung itu.” Jawab Liena.
Dino pun mengangguk. Lalu ia berteriak memanggil anak-anak itu untuk ikut bergabung dengan semuanya. Mereka bertiga mengangguk.
“Tiny! Ayo kita ke sana!” ajak Tino.
Tiny akan mengikuti kakaknya. Lalu di belakangnya ayahnya pun muncul dan ikut dengan si kembar. Mereka pergi bersama menghampiri teman-temannya yang sedang berkumpul untuk bersenang-senang.
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Season 2– End!!!