The Death Eye

The Death Eye
Eps 24– Hari Libur Dino (2)


__ADS_3

Dino akhirnya sampai di depan Gedung SDEH. Dengan cepat, ia berlari memasuki gedung tempatnya bekerja. Tapi untuk sekarang ini, Dino sedang libur. Makanya keadaan dalam gedung agak sepi.


“Hei! Aku sudah ada di sini! Keluarlah kau!” Dino berteriak setelah ia memasuki pintu kaca depan.


Tidak ada jawaban maupun suara lainnya di dalam gedung ini. Dino pun melangkahkan kakinya semakin dalam. Lalu melirik ke sampingnya dan terkejut.


Ia melihat mayat dua orang satpam yang meninggal dengan cara mengenaskan. Entah bagaimana, di depan pintu tubuh mereka telah terpotong menjadi dua bagian.


Dino akan membiarkan mayat itu untuk sementara. Ia ingin mencari keluarganya terlebih dahulu.


Namun tak lama kemudian, Dino mendengar suara seseorang yang yang berteriak dari lantai dua. Secepatnya ia langsung berlari menaiki tangga.


“Halo! Apa ada orang di atas sana?” Dino berteriak lagi saat di tengah tangga.


Karena tidak ada jawaban sama sekali, Dino pun kembali melangkah menaiki beberapa anak tangga yang tersisah. Saat sampai di lantai dua, ia mengintip satu jendela ruangan yang ada di dekat tangga itu. Di dalam sana gelap dan tidak ada siapapun.


“Aku tahu semua karyawan di sini sedang berlibur untuk satu hari. Seharusnya masih ada beberapa penjaga gedung. Tapi sekarang ini, mereka telah meninggal. Cih! Aku tidak bisa melapor karena aku takut keluargaku akan ikut terancam juga. Sekarang di mana mereka?”


DUAR!!


Dino sangat terkejut. Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang keras dari atas bangunan. Lalu setelah itu, tiba-tiba saja, tangga yang ada di dekatnya itu juga meledak dan terbakar.


Dino jatuh tertelungkup. Ia bertusaha untuk kembali bangun dan melihat keadaan di belakangnya itu.


Dino menyentakkan matanya. Melihat sebagian tangga menuju ke bawah telah hancur dan api dari ledakan itu bermunculan. Apinya masih kecil, tapi tetap saja berbahaya karena bisa menyebar ke mana saja. Dino tidak akan bisa kembali ke bawah sana kalau tangganya hancur.


Ia tidak tahu apa yang telah terjadi di sini dan dari mana ledakan-ledakan itu berasal?


"Pasti ada yang tidak beres di tempat ini!" Pokoknya sekarang ia akan cari tahu dan pergi mencari Chelsea. Tapi sebelum itu, Dino akan menghubungi Aldy untuk meminta bantuan padanya.


"Semoga saja saat aku meminta bantuan, seseorang yang menyerang gedung ini tidak akan mengethuinya."


Calling Aldy–


[Halo, Dino? Ada apa?]


Akhirnya dia menjawab panggilan Dino. “Segera, Aldy! Aku membutuhkan bantuanmu!”


[Hah? Bantuan apa?]


“Kumohon tolong aku. Chelsea diculik dan aku tidak tahu siapa penculiknya. Orang itu mengancamku. Sekarang, saat ini aku sedang berada di Gedung SDEH. Kau datang saja. Tolong aku.”


[Sepertinya mengerikan. Baiklah, aku akan menolongmu. Akan aku ajak Kak Devan dan Kakakku juga! ]


“Oke, terima kasih banyak!”


[ Tapi– ]


"Berisik! Jangan bahas soal bayaranmu dalam keadaan seperti ini!"


[ Ups! Ah, Maaf! Kau mengerikan kalau sedang marah. Baik! Baik! Aku akan berangkat sekarang! Bertahanlah! ]


Sambil berjalan, Dino tak sengaja melirik ke lorong yang ada di sampingnya. Di sana, ia melihat ada seorang wanita yang berjalan. Dino pun mendekatinya.


“Hei, kamu! Apa kau tahu….”


Wanita itu tiba-tiba saja menengok ke arah Dink. Lirikan matanya membuat Dino terkejut. Ternyata wanita itu adalah si Penjaga Perpustakaan di sekolah Tiny dan Tino. Apa yang dia lakukan di sini?


[Dino? Apa yang terjadi di sana?]

__ADS_1


Aldy ternyata belum mematikan ponselnya. Dino mengalihkan suara Aldy. Ia terus memandang wanita itu. Si Penjaga Perpustakaan itu hanya diam saja sambil menatap Dino sinis. Lalu tak lama kemudian, warna mata wanita itu berubah menjadi merah.


Itu Cont Eye!


Ternyata wanita itu memiliki Cont Eye!


Dino harus berhati-hati dengannya. Wanita itu mulai membesarkan matanya. Dino mundur perlahan dari hadapannya. Wanita itu tertawa kecil. Lalu seketika, tangan kananku yang sedang memegang ponsel bergerak dengan sendirinya. Dino tidak bisa mengendalikan tangannya.


[Dino! Ada apa!?]


BRAK!


Tangan kanannya melempar ponsel yang ada di genggaman tanpa ia sadari.


“Kau dan keluargamu harus mati di sini!” ujar wanita itu dengan tertawaanya.


Dino terkejut mendengarnya. Ia… tidak boleh mati di sini. "Kenapa hari liburku harus kacau begini, sih?! Sekarang apa yang harus aku lakukan?"


****


Aldy, Ryo dan Devan akan pergi untuk menyelamatkan keluarga Dino. Aldy menaiki mobilnya bersama dengan Devan, dan Ryo akan pergi sendiri dengan mengendarai mobilnya.


Tapi sebelum mereka pergi meninggalkan lingkungan rumah mereka, tiba-tiba saja Liena muncul dari depan gerbang rumah dengan mobilnya sendiri. Ternyata Liena habis dari sekolah untuk menjemput Dio.


Liena membuka jendela, lalu ia mengeluarkan kepalanya lewat jendela. “Hei! Kalian semua mau ke mana?” teriak Liena.


“Dino dalam bahaya! Kita ingin pergi untuk menyelamatkan dirinya!” jawab Devan.


Liena terkejut. “Memangnya apa yang telah terjadi padanya?”


“Kami tidak tahu. Intinya kami semua akan pergi sekarang.”


“Baiklah! Aku akan ikut!”


Lalu ia segera menjalankan mobilnya dan secepatnya pergi. Tak lama setelah Kak Devan, mobil Kak Ryo pun juga ikut jalan.


“Apa mereka pikir aku ini tidak bisa apa-apa, hah? Aku akan tunjukkan pada mereka!” gumam Liena. “Dio. Kau turunlah! Diam saja di rumah dan jangan ke mana-mana!”


Dio menggeleng cepat. “Tidak, bu! Aku ingin ikut.”


“Haduh, kau ini benar-benar keras kepala sekali, ya! Yasudahlah kalaiu bergitu. Jangan merepotkan Ibu, ya?”


Dio mengangguk. Lalu setelah itu, Liena kembali menjalankan mobilnya itu ke jalan lurus yang ada di depannya. Mengikuti yang kakaknya dan yang lainnya.


****


“Aldy, apa kau yakin kalau Dino ada di sana?” tanya Devan.


“Iya!” Jawab Aldy. “Dino sendiri yang memberitahuku. Sekarang, apa kakak bisa lebih cepat lagi? Aku khawatir dengan Dino. Terakhir kali kami menelpon tadi, Dino seperti mengeluarkan suara rintihan dan seketika telponnya dimatikan.”


“Sepertinya memang sangat mengkhawatirkan. Kalau begitu, kita harus cepat!”


Devan melajukan jalan mobilnya. Tapi saat di tengah jalan, Aldy melihat ada penjual es krim di pinggir jalan itu. Aldy sangat menginginkannya.


“Kak! Berhenti sebentar!” teriak Aldy tiba-tiba.


“A–ada apa?!” Mendadak Kak Devan menginjak rem mobilnya. Setelah mobil berhenti, Aldy langsung membuka pintu mobilnya dan keluar.


“Aldy, kau mau ke mana?” tanya Kak Devan.

__ADS_1


“Kak, aku ingin membeli Es krim itu!”


“A–apaaa? Apa yang kau lakukan? Kita harus cepat menyelamatkan Dino!” tegas Devan.


“Aku tidak tahan. Kumohon biarkan aku membeli satu Es krim saja!”


Devan menggeleng. “Tidak bisa! Ayo cepat. Kita harus pergi!”


“Aku akan meneraktir Kakak!”


“Tidak mau. Aku tidak ter–“


“Tiga! Aku akan membelikanmu tiga es krim.”


“Ayo. Aldy! Sini duduk. Kita makan ss krim bersama.”


Aldy terkejut, tiba-tiba saja ia melihat Devan sudah berada di depan penjual Es krim itu. Aldy menghela napas panjang lalu tersenyum. Setelah itu, dia berlari menghampiri Devan.


“Abang! Pesan 4 Es krim-nya ya! Ditunggu.”


“Iya.”


Tak lama setelah itu, mobilnya Ryo datang. Ryo membuka kaca mobilnya, lalu menengok ke Aldy dan Kak Devan yang sedang duduk di pinggir jalan.


“Apa yang kalian lakukan di sini? Apa mobil kalian mogok?” tanya Kak Ryo.


Aldy dan Devan menggeleng. “Tidak. Kami sedang membeli Es krim dulu sebelum jalan ke S-D-E-H.” Jawab Aldy santai.


Ryo mengerutkan keningnya. “Eeeh? Apa yang kalian pikirkan?! Kalian sedang dalam misi penyelamatan dan sekarang kalian malah bermain-main?” Kak Ryo melirik ke Kak Devan. “Devan! Kenapa kau tidak menghentikan Aldy?”


Kak Devan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak bisa menolak traktiran gratis, dong!”


“Haduh, kalian ini!” Ryo menggeleng pelan, lalu menarik persenelingnya. “Kalau begitu, aku duluan saja!”


Ryo menutup kaca mobil, lalu menjalankan kembali mobilnya.


“Iya. Sampai jumpa!” Aldy dan Kak Devan melambai bersama. Lalu setelah itu, es krim-nya pun jadi. Aldy senang sekali. Ia akan mengambil es krim yang diberikan oleh penjualnya itu. Tapi sebelum itu….


“A–aduh! Aduh, aduh… sakiiitt….”


Liena sempat datang dan langsung menarik telinga Aldy dan Devan.


“Di saat seperti ini, kalian masih saja sempat jajan dan santai-santai, hah?”


“Ma–maafkan kami!”


“Sekarang… cepat masuk ke mobil kalian!”


Setelah Liena melepaskan telinga mereka, secepatnya, Aldy dan Devan berlari memasuki mobil mereka, lalu menjalankannya. Setelah mobil Devan pergi, Liena pun berbalik badan. Ia akan kembali ke mobilnya juga.


“Ini akan saya ambil, ya, pak!” Liena meraih pelastik yang berisi 4 bungkus es krim itu. “Oh iya lupa. Ini uangnya! Ambil saja kembaliannya. Sampai jumpa.”


Dio senang sekali karena ia dibelikan es krim dari Ibunya. Setelah Liena dan Dio berbagi es krim itu, Liena menyalakan mobilnya, lalu menjalankannya dengan cepat mengejar yang lainnya.


*


*


*

__ADS_1


To be Continued-


Ig: @pipit_otosaka8


__ADS_2