The Death Eye

The Death Eye
Eps 25– Dino Dan Miya


__ADS_3

BLAM!


Ryo menutup pintu mobilnya. Setelah itu, ia berlari memasuki gedung SDEH. Saat di dalam, ia terkejut karena melihat ada banyak api yang mulai membesar dan membakar sebagian bagunan. Ryo ingin mematikan api itu, tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.


Tentu saja dengan pemadam api!


Itu dia!


Ryo kembali melangkahkan kakinya pergi mencari alat pemadam api itu. Biasanya pasti akan tersedia di setiap dinding yang ada di gedung. Tak lama kemudian, Ryo akhirnya berhasil menemukan alat pemadam api yang terletak di lantai. Karena sebelumnya, pemadam api itu berada di samping tangga. Tapi karena tangganya hancur, maka alat pemadam api itu pun terjatuh.


Secepatnya ia mengambil alat itu, lalu menyemprotkan beberapa busa dingin dari dalamnya. Untung saja apinya belum terlalu merembet ke banyak ruangan, jadi masih mudah untuk dipadamkan.


“Sudah selesai. Sekarang, aku harus mencari Dino!”


“UWAAAA…!!!”


GUBRAK!


Suara teriakan Dino terdengar dan suara keributan dari atas lantai dua itu pun semakin menggaduh. Ryo ingin pergi ke atas sana, tapi ia tidak tahu harus lewat mana. Tangga satu-satunya untuk sampai ke sana telah tidak ada. Ryo harus bagaimana?


****


“Ssshh… aduh!”


“Khu, khu… aku pikir, kau itu manusia yang kuat. Tapi ternyata aku salah. Kau lemah sekali!” ujar wanita penjaga perpustakaan itu.


Dino kembali berdiri sambil memegang lengannya yang sedikit luka. “Ikh! Perkataanmu tidak benar. Aku hanya ingin bertahan tanpa harus melukai seorang wanita.”


“Oooh… jadi… seorang laki-laki tidak boleh melukai wanita. Kalau begitu, biarkan wanita yang akan melukai seorang laki-laki!” Wanita itu kembali memasang mata merahnya. Tubuh Dino tidak bisa bergerak lagi. Pokoknya ia harus kuat. Dalam keadaan seperti itu, Dino jadi ingat dengan perkataan Chelsea saat Chelsea pernah mengajari banyak hal tentang kemampuan mata manusia pada dirinya.


Jika kau sedang menghadapi seorang manusia bermata Cont Eye, kau harus bisa menahan dirimu. Tutup matamu. Jangan tatap Cont Eye itu, lalu hentakkan lah kakimu dengan kuat dan berusaha untuk tidak bergerak dengan bebas. Maka dengan cara itu, Cont Eye akan berhenti untuk mengendalikan tubuhmu.


Itu dia!


Dino pun menutup matanya. Hentakkan kaki dan berusaha untuk tidak bergerak sama sekali.


"Kalau begitu, akan kucoba!"


Dino menahan kedua kakinya, tidak bergerak dan selalu diam tapi tetap bertahan melawan gerakan dari Cont Eye yang akan mengendalikan tubuhnya.


“Sekarang, matilah kau!”


Dengan kuat, wanita itu melirikkan matanya ke kanan. Jika Dino tidak bisa menahannya, maka mata itu bisa mendorong tubuhnya sampai ia terjatuh dari lantai dua.


Dino tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia membuka matanya sedikit. Dino bisa melihat pergerakan mata itu. Cont Eye tidak bergerak walaupun pemiliknya sedang berusaha untuk melirikkan matanya sesuai dengan keinginannya.


Dino tetap bertahan. Jangan banyak bergerak. Tidak boleh bergerak. Wanita itu membesarkan matanya, lalu dia merintih kesakitan. Seketika, cahaya merah yang ada di tubuhnya Dino menghilang.


“Ternyata benar apa yang dikatakan Chelsea. ‘Apabila Cont Eye tidak berhasil mengendalikan tubuh lawannya, maka mata itu akan menyebabkan rasa perih yang luar biasa’. Kalau begitu, ini kesempatanku untuk menyerang.”


Setelah Dino bisa kembali bergerak lagi, secepatnya ia berlari menghampiri wanita itu. Dino berhasil menangkapnya. Ia menggenggam kedua tangan wanita itu kuat-kuat.

__ADS_1


Wanita itu masih belum bisa membuka matanya karena rasa perih itu. Dia hanya bisa memberontak dan berteriak.


“Sekarang katakan padaku. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Dino berbisik padanya.


Wanita itu menjadi tenang, ia sepertinya sudah menyerah. Kemudian wanita tersebut menghembuskan napas panjang lalu menangis. Entah itu air mata karena tangisannya atau air mata karena kepedihan matanya. Dino tidak tahu.


“Maafkan aku! Aku telah melukai kedua anak-anakmu itu dan membawa mereka ke dalam gedung ini. Aku tidak ingin melakukan itu. Tapi aku diancam oleh seseorang. Kalau tidak melakukan itu, maka keluargaku akan di bunuh!” jelas wanita itu.


“Siapa yang telah mengancammu itu?”


“Maaf, aku tidak bisa mengatakannya.”


“Tidak apa, aku akan melindungi–“


ZRASH!


“KYAAAA….”


Dino terkejut. Tiba-tiba saja leher wanita ini robek dan mengeluarkan banyak darah. Dia berteriak mengerang kesakitan di lantai. Dino sendiri tidak tega melihatnya seperti itu. Tadinya ia akan membantunya, tapi….


STAP!


Seseorang tiba-tiba saja muncul di depan lorong. Wajahnya masih belum jelas, tapi tinggi orang itu begitu pendek. Apakah dia anak kecil?


“Baka! Sudah kubilang jangan katakan apapun. Sekarang, kau sudah melanggar janjimu, dan terimalah akibatnya!” ujar orang itu.


Dino kembali berdiri. “Si–siapa kau?!”


"Itu anak yang ada di mimpiku." Dino bergumam. "Ternyata anak berbahaya itu benar-benar nyata."


Dino tidak percaya ini. Sekarang, kenapa tubuhnya jadi merinding saat melihat anak kecil berambut panjang itu. Ia memegang kapak bertongkat panjang yang sudah berlumuran darah pada mata pisaunya.


“Anak Kucing mati dimakan induknya, hanya menyisahkan banyak darah berwarna merah, seorang anak kecil mencari korban selanjutnya, akhirnya aku menemukanmu, Dino Dirmansyah!” anak kecil itu tersenyum sinis.


“Eh? Dia bilang apa tadi?”


Dino masih teridam sambil terus menatap anak perempuan itu. Miya mulai melangkahkan kakinya. Mendekat ke arah Dino.


Dino pun mundur ke belakang, lalu secara tidak sengaja ia menginjak tangan mayat si wanita penjaga perpustakaan itu. Ia sudah meninggal karena kehilangan banyak darah yang keluar dari luka besar di lehernya. Sedikit lagi robekan di lehernya itu, maka kepalanya akan putus.


Benar-benar mengerikan.


Kenapa luka sebesar itu bisa tiba-tiba muncul dengan cepat. Apa jangan-jangan, luka itu disebabkan dari sabetan Kapak Miya?


“Dino… eh, maksudku Pak Dino. Atau aku bisa memanggilmu Ayah Tino dan Tiny? Eh, terlalu panjang. Kalau begitu, aku panggil kamu Kakak saja, deh! Kakak belum terlalu tua, kan? Karena aku perhatikan, wajah kakak masih seperti anak muda yang manis.”


Miya melirikkan matanya ke atas sambil memonyongkan mulutnya. “Hmm… kakak bisa awet muda karena Death Eye, ya? Mungkin. Death Eye memang serba guna. Mata yang hebat dan dapat diandalkan. Tapi… kenapa pemiliknya tidak, ya? Hmm… masih menjadi misteri.”


“Sebenarnya apa yang dikatakan anak ini, sih?”


Sepertinya anak itu mulai berhenti mengoceh. Dino pun memberanikan diri untuk membuka mulut. “A–apa maksudmu dengan ‘pemiliknya’?”

__ADS_1


Miya memiringkan kepalanya, lalu membesarkan bola matanya. “Kakak kan punya Death Eye. Masa Kakak tidak mengerti? Hmm… apa jangan-jangan, kakak sendiri tidak tahu fungsi dari Death Eye itu? Sayang sekali.”


“A–aku tahu! Death Eye berfungsi untuk melindungi diri dari bahaya. Dan bisa saja untuk membantu orang lain!" tegas Dino.


“Oh, jadi begitu. Yang aku tahu, Death Eye itu untuk membunuh orang.” Kata Miya. Ia mengekspresikan muka marah dan menatap tajam pada Dino. “Itulah kegunaan Death Eye. Kau tahu? Kalau untuk membunuh orang lain, berarti Mata Kematian itu sama sekali tidak ada gunanya. Membunuh orang lain itu tindakan yang kejam!”


Dino tersentak mendengarnya. “Kalau menurutmu, pembunuhan itu dianggap kejam, lalu, kenapa kau sendiri tega membunuh banyak orang di luar sana?”


“Karena aku ingin membalas perbuatan kalian para Death Eye! Kalian telah membunuh Ayahku!” bentak Miya.


Dino menyipitkan mata. “Membunuh katamu? Kau tahu? Manusia Death Eye itu ada banyak jumlahnya. Dan… pastinya, orang yang telah membunuh ayahmu itu hanya berjumlah satu Death Eye. Dan kenapa kau malah membunuh banyak orang untuk balas dendam? Padahal mereka tidak bersalah, Miya Nikamura.”


Miya tersenyum. “Ooh… jadi kakak tahu namaku, ya? Menarik.”


“Heh, jadi ternyata benar. Pelaku dari semua khasus pembunuhan di kota itu adalah kamu, Miya? Tak kusangka, anak kecil sepertimu sudah berani melakukan hal seperti itu.”


“Haha… jadi, Kakak sudah tahu, ya? Tidak masalah.” Miya menggenggam kapaknya kuat-kuat dan mengangkatnya. “Kalau kakak sudah tahu, berarti Kakak juga harus mati seperti ibu itu!”


Miya berlari ke arah Dino sambil mengayunkan kapaknya itu. Ia mulai menyerang.


Dino menghindar dari serangannya. Lengah sedikit, mungkin kepalanya akan terbelah.


“Miya! Kau pasti anak baik. Tapi kenapa kau mau melakukan ini?” tanya Dino sambil terus menghindar dari ayunan kapaknya itu.


“Berisik! Karena aku harus membunuh semua Manusia Death Eye dari dunia ini untuk membalas dendam atas kematian ayahku!”


“Tapi, Miya… aku sudah bilang kalau yang membunuh ayahmu itu hanya satu orang. Dan Manusia Death Eye yang lainnya tidak mungkin bersalah.”


“Aku tidak peduli! Ibuku bilang, kalau aku harus membunuh semua Manusia Death Eye! Kalau dibiarkan saja, nanti Death Eye yang lainnya akan membunuh semua keluarga kami yang tersisah. Tidak akan kubuarkan!”


“Siapa Ibumu, Miya?”


Miya pun terdiam. Ia berdiri tegak dengan kapaknya. “Ibuku adalah Yuri Nikamura. Dia orang tuaku satu-satunya yang paling aku sayangi.”


Dino terkejut. “Yu–yuri Nikamura?! Tidak mungkin, kan?”


“Jadi, Yuri itu adalah Ibumu? Bu–bukankah dia sudah meninggal?”


“Heh, apa maksudmu? Dia masih hidup, kok! Hanya saja, dirinya sedang tidak ada di sini.” Miya kembali berlari ke arah Dino untuk menyerang. Tapi Dino sendiri hanya diam saja.


Ia sedang memikirkan tentang Yuri. Dino senang mendengar Yuri masih hidup. Tapi, kenapa dia tidak mengabarinya? Dan satu lagi, kenapa dia mengajarkan sesuatu yang tidak benar pada anaknya? Apa Yuri itu orang jahat?


“DINO! AWAAS!”


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


Ig: @pipit_otosaka8


__ADS_2