
Sore harinya, Dino akan kembali pulang ke rumah. Hari mulai gelap, tapi saat ini, Dino tidak akan langsung pulang ke rumah, tapi ia ingin kembali ke dapartement Yuri dahulu.
Karena untuk langkah awalnya, Dino ingin memeriksa kamar no.14, yaitu tempat tinggal Yuri dan juga tempat pembunuhan itu terjadi.
Saat sampai di depan dapartement terbesar di kota, Dino memarkirkan mobilnya, setelah itu ia keluar dari dalam. Lalu berjalan cepat ke dalam dapartement tersebut.
Saat masuk ke dalamnya, terlihat di sudut sana ada seorang penjaga bangunan yang berdiri di depan pintu masum. Dino meminta izin pada petugas penjaga dapartement itu agar diperbolehkan masuk ke dalamnya. Dengan senang hati, penjaga itu membiarkan Dino masuk mengelilingi gedung fapartement itu.
Dino pun mulai mencari. Mencari kamar no.14. Dimulai dari kamar no.1, ia menyusuri beberapa lorong sambil mencari kamar dengan angka no.14. Tak lama kemudian, pada akhirnya, Dino menemukan kamar itu!
"Ternyata kamar no.14 itu masih dikelilingi garis kuning polisi. Bagaimana caranya aku masuk ke dalam?" batinnya. Di depan pintu kamar, ia memainkan pita garis kuning polisi.
“Maaf, anda sedang apa di sini?”
Seseorang mengejutkannya. Dengan cepat, Dino langsung berbalik badan. Ternyata di belakangnya itu ada seorang wanita dewasa yang merupakan pengunjung yang menyewa kamar dapartement ini juga (mungkin).
“Ah, maaf! Aku hanya sedang berkeliling.” Dino menjawab.
Langkah pertama untuk mendapatkan beberapa informasi dari objek yang sedang diselidiki adalah, bertanya kepada orang dekat atau saksi mata.
“Anu… apakah anda mengenal Yuri Nakamura?” tanya Dino kepada wanita yang di depannya ini.
“Iya, saya tahu. Memangnya ada apa, ya, Pak?”
“Ah, maaf, apakah benar Yuri tinggal di kamar ini?”
Wanita itu mengangguk. “Iya, Pak. Tapi, sayangnya, Yuri sudah meninggal kemarin.”
Dino berusaha untuk mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia tidak boleh gelisah sekarang. “Oh, benarkah? Jadi, berita itu memang benar.” Gumamnya.
“Eh, apa anda tahu, kenapa Yuri bisa meninggal?” tanya Dino lagi.
“Hmm… saya belum tahu jelas, Pak. Tapi yang saya tahu, saat sebelum Yuri meninggal itu, di kamarnya sempat terdengar suara keributan. Ia selalu berteriak minta tolong. Semuanya mulai curiga dengan kamar no.14 ini. Makanya semua penghuni gedung ini berkumpul dan memeriksa kamar ini. Saat semuanya berhasil membuka pintu kamar yang terkunci ini, semuanya sangat terkejut dengan penemuan mayat Yuri yang sudah hancur. Karena tubuhnya termutilasi, dan bagian potongan-potongan tubuhnya itu berantakkan ke mana-mana.” Jelas Wanita itu.
Dino mengangguk paham. “Jadi begitu. Hmm… apakah anda yakin kalau itu mayat Yuri?”
“Belum 100% sepenuhnya yakin, Pak. Soalnya, saat ditemukan, kepala Yuri memang sudah menghilang. Jadi kita juga tidak tahu yang meninggal itu benar-benar Yuri atau bukan.” Jelasnya lagi.
Baiklah, Dino juga masih belum yakin dengan kematian Yuri. Tapi walaupun begitu, Dino akan tetap mencari tahu. Kalau memang Yuri masih hidup, maka ia akan mencari keberadaanya.
Dino sudah dapat informasi yang lumayan penting baginya. Sekarang, ia juga harus mencari tahu keberadaan pelaku dari misteri kematian mendadak yang lagi tersebar di kota itu.
****
“Ayah pulang!”
Sesampainya di rumah, rasanya tubuh Dino langsung melemah. Pulang kerja hari ini memang sangat melelahkan. Chelsea menyambut dirinya di depean pintu. Lalu dia membawa Dino ke kamar.
“Bagaimana? Apa kau sudah menemukan Yuri?” tanya Chelsea.
“Entahlah, Chelsea. Banyak orang yang percaya kalau Yuri sudah meninggal karena pembunuhan kemarin itu. Tapi aku juga masih belum percaya karena, tidak ada bukti yang kuat untuk menunjukkan kalau mayat yang mereka temukan itu benar-benar mayat Yuri atau bukan. Apa kau punya kesimpulan untukku?”
__ADS_1
“Hmm… bagaimana, ya? Apa kau tahu? Tentang apa yang membuat orang-orang itu percaya kalau orang yang dibunuh itu adalah Yuri?” tanya Chelsea.
“Banyak. Dari kartu identitas Yuri yang menunjukkan kalau nama aslinya itu benar-benar Yuri Nakamura yang berasal dari Jepang. Lalu kejadiannya juga terjadi di kamar Yuri sendiri. Saksi matanya juga banyak, kalau mereka sendiri mendengar suara gaduh dari dalam kamar Yuri dan beberapa detik-detik Yuri terbunuh.” Jelas Dino.
Chelsea mengangguk. Lalu dia menghela napas pelan. “Huh, maaf aku mengatakan hal ini, karena sebenarnya, aku sendiri sudah percaya dari awal kalau Yuri itu benar-benar sudah tidak ada.”
Dino menyentakkan matanya. Ia menghembuskan napas panjang. “Baiklah kalau begitu. Kau benar, Yuri memang sudah pergi dari dunia ini untuk selamanya.”
Seandainya Dino tahu kalau hal ini akan terjadi, maka ia akan selalu bersiap untuk menjadi pelindung bagi Yuri. Karena, dia adalah teman yang terbaik untuknya. Dink sangat menyesal sudah memperlambat waktunya untuk datang menyelamatkan wanita itu disaat dia sedang meminta pertolongannya lewat telpon.
"Aku ini benar-benar teman yang tidak berguna!" batinnya. Ia menyalahkan diri sendiri. "Bahkan aku sendiri, lupa. Kapan terakhir kalinya aku bersama dengan Yuri. Payah! Benar-benar Payah! Wanita itu sudah sangat baik padaku, dan sekarang aku tidak bisa untuk membalas kebaikkannya. Semua sudah terlambat!"
“Ayah… boleh kami masuk?” Perlahan pintu kamar terbuka. Ternyata di depan sana ada Tino dan Tiny.
“Maaf anak-anak, ayah kalian ingin beristirahat dahulu.” Ujar Chelsea lirih.
“Ah, tidak apa-apa. Masuk saja, kalian berdua.”
Tino dan Tiny perlahan melangkahkan kakinya. Berjalan mendekati Dino. “Apa yang ingin kalian bicarakan pada ayah?”
Tino dan Tiny menundukkan kepalanya. Mereka terdiam. Lalu Tiny sedikit menyenggol badan kakaknya. Dino menelengkan kepala. "Ada apa dengan si kembar? Apa yang ingin mereka katakan sampai mereka ragu untuk mengatakannya seperti itu?"
Tak lama kemudian Tino mulai membuka mulutnya. “Jadi begini, ayah. Kami ingin mengakui sesuatu. Emm… sebenarnya, kami tahu siapa pelaku dibalik misteri kematian mendadak yang terjadi di sekolah kami.”
Dino dan Chelsea terkejut. “Siapa pelakunya?!” tanya Dino dan Chelsea bersamaan.
Suara mereka membuat Tino dan Tiny terkejut. Karena suaranya seperti sedang membentak si kembar. Padahal tidak. Entah kenapa, setelah Dino dengar perkataan Tino itu, tiba-tiba saja ia jadi lebih penasaran.
Tino menghembuskan napas panjangnya. Dia akan berusaha memberanikan diri untuk mengatakan hal yang sebenarnya. “Pelakunya adalah… dia…” Tino masih sedikit ragu.
Chelsea terkejut. “Apa yang kau maksud itu, Tina si anak berambut panjang itu?”
Tino dan Tiny mengagguk.
“Eh? Kau tahu anak yang dimaksud Tino dan Tiny itu, Sea?” tanya Dino.
“Iya. Karena aku pernah menghantarkan pulang anak kecil itu ke rumahnya.” Chelsea kembali menatap anak-anaknya. “Ba–bagaimana anak kecil seperti dia bisa melakukan semua itu? Eh, kalian jangan tuduh orang sembarangan, ya? Itu tidak baik.”
“Maaf, Bu! Kami tidak menuduhnya, tapi kami mendapatkan beberapa bukti yang menunjukkan kalau dirinya itulah yang telah membunuh puluhan nyawa di sekolah kami.”
Tino menengok ke Tiny. “Eh, Ni! Tunjukkan bukti yang sudah kau kumpulkan itu.”
Tiny mengangguk. Lalu dia mengeluarkan Notebook-nya itu. Tiny sudah menulis semua bukti dan dirangkumnya menjadi satu. Ia memberikan buku kecilnya itu pada Dino dan Chelsea.
Seperti yang sudah tertulis di buku kecil itu. Di sana tertulis kalau Tina (Miya Nikamura) memiliki Death Eye S.S. yang terdapat di kedua matanya, sehingga ia dapat membunuh orang banyak dengan mudah.
Bukti pertama, saat anak pertama yang menjadi korban itu meninggal disebabkan oleh serangan Death Eye milik Tina. Begitu seterusnya sampai semua anak yang berkumpul di tempat kejadian itu ikut menjadi korban selanjutnya.
Semua orang jadi berfokus pada anak-anak yang menjadi korbannya itu. Saat Tina menyadari kalau darah dari salah satu Death Eye miliknya sudah keluar, Tina pun memanfaatkan kesempatan itu untuk segera berlari ke toilet dan membersihkan darahnya selagi tidak ada yang melihat. Karena sudah terlanjur terlalu banyak, maka darah itu pun tak sengaja menetes ke lantai sampai mengarah ke toilet.
Tina memang sangat pintar. Dia sengaja memasuki toilet laki-laki agar semua orang menganggap kalau pelakunya itu bukanlah anak perempuan, termasuk dirinya.
__ADS_1
Saat di salah satu toilet, Tina memang sengaja tidak membersihkan darah dari matanya itu dengan air, melainkan, ia malah membiarkan darahnya itu mengalir dan berjatuhan ke lantai kamar mandi. Sedikit cipratan dari tetesan darahnya itu mengenai sepatunya.
Lalu, setelah pendarahan berhenti, Tina akan membersihkan sisah darah di wajahnya itu dengan sapu tangan miliknya. Setelah itu, Tina membiarkan sisah darah di lantai kamar mandi itu dengan tujuan untuk mengejutkan anak-anak lain yang menggunakan toilet. Darah yang Tino lihat di dalam toilet adalah darah dari Death Eye Tina.
Setelah semuanya beres, Tina segera keluar dari dalam toilet laki-laki itu dengan aman, karena semua anak sudah tidak ada. Semua orang sudah berada di tengah lapangan.
Saat kembali pada Tino dan Tiny, Tina bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tetap saja tenang. Tapi, ia tidak sadar kalau ada setetes darah yang menempel di sepatunya itu. Untung saja, Tiny sempat melihatnya.
Tak lama setelah kejadian itu, Tina bersikap agak aneh kepada Tino dan Tiny. Anak itu lebih sering berkeluyuran entah ke mana di saat jam pelajaran sedang berlangsung. Dengan alasan ia ingin pergi ke toilet, Tina dapat melanjutkan rencananya untuk membunuh anak lain. Tujuannya belum jelas, kenapa ia ingin membunuh beberapa anak yang tidak bersalah itu.
Tiny juga menulis, kalau Tina lah yang sudah menyebabkan kecelakaan pada dirinya. Penyebab Tino terluka karena terjatuh ke dalam jurang, itu juga karena perbuatan Tina.
Lalu, setelah Tina mencelakai Tino dan Tiny, Tina pun menghilang dari sekolah. Ia tidak pernah masuk sekolah lagi.
Setelah ia sudah tidak bersekolah, Tina malah bertekat untuk membunuh langsung anak-anak di sekolah dengan senjata tajam secara sadis. Tapi, anak yang ia incar adalah para murid yang memiliki Death Eye.
Pembunuhan sadis di sekolah itu menjadi terror di sekolah. Sampai sekarang, anak yang bernama Tina itu masih saja berkeliaran di sekitar sekolah, maupun di seluruh Kota.
Dino menghembuskan napas berat setelah membaca semua itu. Ia tidak pernah menduga kalau pelakunya adalah anak kecil.
“Ternyata anak itu benar-benar mempunyai mental yang kuat, ya?” gumam Chelsea.
“Tina…? Anak kecil berambut panjang itu. Jadi namanya Tina? Anak itu pernah masuk ke dalam mimpiku. Di dalam mimpiku, anak yang bernama Tina itu… telah membunuh Tiny! Astaga… kenapa aku memikirkan mimpi itu lagi!” pikir Dino dal hati.
“Apa kau yakin kalau anak itu memiliki Death Eye?” tanya Chelsea.
Tino dan Tiny mengangguk. “Iya. Tapi kami juga belum pasti. Hanya dugaan kami saja.”
Dino mengangguk. Sekarang, pelaku yang telah membunuh banyak orang itu adalah Tina, si anak berambut panjang yang keji.
Dino juga belum pasti kalau anak itu bersalah. Tapi, untuk saat ini, ia akan fokus mencari tahu tentang anak perempuan bernama Tina.
****
Tiny menaiki tempat tidur tingkatnya. Dan Tino mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur yang di bawah.
“Haha… aku lega telah mengatakannya. Bagaimana denganmu, Tiny?” tanya Tino.
Tiny mengacungkan jempolnya pada Tino dari atas sana. Lalu setelah itu, Tiny menarik selimutnya dan memeluk guling dan boneka burung hantunya. Wajahnya terlihat sedih.
“Padahal, belum 100% aku menyukai hal ini. Tina sudah menjadi teman terbaik yang kumiliki. Dan sekarang, aku telah mengumbar aib keburukannya. Tapi, semua itu memang fakta. Tetap saja aku tidak enak dengannya.” Batin Tiny dalam hati.
Lalu dia membalikkan badannya menghadap ke tembok. “Huh, sekarang Tina sedang berada di mana? Aku sudah lama tidak melihat dirinya. Aku ingin sekali bertemu dengannya.”
Suasana di kamar si kembar menjadi hening. Tino sudah tertidur. Dan Tiny masih memikirkan sesuatu sambil menutup matanya, berusaha untuk tidur. Yang terdengar hanya suara dari burung hantu milik si kembar yang suka berbunyi karena hewan itu aktif di malam hari.
*
*
*
__ADS_1
To be continued–
IG: @pipit_otosaka8