
Pagi harinya, Dino berangkat bekerja. Sedangkan Tiny akan dihantar ke sekolah dengan Aldy dan Dio. Akhir-akhir ini, Manajernya Dino selalu memintanya untuk datang pagi sekali.
Tino dan Tiny tidak akan sempat ia hantar ke sekolah. Jadi, ia akan menyerahkan semuanya pada Aldy. Dino hanya meminta temannya itu untuk mengantar Tino dan Tiny.
Itu saja. Tidak banyak.
Untuk pagi ini, Tiny juga akan berangkat lebih pagi karena dia ada jadwal piket di sekolah.
“Pagi, Tiny!” sapa Dio setelah ia membuka pintu mobilnya.
Tiny mengangguk sambil melambaikan tangannya. Kemudian Dio melirik-lirik ke sekitar Tiny. Dia sedang mencari seseorang.
“Eh, kok tidak biasa, yah?” gumam Dio bingung. “Eh, Tiny! Di mana kakakmu, Tino?” tanyanya.
“Tino berada di rumah sakit saat ini. Dia tidak masuk sekolah dulu untuk hari ini. Jadi tolong bilangin ke wali kelasnya, yah. Kalau Tino tidak bisa masuk untuk hari ini.” Dino yang menjawab.
“Hah? Tino masuk rumah sakit!? Dia kenapa?” tanya Dio.
“Sesuatu yang buruk telah menimpa dirinya. Tapi kau tidak perlu khawatir, Tino baik-baik saja, kok.”
“Oh, syukurlah. Nanti kita jenguk Tino, yuk, Ayah!”
“Ta–tapi Ayah harus bekerja hari ini.”
“Ah, Ayah tidak asik!” Keluh Dio.
“Ahaha… tidak apa, Dio. Kau bisa pergi bersama Tiny setelah pulang sekolah nanti.” Katanya lagi.
“Yah, oke. Baiklah!”
“Ya, Dino! Kami berangkat dulu, yah! Jaga dirimu baik-baik!” Kata Aldy. “Oh, iya. Jangan lupa bayaran ku, ya?”
“Eeeh… bilang apa kau!?”
“Ah, tidak! Tidak! Aku bercanda. A–aku akan pergi sekarang!” panik Aldy sambil menginjak pedal gasnya dengan cepat.
Dino tertawa kecil setelah Aldy pergi. Lalu ia melambai sambil berteriak. “Yaaa! Terimakasih. Semoga harimu menyenangkan, Dy!”
“Oke!”
“Hmm… jika Tino tidak ada hari ini, maka Alivia akan semakin menjadi pada Tiny. Tiny bisa habis dibully dengan Alivia dan kelompoknya. Apa untuk sementara aku jadi pelindungnya saja? Aku juga tidak tega membiarkan Tiny diperlakukan seperti itu lagi.” Pikir Dio.
Seperti biasa, Aldy selalu terburu-buru. Tapi dengan sikap yang seperti itu, dia bisa menjadi orang yang disiplin.
Sekarang Dino juga harus berangkat bekerja hari ini. Tapi sebelum itu, ia ingin pergi ke Rumah Sakit dahulu untuk menghantarkan baju ganti buat Chelsea di sana.
****
Lokasi: Rumah sakit Death Eye Humanity–
Kamar no.13 adalah kamar rawat Tino. Dino masuk ke dalamnya untuk menemui Chelsea dan Tino.
Saat di dalam sana, ia melihat Chelsea sedang memainkan ponselnya sambil duduk di atas kursi. Setelah wanita itu melihatnya, Chelsea langsung menutup Ponselnya dan menyapa Dino.
Dino pun tersenyum dan berjalan menghampirinya. Ekspresi wajahnya berubah saat mata kanannya melirik ke arah Tino. Anak laki-lakinya ternyata masih belum sadar. Kenapa lama sekali? Ia rindu dengan suaranya yang imut itu.
__ADS_1
“Dino? Kau tidak bekerja hari ini?” tanya Chelsea.
“Iya, nanti. Eh, ini baju ganti untukmu. Sudah ku bawakan.” Jawab Dino sambil memberikan tas berisi pakaian Chelsea.
Chelsea terkejut dan wajahnya memerah. “Eeeh! Kau yang mempersiapkan ini?”
“Tidak. Tiny yang mempersiapkannya. Aku hanya mengantarkannya padamu. Coba gantilah. Tiny menyiapkan baju yang bagus untukmu.”
“Oh, oke. Nanti aku akan meninggalkan Tino sebentar di sini selagi aku pergi ke Toilet rumah sakit.” Kata Chelsea dengan nada tidak enak.
“Baiklah kalau begitu, kau pergi saja. Aku yang akan menunggunya di sini,” Ujar Dino. “Tapi mungkin aku akan sedikit telat hari ini.”
“Tidak usah. Pergilah bekarja. Daripada telat. Entar kena marah Manajermu lagi, lho!”
“Ah, baiklah.” Dino menurut.
“Oke, aku juga tidak akan lama.”
Dino mengangguk. Lalu mereka berdua pergi meninggalkan Tino di ruangannya. Chelsea pergi ke Toilet untuk mengganti baju, sedangkan Dino pergi ke pintu luar untuk pergi ke tempat kerjanya.
Tak lama setelah mereka pergi, tangan Tino bergerak dan dia perlahan membuka matanya. Tino melirik ke sekitarnya dengan bingung.
Lalu ia bangun dari posisi tidurnya dan beralih ke posisi duduk. Dia menyandarkan tubuhnya pada bantal yang sudah ia susun di belakangnya.
“Apa yang telah terjadi sampai-sampai aku dibawa ke rumah sakit ini?” batin Tino bingung.
Ia memegang kepalanya. Tino berusaha untuk mengingatnya. Tapi yang ia ingat hanya kejadian saat mobil ibu yang ditumpanginya itu menabrak pohon. Setelah itu, Tino tidak tahu apa-apa lagi.
Tino mengira kalau dirinya dibawa ke rumah sakit ini karena kecelakaan mobil yang dialaminya. Tapi setelah Tino pikir-pikir lagi, bukankah dia menaiki mobil itu bersama Ibu dan adiknya?
Tino semakin bingung saja. Dia tidak tahu apa-apa. Kepala dan dadanya terasa sakit. Luka di dadanya itu telah menghilang dengan cepat. Makanya Tino tidak dapat melihatnya lagi.
Tino pun melirik ke samping kanannya. Dia melihat ada sebuah kertas di atas meja. Lebih tepatnya, itu amplop surat yang berisi kertas dengan pesan di dalamnya.
Tino mengambil amplop itu dan membukanya. Di dalamnya berisi sebuah kertas dengan beberapa tulisan kecil. Tino tahu itu tulisan adiknya. Tino pun membaca surat itu dalam hati.
‘*Kakak, terimakasih karena sudah menyelamatkanku. Kau selalu benar dan aku selalu salah. Maaf aku sudah marah padamu. Kau melakukan itu semua hanya untuk melindungiku. Aku sangat berhutang budi padamu. Tapi untuk lain kali, kakak jangan menggunakan kekerasan lagi untuk membelaku. Jujur, aku suka dengan keberanian kakak. Kalau begitu, kakak boleh membalas orang-orang yang sudah menyakitiku, tapi hanya untuk memberikan mereka sedikit pelajaran yang lembut.
Oh iya, satu lagi. Kumohon… kumohon… kumohon sekali pada kakak untuk tidak marah kepada*….’
Tino tersentak. Tulisan di dalam surat itu hanya berakhir sampai situ saja. Dia penasaran dengan kelanjutannya.
Sangat penasaran.
Ia ingin tahu permintaan adiknya pada paragraf keduanya itu. Tino kembali melipat kertas itu dan memasukkan ke dalam amplop, lalu meletakkanya kembali di atas meja.
Lalu tak lama kemudian, ada seseorang yang datang dan membuka pintu. Itu Chelsea. Tino senang Ibunya baik-baik saja.
“Tino! Kau akhirnya sadar juga, sayang!” ucap Chelsea senang. Dia berjalan cepat dan langsung memeluk Tino. “Kau baik-baik saja, kan, Nak?”
“Iya. Aku baik!” jawab Tino.
Chelsea kembali memeluk Tino lagi lalu melepaskannya. Setelah itu, Tino melihat penampilan Ibunya. Ibunya terlihat sangat cantik hari ini.
Dia memakai baju dress pendek dengan celana panjang. Bando dengan pita kecil di rambutnya dan sepatu berbunga. Tino serasa sedang melihat Ibunya seperti anak muda, padahal umurnya sudah 29 tahun.
__ADS_1
“Wow, Ibu terlihat cantik sekali hari ini.” Puji Tino.
Chelsea tersipu. “Ah, masa sih?”
“Iya. Darimana Ibu mendapatkan baju itu?” tanya Tino.
“Oh, ini baju yang dipesiapkan adikmu, Tiny. Ayah yang membawakannya ke sini.” Jawab Chelsea.
Tino hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi. Kemudian dia melirik ke amplop berisi surat yang ditulis Tiny tadi.
“Tiny, aku masih penasaran dengan lanjutan dari suratmu itu.” Gumamnya dalam hati.
Ngomong-ngomong soal Tiny, Tino jadi teringat dengan keberadaan Adiknya. “Ibu, Tiny di mana?” Ia pun bertanya.
“Tiny sedang berada di sekolahnya saat ini. Kan dia harus mengikuti ujian tengah semester hari ini. Kamu juga seharusnya ikut hari ini, tapi sayang, kamu sedang sakit. Mungkin kamu bisa menyusul ujian itu nanti. Makanya cepat sembuh, Tino!” Jelas Chelsea lirih sambil mengelus-elus kepala Tino.
“Iya, Bu!”
“Nasib sial yang dikatakan Alivia berjalan sesuai dengan harapannya. Aku sudah seperti ini dan tidak dapat melindungi Tiny. Kini Tiny bersekolah tanpa aku? Tidak. Ini gawat! Tanpa aku, Tiny akan celaka. Alivia dan teman-temannya pasti sedang berbuat jahat pada Tiny saat ini. Tapi, semoga saja Tiny baik-baik saja. Tuhan, tolong lindungi dia.” Batin Tino memohon.
“Oh iya, Tino! Kamu mau apel?” tanya Chelsea.
“Iya, boleh.”
****
Saat di sekolah, semua anak sedang berpikir keras dan fokus mengerjakan soal di kertas ulangan mereka. Menurut peraturan dari pengawas ujian, bila ada yang sudah selesai dengan tugas mereka, segeralah mengumpulkan kertas itu pada pengawas dan segera keluar dari ruang kelas.
Berjam-jam telah berlalu. Dari 25 anak di kelas, hanya Tiny saja yang sudah menyelesaikan tugasnya. Tiny anak pertama yang sudah mengumpulkan kertasnya dan pergi keluar kelas.
Sambil menunggu bel istirahat, Tiny hanya berdiri sambil bersandar di samping pintu kelas. Dia berharap ada yang sudah selesai dan menemani dirinya di sana.
“Kenapa lama sekali. Aku kesepian di sini. Tino tidak datang untuk menemaniku karena dia sedang sakit. Membosankan tanpa dirinya.” Keluh Tiny dalam hati.
Lalu tiba-tiba saja, perutnya terasa sakit. Dia ingin ke Toilet sebentar. Tiny pun berlari cepat menuju Toilet.
Saat sampai di sana, Tiny segera memasuki kamar mandi yang pertama. Setelah dia selesai, Tiny membenarkan penampilannya. Lalu dia melirik ke bawahnya.
Ada bayangan seseorang yang datang di depan pintu kamar mandi tempat Tiny berada. Ada 2 orang yang berjalan. Pikir Tiny, itu hanya seorang siswa yang ingin buang air. Bayangan manusia itu memasuki kamar mandi ke 2, yaitu tepat di samping Tiny.
Baiklah, karena semua sudah rapih kembali, Tiny akan keluar dari sana. Tapi tiba-tiba, terdengar suara ribut dari kamar mandi di samping Tiny.
Tapi suara itu hanya sekilas saja. Tiny berharap tidak terjadi apa-apa. Dia memutar kenop pintu itu dan hendak ingin keluar. Tapi sebelum keluar, Tiny terkejut. Karena dia melihat ada darah manusia yang mengalir dari celah samping kamar mandinya.
"A–apa itu?!"
*
*
*
To be continued–
Follow Ig: @pipit_otosaka8
__ADS_1