The Death Eye

The Death Eye
Eps 21– Menunggu Yuri


__ADS_3

Di dalam kamar, Dino dan Chelsea sedang membicarakan tentang kematian Yuri Nikamura.


“Jadi, menurutmu, Yuri itu masih hidup?” tanya Chelsea gugup.


“Iya!” jawab Dino cepat. “Karena aku yakin, kalau yang meninggal di dapartement itu bukanlah Yuri temanku. Itu pasti orang lain.”


“Kenapa kau begitu yakin sekali kalau itu bukan Yuri?”


“Yaa… karena memang tidak ada bukti kalau yang meninggal itu Yuri Nikamura yang ku kenal. Karena, saat mayatnya ditemukan itu, tubuhnya memang sudah termutilasi dan kepalanya menghilang. Itu juga belum pasti kalau mayat yang mereka temukan itu adalah tubuh Yuri, kan?”


“Oh, jadi begitu. Hmm… sekarang, apa yang akan kau lakukan?” tanya Chelsea lagi.


“Kita lihat besok. Kalau besok dia tidak bekerja, maka aku akan mulai mencari dirinya. Dan kalau memang benar Yuri sudah tiada, maka aku akan menyelidiki tentang pembunuhannya itu.”


“Oke.”


“Ah, aku harap, aku bertemu Yuri di kantor besok.”


****


Keesokan harinya….


Dino sudah siap berangkat. Kali ini, ia berangkat lebih pagi lagi. Ia ingin menunggu Yuri dan bertemu langsung dengannya untuk membuktikan kalau Yuri itu belum meninggal.


Seperti biasa, anak-anak akan diantar oleh Aldy. Chelsea akan menjaga dirinya baik-baik di rumah. Perasaannya Dink jadi tenang. Tapi tetap saja, ia masih kepikiran tentang Yuri. Dino selalu berharap kalau hari ini, ia pasti bisa bertemu dengannya.


****


Lokasi: Gedung Pusat SDEH–


Saat sampai di tempatnya bekerja, Dino langsung turun dari mobil. Lalu berjalan secepatnya menuju ruangannya. Di dalam sana, sudah banyak orang yang menyapa Dino. Tapi, ia belum melihat wajah orang yang ia cari itu.


Eh, tapi untuk hari ini, Dino tidak pergi ke ruangannya dulu. Ia langsung saja menaiki beberapa anak tangga untuk menuju ke lantai dua. Ruangan perawat Death Eye Kids. Karena di ruangan itulah, Dino selalu bertemu dengan Yuri setiap pagi.


Saat ia memasuki ruangan, Dino tidak menemukan Yuri. Di kamar, hanya ada para balita yang sedang tidur. Di ruang bermain, ada beberapa anak kecil yang sedang bermain bersama.


Lalu di dapur tidak ada. Biasanya Yuri selalu membuat makanan di dapur itu. Kamar mandi juga tidak ada. "Apa aku terlalu pagi? Makanya Yuri belum datang. Kalau begitu, aku akan menunggunya!"


****


Di kantin sekolah, Tino dan Tiny sedang memakan jajanan mereka sambil membicarakan sesuatu yang lucu. Lalu tak lama kemudian, ada 2 anak murid yang berjalan ke arah meja kosong di samping si kembar. Kedua anak itu duduk di sana. Mereka juga sedang membicarakan sesuatu.


Tino sedang menceritakan cerita yang lucu pada Tiny, tapi Tiny hanya fokus kepada kedua anak yang duduk di samping mejanya itu. Tiny menguping pembicaraan mereka.


Ternyata mereka sedang membicarakan tentang kasus kematian mendadak yang pernah terjadi di sekolahnya itu.


“Kau tahu tidak? Kematian mendadak yang sedang ramai diperbincangkan itu kembali terjadi lagi loh!”


“Eh, benarkah? Seram sekali! Siapa pelaku sebenarnya, sih!?”


“Aku juga tidak tahu. Aku harap, pelakunya cepat ditemukan. Kalau pelakunya itu dapat ditangkap dengan cepat, maka akan membahagiakan banyak orang termasuk dengan diriku. Aku senang pembunuh itu segera ditangkap!”


“Iya, menyebalkan sekali. Aku harap juga seperti itu.”


Setelah mendengarnya, Tiny bergumam dalam hati, “Mereka senang kalau pelakunya ditangkap? Hmm….”


“Tiny? Tiny!”


Tiny terkejut. Tiba-tiba saja, kakaknya memanggilnya. “Tiny! Ternyata dari tadi, kau tidak mendengarkan ku, ya?”

__ADS_1


Tiny tersentak. Dia menulis cepat. ‘Ah, kakak, maaf! Aku sedang mendengar mereka berbicara.’


Tino sedikit melirik ke sampingnya. Ia mengangguk paham. Lalu Tiny kembali menulis. ‘Eh, ayo kita pergi dari sini, Kak!’


“Kau mau ke mana?” tanya Tino.


‘Ke Perpustakaan.’


“Oke, ayolah.” Tino dan Tiny berdiri dari tempat duduknya. Lalu beranjak pergi meninggalkan kantin. Mereka akan pergi ke perpustakaan. Yaitu, tempat yang paling disukai Tiny di sekolahnya.


Saat sampai di sana, Tiny membuka pintu ruang perpustakaan itu dengan perlahan. Ia melihat ke sekeliling, lalu setelah itu, Tiny dan Kakaknya memasuki ruangan perpustakaan yang menyimpan banyak buku.


Tiny pergi ke rak keempat, sedangkan Tino ke arah yang lainnya. Di rak keempat itu, Tiny sedang mencari buku novel yang bagus. Tapi, saat sedang memilih, Tiny tidak sengaja menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah buku tebal berwarna coklat gelap yang terletak di bagian paling atas rak keempat itu. Tiny ingin mengambil buku tersebut, tapi Tiny tidak dapat meraihnya. Sangat sulit dan tinggi. Sedangkan tubuhnya pendek.


“Sini, biar ku ambilkan!”


Terdengar suara seorang wanita yang ada di samping Tiny. Tiny tersentak, karena yang ia lihat itu adalah si penjaga perpustakaan. Penjaga perpustakaan itu mengambilkan buku berwarna coklat yang ingin Tiny dapatkan itu.


Setelah ia mendapatkan bukunya, Tiny mengangguk kepada si Penjaga lerpustakaan itu untuk mengucapkan “Terima kasih” padanya.


Tiny akhirnya bisa mendapatkan buku coklat yang tebal itu. Si Penjaga perpustakaan tersenyum pada Tiny. Setelah itu, ia pergi kembali ke tempatnya dan meninggalkan Tiny.


“Wah… kau hebat bisa mendapatkan buku itu.”


Tiny terkejut. Tiba-tiba saja, dia mendengar ada suara seorang anak laki-laki yang ada di belakangnya. Suara itu bukanlah suara Kakaknya. Tiny pun berbalik badan. Ternyata yang ada di belakang Tiny itu adalah si Ramza.


“Eh, jangan takut. Ini aku Ramza. Kau masih ingat aku, kan?”


Tiny mengangguk cepat. Ramza mendekati Tiny. Ia melihat buku yang di pegang Tiny itu.


“Eh, ini buku tentang manusia berkemampuan khusus.”


“Ini, jadi, buku ini menjelaskan tentanganusia-manusia yang memiliki kemampuan khusus seperti Death Eye dan lain-lain.” Jelas Ramza. Lalu ia membuka buku itu. Mencari daftar isi dari buku tersebut.


Tiny menulis. ‘Kemampuan Khusus? Memangnya ada kekuatan lain yang dimiliki manusia selain Death Eye?’


Ramza mengangguk. “Iya, tentu saja ada. Dengan membaca buku ini, kita bisa tahu. Karena, buku ini adalah buku sejarah yang sudah lama tidak dibaca. Lihat, sudah berdebu!”


‘Kalau begitu, ayo kita baca saja!’


Ramza kembali mengangguk. Lalu dia membuka beberapa halaman buku itu. Tapi belum saja dibaca, tiba-tiba saja bel masuk kelas berbunyi.


“Hmm… kita baca ini lain kali saja, ya? Sudah dulu, aku akan kembali ke kelas.” Ramza berdiri dari kursinya. “Kau mau ke kelas bersamaku?”


Tiny menggeleng. Lalu dia menulis. ‘Tidak. Aku bersama dengan Kakakku saja.’


“Eh? Kau punya Kakak?”


Tiny hanya mengangguk.


“Hmm… baiklah kalau begitu. Aku duluan, ya?” Ramza melambai ke arah Tiny sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Tiny.


Tiny juga melambai pada Ramza. Lalu tak lama setelah Ramza pergi, Tino datang menghampirinya.


“Ayo cepat, Tiny! Sudah waktunya masuk ke kelas kita.” Ajak Tino cepat sambil menarik tangan Tiny.


Tiny ingin meminjam buku coklat tebal itu, tapi terlambat, karena Tino sudah menariknya pergi menjauh dari buku itu. Mungkin, Tiny bisa membacanya lain waktu.


Sesaat setelah Tino dan Tiny pergi, ada seseorang yang mengambil buku coklat tebal dari atas meja membaca. Orang itu membawa buku coklat itu pergi.

__ADS_1


****


Dino sudah lama menunggu Yuri. Kenapa dia belum datang juga? Pikirannya jadi kacau. Ia selalu memikirkan keadaan Yuri. "Apa benar dia sudah meninggal? Tidak mungkin, kan?"


Saat ini Dino sedang memberi makan anak-anak di ruang bermain mereka. Lalu tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruang bermain. Dino tersentak. Itu pasti Yuri!


Secepatnya ia bukakan pintu dan ternyata yang ada di depan pintu itu adalah….


Chelsea?


“Hai, sayang! Ini, aku bawakan bekal untukmu. Tadi tertinggal di rumah.” Ujar Chelsea sambil memberikan tempat bekalnya Dino.


Dino menerimanya sambil tersenyum. “Iya. Terima kasih, sayang.”


“Oh, hei, kau sedang apa saat ini? Apa ada Yuri bersamamu?” tanya Chelsea.


“Tidak. Yuri tidak datang. Apa mungkin benar kalau mayat di sapartement itu adalah mayat Yuri?”


Chelsea menggeleng. “Aku tidak tahu.”


“Oke kalau begitu. Chelsea! Aku akan pulang telat hari ini.”


Chelsea terkejut. “Eh!? Jangan bilang kalau kau ingin menyelidiki tentang kematian temanmu itu.”


“Iya. Memang itu yang ingin kulakukan. Jika benar kalau Yuri sudah meninggal, maka secepatnya akan kucari pelaku pembunuhnya!”


“Haduh, Dino, kau ini tidak pernah berubah, ya!” gumam Chelsea. “Oke, baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke rumah, ya?”


“Iya, sayang. Sampai jumpa!”


“Ya. Kau berhati-hatilah!”


****


Saat pulang sekolah, Tino dan Tiny sedang berjalan bersama menuju pintu gerbang. Tidak hanya berdua, mereka pastinya juga bersama dengan Dio.


Tino dan Dio sedang mengobrol bersama sambil bercanda. Sedangkan Tiny yang ada di samping Tino hanya berdiam diri. Dia sedang memikirkan sesuatu.


“Semua orang pasti akan senang jika pelaku dibalik misteri kematian mendadak itu segera diketahui identitasnya dan segera ditangkap. Apa aku telah melakukan kesalahan karena telah menyembunyikan pelakunya? Padahal, aku hanya ingin melindungi ‘dia’ karena aku tidak ingin ‘dia’ ditangkap polisi. Bagaimana kalau aku bilang ke ayah saja. Mungkin, aku akan sedikit membantu ayah. Maafkan aku….” Tiny memikirkan sesuatu di dal hatinya.


“Nah, Tiny? Sekarang, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Tino yang sedang duduk di pinggir Kasur di kamarnya.


Tiny menulis. ‘Kakak, sebaiknya kita memberitahu ayah soal pelaku si pembunuh di sekolah itu.’


Tino terkejut. “Hah? Kenapa tiba-tiba?”


Tiny kembali menulis. ‘Aku ingin membantu Ayah.’


Tino mengangguk paham. “Hmm… baiklah kalau begitu. Terserah padamu.”


Tiny berusaha menahan dirinya. Padahal dia tidak ingin melakukan itu, tapi dengan cara ini, Tiny bisa melakukan hal yang baik dan benar untuk dirinya, walaupun berat untuk menerimanya.


*


*


*


To be continued–

__ADS_1


IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2