
“Aku akan membalas perbuatan kejimu itu!” bentak Dino.
Devan tidak hanya diam saja. Ia menelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia juga akan menggunakan kekuatan matanya itu untuk melawan Dino.
Mata Devan memiliki kekuatan sama seperti adiknya, Liena. Hanya saja, kebanyakan orang bilang kalau mata Devan itu lebih kuat. Kedua matanya berubah menjadi merah, dan dia langsung menatap tajam pada Dino.
Ia tersenyum keji dan akan segera memulai serangannya. “Akan kubunuh kau!!”
30 detik sudah lewat. Dino tersentak. Ia mengedipkan matanya beberapa kali. Ada yang aneh.
Kekuatan matanya ternyata tidak ada pengaruhnya pada Devan!
Melihat Dino gagal menggunakan matanya, Devan pun tertawa. “Haha … percuma saja kau memakai matamu padaku. Tidak akan terjadi apa-apa! Sekarang giliranku! Berhati-hatilah kau….”
Mata Devan menjadi warna merah menyala. Lalu semua benda yang ada disekitarnya melayang ke udara, termasuk tubuh Dino juga!
Chelsea terkejut. Ia merasakan ada kekuatan besar dari dalam tubuh Devan itu.
“Dino… Kau tidak akan sanggup melawannya. Dia terlalu kuat!” batin Chelsea cemas.
“Akh! Kekuatan apa ini!? Aku tidak bisa bergerak!” batin Dino panik.
Seluruh ruangan itu berubah menjadi merah akibat dari sinar cahaya yang keluar dari mata Devan yang menyala. Lalu dari beberapa barang yang ikut melayang itu langsung melayang cepat menghampiri dan menabrak tubuh Dino.
Ada beberapa pisau dan kapak yang menancap di sekujur tubuhnya. Dino hanya bisa berteriak merintih kesakitan. Lalu setelah itu, Devan melirikkan matanya ke bawah dan otomatis tubuh Dino juga ikut terbanting ke lantai kayu berdarah.
Dia menghentikan kekuatan matanya. Mata Devan kembali seperti semula. Lalu barang-barang yang melayang itu pun langsung berjatuhan. Dino tertelungkup di lantai. Devan berjalan ke arahnya, lalu menginjak kepalanya.
“Apa kau sudah menyerah, No?” tanya Devan lirih.
“Tidak. Tidak akan! Aku tidak akan menyeraaah!!” Dino membantak dan langsung kembali bangkit berdiri.
Dino menggocoh wajah Devan sampai dia terjatuh. Lalu saat Devan sudah tergeletak di lantai, ia langsung menginjak tubuhnya dan memukul kepalanya. Tapi tiba-tiba saja Devan menerjang perutnya. Dino terdorong ke belakang. Untuk sementara ia menjauh dari Devan.
Dino merasakan seluruh tubuhnya sakit. Tapi ia tidak akan menyerah sampai di sini. Tak jauh di hadapannya, Devan sedang berdiri di sana. Dia senyum-senyum sendiri setelah mengelap darah di bibirnya. Lalu matanya kembali menatap Dino.
Dino merasa kesal saat melihat wajahnya itu. Lalu ia akan mencoba untuk memukul Devan lagi. Tapi Devan masih sempat menghindar. Saat Dino kembali berbalik badan, tiba-tiba Devan menarik kerah baju Dino dan langsung menghempaskan tubuhnya ke lantai.
“Dinoo!” teriak Chelsea.
__ADS_1
“Aduh!”
Dino tergeletak lemas di lantai. Kemudian Devan datang menginjak tangan kiri Dino dan tangan kirinya menahan tangan kanan Dino. Dia menggenggam pisaunya di tangan kanan.
“Kali ini aku akan langsung membunuhmu! Jangan bergerak!” bentak Devan.
Dino berusaha untuk melepaskan diri dari genggaman Devan. Chelsea juga terlihat panik. Dino tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang. "Bagaimana ini? Apa ini akhir dari hidupku!?"
BRAK!
Tiba-tiba ada yang datang membanting pintu ruangan itu. Seseorang datang. Ternyata Liena dan Aldy! Mereka berhasil masuk ke dalam markas Devan dan menemukan para korban.
“Dinooo!” teriak Liena.
“Hati-hati, Na!” tegas Aldy. Ia mencoba untuk mencegah Liena agar tidak mendekat ke Dino dan Devan.
“Eh!?” Liena dan Aldy tersentak saat melihat posisi Dino yang akan dibunuh oleh Devan. Liena mengerutkan keningnya, lalu berlari ke arah kakaknya itu.
“Kakaaak! Jangaaan!” bentak Liena lalu menarik kakakknya untuk menjauh dari Dino.
Devan sangat terkejut adiknya datang melihat sifat asli dari dirinya itu. “Liena!? Bagaimana dia bisa masuk ke sini!?” Batin Devan panik.
“Kak Dinooo!" Liena mengangkat tubuh Dino lalu membantunya duduk selagi lelaki itu masih tersadar.
Setelah melihat seluruh luka di tubuh Dino, Liena pun menoleh dan kembali menatap tajam pada Devan. "Kakak! Apa yang kakak lakukan padanya!? Lalu apa yang terjadi pada mereka semua!? Apa Kakak penyebab semua ini!? Jawab Kakak!” bentak Liena sambil menahan tangisnya.
Devan mengepal tangannya sambil menundukkan kepalanya. Dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saat ini, yang ada di pikirannya hanya kata-kata “Kakak jahat! Aku benci Kakak!”. Devan tidak ingin adiknya berkata seperti itu padanya.
“Kakak kenapa diam saja!? Jawab aku Kak!” bentak Liena lagi.
Namun Devan masih tetap terdiam sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak mau menjawab pertanyaan adiknya itu. Lalu tak lama, Ia melirik ke arah jendela yang ada di samping Chelsea. Devan masih terdiam.
Lalu tak lama kemudian, dia berlari ke arah jendela itu. Devan menabrak kaca Jendela sampai pecah dan dia melompat lewat jendela itu. Mendarat di tanah dengan selamat dan langsung berlari ke tengah jalan.
Namun saat Devan menyebrangi jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju ke arahnya. mobil yang melaju itu langsung menabrak Devan. Setelah mobil itu menabraknya, si pengemudi mobilnya langsung menghentikan kendaraanya.
Setelah mobil itu, di belakangnya ada beberapa mobil Polisi. Pengemudi yang ada di dalam mobil yang menabrak Devan pun keluar. Ternyata di dalam mobil, pengemudinya adalah kedua orang tuanya Devan dan Liena. Mobil itu adalah mobil milik keluarga Idzhar.
Saat ini, para polisi juga sedang mengejar orang tuanya Liena karena mereka sudah terlibat kasus pembunuhan berencana. Polisi di sana mengelilingi mobil milik keluarga Idzhar dan sebagiannya membantu para korban yang hampir dibunuh oleh Kak Devan, yaitu para Manusia Death Eye termasuk Dino dan Chelsea.
__ADS_1
Orang Tua Devan panik melihat anaknya penuh luka seperti itu. Ditambah luka di kepala akibat ditabrak mobilnya.
“Kakaaaak!” teriak Liena sambil berlari menghampiri kakaknya.
Tak lama setelah kejadian itu, mereka semua yang terluka langsung segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat dengan mobil Ambulans.
Namun sebelum Dino pergi, di atas bangunan rumah besar itu, ia melihat ada sosok Rinda yang melayang di depan jendela rumah itu.
Sebelum pergi, Dino sempat mendengar hantu itu mangucapkan kata “Terima Kasih!” sambil menatapnya. Lalu setelah itu, Rinda langsung pergi menghilang dengan senyumnya yang manis.
Dino sedikit bingung, kenapa dia menghilang? Apa dia akan pergi untuk selamanya?
Jika dia akan pergi, itu berarti Dibo tidak akan bisa bertemu dengan hantu itu lagi. Dino hanya membalasnya dengan tersenyum padanya setelah Rinda menghilang.
Dino telah menduganya kalau Rinda pasti telah menemukan kakinya yang hilang di tempat itu. Berarti, dia benar-benar akan pergi untuk selamanya.
"Selamat tinggal, Rinda!" batin Dino.
Mereka semuanya pergi ke rumah sakit. Dino tidak akan melupakan kejadian malam ini. Lagi-lagi ia mengalami kejadian seperti ini. Tapi ia sudah merasa lega karena pemburu Death Eye mungkin sudah tidak ada lagi.
Sekarang ia tidak ingin memikirkan hal itu lagi. Itu semua sudah berlalu, dan sekarang saatnya Dino untuk menyembuhkan luka-lukanya dan juga Chelsea. Tapi saat ini, Chelsea sedang bersandar di pundak Dino sambil memejamkan matanya. Mereka berdua berada di dalam mobil ambulans yang sama.
Lalu setelah semuanya pergi meninggalkan rumah itu, Dino sempat melihat sesosok perempuan muda yang berdiri di depan Rumah besar itu.
Wajahnya terlihat samar. Dia memakai baju Dress warna pink, rambut hitam yang panjang terurai sampai lututnya. Perempuan itu (mungkin) memiliki tinggi yang sama dengan tinggi tubuh Dino. Tapi sepertinya perempuan itu tidak asing baginya. Siapa dia?
Angin bertiup kenacang malam itu. Perempuan berambut panjang yang ada di depan rumah itu tetap berdiri di sana. Tak lama kemudian dia berjalan sampai di pinggir jalan di sana.
Dia merapihkan rambutnya yang tertutup angin. Lalu tersenyum dan berkata, “Kali ini kalian semua bisa lolos. Tapi ini baru permulaan. Permainan berikutnya akan lebih seru. Lihat saja nanti!”
Setelah mengatakan itu, dia langsung berjalan pelan menyusuri jalan itu dan menghilang di dalam kegelapan.
*
*
*
To be continued-
__ADS_1