The Death Eye

The Death Eye
Eps 15– Hal yang Disembunyikan si Kembar


__ADS_3

Di rumah, Dino sedang membaca koran sambil duduk di atas sofa. Di sana ada berita yang membuatnys terkejut. Tertulis kalau korban dari kematian mendadak itu disebabkan dari mata Death Eye.


Saat ini, banyak Manusia biasa yang mulai membenci dan menakuti para Death Eye, mereka sudah dianggap pengkhianat karena sudah membunuh ratusan orang di Kota.


Lalu ada lagi berita lainnya kalau pembunuhan para Manusia Death Eye yang mati tak wajar itu selalu terjadi pada malam hari. Dan pada pagi harinya, Polisi pasti hanya menemukan bagian kepala korban saja yang tersisah. Tubuh dan organ lainnya tidak ditemukan. Ini masih menjadi misteri.


Kejadian ini semakin menjadi. Para Polisi masih belum menemukan siapa pelaku pembunuhnya. "Apa aku harus mencari tahu sendiri? Khasus ini membuatku semakin penasaran." Batin Dino dalam hati setelah ia membaca berita tersebut.


Ia mulai memikirkan sesuatu. Yang ia pikirkan untuk memulai pemecahan misteri ini adalah dimulai dari kasus kematian mendadak terlebih dahulu.


"Pertama kali terjadi kasus itu dimulai dari Sekolah Tiny dan Tino. Dugaanku, pelaku pasti ada di sekolah saat itu. Dia menyamar menjadi murid atau guru, pastinya. Tapi, kenapa semua orang mencurigai Death Eye?"


"Hmm... Kalau memang benar Manusia Death Eye lah yang sudah menyebabkan semua ini, pasti pelaku tersebut dapat ketahuan dan mudah untuk mengetahui identitasnya. Tapi, Death Eye yang kali ini berbeda dengan Death Eye pada umumnya, karena pelakunya tak kenal lelah dalam menggunakan kekuatan Matanya itu. Death Eye tidak mungkin dapat membunuh puluhan orang bahkan sampai ratusan orang dalam sehari, karena pemakaian Death Eye itu juga di batasi."


"Energi yang cepat terkuras dan mata yang mengeluarkan banyak darah. Tidak mungkin pelaku dapat kabur dengan mudah setelah menerima kedua efek samping dari penggunaan Death Eye."


Tak lama Dini pun mendapatkan pikiran lain. "Death Eye biasa tidak bisa membunuh orang banyak. Tapi, bagaimana dengan Death Eye Shape Shifting? Apakah pelakunya memiliki Death Eye tersebut? Kalau ku pikir-pikir, itu mungkin saja. Karena kehebatan yang dimiliki Death Eye.S.S ini dapat membunuh banyak orang tanpa ada hambatan apapun. Tapi, hanya saja, pemilik Death Eye itu juga masih mempunyai efek samping, yaitu keluarnya darah, tapi tidak terlalu banyak."


"Kemungkinan besar, pelakunya adalah orang yang memiliki mata ini. Tapi siapa? Kalau begitu, aku akan pergi ke kamar Tiny dan Tino untuk bertanya tentang sesuatu pada mereka."


Dino meletakan korannya di atas meja, lalu beranjak dari sofa. Ia berjalan ke kamarnya si kembar.


Saat di depan pintu, Dini mengetuknya. “Tiny, Tino! Boleh Ayah masuk?”


“Masuk saja, Yah! Pintu tidak di kunci, kok!” Sahut Tino dari dalam.


Dino pun memutar kenop pintu dan membukanya. Terlihat di sana, Tino sedang berada di atas tempat tidurnya sambil bermain ponselnya, sedangkan adiknya, Tiny, sedang menggambar di mejanya.


Eh, bukan. Setelah Dino perhatikan, ternyata Tiny sedang menulis sesuatu di kertasnya. Dino pun masuk dan berjalan menghampiri Tiny.


“Tiny? Boleh Ayah bertanya sesuatu padamu?”


Tiny mengangguk dan menengok ke arah ayahnya.


“Begini, soal temanmu yang memiliki Death Eye Shape Shifting itu… apakah dia pernah membunuh seseorang?” Itulah pertanyaan Dino.


Tiny membuka matanya lebar-lebar karena terkejut. Lalu dia menulis cepat di Notebook-nya, ‘Kenapa Ayah bertanya seperti itu? Apakah ada yang salah dengan temanku?’


“Oh, tidak! Ayah hanya ingin tahu saja. Soalnya, Ayah sedang ingin mencari pelaku dari misteri kematian mendadak itu saja.”


“Ayah sedang mencari pelaku pembunuh anak-anak di sekolah? Hmm… apa aku harus memberitahu ini padanya? Agar aku bisa membantu Ayah." Batin Tino sambil memainkan ponselnya. Sesekali matanya juga melirik ke ayahnya. "Ah! Sebaiknya jangan. Aku takut.”


Tiny menulis, ’Maaf, Yah! Aku tidak tahu apa-apa.’


“Oh, begitu. Baiklah, Ayah keluar dulu. Maaf telah mengganggu kalian berdua!” Dino berjalan ke depan pintu dan keluar dari kamar anak-anak, lalu kembali menutup pintu kamarnya.


“Aku bingung. Bagaimana caranya, yah?” Dino belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia bergumam di depan kamar si kembar.


Lalu tak lama, Dino berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan kamar si kembar untuk mendiskusikan soal masalah ini pada Chelsea di sana.

__ADS_1


“Ayah sudah pergi. Sebaiknya aku memberikan ini pada Kakak secepatnya.” Batin Tiny.


Tiny beranjak dari kursinya sambil memegang sebuah amplop Surat. Dia menggoyangkan tubuh kakaknya dan memberikan amplop surat itu pada Tino.


Tino pun mengambil amplop yang diberikan Tiny itu. Dia membuka amplop dan membuka isinya. Akhirnya, rasa penasaran Tino pun menghilang karena dia mendapatkan lanjutan surat yang diberikan adiknya itu. Tino sudah tahu paragraf pertamanya, jadi dia langsung lanjut saja ke inti surat itu.


Apa lanjutannya?


‘…*Kumohon... Kumohon… Kumohon sekali pada kakak untuk tidak marah kepada Tina. Dia sudah berkhianat pada kita. Dialah yang menyebabkan kita jatuh ke jurang. Tapi, aku masih ingin bermain padanya. Kakak jangan larang aku untuk dekat dengannya, yah?


~Tiny Willona*


“Tina? Aku sepertinya pernah mendengar nama anak ini. Tapi aku lupa. Apa karena kecelakaan yang ku alami ini menyebabkan sebagian ingatanku hilang?” batin Tino bingung setelah ia selesai membacanya.


“Um, maaf, Tiny? Apa kau mempunyai foto Tina?” Tino bertanya.


Tiny mengangguk. Lalu dia mengambil ponselnya dari atas meja, menekan-nekan layarnya dan langsung menunjukkannya pada Tino.


Setelah melihatnya, Tino terkejut. Lalu tiba-tiba kepalanya sakit. Tino berusaha untuk mengingat anak perempuan berambut panjang yang ada di foto itu. Tino mengingat sesuatu.


“Ja–jadi… anak itu yang sudah melakukan semua ini!? Dia berusaha untuk mencelakakan Tiny dengan cara mendekatinya dan menjadi teman baik Tiny.” Pikir Tino.


Tiny menunjukkan tulisannya. ‘Kakak, ada sesuatu yang ingin ku beritahu pada Kakak. Tapi Kakak jangan marah, yah! Berjanji padaku.’


“Iya, baiklah. Ada masalah apa?” tanya Tino lirih.


‘Kak, aku tahu siapa pelaku dari pembunuhan kematian mendadak itu!’


“Eh, benarkah?”


Tiny mengangguk. Lalu dia membalik halaman Notebook berikutnya. ‘Akan kuberi tahu. Tapi ini hanya untuk diantara kita saja, Kak!’


Tino mengangguk. Dia mulai penasaran. Tiny pun membalik halaman lainnya. Tino membaca semua tulisan Tiny. Semakin lama, semakin kaget. Karena Tino tidak percaya kalau pelakunya adalah ‘Dia’!


****


Saat di rumah keluarga Idzhar….


“Mana? Suamimu lama sekali pulangnya!” Keluh Devan.


“Sebentar lagi, mungkin.”


“Kakak! Ayo lanjutkan gamenya!” Seru Dio.


Devan dan Dio kembali bermain Video Game. Sementara, Liena memainkan Ponselnya. Lalu tak lama kemudian, ada suara mobil yang datang dari depan rumah mereka.


Ah! Ternyata Aldy sudah pulang. Dia keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu masuk. Aldy membuka pintu rumah dan terkejut. Dia melihat Liena sedang dipeluk-peluk oleh seorang laki-laki lain.


“Owh, suaminya kenapa pulang ke sini? Lihat? Sekarang, Istrimu sudah menjadi milikku!” ujar Devan dengan senyum seringainya.

__ADS_1


Aldy yang belum mengetahui kalau lelaki yang berada di damping Liena itu pun langsung berjalan cepat ke arah Liena.


“Li–Liena! A–apa yang kau….”


“Ah! Sudahlah, Kakak. Jangan seperti ini!” bentak Liena.


“Kakak?” gumam Aldy. “Eh! Kakak! Berarti kau ini… Devan, dong!”


Devan berdiri dari sofanya, lalu berjalan menghampiri Aldy. Ia mendekatkan wajahnya ke Aldy, lalu berbisik, “Ahaha… ternyata kau masih ingat denganku. Bersiaplah! Akan kubunuh kau!”


“Ti–tidak….”


“Sudahlah, Kakak!” Liena menyenggol pinggang Devan dengan sikunya. “Hai, sayang! Kau pulang telat hari ini.”


“I–iya. Tadi ada pekerjaan lebih dari Bos! Eeeh… ini Kakakmu? Kenapa dia ada di sini?” tanya Aldy yang masih terheran.


“Tenang, Dy! Kakak sudah bebas dari penjara dan sekarang dia sudah menjadi orang baik, kok!” Jawab Liena. “Hei, apa kau masih takut dengannya?” Ia berbisik.


“Ah! Tidak. Aku hanya terkejut saja.” Jawab Aldy.


Liena tertawa. Lalu Aldy pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya dan bersih-bersih. Setelah Aldy pergi, Devan kembali mendekati Liena.


“Suamimu baik juga, yah! Tidak seperti dia saat kecil dulu. Pfftt…” Bisik Devan sambil tertawa.


“Ya! Dulu dia itu pemberani sekali.” Gumam Liena.


“Pemberani apanya?”


Liena tersenyum. “Karena dulu, dia pernah menyelamatkanku dan banyak membantu untuk menyelesaikan masalah Kakak!” Liena membentak kecil.


“Owh, haha….”


“Tapi aku bangga dengannya. Karena dia sangat baik padaku. Dia mau bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanku dan Dio. Dia memang sangat pemberani dan penuh tanggung jawab. Tidak sia-sia aku memilikinya.” Kata Liena sambil tersenyum pada Kak Devan. "Tapi bukan berarti aku akan manfaatkannya. Aku juga akan bekerja keras, kok!"


“Baguslah kalau begitu. Dia akan menjadi lelaki yang baik untukmu, selamanya!”


“Terimakasih, Kakak!” Ucap Liena senang dan langsung memeluk Devan.


Aldy yang masih berdiri di depan pintu kamarnya pun tersenyum-senyum sendiri. Aldy sempat mendengar pembicaraan Liena dengan Kakaknya. Liena telah banyak memuji dirinya. Aldy senang sekali. Liena sudah senang bersamanya, jadi Aldy juga berjanji untuk terus menjadi pelindung bagi Liena dan Dio sebagai kepala keluarga.


*


*


*


To be Continued-


IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2