
~Flashback~
Devan bercerita, "Dia memungutmu dari sebuah rumah kecil di luar kota, hingga akhirnya kakakku membawamu sampai ke rumah kami….”
~15 tahun yang lalu….
Saat kamu datang ke Rumah kami….
“Kak, ini siapa?” tanya Dimas yang masih berumur 4 tahun.
“Aku menemukan anak ini di dalam rumah kecil. Dia sendirian, aku kasihan, jadi ku bawa saja ke sini.” Jelas seorang lelaki muda yang ternyata dia adalah si kakaknya Dimas bernama Iyan.
“Kenapa matanya ditutup, kak?” tanya Dimas lagi.
“Karena dia memiliki Death Eye. Jadi kau tidak boleh menatap matanya, yah?”
“Ooh... mata itu. Tapi kaak… Ibu tidak suka dengan Death Eye! Nanti Ibu bisa marah, loh!”
“Tidak apa, aku yang akan merawat bayi ini. Aku juga akan membujuk Ibu agar Ibu memperbolehkan Bayi ini tinggal di sini!”
Kak Iyan berusaha untuk membujuk Ibu agar memperbolehkan dirimu tinggal di rumah kami. Akhirnya Ibu pun memperbolehkannya. Itu pun, karena terpaksa.
Kak Iyan selalu merawat dan menjagamu. Sampai-sampai dia melupakan aku sebagai adiknya karena terus bermain denganmu! Saat di situ, aku mulai membenci dirimu, Dino!
~Back~
“Jadi aku diperbolehkan untuk tinggal di rumahmu itu?” tanya Dino setelah Dimas berhenti bercerita.
“Iya! Kakakku lah yang merawatmu sampai kau umur 5 tahun.” Jawab Dimas.
“Lalu di mana kakakmu sekarang?”
“Dia sudah meninggal.”
“Meninggal!? Karena apa?"
“Dia tertabrak mobil.” Jawabnya.
“Tertabrak mobil? Itu seperti mimpiku tadi. Oh, Jadi mimpi itu ternyata adalah kejadian detik-detik kematiannya Kak Iyan.” Batin Dino sambil mengingat mimpi sebelumnya.
Lalu Dino kembali bertanya padanya. “Tapi kenapa Kakak terlihat santai sekali. Apa kakak tidak sedih melihat Kak Iyan meninggal?”
Dimas mengeluarkan tersenyum dan menjawab, “Heh, buat apa aku sedih. Dia itu kakak yang tidak berguna. Baguslah kalau dia meninggal!”
Dino terkejut. ”Eh!? Kakak tidak boleh bicara begitu pada orang yang sudah meninggal. Kenapa kakak bicara seperti itu?”
“Karena dia sudah tidak peduli lagi padaku. Dia sendiri yang sudah melupakan aku sebagai adiknya. Dia lebih mementingkan adik pumutnya itu dibanding aku adik kandungnya sendiri,” jelasnya dengan nada kesal. “Itu semua gara-gara kau! Andai saja kau tidak ada di dunia ini, mungkin Kak Iyan masih hidup dan dia juga masih menyayangi diriku!”
__ADS_1
Mendengar ceritanya itu, Dino jadi merasa tidak enak dengan Dimas. “Kak, aku….”
“Untungnya, setelah kakakku meninggal, Kau sudah tidak dianggap lagi di keluarga kami. Jadi saat itu juga, Keluarga kami mengusirmu dari rumah. Tapi, Karena merasa kasihan denganmu, jadi keluargaku memberikan kau Rumah besar itu untukmu bertahan hidup.”
“Ja–jadi orang yang sudah merawatku dari bayi itu adalah keluargamu? Dan ternyata kau itu benar-benar kakakku?” tanya Dino lagi.
“Iya begitulah! Tapi, Dino, rasa benciku padamu itu masih ada. Dan mulai saat ini, jangan anggap aku sebagai kakakmu lagi. Karena kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi!” Katanya sambil berjalan menuju pintu keluar.
Sebelum dia pergi, Dino langsung turun dari atas tempat tidur. “Terima kasih, Kak. Karena sudah merawatku. Beri salamku juga untuk kedua orang tuamu! Sekali lagi, terima kasih banyak!” ucapnya dengan cepat sebelum Dimas pergi keluar dari ruang UKS.
Namun Dimas hanya diam saja sambil menundukkan kepala, lalu membuka pintu dan pergi keluar meninggalkan Dino yang masih berdiri di belakangnya.
Saat Dimas keluar, Aldy dan Chelsea yang sedang menunggu di depan langsung kembali masuk untuk menemui Dino di dalam.
“Dino, kau baik-baik saja, kan?” tanya Chelsea.
“Iya, aku tidak apa-apa.”
“Tadi itu siapa, Dino?” tanya Aldy.
“Di–dia hanya kakak kelas kita yang tadi saja kok, dia datang hanya mau minta maaf padaku tentang kejadian yang tadi. Itu saja.”
Chelsea dan Aldy mengangguk paham. Dimas tidak ingin menjadi Kakak Dino lagi.
Dino merasakan sakit. Dia baru mengetahuinya sekarang. Ia pikir dirinya selalu sendirian tanpa keluarga. Tapi ternyata ada keluarga baik hati yang ingin merawatnya.
Namun tetap saja, Dino merasa tidak enak pada keluarga yang telah merawatnya. "Aku memang berhak untuk menerima ini karena aku telah lebih dulu menyakiti hati Kak Dimas dengan cara mencuri perhatian dan kasih sayang Kak Iyan. Semua ini memang salahku!"
"Apa aku akan selalu dibenci oleh kakakku sendiri? Ya... walau dia kakak tiri ku, aku tetap menyukainya."
****
“Apa kau sudah minta maaf pada adikmu sendiri?” tanya Mista.
“Iya. Tapi sekarang dia itu bukan adikku lagi.”
“Lho? Kok, kamu bicara begitu sih?!”
“Aku memutuskan ikatan persaudaraanku dengan anak itu. Lagian juga, dari awal dia memang bukan adikku!” jawab Dimas. Ia langsung pergi melewati Mista dan berjalan menuju ke kelasnya.
Namun pada saat langkahnya sedang menaiki pertengahan tangga, Dimas berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Ia berkata, “Mulai sekarang, Adikku itu hanya ada 1 orang. Kau masih menganggapku Kakakmu, kan, Mis?”
Mista hanya mengangguk kecil dengan pandangannya menatap ke bawah. Setelah itu, Dimas melanjutkan langkahnya. Sementara Mista tetap dalam posisinya berdiri seperti tadi. Entah apa yang dia pikirkan saat ini.
****
Pukul 15:30, Ekskul hari ini berakhir–
Semua anak keluar dari kelasnya, dan langsung pulang menuju rumahnya masing-masing. Untuk hari pertama Ekskul, Kelas Japannes Club belum memulai pelajarannya. Pembelajaran akan dimulai minggu depan.
“Besok minggu! Yeaayy…” Sorak Aldy senang.
__ADS_1
Dino pun juga ikut senang. Karena hari minggu adalah waktunya untuk beristirahat dan berdiam diri di dalam rumah.
Aldy menepuk pundakku. “Hey, Dino! Besok kau ada waktu luang, tidak?”
Dino menggeleng. “Emm… entahlah.”
“Ahaha… kalau tidak ada, Ayo besok main di rumahku mau tidak? Kita nonton bersama di rumahku. Ada Anime yang baru keluar musim ini, lho! Ayolah… pasti seru!” ajak Aldy.
Dino pikir-pikir dulu. Lalu Ia melirik ke Chelsea yang di sampingnya yang sedang membaca buku.
“Aku ikut gak yah? Tapi kan besok aku ada…”
~Flasback~
Saat masih di Ruang UKS–
“Ayo, Dino! Kau sudah sehat, kan? Sekarang ayo kita keluar!” ajak Aldy sambil berjalan keluar ruangan.
Dino dan Chelsea masih di dalam. Mereka berdua berdiam diri. Tapi tak lama Chelsea pun menyeru dan memanggil namanya.
Dino menoleh dan menyahutnya, “Apa!?”
Pipi Chelsea terlihat memerah. “Umm… besok hari minggu… jadi… apa kau ingin pergi bersamaku?” tanyanya ragu-ragu.
Dino tersenyum padanya. “Baiklah. Terserah kau saja!”
Chelsea terlihat sangat senang. Ia mengangguk pelan. Wajahnya yang tersenyum terlihat sangat manis.
****
“Um, maaf yah, Aldy! Besok aku ada urusan lain.”
Setelah jawaban Dino, Chelsea yang sedang membaca buku langsung melirik kaget kearahnya.
“Oh, ya sudah deh! Aku nonton sendiri saja.”
“Hehe… maaf yah, Dy!”
****
Sampai juga akhirnya di rumah–
“Lagi-lagi sepi….” Gumamnya sambil membuka sepatu. Lalu ia masuk ke dalam. Melempar tasnya di atas sofa ruang tamu. Sebelum masuk ke kamar, ia ingjn bersih-bersih dulu.
Setelah semuanya beres, Dino langsung mengunci pintu dan semua jendela di rumahnya lalu pergi ke kamar untuk beristirahat.
Di kamar, ia memainkan ponsel sambil tidur-tiduran dan menonton televisi. Sengaja volume televisinya kubesarkan agar tidak merasa sepi di rumah ini. Sampai akhirnya, lama-kelamaan Dino malah tertidur setelah bosan memainkan ponselnya.
*
*
__ADS_1
*
To be continued-