The Death Eye

The Death Eye
Eps 32– Apa ini Akhir dari hidupku?


__ADS_3

"Ah… di mana aku? Tempat ini gelap. Aku tidak bisa melihat apapun dan… eh! Tubuhku juga tidak bisa digerakkan. Apa yang terjadi padaku!?"


BATS!


"Aw, Silau! Eh, cahaya apa ini? Aku akhirnya bisa melihat kembali. Tapi tubuhku masih belum bisa digerakkan dan… aku berada di… eh!?"


JLEB!


“KYYAAAAA… AKH! AH! HENTIKAN, HAAAA!”


Dino terkejut. Setelah ia membuka mata, ia melihat banyak orang yang sedang di siksa di dekatnya.


Orang-orang itu adalah teman-temannya Dino yang menghilang tadi. Lalu setelah menoleh, ia melihat ada Chelsea yang terikat di atas ranjang tidur dalam keadaan tak sadarkan diri.


Dino akan membantu Chelsea. Tapi ternyata kedua tangan dan kakinya juga terikat erat. Tubuhnya juga dipenuhi oleh luka gores dan memar.


Dino tidak bisa bergerak ke manapun. Bagaimanapun caranya, ia harus menyelamatkan Chelsea. Tapi bagaimana ia bisa sampai di sini dan siapa yang sudah membawanya?


"Ah! Iya. Aku ingat!"


~FLASHBACK~


“Iya, terima kasih. Beruntung aku punya teman seperti kalian. Aku sangat….”


“Terharu, hahaha….”


Dino terkejut begitu ada suara orang lain yang menyela ucapannya. Ia menoleh ke belakang. “Eh, di–dia kan….”


“Tidak ada jalan keluar dari sini. Percuma kau mau kabur….”


Orang yang ia lihat saat itu adalah, Devan!


Sangat jelas. Dia tepat beridiri di hadapan Dino dengan senyum khasnya yang menyeramkan.


BUK!


Devan mendorong orang di depannya. Dino langsung terjatuh dari atas tangga. Terguling sampai ke bawah. Lalu ia menabrak tumpukan kardus di bawah sana. Beberapa tumpukan kardus itu berisi barang-barang bekas.


Kardus itu mulai kehilangan keseimbangannya dan jatuh menimpa tubuhnya. Dino langsung pingsan di tempat karena kepalanya terbentur benda tumpul.


Kemudian Devan berlari menuruni tangga. Ponselnya Dino dihancurkan olehnya sehingga kontaknya dengan Liena dan Aldy langsung terputus.


****


“….”


"Oh iya. Kak Devan yang sudah mendorongku dari atas tangga itu. Lalu dia juga yang sudah membawaku ke sini bersama dekat dengan teman-temanku!" batin Dino.


Ia tidak tega melihat teman-temannya diperlakukan seperti itu. Para anak buahnya Devan menusuki dan memperkosa semua orang yang ada di sana.


Sebagian dari mereka sudah meninggal karena Death Eye-nya sudah ditusuk dan ditembakki. Yang pastinya, jika Death Eye mereka sudah hancur, itu berarti mereka sudah mati!


Dino bisa merasakan kesakitan yang mereka alami. Ia tidak kuat lagi melihat itu semua. Ia ingin segera mengakhirinya.


“Hentikan!” teriak Dino tiba-tiba.


Semuanya terkejut dan langsung melirik ke arahnya. Dino tersentak setelah semua mata tertuju padanya. Para pembunuh itu menghentikan pergerakan mereka.


“Bisa kalian berhenti melakukan ini!? Ini sudah keterlaluan! Kenapa kalian tega sekali mau membunuh orang yang tidak berdosa ini. Mereka juga masih ingin hidup. Apa kalian tidak merasakan penderitaan yang mereka alami ini!? Coba kalau kalian yang menjadi seperti kami semua. Bagaimana perasaanmu, hah!?” bentak Dino pada para pembunuh itu.


Semuanya terdiam. Lalu tak lama kemudian, para pembunuh (anak buah Kak Devan) itu tertawa.


“Hahaha… anak kecil saja sok nasihati!”


“Iya. Dia yang paling cerewet. Lebih baik kita bunuh yang ini saja duluan, haha….”


Mereka semua mengarahkan pisaunya pada Dino. Ia memberontak berusaha untuk melepaskan diri. Tapi tidak bisa. Dino tidak boleh mati di sini. Kalau ia mati sekarang, maka nasib Chelsea pun juga akan berakhir sama sepertinya.


"Oh tidak, apa yang harus aku lakukan!?" Dino menutup matanya. Ia akan bertahan. Pisau itu pun diayunkan semakin mendekat ke arah mata kirinya.


“Haha… mati kau….”

__ADS_1


“Tunggu!”


“Eh!?”


Semua orang menoleh ke arah lain. Dino kembali membuka matanya karena terkejut dengan suara seseorang. Ternyata Devan yang datang.


“Tidak ada yang boleh membunuh dia selain aku. Sekarang, kalian semua pergi dari ruangan ini. Biar semuanya aku yang urus!” perintah Devan pada semua anak buahnya.


“Baik, ketua!” Tentu saja mereka menurut.


Semua anak buahnya Devan pun akhirnya pergi. Setelah semuanya pergi seketika ruangan itu menjadi sepi.


Namun Dino masih bisa mendengar suara erangan dan napas mereka yang terengah-engah dari teman-temanku yang sudah terluka di sini. Tentu saja mereka menahan rasa sakitnya. Selain itu, mereka yang masih hidup berusaha untuk memulihkan luka-lukanya.


Devan berjalan menghampiri Dino. Dino sendiri harus tenang seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Kalau ia semakin memberontak, maka itu akan membuat amarah Devan muncul.


“Dino… kita bertemu lagi. Hei, bagaimana kabarmu?” tanya Devan lirih dengan senyumannya yang terlihat dipaksa.


“Oh, aku baik. Bagaimana denganmu, kakak?”


“Aku juga baik. Hari ini perasaanku sedang senang, karena sebentar lagi Death Eye akan lenyap dari muka bumi ini.” Ucap Devan sambil tertawa.


“Sekarang apa maumu?!” tanya Dino kesal. Tanpa sadar ia malah melontarkan amarahnya.


“Tidak banyak kok. Aku hanya ingin membasmi kalian semua para manusia Death Eye! Itu saja.” Jawabnya sambil mengarahkan sebuah gergaji mesin yang dia pegang. Semua orang di sana langsung panik saat Devan menyalakan gergaji mesinnya itu.


Sebenarnya Dino juga merasa takut. Tapi ia berusaha untuk tetao tenang. Tenang!


Pokoknya ia tidak boleh takut saat ini. Ia sudah berniat kalau ia harus bisa menyelamatkan Chelsea dan yang lainnya.


“Keadaan semakin buruk di sini. Aku harus mengulur waktu Kak Devan sampai bantuan datang menyelamatkan kami semua.” Batinnya. "Tapi akujuga tidak boleh mengandalkan pertolongan dari luar. Aku juga harus segera menghentikan kegilaan ini!"


Devan mengangkat gergaji mesinnya. “Baiklah, aku tidak punya banyak waktu lagi. Yang pertama… aku akan membunuh anak ini, haha…” Devan mengarahkan gergajinya itu pada Bilea.


“KYAAAAA!! TOLONG AKU!!” teriak Bilea ketakutan.


Dino tidak boleh membiarkan orang-orang di sini mati. Pokoknya tidak boleh! Sekarang juga, ia harus mengulur waktu dari sekarang!


“Apa?” Devan menengok ke arah Dino dan mematikan gergajinya agar ia bisa mendengar perkataan Dino.


Seketika semua orang kembali tenang. Tapi di dalam jiwa mereka saat ini sedang menyimpan ketakutan yang luar biasa.


“Apa kakak tega membunuh anak imut yang malang itu?” tanya Dino.


Devan memutarkan matanya malas. “Huh, aku tidak peduli! Pokoknya aku akan membunuhnya juga!”


“Apa kakak tidak kasihan pada anak itu?” tanya Dino lagi.


“Kan sudah aku bilang kalau aku tidak peduli, bodoh!” bentaknya.


“Hiks… kenapa kakak tega sekali melakukan itu? Dia masih muda, sama seperti kakak. Anak itu juga mirip seperti Liena, adik kakak sendiri. Coba Kakak bayangkan kalau itu Liena. Apa kakak tetap ingin membunuhnya?” tanya Dino lirih dengan suara yang sengaja di imutkan.


“Ta–tapi dia berbeda dengan Liena! Ja–jangan bawa-bawa nama adikku saat ini!” bentak Devan.


“Apa kau masih menyayangi adikmu?” tanya Dino.


“Tentu saja! Dia adikku. Aku…”


“Umm…?”


Chelsea akhirnya bangun. Dia terlihat kebingungan. Tapi Dino tidak terlihat senang. Ia malah merasa takut karena Devan pastinya akan....


“Di mana ini?” gumam Chelsea bingung.


Devan tersenyum lalu tertawa kecil. “Haha… Kebetulan sekali. Pacarmu sudah sadar, No!”


“Tidak! Tolong kau jangan apa-apakan dia!” bentak Dino.


Setelah mendengar suara Dino, Chelsea melirik ke arah suara tersebut dan juga Devan. “Dino? Eh, apa yang terjadi!? Ka–kak Devan!?”


“Chelsea! Tenanglah. Jangan panik!” tegas Dino dari sampingnya.

__ADS_1


Devan menjatuhkan gergaji mesinnya, lalu mengambil pisau. Dia berjalan ke arah Chelsea. “Dino… kau sayang padanya, kan? Tapi sebentar lagi, orang yang kau sayang ini akan segera pergi meninggalkanmu. Haha….”


JLEB!


“KYAAAA! AKH!” Chelsea berteriak.


Devan menusuk perut Chelsea dengan pisau yang digenggamnya. Chelsea terkejut. Ia merintih kesakitan. Dino sendiri tidak tega melihatnya.


“Tidaak! Hentikan itu, Kak!” teriak Dino padanya.


“Heh? Dalam keadaan seperti ini, kau masih saja memanggilku ‘Kakak’. Aku memuji sikap kesopananmu itu, Dino. Hehe….” Kak Devan mengayunkan pisaunya lagi dengan cepat, dan menusuk kaki Chelsea.


JLEB!


“AAAA–Akh!!”


Sepertinya tusukan di kaki itu telah membuat pisaunya menancap di tulang kering. Devan masih belum berhenti. Ia kembali menarik paksa pisaunya, lalu menusuk ke bagian lainnya.


Dino tidak tahan lagi melihatnya. Chelsea sedang disiksa oleh Devan, dan ia pastinya tidak boleh diam saja seperti itu. Dink harus melawan. Tapi iaharus bisa melepaskan dirinya terlebih dahulu.


JLEB!


“Tidakk! Hentikan!! Chelsea!” Teriakku.


Dengan tanpa belas kasihan, Devan masih tetap menusuk-nusuk tubuh Chelsea sambil tertawa bahagia. Ia tidak akan berhenti sampai Chelsea mati. Dino tidak mau Chelsea meninggal di hadapannya.


"Tidak ada waktu lagi. Aku harus bisa lepas dari sini!" batin Dino semakin panik. Ia berusaha keras untuk melepaskan ikatan tangannya.


Namun karena terlalu banyak melihat aksi Devan itu, seketika emosi Dino semakin meningkat.


Melihat keadaan Chelsea yang seperti itu, dan kekejaman Devan terhadap orang yang ia sayangi itu membuat Dino menjadi geram. Ia menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh amarah.


Dalam hatinya, ia merasa tak bisa mengendalikan rasa kesabarannya lagi. "Aku kesal! Kesal! Kesal! Benciiii!"


“Chelseaaa!! Uwaaaa!” Dino terus memberontak untuk melepaskan dirinya. Ia terus menggerakkan kedua tangannya dan menariknya. Tak peduli walau tangannya terluka.


“Terlambat, Dino! Satu tusukkan lagi… hehe…” Devan mengarahkan pisaunya itu tepat ke mata Death Eye Chelsea. Dino yang melihatnya pun bertambah geram. Mata Death Eye-nya sedikit menyala.


Ia menarik tangannga dengan sekuat tenaga, dan akhirnya tali yang mengikatnya itu putus.


Walaupun tanganng terluka akibat dari gesekan tali yang tajam itu, yang penting sekarang ia akhirnya bebas!


Lalu sebelum terlambat, secepatnya Dino membuka ikatan lainnya dan langsung berlari ke arah Devan. Ia mendorong Devan dengan kuat sampai terjatuh.


“Chelsea!” seru Dino. Pandangannya langsung menatap cemas pada Chelsea


“Di–Dino?” Chelsea merintih kesakitan. Darah terus mengalir keluar dari luka-lukanya. Dia terlihat tidak berdaya. "Oh, astaga, apa yang harus kulakukan?"


“Bertahanlah, Sea! Aku akan menyelamatkanmu! Akan kulawan Iblis ini!” tegas Dino. Sepertinya ia ingin menghadapi Devan dulu sebelum membantu menyembuhkan luka Chelsea.


“Tidak, Dino! Sebaiknya jangan…” Larang Chelsea.


Dino tidak peduli dengan omongan Chelsea. Pokoknya ia akan melawan orang jahat itu mau bagaimanapun caranya. Ia sudah bertekad. Pokoknya semua harus selamat dari tempat mengerikan itu. Harus!


Devan kembali bangkit lagi dan terkejut. “Dino! Bagaimana kau bisa lepas?”


Emosi yang sudah mengendalikannya. Mungkin saat ini, Death Eye milik Dino juga sudah mengendalikan tubuhnya. Tapi sepertinya tidak. Ia masih bisa mengendalikan tubuhnya.


Karena sudah terlanjur marah pada Devan, maka terpaksa dengan kehendaknya sendiri, ia akan menggunakan Death Eye-nya untuk membunuh manusia kejam itu.


“Aku akan membalas perbuatan kejimu itu!” bentak Dino. Ia langsung menatap tajam pada Devan untuk menggunakan mata kematiannya.


Sekarang, pertarungan mereka akan dimulai sekarang juga!


*


*


*


To be continued-

__ADS_1


__ADS_2