
Akhirnya sampai juga di depan rumah. Dino khawatir dengan keadaan Chelsea yang sedari tadi diam. Dia kelihatan tidak sehat.
“Chelsea, Aku antar kamu pulang, oke?”
Tapi Chelsea menggeleng.
“Tidak usah, Dino! Aku bisa pulang sendiri, kok!” Chelsea tersenyum. Dino tidak bisa melakukannya!
“Tidak, Chelsea! Kali ini aku akan mengantarmu pulang. Hari sudah mulai gelap, tidak baik perempuan sepertimu pulang sendirian jam segini!” tegasnya.
“Baiklah, kalau kau memaksa. Ayo!”
****
“Terima kasih, Dino!” ucap Chelsea sesampai di rumahnya.
“Iya… sama-sama. Aku pulang dulu, yah!” Dino melambaikan tangan padanya. Ia berjalan kembali menuju rumah sebelum matahari tenggelam.
Sesampainya di rumah, Dino langsung duduk dan bersandar di sofanya yang empuk.
“Hari ini melelahkan sekali…” Gumamnya sambil menutup mata. Dino ingin langsung pergi tidur, tapi ia ingin membersihkan diri dulu.
Saat Dino sedang di dalam kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berdering. Dino yang sedang mandi itu tidak mendengarnya karena suara shower.
Lalu beberapa menit kemudian setelah Ponselnya berhenti berdering, Dino pun akhirnya keluar dari Kamar mandi. Rasanya segar sekali.
Ia pergi masuk ke kamarnya. Tadinya, ia ingin langsung memakai piyama. Karena ia ingin langsung tidur. Tapi sepertinya, ada seseorang di depan pintu. Jadi, ia hanya memakai kaos biasa.
TING TONG!
Bel rumahnya terus berbunyi…
Siapa yang datang, yah?
“Iya, sebentar!”
Dino keluar kamar lalu mendekati pintu depan. Ia membukakan pintu, dan ternyata yang datang itu si Aldy.
“Eh, Aldy? Ada apa kemari?” tanya Dino heran.
“Apa Chelsea ada di rumahmu?”
“Eh? Tidak ada! Kan dia ada di rumahnya.”
Aldy membuka ponselnya, lalu memperlihatkannya pada Dino di depan wajahnya.
“Aku juga berpikir begitu. Tapi kalau Chelsea ada di rumahnya,” Aldy memperlihatkan layar ponselnya ke hadapan Dino. “Lihat ini. Kenapa Kakaknya menelponku untuk menanyakan tentang keberadaan adiknya.”
“Aku tidak tau kalau dia punya Kakak. Coba kuperiksa ponselku dulu!” gumam Dino.
Ia langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Dino memeriksa ponsel dan menemukan ada 1 pesan dan 3 telepon yang tidak dijawab dari Chelsea.
Pertama Dino akan membaca pesannya dulu.
[ Apa ini Dino? Aku kakaknya Chelsea. Aku mau tanya. Apakah Chelsea masih bersamamu, No? Soalnya dia belum kembali ke rumah. Ini sudah larut. Tolong bawa pulang adikku. Terima kasih. ]
Dino terkejut setelah membacanya. “Eh, ternyata ini Kakaknya Chelsea!”
“Lho? Tapi kenapa dia menggunakan ponsel Chelsea? Chelsea-nya di mana?” tanya Aldy bingung.
“Ada yang tidak beres! Ayo kita ke rumah Chelsea untuk memeriksanya.”
Dino memakai sepatu, pergi ke luar dan mengunci pintu. Lalu ia dan Aldy akan pergi ke rumah Chelsea. Setelah keluar dari halaman rumahnya, tiba-tiba Aldy memanggilnya.
“Dino, Tunggu!”
“Ada apa, Dy?”
“Kau cepat sekali. Ayo ikut aku naik mobil Kakakku!” Aldy menunjuk ke arah Kakaknya yang ada di belakangnya.
“Eh? Kenapa tidak bilang dari tadi!?”
“Hehe… maaf! Ayo kita ke rumah Chelsea naik mobil Kakakku saja.” ajak Aldy. Dino menghampiri Ryo si kakaknya Aldy yang sudah menunggu di dalam mobil.
“Lama tidak bertemu, Kak! Apa kabar?” sapa Dino sambil berjabat tangan dengannya.
“Aku baik!” Jawab Ryo. “Eh, ngomong-ngomong sekarang kita mau ke mana, nih?”
“Ayo kita ke rumah Chelsea!” Jawab Aldy.
“Rumah Chelsea di mana?” tanyanya lagi.
“Aku akan tunjukkan jalannya!” Jawab Dino.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil Ryo dan langung bergegas pergi ke rumah Chelsea.
****
Sesampainya di sana, Dino yang merasa cemas langsung turun dari mobil dan mengetuk rumah Chelsea. Kakaknya pun membukakan pintu.
“Permisi, Kak! Aku Dino, temannya Chelsea.”
“Ah, Dino! Kebetulan sekali kamu datang ke sini. Aku Kakaknya Chelsea, namaku Mellia. Oh, iya! Apa kau tau Chelsea di mana?” tanya Millea dengan cepat.
Dino menggeleng. “Aku juga tidak tau, kak!"
“Nih, Kakak melihat ponselnya tergeletak diluar pintu, tapi orangnya tidak ada. Kira-kira ke mana yah tuh anak?”
“Hah?! Kenapa bisa begitu? Bukannya tadi aku sudah mengantar Chelsea sampai depan rumahnya? Lalu dia ke mana setelah aku pergi? Apa telah terjadi sesuatu yang buruk padanya!?” Batin Dino cemas. Kalau begitu ia memutuskan akan pergi mencari Chelsea sekarang juga!
“Kak! Aku akan mencari Chelsea.” Katanga sambil beranjak pergi meninggalkan rumah Chelsea dan orang-orang yang ada di sana. Aldy mengejar Dino yang pergi, sementara Ryo tetap menunggu di sana sambil menemani Mellia.
Tapi tak lama setelah Dino dan Aldy pergi mencari Chelsea, tiba-tiba ada seseorang yang datang.
Itu Liena!
Dia datang sambil merangkul Chelsea. Mellia dan Ryo terkejut melihat Chelsea berjalan lemas dengan beberapa luka di sekujur tubuhnya.
“Chelsea! Apa yang terjadi padamu?!” Panik Mellia.
__ADS_1
“Kaak… A–aku…”
“Nanti saja ceritanya, sekarang Kakak akan menyembuhkan lukamu!”
Chelsea dibawa masuk kakaknya ke dalam rumahnya. Tapi sebelum itu, Mellia mengucapkan “Terima Kasih” Pada Liena yang telah membantu dan membawa pulang adiknya.
Setelah kedua adik kakak itu masuk ke dalam rumah, Ryo melirik ke arah Liena. Membungkuk sedikit sebelum bicara karena Liena jauh lebih pendek darinya.
“Kau temannya Chelsea, yah?”
Liena hanya diam saja sambil menatap dingin ke Ryo.
“Hmm… apa kau ini temannya, Aldy?”
Liena masih diam sambil menatap Ryo dengan tatapan dinginnya.
“Eh? A–apa kau… temannya Dino?”
Liena mengangguk sambil memejamkan mata. “Aku dan Dino lebih dari sekedar teman, kok!”
“Oh… jadi kau pasti pasangannya Dino, yah?”
Liena mengangguk senang. “Iya… tentu saja!”
“Oh, Kau imut dan cantik. Tidak mungkin Dino tidak mau bersammu, kan? Hehe… kalian cocok juga!”
Liena berbangga diri. “Iya… begitulah!”
Dari dalam, obrolan Liena dengan Ryo terdengar dengan Chelsea. Chelsea tau Liena sedang berbohong. Dia ingin bicara dengan Liena juga, tapi saat ini dia tidak bisa.
Setelah bercakap-cakap sebentar tentang Dino, tiba-tiba Ryo jadi teringat sesuatu.
“Oh iya! Ngomongin tentang Dino, aku lupa kalau sebenarnya dari tadi Dino dan Aldy pergi ke jalan sana untuk mencari Chelsea!”
Liena terkejut. Begitu juga dengan Chelsea.
“Aku akan mencari mereka sekarang!" Ryo langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya.
“Tunggu, kak! Aku juga ingin ikut!” pinta Liena.
Ryo memperbolehkan Liena untuk ikut mencari Dino dan Aldy. Mereka berdua langsung pergi dengan mobil. Chelsea juga mau ikut, tapi dia sedang dalam proses penyembuhan luka-lukanya itu. Jadi tidak bisa dan kakaknya juga tidak mengizinkannya.
****
Hari sudah gelap, dan waktu sudah menunjukkan pukul 18:56. Dino dan Aldy masih terus menyusuri jalan ini untuk mencari Chelsea.
Ia terus berteriak memanggil nama Chelsea. Tapi masih belum ada jawaban sama sekali dari tadi. Aldy sudah mulai kelelahan.
“Dino… kita istirahat di sini dulu, yuk! Aku lelah berjalan terus!” keluh Aldy yang ada di belakang.
“Nanti dulu! Kita kan mau mencari Chelsea, jadi harus cepat!” kata Dino dengan nada kesal.
“Aoouh… ayolah! Kita hentikan saja dulu… aaah!”
“Tidak bisa! Nanti kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Chelsea bagaimana!?”
“Kita biarkan saja… yang penting kakiku bisa beristirahat!”
“Habisnya aku sudah tidak kuat lagii…” Keluhan Aldy jadi membuat Dino semakin kesal.
“Haduuh… suruh siapa tadi kau malah mengikutiku!?”
“Aku hanya ingin menemanimu saja. Lagian juga, seharusnya kita menggunakan mobil kakakku saja tadi!”
“Iya baiklah, kalau kau hanya bisa sampai di sini dan menyerah, lebih baik kau kembali lagi ke rumah Chelsea saja! Masih tau jalannya, kan?”
“Iya… baiklah! Aku kembali duluan, yah! Jaga dirimu baik-baik dan berhati-hatilah!” pesan Aldy sambil pergi melangkah ke arah sebaliknya.
“Kau juga!”
****
BBRRRMMM…
Mobil Ryo terus menyusuri jalan yang sebelumnya telah dilewati Dino dan Aldy. Liena melirik ke segala arah untuk mencari Dino. Lalu tak lama kemudian, akhirnya Ryo menemukan Aldy yang sedang berjalan santai di pinggir jalan.
“Huh! Kakak akhirnya datang untuk menjemputku!” keluh Aldy sembari menaiki mobil kakaknya. Saat di dalam mobil, Aldy terkejut karena dia melihat ada Liena di dalamnya.
“Liena… kenapa kau.…”
“Ah iya! Seharusnya tadi kamu tidak perlu susah payah untuk mencari Chelsea. Karena Liena sudah menemukan Chelsea duluan!” jelas Ryo.
Aldy memasang wajah menyesal. “Yaah… Percuma dong!”
Liena melirik-lirik. Dia sedang mencari seseorang, tapi ia tidak menemukan orang yang dia cari. “Eh, Aldy? Di mana Kak Dino?” tanya Liena.
“Dino… oh iya! Dia masih ada di jalan itu!” jawab Aldy.
“Di mana?” tanya Liena lagi.
“Ayo kak! Kita cari Dino sebelum dia menjauh!”
Ryo langsung menginjak pedal gas mobilnya, dan seketika mobil Ryo langsung melaju ke jalan dengan cepat.
****
Dino masih terus berjalan di pinggir jalan itu sambil melirik ke segala arah untuk mencari Chelsea. Tiap pinggir jalan itu banyak pepohonan dan semak.
Sekarang sudah malam, jalannya jadi gelap. Lalu tiba-tiba ada beberapa semak yang bergerak di sebrang jalan sana. Karena penasaran, Dino akan pergi ke sebrang jalan sana untuk memeriksanya.
Tapi saat berjalan di tengah jalan itu, tiba-tiba ada cahaya yang sangat terang datang menghampirinya dengan cepat.
Dino tidak bisa melihat jelas karena terlalu silau. Jadi ia menutupi matanya dengan lengan. Lalu cahaya itu berhenti tepat di depannya.
Tak lama kemudian, cahaya itu pun akhirnya menghilang. Eh, ternyata itu adalah cahaya dari mobil Ryo. Dino terkejut saat Liena tiba-tiba keluar dari mobil dan langsung memeluknya.
“Dino… kau dari mana saja!? Aku sangat cemas denganmu! Huwaaaa…” Liena menangis sambil memeluknya.
Dino jadi malu dengan posisinya. “E–eh? Liena… kau tenang saja. Aku baik-baik saja kok!”
__ADS_1
“Oh, oke! Sekarang ayo kita pulang!” ajak Liena sambil menarik tangannya untuk masuk ke dalam mobil.
“Eh, tunggu! Chelsea… masih belum kutemukan!”
Aldy pun keluar dari mobil lalu berjalan mendekatinya. “Ah, Dino! Tidak usah mencari Chelsea lagi. Dia sudah ditemukan oleh Liena!” kata Aldy.
“Haaah!?” Dino terkejut mendengarnya. “Bagaimana bisa?!”
Liena tertawa kecil. “Heemm… makanya ayo kita naik ke mobil dulu. Akan aku ceritakan tentang bagaimana Chelsea bisa aku temukan.”
Dino mengangguk. Semuanya kembali menaiki mobil dan langsung berbalik arah untuk kembali ke rumah Chelsea.
Di perjalanan, di dalam mobil, Ryo masih sibuk mengemudi. Aldy duduk di bangku depan samping Ryo. Kalau Dino dan Liena duduk di bangku belakang.
“Oh iya, tadi katanya kamu mau ceritakan kejadian buruk yang sudah terjadi pada Chelsea! Coba ceritakan, bagaimana kau bisa bertemu dengan Chelsea? Dan di mana kau menemukan dia?” tanya Dino pada Liena.
“Kakak mau dengar ceritaku?”
“Iya, cepatlah!”
Dino dan Aldy mulai fokus ke Liena, sedangkan Ryo hanya bisa mendengarkan saja dari depan karena dia sedang mengemudikan mobilnya.
Liena memulai ceritanya. “Saat matahari mulai tenggelam, Aku kebetulan sedang berjalan menuju rumahku di jalan mau ke rumah Chelsea itu. Lalu aku kebetulan melihatmu lewat di sebrang jalannya. Karena malu… emm… aku mengumpat dibalik pohon, Hehe… tadinya aku ingin menyapamu, Dino! Tapi kau sudah berada jauh di jalan sana. Kamu jalannya cepat sekali, sih! Aku mau mengejarku, tapi tiba-tiba aku mendengar suara keributan dari arah Jalan mau ke rumah Chelsea itu. Aku segera menuju ke sana. Saat aku sampai di sana, Aku sangat terkejut, karena aku melihat Chelsea dibawa paksa oleh beberapa orang dewasa di depan rumahnya sendiri!”
Dink terkejut. ”Jadi Chelsea diserang oleh beberapa orang dewasa langsung di depan rumahnya!?”
“Tidak! Chelsea dibawa pergi menjauh dari rumahnya. Dia berusaha untuk melepaskan dirinya, tapi beberapa orang itu malah menyerangnya dengan benda tajam. Saat di situ lah aku baru turun tangan untuk menyelamatkannya. Dengan kekuatan mataku itu aku melawan para penjahat itu!” Lanjut Liena.
“Eh? Kau ternyata juga punya Death Eye!?”
“Eh! Death Eye!?” Kejut Aldy dan Kakaknya.
“Oh iya. Aku lupa kalau Aldy ini belum tau tentang kekuatan lain pada mata Liena!” Batin Dino panik.
“Iya… tepatnya nama mataku ini bukan Death Eye. Memang terlihat mirip dengan Death Eye sih… tapi hanya beda kekuatan saja.” Jelas Liena.
“Kekuatannya apa itu?” tanya Ryo penasaran.
“Sebaiknya jangan bicarakan tentang Kekuatan mata Liena saat ini, dong! Nanti ujung-ujungnya jadi certiakan tentang mataku juga, dan akhirnya Kak Ryo juga tahu tentang aku yang memiliki Death Eye juga!” Batinnya semakin panik.
“Kekuatan mataku ini….”
“Eh! Liena… emm… coba kau lanjutkan ceritamu tadi! Aku penasaran bagaimana keadaan Chelsea setelah kau selamatkan!” Tiba-tiba aku menyela omongan Liena.
“Oh iya, Kak!”
Semuanya terdiam dan Ryo kembali fokus ke jalanan.
“Tidak! Lebih baik jangan diceritakan lagi.” Kata Ryo.
“Kenapa kak?” tanya Aldy bingung.
“Karena kita hampir sampai di rumah Chelsea. Kita akan melihat keadaanya langsung!”
Semuanya jadi senang. Lalu tak lama kemudian akhirnya mereka sampai kembali ke rumah Chelsea.
Dino secepatnya turun dari mobil dan langsung mengetuk pintu rumah Chelsea. Kakaknya Chelsea membukakan pintu.
“Kalian pasti datang ingin menemui Chelsea?” tanya Mellia.
Aku mengangguk. ”Iya!”
“Tapi maaf. Chelsea-nya sedang tidur. Dia… tidak mau diganggu.” Kata Mellia.
Dino memasang wajah kecewa. Sedikit sedih karena tidak bisa menemui Chelsea dan melihat keadaanya saat ini. Tapi ia senang Chelsea dapat ditemukan kembali dalam keadaan baik-baik saja. Walau hanya sedikit terluka.
“Hmm… ya sudah deh! Aku akan menjenguknya besok saja.” Ucap Dino sambil mengangguk. Lalu semuanya kembali ke dalam mobil.
“Sekali lagi, aku minta maaf yah! Dan terima kasih sudah menemukan Chelsea.” Ucap Kak Mellia sambil melambai dari depan teras.
Lalu Millea kembali masuk ke dalam rumahnya dan Ryo dengan mobilnya mengantarkan mereka ke rumah masing-masing.
****
Dino diantar pulang sampai depan rumahnya oleh Ryo dengan mobilnya.
“Terima kasih banyak telah menghantarku pulang!” ucap Dink pada Ryo.
“Iya. Tidak masalah, Dino!”
Sekarang di dalam mobil hanya tersisah 3 orang. Yaitu, Ryo yang mengemudikan mobilnya, Aldy, dan Liena.
Sekarang setelah Ryo mengantarkan Dink sampai rumah, dia juga akan menghantarkan Liena dulu, baru pulang ke rumahnya dengan Aldy.
“Baiklah, Dino! Kakak pergi dulu yah!”
“Iya kak. Dadah…”
“Daah… Dino!” Liena melambaikan tangannya.
Ryo pun pergi dengan mobilnya.
Dino masuk ke dalam rumahnya. Dilihat dari jam dinding di rumah yang tertempel di tembok ruang tamu, telah menunjukkan pukul 21:14 Malam.
“Aku lelah…” keluhnya sambil tiduran di atas sofa.
Dino memejamkan mata. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. Biasanya… rumah tidak akan sesepi ini. Dino memgingatnya. Rumahnya kembali sepi karena, akhir-akhir ini, Rinda jarang bermain di rumahnya.
Ini tidak seperti biasanya. Dia sudah lama tidak menemuinya. Dino jadi rindu dengannya. Dia berada di mana yah? Apa dia sudah kembali ke alamnya? Tapi kakinya belum ditemukan!
Ah!
"Aku pusing memikirkannya. Lebih baik aku masuk kamar dan beristirahat. Hari ini, hari Minggu yang melelahkan."
Ia menggerutu sambil berjalan ke kamar.
*
*
__ADS_1
*
To be continued-