
Tiny kembali berdiri tegak menghadap ke Yuri. Tubuhnya bergetar. Lalu tangan kirinya terangkat, mendekati kepalanya. Dengan cepat, ia menarik paksa penutup mata kirinya itu. Mata Kematian miliknya dapat terlihat. Yuri menghadap ke Tiny. Ia tersenyum sinis.
"Apa yang akan Tiny lakukan? Oh tidak, ada apa ini? Tiba-tiba saja Death Eye milikku jadi terasa sakit sekali."
Secara perlahan, pandangan Dino mulai kabur. Death Eye miliknya telah tertutup darah dan sudah tidak dapat digunakan untuk melihat. Hanya sementara.
Dalam posisi yang masih memeluk kepala Chelsea itu, Dino pun menutup kedua matanya dan terjatuh. Ia hanya merasa tubuhnya melemas dan tidak dapat bergerak. Tapi kesadarannya masih terjaga.
Setelah ayahnya terjatuh, Tiny menoleh ke belakang dengan cepat.
“Ayaaah! Tidak mungkin! Ibu… ibu sudah pergi. Dan sekarang, apakah Ayah juga akan ikut dengan Ibu?! Janganlah!” Batin Tiny panik di dalam hatinya. Dia benar-benar sedih. Apalagi saat ini, dirinya sedang menghadapi penjahat itu sendirian. Apa yang akan ia lakukan sekarang? Posisinya saat ini sedang dalam bahaya. Tidak ada orang lain di sana yang dapat membantunya.
“Anak kecil, apa kau ingin membunuhku juga? Tidak akan bisa. Bagaimana kalau kau ikut saja dengan kedua orang tuamu!” Yuri kembali mengangkat pedangnya yang penuh darah itu.
Saat ini, keadaannya sedang kacau, dan perasaan Tiny sedang tersakiti. Ia tidak bisa menggunakan Death Eye miliknya itu. Tidak bisa. Dia tidak berani untuk membunuh orang dengan kekuatannya.
Disaat keadaan sedang menegangkan, tiba-tiba saja gedung SDEH kembali bergoyang dan bergetar. Lalu langit-langit gedung itu berjatuhan. Percikan api yang berasal dari atap juga ikut berjatuhan.
Sepertinya kebakaran yang berada di atas atap itu semakin besar. Api dengan cepat akan melahap bangunan jika tidak segera dipadamkan.
BRAK!
Pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka sendiri dengan cepat.
Akhirnya!
Ternyata yang datang itu adalah Ryo bersama dengan Tino. Mereka yang baru datang itu terkejut saat melihat Tiny yang sudah duduk pasrah, sedangkan Yuri akan memenggal kepala Tiny dengan pedangnya itu.
Ryo tidak akan membiarkan Tiny dibunuh oleh wanita itu. Secepatnya, ia berlari menghampiri Yuri dan langsung mendorongnya. Tiny kembali membuka matanya, lalu mendongak. Ia senang Ryo dengan Tino bisa datang.
“Tiny, kau baik-baik saja, kan?” tanya Tino cepat pada adiknya.
Tiny tidak menjawab. Dia hanya menatap kakaknya dengan mata besarnya yang sedikit berkaca-kaca. Lalu setelah itu, Tiny kembali berdiri dan menghampiri kedua orang tuanya.
Tino mengikuti Tiny. Ia terkejut melihat orang tuanya bisa berakhir dalam keadaan yang seperti itu. Ryo juga ikut mendekat. Tiny dan Tino menangis dengan keras.
Ryo membalikkan tubuh Dino. Kemudian menggoyangkan untuk membangunkannya.
“Dino, Dino! Bangun! Dino, sadarlah!” teriak Ryo. Lalu Ryo memeriksa pernapasan dan denyut nadinya. “Dino masih hidup!”
Tino dan Tiny terkejut mendengarnya. Ia senang ayah mereka masih bisa bertahan, tapi mereka masih sedih dengan kepergian Ibu mereka.
Tiny menggeleng pelan. “Ayah masih bertahan? Tapi, kalau Death Eye-nya sudah rusak, percuma saja. Jika Death Eye-nya mati, maka ayah juga akan meninggal sama seperti Ibu!”
Tiny menangis semakin keras setelah mendengarnya. Dia tidak kuat menahannya. Lalu tak lama kemudian, Yuri kembali bangkit lagi. Dia memegang kepalanya yang sedikit berdarah karena terbentur tembok.
“Ikh! Manusia-manusia tidak bergunaaa! Matilah kaliaaaan!!” teriak Yuri sambil mengarahkan pedangnya itu pada Ryo.
Ryo tidak menghindar, tapi ia malah menahan pedang itu untuk sampai ke perutnya. Ryo memegang mata pisau pedang yang panjang itu.
Yuri semakin menekannya. Tangan Ryo mengeluarkan darah karena tergesek mata pisau. Ryo berteriak kesakitan, tapi ia tetap saja menggenggam pedangnya. Mata pisau itu semakin mendekat ke perut Ryo. Semakin mendekat, dan sedikit lagi…
__ADS_1
semakin dekat!
“Khu, khu, khu… sedikit lagi. Ayolah! Aku sudah tidak sabar melihat cairan merah yang keluar dari tubuhmu! Hahaha….”
“Ugh! UWAAAAA….”
Tiny memeluk kakaknya. Mereka menutup kedua matanya karena takut Ryo akan terkena senjata tajam yang dapat membunuhnya itu.
“MAATIILAAAH…!!!”
ZRRASSH!!
Tiny dan Tino kembali membuka mata mereka. Si kembar tidak melihat Ryo terluka, melainkan mereka melihat penjahat yang akan membunuhnya itu tiba-tiba saja kehilangan kepalanya.
“A–akhirnya…” Gumam Ryo. Ia melepaskan genggaman pedangnya itu, lalu langsung terjatuh ke lantai. Tino dan Tiny menghampiri Ryo untuk membantunya.
“Kakak!” teriak Tino. “Kakak baik-baik saja?”
Ryo sedang menyenderkan tubuhnya ke tembok sambil menggenggam masing-masing tangannya yang mengeluarkan banyak darah itu. Ia merintih kesakitan.
Melihat darah yang terus mengalir dari tangan Ryo, secepatnya Tino membuka dasinya. Begitu juga dengan Tiny. Mereka mengikatkan dasi mereka ke kedua lengan Ryo untuk menghentikan pendarahannya.
Tak lama kemudian, perlahan, darahnya mulai berhenti mengalir. Tapi tetap saja, Ryo masih merasakan rasa sakit pada lukanya itu.
“Te–terima kasih Aduh...” Ucap Ryo pada si kembar.
Tino dan Tiny mengangguk.
“AAAAAARGH!” teriakkan Yuri yang mengerang kesakitan.
Tubuhnya yang sudah terpisah dengan kepalanya itu masih bergerak. Napasnya masih ada walaupun sedikit terengah-engah.
TAP!
Seseorang datang menghampiri Yuri. Orang itu adalah, Miya Nikamura, anaknya sendiri!
Dialah yang sudah memenggal kepala Yuri. Tentu saja dengan mainannya sendiri, yaitu sebuah kapak miliknya.
“Mii… a… nande? ”
Miya berjalan mendekati Ibunya dan berkata, “Aku harus melakukan ini karena aku tidak suka dengan perbuatan Ibu. Ibu tidak seharusnya membunuh orang tanpa sebab seperti ini! Aku tidak suka. Ibu jahat! Ibu jahaaaat!” Miya mengangkat Kapaknya tinggi-tinggi dihadapan kepala ibunya yang sudah menggelinding jauh dari tubuhnya.
“Seharusnya, Ibu membunuh aku. Karena… Death Eye yang telah membunuh ayah itu adalah… diriku sendiri!”
BUK! PUK! PUK! CRAASSH!
Dengan cepat, Miya memukul kepala Ibunya dengan kapaknya berkali-kali sampai menjadi seperti daging cincang. Kepala Yuri telah hancur. Dirinya telah meninggal. Miya menghembuskan napas panjangnya karena ia merasa lega.
Lalu setelah itu, Miya menengok ke arah Tiny. Ia tersenyum pada Tiny. “Tiny, terima kasih karena telah menjadi temanku dan mengajariku banyak hal tentang kebaikan. Aku minta maaf atas semua kesalahanku dan Ibuku.”
“Ja–jadi… wanita itu adalah Ibunya Miya!? Ekspresinya biasa saja setelah ia membunuh Ibunya itu.” Batin Tiny.
__ADS_1
“Jadi, Tiny… untuk permintaan maafku yang selanjutnya, aku akan memberikan nyawaku pada ayahmu!” Miya mendekatkan mata pisau kapaknya itu ke dekat lehernya sendiri.
“Setelah buku yang kubaca, aku akhirnya tahu kalau mata Death Eye yang rusak itu dapat diganti menjadi yang baru sesuai dengan jenisnya.”
“Miya! Ja–jangan bilang kalau kau akan….” Tino berdiri sambil menjulurkan tangannya.
“Jangan khawatir. Aku… akan menyelamatkan ayahmu!” Miya tersenyum manis pada Tino dan Tiny.
Lalu setelah itu, Miya semakin mendekatkan mata pisau kapaknya itu ke lehernya. Semakin dekat. Tangannya gemetaran. Ia sebenarnya tidak berniat ingin mengakhiri hidupnya, tapi setidaknya pengorbanan terakhirnya dapat membahagiakan sahabatnya. Sambil memikirkan niat yang sebenarnya, mata Miya mulai mengeluarkan air mata. Sekali lagi ia tersenyum.
“Tiny! Ambillah Death Eye milikku!”
ZRRASAHH….
Miya memenggal kepalanya sendiri dengan kapaknya. Sekali lagi, darah membanjiri ruangan tersebut. Tubuhnya terjatuh, dan kepalanya menggelinding sampai ke hadapan Tiny.
“Ti… tiny… sekarang, ambil saja mataku. Aku ingin mengikuti kedua orang tuaku. Sa… yo… na... ra ….”
Miya menutup matanya. Tiny bergumam “Terima kasih” pada Miya. Tiny berpikir, kalau dia masih bisa menyelamatkan ayahnya. Death Eye Miya masih sehat.
“Pendonoran mata itu pasti akan berhasil untuk bisa menyelamatkan nyawa Dino.” Gumam Ryo. “Anak-anak, sekarang, kita harus cepat membantu ayah kalian. Ayo!”
“Iya!” Tino dan Tiny mengangguk.
Sebelum mereka pergi, Tiny menulis, ‘Eh, Ngomong-ngomong, kenapa Miya bisa bebas? Di mana Dio dan kakaknya itu?’
“Oh, tadi sebenarnya, si Devan tidak sengaja melepaskan Cont Eye-nya. Akhirnya, Miya kembali bergerak dan dia pun langsung pergi berlari menjauh dari kami. Devan dan Dio berusaha mengejar Miya sampai arah mau ke lantai 3."
"Tapi saat di tengah jalan, Devan dan Dio malah bertabrakan dengan kami berdua. Jadinya, mereka malah kehilangan Miya.”
Si kembar mengangguk paham. Lalu Tiny kembali menulis, ‘Kenapa kakak lama sekali datangnya?’
“Oh, tadi ada sedikit masalah. Tapi aku sudah membereskannya. Tenang saja. Aduh!” Ryo kembali menggenggam kedua tangannya. Telapak tangannya itu kembali mengeluarkan darah dan rasanya sakit sekali.
“Kakak baik-baik saja?” tanya Tino.
“I–iya. Jangan khawatirkan aku. Kalian bantu ayah kalian saja.” Ryo kembali mengerang sambil memegang tangannya yang sakit. “Sekarang, siapa yang akan membantu Dino?”
BRAK!
“Aku datang!”
Itu Dio!
Dia datang bersama dengan beberapa petugas tim penyelamat. Dio memang sang penyelamat. Dia membawa banyak bantuan untuk mereka semua!
*
*
*
__ADS_1
To be continued–
@pipit_otosaka8