The Death Eye

The Death Eye
Eps 5– Kecemasan


__ADS_3

“Dino? Kau sedang apa?” tanya Yuri mengejutkan Dino yang tiba-tiba datang. Ia menghampiri Dino yang sedang melamun di depan jendela.


“Ah, Yuri. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Jawabnya.


Yuri berjalan menghampirinya dan saat ini dia sedang berdiri di samping Dino.


“Apa yang kau pikirkan?” tanya Yuri.


“Ah, tidak ada yang penting, kok! Hanya tentang keluargaku saja,” Jawabnya dengan tertawa kecil. “Oh iya, Apa Anak-anak Death Eye sudah diberi makan?”


Yuri mengangguk. “Sudah, kok. Baru saja aku selesai dengan tugasku.”


“Oh begitu.”


Keadaan menjadi hening kembali. Dino merasa bosan. Seharusnya ia bisa pulang hari ini karena pekerjaannya sudah selesai. Tapi entah kenapa, saat ini ia merasa tidak ingin pulang untuk bertemu dengan keluarganya di rumah.


"Haduh, perasaan tidak enak apa ini yang tiba-tiba muncul?" batinnya cemas. Ia benar-benar merasa tidak ingin meninggalkan gedung tempatnya bekerja, karena ada hal aneh yang ia rasakan.


Apa akan ada sesuatu yang buruk di sini?


“Eh, Yuri? Kenapa kau masih di sini? Apa kau tidak mau pulang?” tanya Dino. Ia mencoba untuk mengajak ngobrol wanita di sampingnya itu untuk menghilangkan rasa jenuh. “Bukankah, pekerjaanmu sudah selesai?”


Yuri tersenyum dan tertawa kecil. “Iya, haha… aku memang ingin pulang. Tapi aku lebih suka di sini. Kalau di rumah, sangat membosankan, karena tidak ada yang menemaniku di sana.”


“Apa kau tinggal sendirian? Di mana kau tinggal?” tanya Dino penasaran.


“Keluargaku berada di Jepang. Dan di Indonesia, aku tinggal di pinggir kota. Aku menyewa dapartemen untuk ku tinggali. Hanya sementara sih…, tapi aku menyukai tempat itu. Hanya saja, sedikit membosankan.” Jawabnya dengan sedikit keluhan.


“Hmm… memang tidak enak tinggal sendirian. Sama sepertiku dulu,” Dino tersenyum lalu menundukkan kepalanya sembari memejamkan mata dan berusaha mengingat masa lalu. “Dulu, aku juga sama sepertimu. Selalu sendirian tanpa teman dan keluarga.”


“Ah! Benarkah? Kasihan sekali kau!”


“Ahaha… tidak apa. Sekarang, hidupku sudah membaik. Tidak perlu khawatir."


“Syukurlah kalau begitu, haha…” Yuri tersenyum sambil menepukkan tangannya.


Dia sepertinya senang sekali hari ini. Apa mungkin karena dia memiliki teman mengobrol seperti Dino?


Kalau dia suka aku ajak bicara, lebih baik Dino akan lebih sering majak dia mengobrol bersama.


“Hmm… sepertinya mood-mu sedang baik, yah, hari ini!”


Yuri tertawa. “Yah, begitulah, hehe….”


“Kau hebat juga!” Dino memujinya. Membuat Yuri terkejut.


“Eh, kenapa?”


“Kau sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar sekali. Kau pasti belajar dengan rajin, yah?”


“Yaah… begitulah. Aku suka Bahasa Indonesia.” Jawabnya.


“Wow, hebat sekali. Hei, kalau boleh, aku ingin kau mengajariku Bahasa Jepang. Kumohon… aku ingin bisa berbahasa asing, hehe…” Pinta Dino.


“Hmm, daijobu, watashi wa anata o oshieru koto ga dekimasu!”


“Itu apa artinya?” tanya Dino heran.


“Sekalian belajar, yah! Artinya, ‘Baiklah, aku akan mengajarimu!’ Begitu!” Jawabnya.


“Waah, Arigatou Gozaimasu!”

__ADS_1


“Wow, sepertinya kau sudah mengetahui arti ucapan Bahasa jepang itu, yah! Dari mana kau tahu?” tanya Yuri penasaran.


“Haha… aku sering mendengarnya di dalam film Anime Jepang yang suka ku tonton. Tapi aku bisa sedikit-sedikit kata kerja dalam Bahasa Jepang. Karena, saat aku masih sekolah dulu, aku mengikuti khursus Jepang. Dan aku juga memiliki sahabat yang bisa bahasa Jepang.” Jelasnya.


“Hebat! Haha…” Yuri menepuk tangannya lagi dengan gembiranya.


Ternyata dugaan Dino benar, Yuri memang membutuhkan teman untuk mengobrol sebagai hiburannya. Dino juga senang bisa mengobrol dengan orang luar, karena bisa belajar Bahasa asing dari mereka.


Yuri memberikan kata-kata Bahasa jepang lainnya, dan Dino selalu mengikuti perkataanya. Ia belajar banyak darinya malam ini. Menyenangkan sekali.


NGIIEEETTT… NGIIEEET….


Eh, Dino dan Yuri terkejut. Tiba-tiba saja, alarm keamanan berbunyi! Ada masalah apa ini?!


Dino dan Yuri bergegas berlari menuju ke lantai bawah untuk melihat keadaan. Tapi saat mereka berada di dekat tangga menuju ke lantai 2, mereka melihat banyak sekali asap hitam yang menggumpal di bawah sana.


Oh tidak!


Apa ini kebakaran!?


“Oh iya! Balita-balita Death Eye ada di lantai 2! Mereka dalam bahaya. Bagaimana ini, Dino?” tanya Yuri panik.


"Iya, aku baru ingat kalau ada banyak balita kecil di bawah sana. Karena terlalu panik, aku sampai lupa dengan mereka." Batin Dino. Di luar dia terlihat tenang, tapi di dalam hati dia juga ikut panik dan khawatir seperti Yuri.


“Iya, baiklah! Kalau begitu, kau cepat cari tempat yang aman. Pergilah ke atap darurat untuk menghirup udara segar terlebih dahulu. Siapa tahu, penyelamat akan datang lewat helikopter. Aku akan ke bawah sana untuk menolong mereka yang terjebak!” tegas Dino.


“Tapi, Dino…?”


“Tidak ada waktu! Cepatlah pergi. Selamatkan dirimu!” Katanya menyela sambil berlari menuruni tangga dan menerobos asap-asap itu.


Tapi di atas sana, Yuri hanya diam saja sambil senyum-senyum sendiri. Kemudian dia hilang dalam kumpulan asap hitam.


Eh, apakah Death Eye miliknya bisa menolong?


Untuk memastikannya, Dino mencoba membuka penutup matanya, dan kali ini, ia akan melihat menggunakan Death Eye miliknya.


Ah! Ternyata berhasil. Death Eye-nya sangat membantu. Dino bisa melihat tanpa ada rasa perih di matanya karena asap ini.


Sampai akhirnya ia menemukan ruangan yang dicari. Sambil menutup hidungnya dengan tangan, Dino menerobos asap itu dan berlari menuju ruangan tempat Balita-balita Death Eye yang terjebak di dalamnya.


Tepat di depan pintu ruangan itu, Dino mendobrak pintu dan masuk ke dalamnya, kemudian dengan cepat, ia kembali menutup pintu itu lagi agar asap di luar sana tidak banyak yang masuk.


Tapi saat di dalam sana, ia tidak melihat seorang pun. Di mana semua Balita-balita itu? Apa mereka sudah diberi pertolongan? Ia tidak tahu.


Dino akan coba periksa ke ruangan lain terlebih dahulu. Siapa tahu, para balita-balita itu juga mencari tempat perlindungan. Sembari mencari balita-balita itu, Dino juga harus mencari alat pemadam api darurat di dekat sini.


Ruang makan dan kamar mandi tidak ada. Kalau begitu, berarti mereka berada di ruang bermain saat ini. Ia memasuki ruang bermain dan mencari balita-batlita itu. Akhirnya ketemu!


Mereka sedang bersembunyi di bawah perosotan dan sebagiannya di dalam rumah-rumahan. Dino senang mereka masih bisa bertahan. Tapi ia juga harus cepat mengeluarkan semuanya, karena asap yang berkumpul di depan pintu sana semakin banyak dan api semakin menyebar.


“Ayo cepat. Pelan-pelan, kalian ikuti aku!”


Para balita itu berjalan perlahan dengan kaki kecil mereka. Dino memimbing mereka semua. Ini sedikit sulit dan merepotkan, karena sebagian besar balita-balita ini, ada yang tidak mau ikut dengannya karena takut dan ada pula yang menangis, juga ada yang sempat mengompol.


Tapi karena terpaksa dan memang sudah tugas Dino untuk melindungi mereka, jadi apa boleh buat, ia berusaha membujuk mereka yang menangis dan menggendong 2 anak.


Akhirnya, semua balita-balita ini dapat berkumpul bersama dengan selamat. Dino juga sudah menemukan alat pemadam api yang ia cari itu. Tapi, dengan banyaknya anak-anak yang ia bawa ini, tidak mungkin Dino bisa membawa mereka melewati asap-asap itu.


Dino harus cari jalan keluar lain.


Ah! Itu dia. Kebetulan ini berada di lantai 2, jadi ia coba saja dengan melewati jendela.

__ADS_1


Dino memojokkan semua balita-balita itu dan perlahan mendekati jendela. Ia membuka jendela itu lebar-lebar dan seketika angin malam yang sejuk bisa masuk. Dino melihat keluar jendela, dan kebetulan sekali, di bawah sana sudah banyak petugas pemadam kebakaran yang membantu.


Sekarang bagaimana caranya ia keluar lewat jendela ini?


Apa ia lempar satu persatu balita lewat jendela ini sampai petugas-petugas itu menangkap mereka?


Hah, tidak mungkin seperti itu. Dino akan meminta bantuan petugas-petugas itu untuk meraih mereka dengan bantuan mobil pemadam dan tangganya.


Para petugas itu melihat dirinya yang masih ada di dalam gedung ini. Lalu, petugas-petugas pemadam kebakaran itu segera membawa tangga penyelamat dan pelampung besar yang diletakkan di bawah tangga.


Tangga itu sudah mengarah sampai ke depan jendela dan salah satu petugas menaiki tangga itu untuk membantu mereka turun. Sementara yang lainnya tetap berusaha untuk memadamkan api.


“Nah, pertolongan sudah datang untuk kalian. Sabar yah, satu per satu, oke. Ayo, akan kubantu kalian!” kata Dino dengan nada lembut sambil menenangkan balita-balita itu.


Lalu satu per satu ia menggendong balita-balita itu untuk diberikan pada petugas agar sang petugas bisa menurunkan mereka dengan aman.


Eh! Sepertinya kita harus cepat, karena ternyata apinya sudah merambat sampai ke lantai 2. Berbagai benda yang terbakar mulai berjatuhan dan di sini sudah semakin panas.


Kemudian, tiba-tiba saja ada api yang muncul dan membakar dinding di ruang bermain. Seketika, api itu merambat semakin cepat. Untuk mencegah api itu sampai ke sini, Dino menyemprotkan sedikit Gas cair yang tercampur oleh Foam di dalam Tabung Pemadam Api.


Stetelah Api di tempat itu menghilang sedikit, ini kesempatannya untuk kembali menolong balita yang tersisah di sini.


Tak lama kemudian, akhirnya sudah semua balita turun dengan selamat. Tepat pada waktunya. Sekarang giliran untuknya keluar dari tempat berbahaya itu.


Tapi saat dirinya hendak turun lewat tangga yang telah dipasang oleh tim penyelamat, tiba-tiba saja muncul rasa sakit di bagian punggung dan seketika mulutnya mengeluarkan banyak darah.


Secara perlahan, Dino melirik ke bawah dan terkejut melihat ada mata pisau panjang yang menusuk dan menembus dadanya.


“Aaaakh!”


****


PRANG!


“Astaga! Ya ampun!”


Chelsea terkejut. Tiba-tiba saja, gelas yang dia pegang sehabis cuci piring itu terjatuh dari genggamannya dan pecah. Tiny dan Tino keluar dari kamar mereka dengan tergesa-gesa.


“Ibu, ada apa?” tanya Tino cemas.


Nafas Chelsea agak terengah-engah sedikit. Kemudian ia menoleh ke si kembar, lalu tertawa kecil. “Haha… tidak apa, kok! Tadi Ibu hanya terkejut, tiba-tiba ada kecoak lewat di depan Ibu,” Jawab Chelsea. “Tidak perlu khawatir. Kalian kembalilah ke kamar dan Ibu akan membersihkan sisa-sisa beling ini.” Lanjutnya.


Tiny menulis. ‘Lain kali hati-hati, Bu!’


Chelsea tertawa malu. “Iya, haha….”


“Baiklah, Bu! Ayo Tiny, kita menggambar lagi!” ajak Tino.


Tiny mengangguk. Si kembar pun kembali ke kamar mereka.


“Haduh, tadi aku kenapa, yah? Tiba-tiba saja ada perasaan tidak enak datang menggangguku. Ah, semoga semuanya baik-baik saja.” Pikir Chelsea yang berusaha untuk menenangkan dirinya.


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2