The Death Eye

The Death Eye
Eps 19– Ulang Tahun itu Tidak Menyenangkan (2)


__ADS_3

BUUUGH!


Tiba-tiba saja ada seekor makhluk bersayap besar masuk ke dalam rumah Dino. Dan yang tadi itu, adalah teriakkan Dino untuk memperingati mereka yang di dalam rumah untuk segera menghindar.


Seekor burung hantu dewasa berterbangan di dalam rumahnya. Menjatuhkan beberapa barang dan membuat orang-orang yang ada di dalam rumah menjadi panik.


Dino kembali masuk ke dalam dan melihat seluruh dapur menjadi berantakkan. Ia melirik ke sekitar mencari burung hantu yang masih berkeliaran itu.


Ke mana burung itu?


Apa jangan-jangan, burung hantunya masuk ke ruangan lain dan memberantaki isi ruangan itu?


"Aku harus cepat menangkap burung itu kembali."


Tapi, sebelum Dino pergi, langkahnya menuju kamar sempat terhenti saat ia melihat seseorang yang berhasil menangkap burung itu.


Ah! Itu Tiny. Burung Hantu jadi tenang, dan saat ini ia sedang hinggap di atas lengannya Tiny. Tiny pun tersenyum pada Dino karena ia merasa senang saat ini.


Semua orang keluar dari tempat persembunyian mereka dan langsung menghampiri Dino.


“Dino! Kenapa burung itu bisa lepas?!” Chelsea membentak.


“Ah! Maaf, aku tidak sengaja. Saat aku ingin memberikannya makan, tiba-tiba saja dia keluar dari kandangnya lewat pintu yang sedikit terbuka. Lalu dia terbang masuk ke dalam rumah.” Dino menjelaskan. “Hei, kenapa kau marah? Aku dicakar burung itu, tahu! Memberinya makan saja butuh perjuangan.”


“Sekarang, di mana burung itu?”


“Itu!”


Dino menunjuk ke arah Tiny yang berada jauh di pojokan dapur sana sambil membawa seekor burung hantu di lengannya. Semua orang menengok ke Tiny.


“Tiny, awas! Nanti kamu dicakar, lho!” tegas Chelsea memperingati.


Tiny menggeleng. Lalu ia memindahkan burung itu ke lantai. Lalu setelah itu, dengan cepat burung itu kembali terbang dan hinggap di atas kepala Tiny. Dengan kedua tangannya, Tiny menulis.


‘Ini burung siapa?’


Dino menggaruk kepalanya dan tertawa kecil. “Ah, itu… Ayah membelinya. Itu untukmu. Peliharalah.”


‘Dari mana Ayah tahu aku ingin burung hantu?’


“Eh, maaf. Saat kita pulang sekolah kemarin, aku sempat membaca pikiranmu. Habisnya, saat kamu keluar dari kelas, kamu terlihat senang sekali. Karena penasaran, dari belakang, aku menggunakan mataku untuk membaca apa yang kau pikirkan saat itu." Dio menjawabnya. "Ternyata, kamu sedang memikirkan tentang hurung hantu dan kamu ingin sekali untuk memeliharanya.”


Tiny tersenyum lebar. Dia senang sekali bisa mendapatkan burung yang ia inginkan itu. Apalagi, tepat di saat hari ulang tahunnya.


‘Terima kasih! Terima kasih banyak. Aku senang sekali!’


Semuanya mengagguk. Tino melirik adiknya itu, lalu ia kembali menengok ke arah orangtuanya. Ia memasang wajah sedih dan terlihat iri. “Kenapa hanya Tiny yang di beri hadiah? Untukku? Apa tidak ada burung hantu untukku?”


“Kau bisa merawatnya bersama Tiny, No! Burung Hantu itu untuk kalian berdua.” Jawab Dino.

__ADS_1


“Ya… itu hadiah dari ayah kalian. Sekarang, Ibu juga punya kejutan untukmu!” Kak Mellia memberikan dua kotak berukuran sedang pada Chelsea. “Ini, untuk kalian berdua. Masing-masing dapat. Sekarang, coba dibuka!”


“Yey! Kado yang besar.”


Si kembar membuka bungkusan warna-warni berbentuk kubus itu. Setelah dibuka, mereka terlihat senang sekali. Tino mendapatkan Play Station dan beberapa kaset video game terbaru.


Sedangkan Tiny, mendapat Sketchbook, beberapa alat melukis dan menulis, dan beberapa buku Novel dengan genre yang Tiny sukai, yaitu Fantasy. Si kembar benar-benar sangat senang sekali. Hadiah yang diberikan orang tua mereka ternyata tidak mengecewakan.


Setelah itu, semuanya merayakan hari jadi Tino dan Tiny. Walaupun yang datang hanya kerabat dekat dan teman-temanku, tapi rumah ini, terasa terisi dan tidak sepi lagi seperti dulu. Dino suka suasana yang seperti ini.


Eh, bicara soal teman-teman, ia jadi ingat dengan Yuri.


"Oh iya! Yuri… tidak kuundang!" batin Dino. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan tertawa kecil. "Haduh, Dino… teman seperti apa kau ini? Teman sesama pekerja yang dekat tidak kau undang di acara seperti ini."


Sekarang juga, Dino akan menelpon Yuri. Ia mengetikkan beberapa nomor, lalu menempelkan ponselnya ke telinga.


TUUT… TUUUT….


[Maaf. Nomor yang anda tuju, sedang tidak ada dalam jangkauan saat ini. Mohon dicoba lagi nanti.]


"Ha? Kenapa hanya suara perempuan lain yang terdengar dan bukan Yuri sendiri. Dia tidak mengangkat telpon dariku. Ada apa dengannya?" Dino mematikan ponselnya. Ia jadi merasa cemas dengan Yuri. "Semoga dia baik-baik saja!"


DRRRTT… DRRTTT….


Eh? Tiba-tiba ponsel yang Dino pegang itu bergetar. Ada telpon masuk. "I–ini Yuri!


Ini sungguh Yuri. Akhirnya dia menelponku!"


TUT!


[DINOO! KUMOHON TOLONG AKU DINO! TOLONG AKUUU… KYAAAA… AAA….]


Suaranya terputus-putus. Dan dia… berteriak meminta tolong!?


Untuk apa?


[TIDAAAK! AH! TIDAAAAK… TOLONG AKU! KYAAAA…!]


TUT!


Eh! Seketika, ponselnya dimatikan! Teriakkannya membuat Dino jadi merinding. "Tidak! Yuri sedang dalam bahaya! Tidak mungkin! Dia kenapa?"


Dino harus mengecek ke rumahnya. Jika Yuri dalam bahaya, maka ia harus menolongnya. Tapi ia tidak tahu Yuri ada di mana sekarang. Dino jadi panik memikirkan keadaanya.


"Bagaimana ini!?"


Chelsea yang melihat Dino kebingungan sendiri sambil mundar-mandir tidak jelas, langsung menghampirinya.


“Dino? Apa ada masalah?”

__ADS_1


“Ah! Chelsea! Yuri! Dia… dia….”


"Yuri? Dia kenapa?”


“Aku tidak tahu. Terakhir aku bertelponan dengannya tadi, dari berteriak menjerit minta tolong padaku. Begitu. Dia minta tolong padaku. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu dia ada di mana sekarang!” Jelas Dino dengan cepat. “Pada awalnya tadi, dia tidak mengangkat telponku. Lalu taka lama setelah kumatikan, Yuri mendadak menelponku. Chelsea, aku harus menolongnya!”


“Tiba-tiba dia menelponmu? Kenapa mendadak?”


“Apanya yang mendadak?”


“Kenapa dia tiba-tiba menelponmu dan langsung minta tolong padamu. Padahal sebelumnya, kau sudah menghubunginya dahulu, lalu tidak diangkat. Tapi kenapa dia….”


“Ah! Chelsea, apa yang kau pikirkan? Mungkin tadi dia tidak sempat mengangkat telpon dariku karena dia sedang menghadapi bahayanya itu. Lalu saat di tempat yang aman, dia baru menelponku untuk meminta bantuan.”


“Aneh. Kenapa dia mengabaikan telpon darimu di saat dia sedang dalam bahaya. Padahal itu kesempatan bagus baginya untuk segera meminta tolong padamu. Aku jadi curiga.”


“Chelsea? Ah! Maaf, aku harus pergi mencarinya sekarang!”


“Tunggu, Dino! Jangan!”


Chelsea menarik tangan Dino dengan cepat. Dia tidak membiarkan Dino untuk pergi mencari Yuri yang sedang dalam bahaya itu.


Dino pun berbalik badan dan kembali berhadapan pada Chelsea. Ia mengerutkan kening dan menatap tajam padanya. “Kenapa jangan?!”


“Dino… apa kau tidak mencurigai temanmu yang aneh itu?”


“Aneh bagaimana? Ikh! Yuri itu teman baikku. Dia tidak pernah menyakitiku. Dan sekarang, di saat dia sedang ada masalah, aku harus menolongnya!” Dino membentaknya.


Dino tersentak sendiri setelah ia membentak Chelsea. “Eh, maafkan aku, Chelsea. Maaf. Aku… akan segera kembali!”


Semua orang menengok ke arah Dino dan Chelsea. Dino melepaskan tangannya dari genggaman Chelsea dengan lembut. Kemudian ia tersenyum pada Chelsea.


Lalu setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi, Dino kembali berbalik badan dan langsung berlari meninggalkannya. Semua orang menghampiri Chelsea yang ada di depan pintu itu.


“Chelsea? Apa ada masalah?” tanya Millea pada adiknya.


“Ah, tidak ada apa-apa, kok!” jawab Chelsea cepat.


“Ah, maaf! Aku… akan mengejar Dino.” Ujar Aldy. Dia berlari keluar rumah. Lalu disusul oleh Devan dan Ryo pun berlari mengejar Aldy. Mereka juga akan ikut.


Tino dan Tiny yang melihat ayahnya pergi ke luar dengan tergesa-gesa, membuat mereka menjadi cemas. Si kembar jadi penasaran dengan urusan apa yang sedang ayah mereka kejar-kejar itu.


*


*


*


To be Continued-

__ADS_1


IG: @pipit_otosaka8


__ADS_2