
Liena dan Aldy terus mencari. Lorong di tempat mereka berada, sepertinya tidak memiliki banyak ruangan. Pasti akan mudah. Mereka berdua telah berbagi tugas.
Liena akan memeriksa beberapa ruangan di sebelah kiri dan Aldy yang kanan. Semua ruangan itu ternyata hanya gudang. Tidak ada hal yang mencurigakan dan mereka tidak menemukan apapun di sana selain barang bekas yang berdebu.
“Bagaimana, Aldy?” tanya Liena.
“Di sini juga tidak ada apa-apa. Kalau begitu ayo kita pergi ke tempat Dino saja.” Jawab Aldy.
Mereka akan keluar dari lorong itu. Tapi, mendadak Aldy mendengar sesuatu. Dia menghentikan langkahnya. Liena menoleh ke belakang.
“Sayang, ada apa?”
Aldy tidak menjawab. Lalu tak lama kemudian, ia tersentak. Dengan cepat, Aldy berlari ke arah Liena dan langsung memeluknya. Setelah itu, tiba-tiba saja….
DUAR!
Salah satu ruangan yang ada di lorong itu meledak. Menyebabkan kebakaran di beberapa ruangan yang ada di dekat Aldy dan Liena. Untung saja, Aldy dan Liena sempat menghindar.
Masih dalam posisi berpelukan, Liena dan Aldy kembali membuka mata. Debu akibat bangunan yang runtuh itu mulai membuat pernafasan mereka menjadi sesak ditambah dengan asap dari kebakaran kecil di dalam ruangan.
Aldy dan Liena segera berdiri kembali. Mereka akan pergi dari sana. Kemudian Aldy mendengar sesuatu lagi. Suara benda yang retak. Aldy pun mendongak ke atas, lalu secepatnya dia langsung mendorong Liena untuk menjauh darinya.
BRUK!
****
“A–apa itu?” Ryo menengok ke belakang. Begitu juga dengan Tino. Mereka mendengar suara keributan. Lebih tepatnya suara benda jatuh yang menghantam ke lantai dengan sangat keras.
“TIDAAAK!”
Setelah itu, suara teriakkan terdengar. Ryo tahu itu suara siapa. Itu suara Chelsea! Apa mereka hampir dekat? Tapi kalau menurut Tino, ia mendengar suara itu tepat berada di atasnya. Itu berarti, Chelsea berada di lantai tiga.
Tapi, saat Ryo dan Tino kembali keluar dari lorong kedua itu, mereka sempat melihat Liena yang keluar dari lorong pertama. Ia terbatuk-batuk, lalu setelah itu, Liena melirik ke arah Ryo dan Tino. Dia pun langsung berlari tergesa-gesa.
“Liena, ada apa?” tanya Ryo cemas.
“Tolong Aldy! Dia… terjebak!”
“Apa? Bagaimana bisa? Terjebak di mana dia?” tanya Ryo sambil berjalan cepat menuju ke lorong yang pertama itu.
“Dia telah menyelamatkanku. Dan sekarang, dirinya jadi tertimpa langit-langit gedung yang runtuh. Ditambah lagi, di belakangnya ada kebakaran. Ayo cepat, kak!” Liena kembali ke lorong yang pertama itu.
Setelah mereka sampai di sana, Liena pun langsung menunjuk ke arah Aldy yang sedang dalam masalah. Ryo pun secepatnya berlari menghampiri Aldy.
“Aldy! Kau tidak apa-apa? Hei, bangunlah! Kau harus bertahan!” teriak Ryo sambil mengangkat beberapa batu beton yang runtuh dari langit-langit di lorong yang menimpa tubuh Aldy. Ia tidak sadarkan diri setelah kepalanya tertimpa batu yang runtuh.
Ryo berusaha untuk membangunkan adiknya sambil mengangkat batu-batu untuk membebaskan Aldy. Dibantu oleh Liena juga.
__ADS_1
Tino merasa cemas. Kemudian ia melirik ke atas dan terkejut. Langit-langit itu kembali retak. Tino pun berteriak untuk mengingatkan Liena dan Ryo. Mereka berdua pun mendongak dan seketika, langit-langit itu mulai berjatuhan.
BRUK!
****
“CHELSEEEAAA!”
Tepat setelah mendengar suara teriakkan tadi, Dino dan Tiny langsung berlari mencari asal suaranya berada. Dino yakin itu suara Chelsea.
Lalu terdengar lagi suara keributan. Suara itu berasal dari ruangan pribadi manejernya.
Perlahan, Dino membuka pintu ruangan. Ia mengintip ke dalam ruangan itu. Betapa terkejutnya Dino saat melihat kepala Manejernya sendiri di depan pintu itu.
Dia sudah mati karena Death Eye-nya sudah menghilang. Lagi-lagi hanya tersisah kepalanya saja. Tiny merasa ketakutan. Dia terus memeluk Dino sambil berjalan mengikuti ayahnya.
“Dino! Apa itu kau?”
Itu suara Chelsea.
Dino melangkahkan kakinya. Tepat sekali, di balik tembok tempat pembatas pribadi milik Manejernya, ia akhirnya bisa menemukan Chelsea.
Dia terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang terluka, tapi dirinya saat ini sedang dalam keadaan terikat di atas kursi di depan meja pribadi Manejer.
Chelsea terlihat senang saat melihat Dino datang. Dino pun berlari menghampirinya. Tapi, saat Dino mendekatinya, seketika, ekspresi Chelsea pun berubah.
Dino pun menghentikan langkahnya dengan cepat. Lalu tiba-tiba saja, ada sebuah pedang panjang yang melesat di depan wajahnya. Dino pun mundur ke belakang dengan cepat. Pedang itu menancap ke lukisan yang ada di dinding.
Dino benar-benar sangat terkejut. Lalu tak lama kemudian, ia mendengar suara langkah kaki seseorang dari samping kanannya. Ada seseorang yang muncul dari balik kain gorden jendela.
Orang itu adalah … Yuri Nikamura?!
Dugaannya ternyata memang benar kalau dia itu masih hidup. Tapi, siapa orang yang terbunuh di dalam kamarnya itu?
Perlahan, kaki Dino melangkah menghampiri Yuri. “Yuri! Ternyata kau masih hi–“
“Dino! Jangan dekati dia!” teriak Chelsea.
Dino menengok ke Chelsea. Yuri berlari ke arah Dino, kemudian dia mengeluarkan pisau kecil dari dalam sakunya dan….
ZRASSH!!
“UWAAAAKH! AAAAH….”
“A–apa-apaan ini?! Aku belum pernah merasakan sakit ini. Ma–mataku. Mata Death Eye-ku!”
Yuri telah menyabet Death Eye milik Dino. Death Eye-nya mengeluarkan banyak darah dan rasanya sakit sekali. Apa mata Dino sudah terluka?
__ADS_1
Jika terluka, dia bisa mati!
“Dino, bodoh. Sudah jelas-jelas aku telah banyak menipumu, tapi kau masih saja mempercayaiku dan sekarang, kau akhirnya masuk ke dalam perangkapku.” Ujar Yuri sambil menyeringai senang.
“Yuri… apa yang kau lakukan? Bu–bukankah kita berteman?” tanya Dino pelan. Ia menahan rasa sakitnya juga.
Dino berusaha untuk berdiri kembali sambil menutup mata kirinya yang penuh dengan darah. Penutup matanya terbelah dan putus. Ia harus memakai penutup matanya lagi, kalau tidak, Yuri bisa mati karena Death Eye Dino.
“Teman? Heh, jangan harap. Kita bukan teman!”
“Ikh! Jadi, semua perkataanmu tentang teman itu hanya sebuah sandiwara saja?!” Dino balas membentak.
“Ya… sebenarnya, tujuanku datang ke sini hanya untuk menghabisi semua Death Eye di negara ini. Setelah ini, aku akan pergi ke negara lain dan menyebar terror pada penduduknya. Haha….”
“Tidak akan kubiarkan!”
“Sudah terlambat, Dino… sekarang juga, kau harus mati di sini! Tadi, aku lupa untuk mencolok mata kirimu. Aku ceroboh sekali,” Yuri mencabut pedangnya dari dinding. Kemudian ia mengarahkannya pada Dino.
“Tapi untuk kali ini, aku akan menghancurkan langsung mata itu. Kalau perlu, aku akan memenggal kepalamu dan membiarkannya sampai kau mati kehilangan banyak darah.” Lanjutnya sambil tertawa.
“Jangan, Yuri!”
Dino kembali berdiri, lalu mengenggam kedua tangannya dan menahan serangannya. Tapi ternyata tenaga Yuri kuat sekali. Dia berhasil melepaskan tangan kirinya dari genggaman Dino. Setelah itu, ia menendang perut Dino.
Sakit sekali!
Untuk sementara, Dino menghindar dari Yuri. Yuri tertawa terkekeh-kekeh, tersenyum dan menatap tajam kepada Dino. Setelah itu, Yuri pun berlari ke arahnya. Ia mulai menyerang lagi dengan senjatanya itu.
Dino pun menghindarinya. Tapi, Yuri terus melakukan hal yang sama berkali-kali, sampai Dino kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke lantai.
“Sudah cukup, Dino! Aku tidak mau bermain-main denganmu lagi!” bentak Yuri.
“Kau tidak ingin bermain bersamaku hari ini? Bukankah dulu kita sering bermain bersama?”
“Bermain itu ada waktunya. Hari ini, adalah hari aku membunuh dirimu. Tidak ada waktu untuk bermain.”
Dino tersenyum pada Yuri. “Yaa… ini kan hari terakhirku, bagaimana kalau kita bermain bersama untuk yang terakhir kali?"
*
*
*
To be Continued-
IG: @pipit_otosaka8
__ADS_1