The Death Eye

The Death Eye
Eps 13– Death Eye Shape Shifting


__ADS_3

Setelah melihat darah yang semakin mengalir itu, dengan cepat, Tiny membuka pintu itu dan melihat ke kamar mandi di sampingnya.


Pintu kamar mandi itu tertutup. Saat dibuka, betapa terkejutnya Tiny saat melihat dalam kamar mandi itu. Di sana, Tiny menemukan sebuah kepala anak perempuan. Hanya kepala saja dengan banyaknya bercak darah yang menodai seluruh kamar mandi itu.


Mata kiri dari perempuan itu juga menghilang. Sebagian wajahnya hancur dan Tiny tidak bisa mengenali siapa dan dari kelas mana anak itu berasal. Karena ketakutan, Tiny pun segera berlari keluar dari Toilet itu.


Setelah keluar dari kamar mandi, perasaan Tiny menjadi lega kembali. Tapi tetap saja, Tiny harus melaporkan kejadian pembunuhan yang ia lihat pada guru. Tapi sebelum Tiny meranjak pergi lagi, tiba-tiba saja ada seseorang di belakang Tiny yang mengejutkannya.


Ah, ternyata hanya seorang murid laki-laki. Tiny sepertinya pernah melihat laki-laki itu. Tiny berpikir sebentar untuk mengingat laki-laki yang ada di hadapannya ini.


“Hei, sepertinya kita pernah bertemu saat itu!” Kata Laki-laki itu mengejutkan Tiny.


Tiny tidak bisa mengeluarkan suaranya. Lalu dia mengeluarkan Notebook kecil miliknya dari dalam kantung roknya.


Tiny menulis, ‘Ya, aku rasa kita pernah bertemu. Tapi kapan, yah?’


“Sepertinya kau tunawicara ah atau semacamnya, yah? Maaf! Hehe….”


‘Eh, tidak perlu minta maaf.’


“Namamu Tiny, bukan?” tanya Laki-laki itu.


Tiny mengangguk sambil tersenyum.


“Ya! Perkenalkan, aku Ramza Akbar Syahputra. Panggil saja aku Ramza. Salam kenal. Aku seorang manusia Death Eye juga sepertimu.” Terang anak yang bernama Ramza itu.


Tiny terkejut. Ternyata dia juga memiliki Death Eye?


Sekarang Tiny ingat, dialah orang yang sudah membela Manusia Death Eye saat terjadi kematian mendadak itu. Tapi yang membuat Tiny bingung adalah tentang mata laki-laki itu.


Di mana mata kematiannya?


Tiny mengangguk pada Ramza. Lalu dia menulis, ‘Aku Tiny Willona. Salam kenal juga! Maaf, aku agak bingung. Apa benar, kau memiliki Death Eye? Tapi di mana matamu itu?’


Ramza tertawa kecil. “Haha… tentu saja mataku ada di sini. Mau lihat?”


Ramza menunjukkan Death Eye-nya. Tiny pun terkejut. Baru pertama kali dia melihat hal seperti itu. Ternyata Death Eye mempunyai jenis lain.


Mata kematian Ramza dapat disembunyikan. Dia dapat merubah matanya menjadi seperti manusia biasa dan tidak berbahaya. Saat ini, Mata kematian itu telah muncul di mata kiri Ramza. Tidak dapat dipercaya.


Tiny kembali menulis. Sementara Ramza akan sabar menunggu.


‘Itu matamu? Keren sekali. Bagaimana kau bisa menyembunyikan matamu seperti itu. Baru pertama kali aku melihat Death Eye sepertimu.’


Sebelum menjelaskannya, Ramza mengembalikan Death Eye-nya menjadi seperti mata manusia. Lalu setelah itu dia mulai membuka mulutnya.


“Apa kau belum pernah melihat Death Eye sepertiku?” tanya Ramza.


Tiny menggeleng.


“Baiklah, biar kuberitahu." Ia akan menjelaskan. "Dalam dunia ini, Manusia Death Eye terbagi menjadi 2 jenis. Yang pertama, adalah Death Eye yang paling umum. Death Eye yang tidak dapat berubah bentuk. Contohnya sepertimu. Dan yang kedua adalah Death Eye Shape Shifting atau bisa disingkat dengan Death Eye S.S."


"Death Eye S.S ini memiliki kemampuan yang dapat merubah bentuk mata kematian menjadi mata manusia biasa untuk menyembunyikan identitas mereka. Tapi Death Eye itu sangat lemah. Kami para pemilik dari Death Eye tersebut bisa dibunuh dengan mudah tanpa harus menghancurkan mata itu langsung. Berbeda seperti Death Eye biasa yang seperti kau miliki itu. Pemilik Death Eye umum bisa mendapatkan kekebalan tubuh dan jika terluka, mereka dapat menyembuhkan dirinya sendiri tanpa obat. Hidup mereka juga abadi.”


“Dan… apakah kau selalu bertanya-tanya dalam hatimu, 'Kenapa Death Eye harus mempunyai rumah sakit khususnya, sedangkan Death Eye itu bisa menyembuhkan dirinya sendiri tanpa bantuan dokter’ benar, kan?”


Tiny melebarkan matanya dan mengangguk cepat.


“Nah, karena alasannya rumah sakit khusus itu dibangun untuk perawatan para Death Eye S.S. Death Eye spertiku wajib memerlukan pengamanan khusus, karena kalau kami terluka, kami harus segera di obati. Karena Death Eye S.S tidak dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Anggap saja kami seperti manusia biasa, tapi kami masih bisa membunuh dengan Death Eye ini. Sekarang, apa kau mengerti? Itulah perbedaannya!”


Tiny mengangguk cepat. Kemudian ia menulis kata ucapan terima kasih pada Ramza. Berkat penjelasan dari Ramza, Tiny jadi mendapatkan banyak ilmu yang belum ia ketahui tentang Death Eye. Dia memang anak yang baik.


“Oh, iya. Ayo kita kembali ke kelas bersama. Jangan di Toilet terus, haha…” Ajak Ramza.


Seketika Tiny terkejut saat mendengar kata “Toilet” yang diucapkan Ramza. Dia jadi teringat dengan mayat yang ada di dalam Toilet perempuan.


Sebelum pergi, Tiny menarik-narik baju belakang Ramza sambil menunjuk-nunjuk ke Toilet perempuan. Ramza pun jadi bingung.


“Eh, apa kau menyuruhku untuk masuk ke Toilet wanita? Tapi untuk apa?!” tanya Ramza.


Tiny mengangguk. Lalu dia mengepal kedua tangannya ke depan dadanya, lalu mengayunkannya. Dia memohon pada Ramza untuk segera mengikutinya masuk ke dalam Toilet perempuan itu.

__ADS_1


Tapi Ramza menolaknya, dia pikir, Tiny ingin melakukan sesuatu yang tidak baik padanya dengan mengajaknya pergi ke Toilet yang berbeda gender dengannya.


Lalu Ramza berjalan perlahan pergi meninggalkan Tiny. Tiny masih belum menyerah. Dia kembali menarik baju Ramza. Kali ini, Ramza merasa geram dengan kelakuan Tiny.


“Kau ini kenapa?!” bentak Ramza.


Tiny menulis dan langsung menunjukkan tulisannya itu pada Ramza dengan memasang ekspresi yang ketakutan.


‘Kumohon, aku takut. Di dalam sana ada mayat anak perempuan. Ayo kita periksa.’


Ramza terkejut. “Apa? Benarkah? Tidak mungkin! Aku ingin melihatnya!”


Ramza berlari ke dalam Toilet perempuan. Dia membuka pintu kamar mandi yang Tiny tunjukkan kepadanya. Ramza tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ternyata Tiny tidak berbohong.


Lalu Ramza pun mengajak Tiny untuk segera pergi dan melaporkan tentang mayat itu pada guru. Tiny pun pergi mengikuti Ramza dari belakang.


Tapi saat mereka melewati tangga menuju ke atap, Tiny sempat melihat bayangan seseorang yang sedang menaiki tangga itu. Tiny pun berhenti sejenak untuk memastikan bayangan itu.


Ternyata benar saja!


Ada seseorang di sana. Lalu tak lama kemudian bayangan itu menghilang. Itu tidak mungkin murid lain, karena saat ini belum jam istirahat, jadi murid-murid dilarang untuk berkeliaran kecuali ke Toilet. Karena penasaran, Tiny akan mencoba untuk pergi ke sana.


Tiny sampai di atap sekolah. Di sana tidak ada siapa-siapa. Tiny akan mencoba untuk melangkah maju secara perlahan. Mencari seseorang di sana, tapi kenyataanya, tempat itu sepi.


Lalu tiba-tiba saja dari belakang, muncul seorang anak perempuan dan langsung menebas kepala Tiny dengan kapak yang dibawanya. Kepala Tiny menggelinding ke bawah.


Anak perempuan yang telah menyerangnya itu adalah Miya!


Miya berjalan pelan mendekati tubuh Tiny, mengambil kepalanya dan langsung menusuk-nusuk Death Eye-nya. Tiny berusaha teriak kesakitan walaupun suaranya keluar agak samar. Sementara Miya hanya tertawa dengan girangnya sambil menusuk-nusuk kepala Tiny yang malang itu.


*


*


*


“TINY! TIDAK!”


“Ternyata hanya mimpi.” Gumamnya. Kemudian ia menoleh ke arah Yuri. “Yuri, apa yang kulakukan dari tadi?”


“Kau hanya tidur di atas sofa ini. Kau tertidur karena membaca novel ini.” Jawab Yuri. “Memangnya ada apa, Dino? Kau mengejutkanku tadi.”


“Tidak. Aku hanya habis bermimpi buruk tadi. Tidak usah di pikirkan.” Setelah menjawabnya, Dino beranjak dari sofa yang ia duduki dan langsung mengambil segelas air, lalu meneguknya. Perasaannya sudah membaik. Kemudian ia kembali ke Yuri dan berdiri di hadapannya.


“Eh, Yuri, sekarang jam berapa?” Dino kembali bertanya.


“Jam 2 siang.” Jawab Yuri. “Kau tidur lama sekali, hampir 2 jam setengah. Tapi tenang saja, para balita-balita itu sudah selesai perawatan. Sekarang, mereka sedang tidur siang.”


“Benarkah aku tidur selama itu? Kenapa kau tidak membangunkanku? Aku jadi tidak enak padamu. Kau melakukan semua pekerjaan itu, sedangkan aku hanya bersantai-santai saja.” Kata Dino dengan perasaan menyesal.


“Eh, tidak apa-apa, kok! Aku tidak tega membangunkanmu. Jadi tidak masalah, lah!” Yuri pun tertawa.


“Ya, pekerjaan kita cepat selesai berkatmu, Yuri. Sekarang, kau boleh pulang. Aku juga ingin ke Rumah Sakit untuk menengok anakku.”


“Eh, anakmu sakit apa?” tanya Yuri.


“Hanya butuh perawatan biasa saja, kok!” Jawab Dino. “Sudah, ya. Aku duluan. Sampai jumpa besok!”


Yuri melambai sambil tersenyum keji dan memandang Dino dengan mata sinis setelah lelaki itu berbalik badan.


****


“Semoga Tiny baik-baik saja. Mimpi itu sangat mengerikan. Anak perempuan yang di dalam mimpiku itu siapa? Entah kenapa aku jadi memimpikan Tiny? Apa hanya perasaanku saja yang rindu padanya?” Pikir Dino dalam hati.


Tanpa banyak berpikir lagi, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya. Pergi menuju ke rumah sakit untuk menemui Tino.


Saat sampai di sana, Dino memarkirkan mobilnya. Setelah itu, ia keluar dari mobil. Lalu berjalan cepat menuju ke Kamar rawat Tino.


Sesampainya, ia membuka pintu ruangan itu. Di dalam sana, Dino melihat ada Chelsea dan Tiny. Juga ada tamu yang datang, yaitu Liena dengan anaknya, Dio.


“Hai, Dino! Lama tidak berjumpa. Kau semakin tinggi saja. Tidak seperti dulu saat masih SMA, haha…” Ujar Liena gembira setelah dia menghampiri Dino.

__ADS_1


“Pfftt, justru lebih pendek dirimu saat SMA.” Gumam Dino sambil menahan tawa. “Ya! Bagaimana pekerjaanmu di luar negeri? Apa lancar?” tanyanya.


“Tentu saja, dong! Ini Liena. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Liena!” Liena berbangga diri.


“Oke, oke. Sejak kapan kau pulang ke Indonesia? Tiba-tiba saja aku sudah melihatmu di sini.”


“2 minggu yang lalu. Bulan depan, aku akan pergi lagi.”


“Oh. Baiklah kalau begitu.”


“Dan satu lagi. Aku punya kabar bahagia untuk kalian semua! Coba tebak, apa?” tanya Liena.


Kami semua menggeleng.


“Haa… jawabannya adalah… Kak Devan akan keluar dari penjara hari ini, yeay! Bagaimana? Senang tidak?”


Semuanya hanya diam saja dengan tatapan bingung.


“Siapa Kak Devan itu, Bu?” tanya Dio.


“Kak Devan itu adalah Kakak kandung Ibumu, Dio.” Dino menjawabnya. Lalu kembali melirik ke Liena. “Aku senang. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi. Tapi kan… batas waktunya sampai 20 tahun. Tapi kenapa di bebaskan hari ini?”


“Polisi bilang kalau Kak Devan sudah berbuat banyak kebaikan di penjara. Yah... aku juga gak tahu sih. Tapi sebuah keberuntungan untuk kakakku. Jadi waktunya dikurangi oleh pihak kepolisian.” Jawab Liena.


“Lah, kok, bisa seperti itu, yah?”


“Hah? Bisa saja pastinya! Dino, apa kau tidak suka kalau kakakku keluar dari penjara, hah?!” bentak Liena tiba-tiba.


Dino terkejut. Ia mundur ke belakang saat Liena mendekatinya secara mendadak. “Eh, tidak, kok! Bukan seperti itu.”


“Hmm… Oke. Maka dari itu, aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku akan menunggu Kakakku di sana. Maaf, yah!”


“Ah, tidak apa, kok! Pergi saja. Jangan lupa berikan salamku padanya.” Kata Chelsea.


“Ya! Terimakasih. Sekarang, aku harus pergi. Dio? Kau mau ikut Ibu?” tanya Liena.


“Iya, Bu! Aku ingin melihat wajah kakak Ibu itu!”


“Iya, baiklah. Ayo kita pergi!” Ajak Liena. Kemudian ia melambai pada semuanya sebelum ia pergi. “Sampai jumpa lagi semuanya.”


Chelsea juga melambai. “Iya. Sampaikan salam kami pada Kak Devan, yak!”


Liena mengangguk. “Pasti!”


BLAM.


Pintu tertutup kembali. Setelah Liena pergi, suasana menjadi sepi kembali. Entah kenapa semuanya jadi senyap. Dino akan mencoba untuk mengatakan sesuatu pada mereka.


Tapi apa?


Saat ini ia sedang tidak ada topik pembicaraan. Apa tentang mimpi itu saja yang akan ia beritahu kepada Chelsea?


Ah, tapi pikir Dino nanti ia takut membuat perasaan Chelsea menjadi tidak baik lagi.


Hmm….


“Ah, bagaimana ujianmu hari ini, Tiny?” Pertanyaan Dino ia lontarkan pada Tiny.


Tiny yang sedang bengong tiba-tiba terkejut. Dia langsung menghadap ke ayahnya dan mengangguk dengan penuh semangat. Kemudian dia menulis dan seketika raut wajahnya jadi masam.


‘Tadi di sekolahku ada sisiwi yang dibunuh!’


*


*


*


To be Continued-


IG: @pipit_otosaka8

__ADS_1


__ADS_2